Diperbarui dari artikel tahun 2011. Artikel asli diadaptasi dari Lembar Fakta Hepatitis B WHO.
Hepatitis B adalah infeksi virus pada hati yang telah lama dikenal sebagai salah satu penyakit menular paling berbahaya di dunia. Meski artikel tentang penyakit ini pertama kali ditulis lebih dari satu dekade lalu, wajah hepatitis B terus berubah: data global terbaru menunjukkan pergeseran beban penyakit yang signifikan, terapi semakin efektif, dan Indonesia sendiri mencatatkan kemajuan yang patut diapresiasi. Artikel ini menyajikan pembaruan menyeluruh berdasarkan publikasi dan panduan ilmiah terkini.
Gambaran Umum dan Angka Terbaru
Hepatitis B disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV), virus yang menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit akut maupun kronis. Infeksi kronis hepatitis B adalah akar dari komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati (hepatocellular carcinoma/HCC).
Angka global yang tercatat dalam Laporan Hepatitis Global WHO 2024 jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan satu dekade lalu. Diperkirakan 254 juta orang di seluruh dunia hidup dengan infeksi hepatitis B kronis pada tahun 2022, dengan 1,2 juta kasus baru terjadi setiap tahunnya. Pada tahun yang sama, hepatitis B bertanggung jawab atas sekitar 1,1 juta kematian secara global, menjadikannya penyebab kematian infeksi yang setara dengan tuberkulosis dalam hal skala dampaknya.
Angka ini jauh di atas perkiraan lama yang menyebut 350 juta orang dengan infeksi kronis, mencerminkan metode estimasi yang lebih baik, bukan lonjakan epidemi. Apa yang tetap tidak berubah adalah fakta bahwa beban terbesar penyakit ini tertumpu di kawasan Asia-Pasifik dan Afrika Sub-Sahara.
Situasi di Indonesia
Indonesia adalah salah satu negara dengan beban hepatitis B terbesar di dunia. Bersama Tiongkok dan India, Indonesia menanggung lebih dari 50% beban hepatitis B global. Kabar baiknya: Indonesia menunjukkan tren yang menggembirakan dalam dekade terakhir.
Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, prevalensi hepatitis B untuk semua kelompok umur turun dari 7,1% pada tahun 2013 menjadi 2,4% pada tahun 2023. Penurunan lebih dramatis terlihat pada kelompok balita, dari 4,2% menjadi hanya 0,1% dalam periode yang sama. Ini adalah sinyal keberhasilan vaksinasi bayi.
Namun tantangan masih besar. Pada tahun 2023, dari 3.358.549 ibu hamil yang diskrining hepatitis B, sebanyak 50.789 ibu terdeteksi HBsAg reaktif. Lebih lanjut, hepatitis B masih masuk dalam empat besar penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan sekitar 51.000 kematian per tahun menurut data Kemenkes. Indonesia juga menempati peringkat keempat di kawasan Asia Tenggara untuk angka kejadian dan kematian akibat penyakit hati.
Kantong-kantong dengan prevalensi tinggi masih ditemukan di wilayah Indonesia Timur, terutama Maluku dan Papua. Prof. David H. Muljono, anggota Komite Ahli Hepatitis Kemenkes RI, memperingatkan bahwa lebih dari 60% masyarakat Indonesia belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B, menjadikan mereka kelompok rentan jika tidak segera ditangani melalui imunisasi dan skrining dini.
Cara Penularan
Virus hepatitis B ditularkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya (seperti cairan semen, cairan vagina, dan ASI) dari orang yang terinfeksi. Pola penularan ini serupa dengan HIV, namun HBV memiliki daya tular yang jauh lebih tinggi, antara 50 hingga 100 kali lebih infeksius dibandingkan HIV. Tidak seperti HIV, HBV dapat bertahan hidup di luar tubuh selama setidaknya tujuh hari dan tetap mampu menyebabkan infeksi jika memasuki tubuh yang belum memiliki kekebalan.
Jalur penularan utama yang perlu diwaspadai mencakup penularan dari ibu ke bayi pada saat persalinan (transmisi vertikal atau perinatal), yang merupakan jalur dominan di Indonesia dan Asia Timur; hubungan seksual tanpa perlindungan, terutama dengan pasangan berganti-ganti; penggunaan jarum suntik bersama, baik dalam konteks penggunaan narkoba suntik maupun prosedur medis yang tidak steril; dan pajanan darah terinfeksi melalui luka atau prosedur invasif lainnya.
WHO kini menegaskan bahwa hepatitis B juga dapat menular melalui tato dan tindikan jika menggunakan peralatan yang tidak disterilisasi dengan benar, serta melalui paparan darah di lingkungan layanan kesehatan. Virus ini tidak menular melalui makanan dan minuman, tidak menyebar lewat udara, tidak ditularkan melalui pelukan atau bersentuhan tangan, dan tidak berpindah melalui batuk atau bersin.
Masa inkubasi rata-rata berkisar antara 30 hingga 180 hari, dengan rata-rata 90 hari. HBV dapat terdeteksi dalam darah sekitar 30 hingga 60 hari setelah infeksi dan dapat menetap dalam waktu yang sangat bervariasi tergantung pada respons imun pejamu.
Gejala: Mengapa Banyak Orang Tidak Tahu Dirinya Terinfeksi
Sebagian besar orang yang baru terinfeksi hepatitis B tidak merasakan gejala apa pun. Inilah yang menjadikan penyakit ini berbahaya dan sering luput dari deteksi. Ketika gejala muncul pada infeksi akut, biasanya meliputi menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice), urin berwarna gelap seperti teh pekat, nyeri perut terutama di area kanan atas, mual, muntah, dan kelelahan yang ekstrem.
Gejala-gejala ini dapat berlangsung beberapa minggu, dan pemulihan penuh kadang memerlukan waktu berbulan-bulan. Pada infeksi kronis, gejala sering kali tidak muncul hingga kerusakan hati sudah berlanjut ke tahap yang serius seperti sirosis atau kanker hati.
Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Infeksi Kronis?
Risiko berkembang menjadi infeksi kronis sangat dipengaruhi oleh usia saat terinfeksi. Bayi yang terinfeksi HBV pada tahun pertama kehidupannya memiliki risiko sekitar 90% untuk berkembang menjadi infeksi kronis. Angka ini turun menjadi 30 hingga 50% pada anak berusia satu hingga empat tahun yang terinfeksi. Sebaliknya, orang dewasa sehat yang terinfeksi memiliki kemungkinan lebih dari 90% untuk sembuh total dan mengeliminasi virus dalam waktu enam bulan, dengan risiko kronisitas kurang dari 5%.
Inilah dasar ilmiah mengapa vaksinasi sejak bayi sangat diprioritaskan: melindungi bayi berarti mencegah infeksi yang paling berisiko menjadi kronis. Sekitar 25% orang dewasa yang mengalami infeksi kronis sejak masa kanak-kanak pada akhirnya meninggal karena kanker hati atau sirosis yang terkait dengan infeksi HBV.
Diagnosis
Diagnosis hepatitis B tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis, karena gejalanya tidak khas dan sering tidak muncul sama sekali. Konfirmasi laboratorium adalah satu-satunya cara yang valid. Pemeriksaan utama meliputi HBsAg (Hepatitis B surface Antigen) untuk mendeteksi apakah virus aktif dalam tubuh, Anti-HBs untuk mendeteksi adanya antibodi pelindung, HBeAg dan Anti-HBe untuk menilai tingkat replikasi virus, serta pemeriksaan viral load (HBV DNA) untuk mengukur jumlah virus dalam darah secara kuantitatif.
Diagnosis dini sangat penting karena memungkinkan tindakan pencegahan penularan lebih lanjut dan terapi yang tepat waktu. Untuk pembahasan lebih lengkap mengenai pemeriksaan laboratorium hepatitis B, tersedia artikel terpisah di blog ini.
Terapi: Perkembangan yang Menjanjikan
Tidak ada terapi spesifik untuk infeksi HBV akut; tata laksana bersifat suportif dengan tujuan mempertahankan kenyamanan pasien dan keseimbangan nutrisi, termasuk penggantian cairan yang hilang.
Untuk hepatitis B kronis, dunia pengobatan telah berkembang signifikan. Dua kelas utama terapi antivirus yang saat ini digunakan adalah analog nukleosida/nukleotida dan interferon.
Tenofovir (Tenofovir Disoproxil Fumarate/TDF) dan entekavir (Entecavir/ETV) adalah lini pertama terapi antivirus yang direkomendasikan WHO. Keduanya bekerja menekan replikasi virus secara efektif. Sebuah studi kohort retrospektif dari Brasil yang diterbitkan tahun 2025 menunjukkan bahwa TDF mungkin memiliki keunggulan atas ETV dalam hal risiko kanker hati, meski perbedaan ini menjadi tidak signifikan secara statistik setelah memperhitungkan faktor perancu seperti sirosis lanjut dan usia (Stamm et al., 2025). Ini menegaskan bahwa pemilihan terapi harus bersifat individual dan kontekstual.
Pegylated interferon-alpha (PEG-IFN) adalah pilihan lain yang memiliki efek antivirus sekaligus imunomodulator. Penelitian prospektif terbaru menunjukkan bahwa penurunan kadar ALT dan AST yang konsisten selama terapi PEG-IFN merupakan prediktor yang andal untuk functional cure atau kesembuhan fungsional, yaitu kondisi di mana HBsAg tidak terdeteksi secara berkelanjutan pasca penghentian terapi (Zeng et al., 2025).
Konsep “kesembuhan fungsional” ini penting untuk dipahami. Berbeda dari infeksi HIV yang hanya bisa ditekan (suppresi), hepatitis B kronis berpotensi mencapai kondisi di mana virus benar-benar tidak terdeteksi dan antibodi protektif terbentuk. Sebuah ulasan terbaru menegaskan bahwa inovasi dalam target terapi virus dan pendekatan sistem imun terus berkembang, dengan tujuan akhir mencapai kesembuhan penuh hepatitis B di masa depan yang dapat diprediksi (Liao et al., 2026).
Di Indonesia, pemerintah telah menginisiasi pemberian antivirus tenofovir bagi ibu hamil dengan hepatitis B sejak 2022, dengan ekspansi bertahap hingga mencakup 1.410 layanan di puskesmas dan rumah sakit di 206 kabupaten/kota pada tahun 2024. Ini adalah langkah strategis untuk memutus transmisi vertikal dari ibu ke anak.
Komplikasi lanjut seperti kanker hati masih menjadi tantangan besar. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, sebagian besar pasien kanker hati datang pada stadium lanjut dan meninggal dalam hitungan bulan pasca diagnosis. Di negara maju, intervensi bedah dan terapi sistemik dapat memperpanjang harapan hidup. Transplantasi hati menjadi pilihan pada kasus sirosis dekompensata tertentu, dengan angka keberhasilan yang bervariasi.
Pencegahan: Vaksin sebagai Pilar Utama
Hepatitis B adalah penyakit yang dapat dicegah sepenuhnya dengan vaksin. Vaksin hepatitis B telah tersedia sejak tahun 1982 dan terbukti aman serta efektif dalam lebih dari empat dekade penggunaannya. Vaksin ini juga merupakan vaksin pertama yang memberikan perlindungan terhadap potensi kanker, khususnya kanker hati.
Rangkaian vaksinasi lengkap memberikan perlindungan antibodi lebih dari 95% pada bayi, anak-anak, dan remaja. Perlindungan ini diperkirakan bertahan seumur hidup pada sebagian besar orang, meskipun kemampuan membentuk antibodi sedikit menurun seiring bertambahnya usia.
Prinsip pencegahan yang direkomendasikan WHO dan Kemenkes RI mencakup vaksinasi dosis pertama dalam 24 jam setelah kelahiran (Hepatitis B birth dose/HB0), diikuti dosis kedua dan ketiga sesuai jadwal imunisasi; pemberian Hepatitis B Immunoglobulin (HBIg) pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif; skrining hepatitis B pada semua ibu hamil sebagai bagian dari program triple eliminasi (bersama HIV dan sifilis); pemberian tenofovir pada ibu hamil dengan viral load tinggi untuk mencegah transmisi perinatal; serta vaksinasi bagi tenaga kesehatan dan kelompok berisiko tinggi lainnya.
Ulasan sistematis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Viruses tahun 2025 menegaskan bahwa kombinasi terapi antivirus maternal selama kehamilan ditambah vaksin HBV dan HBIg pada bayi baru lahir telah terbukti sangat efektif menekan angka transmisi vertikal hepatitis B (Dobritoiu et al., 2025). Strategi inilah yang kini menjadi tulang punggung program pencegahan hepatitis B di Indonesia.
Pada tahun 2024, sebanyak 89,6% ibu hamil di Indonesia telah menjalani skrining hepatitis B, dan lebih dari 93% bayi yang lahir dari ibu HBsAg reaktif telah menerima imunisasi HB0 dan HBIg dalam 24 jam pertama kehidupannya. Ini adalah capaian yang patut disyukuri sekaligus menjadi dasar optimisme bahwa target eliminasi hepatitis B Indonesia pada 2030 bukan sekadar impian.
Menuju Eliminasi 2030
WHO menetapkan target eliminasi hepatitis virus pada tahun 2030 melalui Strategi Sektor Kesehatan Global, yaitu penurunan 90% insiden dan 65% angka kematian dari baseline 2015. Laporan Hepatitis Global 2024 mencatat bahwa dunia saat ini belum berada di jalur yang tepat untuk mencapai target ini, namun juga menunjukkan bahwa pencapaian target tersebut berpotensi menyelamatkan 2,85 juta jiwa dan mencegah 9,5 juta infeksi baru serta 2,1 juta kasus kanker.
Di Indonesia, tantangan terbesar adalah kesenjangan antara jumlah kasus yang sesungguhnya dan yang terdiagnosis. Dari perkiraan jutaan orang yang hidup dengan hepatitis B kronis, baru sekitar 56.000 orang yang terdiagnosis. Artinya, sebagian besar orang dengan hepatitis B tidak mengetahui statusnya dan berpotensi menularkan kepada orang lain tanpa disadari. Memperluas skrining, memperkuat vaksinasi, dan memastikan akses terapi bagi yang membutuhkan adalah tiga pilar yang harus berjalan bersamaan.
Referensi
Dobritoiu, R., Pacurar, D., Vlad, R. M., & Plesca, D. A. (2025). Vertical transmission of hepatitis B and C—then and now—a comprehensive literature systematic review. Viruses, 17(10). https://doi.org/10.3390/v17101395
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, Juli 26). Angka hepatitis B dan C di Indonesia turun. https://kemkes.go.id/id/angka-hepatitis-b-dan-c-di-indonesia-turun
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Putuskan penularan, wujudkan Indonesia bebas hepatitis 2030. https://kemkes.go.id/id/putuskan-penularan-wujudkan-indonesia-bebas-hepatitis-2030
Lambuk, L., Noor, A. A. M., Lambuk, F., Kub, T. N. T., Sadikan, M. Z., Yusop, N., Mohamud, R., & Nik Hashim, N. H. H. (2025). Navigating the landscape of hepatitis B virus reactivation in HBsAg-positive and HBsAg-negative resolved infections: Current insights and future directions. The American Journal of the Medical Sciences, 371(2), 188–199. https://doi.org/10.1016/j.amjms.2025.10.012
Liao, Y., Lv, F., Zhou, M., Shen, J., & Quan, T. (2026). Current status and challenges of therapeutic targets, novel drugs and delivery systems for hepatitis B: how far to our goal? Frontiers in Cellular and Infection Microbiology, 15, 1692924. https://doi.org/10.3389/fcimb.2025.1692924
Stamm, A. N., Tovo, C. V., Noal, A., Silva, C. U., Pizzi, J., Fonseca, P. M., & Kliemann, D. A. (2025). Tenofovir vs. entecavir in chronic hepatitis B: A retrospective cohort study of hepatocellular carcinoma risk in a tertiary hospital in southern Brazil. Brazilian Journal of Infectious Diseases, 30(1), 104603. https://doi.org/10.1016/j.bjid.2025.104603
World Health Organization. (2024). Global hepatitis report 2024: Action for access in low- and middle-income countries. https://www.who.int/publications/i/item/9789240091672
World Health Organization. (2025, Juli). Hepatitis B fact sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-b
Zeng, J., Zheng, C., Zheng, Y., & Xue, X. (2025). Predictive value of hepatic, hematological, and immunological markers and their temporal dynamics in chronic hepatitis B functional cure. Microbiology Spectrum, 13(10), e0178025. https://doi.org/10.1128/spectrum.01780-25
Artikel ini adalah pembaruan dari tulisan yang pertama kali dipublikasikan pada 21 Februari 2011. Pembaruan dilakukan pada Februari 2026 untuk merefleksikan data epidemiologi, panduan klinis, dan bukti ilmiah terkini.

Tinggalkan komentar