A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diperbarui dari artikel tahun 2011. Artikel asli diadaptasi dari Lembar Fakta Hepatitis B WHO.


Hepatitis B adalah infeksi virus pada hati yang telah lama dikenal sebagai salah satu penyakit menular paling berbahaya di dunia. Meski artikel tentang penyakit ini pertama kali ditulis lebih dari satu dekade lalu, wajah hepatitis B terus berubah: data global terbaru menunjukkan pergeseran beban penyakit yang signifikan, terapi semakin efektif, dan Indonesia sendiri mencatatkan kemajuan yang patut diapresiasi. Artikel ini menyajikan pembaruan menyeluruh berdasarkan publikasi dan panduan ilmiah terkini.


Gambaran Umum dan Angka Terbaru

Hepatitis B disebabkan oleh Hepatitis B Virus (HBV), virus yang menyerang hati dan dapat menyebabkan penyakit akut maupun kronis. Infeksi kronis hepatitis B adalah akar dari komplikasi serius seperti sirosis dan kanker hati (hepatocellular carcinoma/HCC).

Angka global yang tercatat dalam Laporan Hepatitis Global WHO 2024 jauh lebih tinggi dari yang diperkirakan satu dekade lalu. Diperkirakan 254 juta orang di seluruh dunia hidup dengan infeksi hepatitis B kronis pada tahun 2022, dengan 1,2 juta kasus baru terjadi setiap tahunnya. Pada tahun yang sama, hepatitis B bertanggung jawab atas sekitar 1,1 juta kematian secara global, menjadikannya penyebab kematian infeksi yang setara dengan tuberkulosis dalam hal skala dampaknya.

Angka ini jauh di atas perkiraan lama yang menyebut 350 juta orang dengan infeksi kronis, mencerminkan metode estimasi yang lebih baik, bukan lonjakan epidemi. Apa yang tetap tidak berubah adalah fakta bahwa beban terbesar penyakit ini tertumpu di kawasan Asia-Pasifik dan Afrika Sub-Sahara.


Situasi di Indonesia

Indonesia adalah salah satu negara dengan beban hepatitis B terbesar di dunia. Bersama Tiongkok dan India, Indonesia menanggung lebih dari 50% beban hepatitis B global. Kabar baiknya: Indonesia menunjukkan tren yang menggembirakan dalam dekade terakhir.

Berdasarkan data Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) yang dirilis oleh Kementerian Kesehatan RI, prevalensi hepatitis B untuk semua kelompok umur turun dari 7,1% pada tahun 2013 menjadi 2,4% pada tahun 2023. Penurunan lebih dramatis terlihat pada kelompok balita, dari 4,2% menjadi hanya 0,1% dalam periode yang sama. Ini adalah sinyal keberhasilan vaksinasi bayi.

Namun tantangan masih besar. Pada tahun 2023, dari 3.358.549 ibu hamil yang diskrining hepatitis B, sebanyak 50.789 ibu terdeteksi HBsAg reaktif. Lebih lanjut, hepatitis B masih masuk dalam empat besar penyebab kematian tertinggi di Indonesia, dengan sekitar 51.000 kematian per tahun menurut data Kemenkes. Indonesia juga menempati peringkat keempat di kawasan Asia Tenggara untuk angka kejadian dan kematian akibat penyakit hati.

Kantong-kantong dengan prevalensi tinggi masih ditemukan di wilayah Indonesia Timur, terutama Maluku dan Papua. Prof. David H. Muljono, anggota Komite Ahli Hepatitis Kemenkes RI, memperingatkan bahwa lebih dari 60% masyarakat Indonesia belum memiliki kekebalan terhadap hepatitis B, menjadikan mereka kelompok rentan jika tidak segera ditangani melalui imunisasi dan skrining dini.


Cara Penularan

Virus hepatitis B ditularkan melalui kontak dengan darah atau cairan tubuh lainnya (seperti cairan semen, cairan vagina, dan ASI) dari orang yang terinfeksi. Pola penularan ini serupa dengan HIV, namun HBV memiliki daya tular yang jauh lebih tinggi, antara 50 hingga 100 kali lebih infeksius dibandingkan HIV. Tidak seperti HIV, HBV dapat bertahan hidup di luar tubuh selama setidaknya tujuh hari dan tetap mampu menyebabkan infeksi jika memasuki tubuh yang belum memiliki kekebalan.

Jalur penularan utama yang perlu diwaspadai mencakup penularan dari ibu ke bayi pada saat persalinan (transmisi vertikal atau perinatal), yang merupakan jalur dominan di Indonesia dan Asia Timur; hubungan seksual tanpa perlindungan, terutama dengan pasangan berganti-ganti; penggunaan jarum suntik bersama, baik dalam konteks penggunaan narkoba suntik maupun prosedur medis yang tidak steril; dan pajanan darah terinfeksi melalui luka atau prosedur invasif lainnya.

WHO kini menegaskan bahwa hepatitis B juga dapat menular melalui tato dan tindikan jika menggunakan peralatan yang tidak disterilisasi dengan benar, serta melalui paparan darah di lingkungan layanan kesehatan. Virus ini tidak menular melalui makanan dan minuman, tidak menyebar lewat udara, tidak ditularkan melalui pelukan atau bersentuhan tangan, dan tidak berpindah melalui batuk atau bersin.

Masa inkubasi rata-rata berkisar antara 30 hingga 180 hari, dengan rata-rata 90 hari. HBV dapat terdeteksi dalam darah sekitar 30 hingga 60 hari setelah infeksi dan dapat menetap dalam waktu yang sangat bervariasi tergantung pada respons imun pejamu.


Gejala: Mengapa Banyak Orang Tidak Tahu Dirinya Terinfeksi

Sebagian besar orang yang baru terinfeksi hepatitis B tidak merasakan gejala apa pun. Inilah yang menjadikan penyakit ini berbahaya dan sering luput dari deteksi. Ketika gejala muncul pada infeksi akut, biasanya meliputi menguningnya kulit dan bagian putih mata (jaundice), urin berwarna gelap seperti teh pekat, nyeri perut terutama di area kanan atas, mual, muntah, dan kelelahan yang ekstrem.

Gejala-gejala ini dapat berlangsung beberapa minggu, dan pemulihan penuh kadang memerlukan waktu berbulan-bulan. Pada infeksi kronis, gejala sering kali tidak muncul hingga kerusakan hati sudah berlanjut ke tahap yang serius seperti sirosis atau kanker hati.


Siapa yang Paling Berisiko Mengalami Infeksi Kronis?

Risiko berkembang menjadi infeksi kronis sangat dipengaruhi oleh usia saat terinfeksi. Bayi yang terinfeksi HBV pada tahun pertama kehidupannya memiliki risiko sekitar 90% untuk berkembang menjadi infeksi kronis. Angka ini turun menjadi 30 hingga 50% pada anak berusia satu hingga empat tahun yang terinfeksi. Sebaliknya, orang dewasa sehat yang terinfeksi memiliki kemungkinan lebih dari 90% untuk sembuh total dan mengeliminasi virus dalam waktu enam bulan, dengan risiko kronisitas kurang dari 5%.

Inilah dasar ilmiah mengapa vaksinasi sejak bayi sangat diprioritaskan: melindungi bayi berarti mencegah infeksi yang paling berisiko menjadi kronis. Sekitar 25% orang dewasa yang mengalami infeksi kronis sejak masa kanak-kanak pada akhirnya meninggal karena kanker hati atau sirosis yang terkait dengan infeksi HBV.


Diagnosis

Diagnosis hepatitis B tidak dapat ditegakkan hanya berdasarkan gejala klinis, karena gejalanya tidak khas dan sering tidak muncul sama sekali. Konfirmasi laboratorium adalah satu-satunya cara yang valid. Pemeriksaan utama meliputi HBsAg (Hepatitis B surface Antigen) untuk mendeteksi apakah virus aktif dalam tubuh, Anti-HBs untuk mendeteksi adanya antibodi pelindung, HBeAg dan Anti-HBe untuk menilai tingkat replikasi virus, serta pemeriksaan viral load (HBV DNA) untuk mengukur jumlah virus dalam darah secara kuantitatif.

Diagnosis dini sangat penting karena memungkinkan tindakan pencegahan penularan lebih lanjut dan terapi yang tepat waktu. Untuk pembahasan lebih lengkap mengenai pemeriksaan laboratorium hepatitis B, tersedia artikel terpisah di blog ini.


Terapi: Perkembangan yang Menjanjikan

Tidak ada terapi spesifik untuk infeksi HBV akut; tata laksana bersifat suportif dengan tujuan mempertahankan kenyamanan pasien dan keseimbangan nutrisi, termasuk penggantian cairan yang hilang.

Untuk hepatitis B kronis, dunia pengobatan telah berkembang signifikan. Dua kelas utama terapi antivirus yang saat ini digunakan adalah analog nukleosida/nukleotida dan interferon.

Tenofovir (Tenofovir Disoproxil Fumarate/TDF) dan entekavir (Entecavir/ETV) adalah lini pertama terapi antivirus yang direkomendasikan WHO. Keduanya bekerja menekan replikasi virus secara efektif. Sebuah studi kohort retrospektif dari Brasil yang diterbitkan tahun 2025 menunjukkan bahwa TDF mungkin memiliki keunggulan atas ETV dalam hal risiko kanker hati, meski perbedaan ini menjadi tidak signifikan secara statistik setelah memperhitungkan faktor perancu seperti sirosis lanjut dan usia (Stamm et al., 2025). Ini menegaskan bahwa pemilihan terapi harus bersifat individual dan kontekstual.

Pegylated interferon-alpha (PEG-IFN) adalah pilihan lain yang memiliki efek antivirus sekaligus imunomodulator. Penelitian prospektif terbaru menunjukkan bahwa penurunan kadar ALT dan AST yang konsisten selama terapi PEG-IFN merupakan prediktor yang andal untuk functional cure atau kesembuhan fungsional, yaitu kondisi di mana HBsAg tidak terdeteksi secara berkelanjutan pasca penghentian terapi (Zeng et al., 2025).

Konsep “kesembuhan fungsional” ini penting untuk dipahami. Berbeda dari infeksi HIV yang hanya bisa ditekan (suppresi), hepatitis B kronis berpotensi mencapai kondisi di mana virus benar-benar tidak terdeteksi dan antibodi protektif terbentuk. Sebuah ulasan terbaru menegaskan bahwa inovasi dalam target terapi virus dan pendekatan sistem imun terus berkembang, dengan tujuan akhir mencapai kesembuhan penuh hepatitis B di masa depan yang dapat diprediksi (Liao et al., 2026).

Di Indonesia, pemerintah telah menginisiasi pemberian antivirus tenofovir bagi ibu hamil dengan hepatitis B sejak 2022, dengan ekspansi bertahap hingga mencakup 1.410 layanan di puskesmas dan rumah sakit di 206 kabupaten/kota pada tahun 2024. Ini adalah langkah strategis untuk memutus transmisi vertikal dari ibu ke anak.

Komplikasi lanjut seperti kanker hati masih menjadi tantangan besar. Di negara berpenghasilan rendah dan menengah, sebagian besar pasien kanker hati datang pada stadium lanjut dan meninggal dalam hitungan bulan pasca diagnosis. Di negara maju, intervensi bedah dan terapi sistemik dapat memperpanjang harapan hidup. Transplantasi hati menjadi pilihan pada kasus sirosis dekompensata tertentu, dengan angka keberhasilan yang bervariasi.


Pencegahan: Vaksin sebagai Pilar Utama

Hepatitis B adalah penyakit yang dapat dicegah sepenuhnya dengan vaksin. Vaksin hepatitis B telah tersedia sejak tahun 1982 dan terbukti aman serta efektif dalam lebih dari empat dekade penggunaannya. Vaksin ini juga merupakan vaksin pertama yang memberikan perlindungan terhadap potensi kanker, khususnya kanker hati.

Rangkaian vaksinasi lengkap memberikan perlindungan antibodi lebih dari 95% pada bayi, anak-anak, dan remaja. Perlindungan ini diperkirakan bertahan seumur hidup pada sebagian besar orang, meskipun kemampuan membentuk antibodi sedikit menurun seiring bertambahnya usia.

Prinsip pencegahan yang direkomendasikan WHO dan Kemenkes RI mencakup vaksinasi dosis pertama dalam 24 jam setelah kelahiran (Hepatitis B birth dose/HB0), diikuti dosis kedua dan ketiga sesuai jadwal imunisasi; pemberian Hepatitis B Immunoglobulin (HBIg) pada bayi yang lahir dari ibu dengan HBsAg reaktif; skrining hepatitis B pada semua ibu hamil sebagai bagian dari program triple eliminasi (bersama HIV dan sifilis); pemberian tenofovir pada ibu hamil dengan viral load tinggi untuk mencegah transmisi perinatal; serta vaksinasi bagi tenaga kesehatan dan kelompok berisiko tinggi lainnya.

Ulasan sistematis terbaru yang diterbitkan dalam jurnal Viruses tahun 2025 menegaskan bahwa kombinasi terapi antivirus maternal selama kehamilan ditambah vaksin HBV dan HBIg pada bayi baru lahir telah terbukti sangat efektif menekan angka transmisi vertikal hepatitis B (Dobritoiu et al., 2025). Strategi inilah yang kini menjadi tulang punggung program pencegahan hepatitis B di Indonesia.

Pada tahun 2024, sebanyak 89,6% ibu hamil di Indonesia telah menjalani skrining hepatitis B, dan lebih dari 93% bayi yang lahir dari ibu HBsAg reaktif telah menerima imunisasi HB0 dan HBIg dalam 24 jam pertama kehidupannya. Ini adalah capaian yang patut disyukuri sekaligus menjadi dasar optimisme bahwa target eliminasi hepatitis B Indonesia pada 2030 bukan sekadar impian.


Menuju Eliminasi 2030

WHO menetapkan target eliminasi hepatitis virus pada tahun 2030 melalui Strategi Sektor Kesehatan Global, yaitu penurunan 90% insiden dan 65% angka kematian dari baseline 2015. Laporan Hepatitis Global 2024 mencatat bahwa dunia saat ini belum berada di jalur yang tepat untuk mencapai target ini, namun juga menunjukkan bahwa pencapaian target tersebut berpotensi menyelamatkan 2,85 juta jiwa dan mencegah 9,5 juta infeksi baru serta 2,1 juta kasus kanker.

Di Indonesia, tantangan terbesar adalah kesenjangan antara jumlah kasus yang sesungguhnya dan yang terdiagnosis. Dari perkiraan jutaan orang yang hidup dengan hepatitis B kronis, baru sekitar 56.000 orang yang terdiagnosis. Artinya, sebagian besar orang dengan hepatitis B tidak mengetahui statusnya dan berpotensi menularkan kepada orang lain tanpa disadari. Memperluas skrining, memperkuat vaksinasi, dan memastikan akses terapi bagi yang membutuhkan adalah tiga pilar yang harus berjalan bersamaan.


Referensi

Dobritoiu, R., Pacurar, D., Vlad, R. M., & Plesca, D. A. (2025). Vertical transmission of hepatitis B and C—then and now—a comprehensive literature systematic review. Viruses, 17(10). https://doi.org/10.3390/v17101395

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024, Juli 26). Angka hepatitis B dan C di Indonesia turun. https://kemkes.go.id/id/angka-hepatitis-b-dan-c-di-indonesia-turun

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025). Putuskan penularan, wujudkan Indonesia bebas hepatitis 2030. https://kemkes.go.id/id/putuskan-penularan-wujudkan-indonesia-bebas-hepatitis-2030

Lambuk, L., Noor, A. A. M., Lambuk, F., Kub, T. N. T., Sadikan, M. Z., Yusop, N., Mohamud, R., & Nik Hashim, N. H. H. (2025). Navigating the landscape of hepatitis B virus reactivation in HBsAg-positive and HBsAg-negative resolved infections: Current insights and future directions. The American Journal of the Medical Sciences, 371(2), 188–199. https://doi.org/10.1016/j.amjms.2025.10.012

Liao, Y., Lv, F., Zhou, M., Shen, J., & Quan, T. (2026). Current status and challenges of therapeutic targets, novel drugs and delivery systems for hepatitis B: how far to our goal? Frontiers in Cellular and Infection Microbiology, 15, 1692924. https://doi.org/10.3389/fcimb.2025.1692924

Stamm, A. N., Tovo, C. V., Noal, A., Silva, C. U., Pizzi, J., Fonseca, P. M., & Kliemann, D. A. (2025). Tenofovir vs. entecavir in chronic hepatitis B: A retrospective cohort study of hepatocellular carcinoma risk in a tertiary hospital in southern Brazil. Brazilian Journal of Infectious Diseases, 30(1), 104603. https://doi.org/10.1016/j.bjid.2025.104603

World Health Organization. (2024). Global hepatitis report 2024: Action for access in low- and middle-income countries. https://www.who.int/publications/i/item/9789240091672

World Health Organization. (2025, Juli). Hepatitis B fact sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hepatitis-b

Zeng, J., Zheng, C., Zheng, Y., & Xue, X. (2025). Predictive value of hepatic, hematological, and immunological markers and their temporal dynamics in chronic hepatitis B functional cure. Microbiology Spectrum, 13(10), e0178025. https://doi.org/10.1128/spectrum.01780-25


Artikel ini adalah pembaruan dari tulisan yang pertama kali dipublikasikan pada 21 Februari 2011. Pembaruan dilakukan pada Februari 2026 untuk merefleksikan data epidemiologi, panduan klinis, dan bukti ilmiah terkini.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

18 tanggapan

  1. Cahya Avatar

    Bisa sembuh, walau sejumlah kasus tidak “hilang” sepenuhnya. Bisa menular pada kondisi tertentu.

    Suka

  2. Haris Fadilah Avatar
    Haris Fadilah

    Pak,saya mau nanya kemaren saya cek darah trus hbsag saya +..
    itu penularannya berasal dr mana ya dok kira2..
    Dan saya minta pendapatnya dong dok apa aja kira2 yg harus saya lakukan supaya hbsag nya tidak jd kronis..

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Dalam rangka apa Pak melakukan pemeriksaan darah?

      HBsAg tidak menular, tapi hepatitis B memiliki sejumlah metode penularan. Saya rasa ada banyak tulisan yang membahas ini, semisal di: http://id.wikipedia.org/wiki/Hepatitis_B.

      Coba melakukan olahraga secara rutin, dan mengonsumsi makanan kaya vitamin lebih banyak, serta hindari stres dan asap rokok. Jika belum merupakan kondisi kronis, pola hidup sehat dapat menghindarinya menjadi kronis walau tidak 100%.

      Suka

  3. nadya Avatar
    nadya

    Selamat malam, saya ingin bertanya apakah virus hep B ini dapat menular melalui air liur, berhubung air liur juga merupakan cairan tubuh? Misalnya begini:
    1. Penderita hep B makan / minum, kmudian makanan / minumannya itu dikonsumsi orang lain (ada terkontaminasi air liur penderita). Apakah org lain tsb dpt tertular virus hep B?

    2. Jika permukaa kulit seseorang terluka, kemudian bersentuhan dengan keringat penderita / terkena air liur penderita, apakah virus hep B akan tertular?

    Sebenarnya saya bngung juga, ad yg bilang hep B dpt menular melalui air liur (terkena luka atau tertelan melalui makanan yg sempat di makan (sharing food) penderita), dan ad juga yg bilang tidak dpt menular dr air liur / keringat.. mohon penjelasannya terima kaaih

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Nadya, pada penderita hepatitis B yang virulensinya tinggi. Virus hepatitis B memang bisa ditemukan pada saliva (air liur) tapi penularan melalui air liur belum ada catatannya hingga saat ini setahu saya.

      Beda ceritanya jika air liur itu bercampur dengan darah, dan mengenai permukaan kulit yang terbuka/terluka. Di sini proses penularan kemungkinan besar bisa terjadi. Istilah “dry kiss” tidak menularkan HBV, tapi beda dengan “deep/wet kiss”, risiko penularannya ada jika kembali pada pernyataan awal di atas.

      Makanan yang terkontaminasi tidak menularkan virus hepatitis B. Karena jalurnya tidak di sana. Tapi virus hepatitis A lain ceritanya, karena memang menular melalui makanan.

      Jadi berbagi alat makan, berpelukan, berbicara dengan penderita tidak menularkan hepatitis B. Berciuman pun hampir tidak bisa, kecuali disertai seks oral atau pada orang yang imunokompromi (sistem kekebalan tubuhnya lemah).

      Jadi jawaban untuk pertanyaan Nadya itu bisa YA dan bisa TIDAK tergantung pada situasi dan kondisi yang ada.

      Suka

    2. Nadya Avatar
      Nadya

      Terima kasih atas penjelasannya Pak Cahya

      Suka

  4. Aksi Hepatitis Avatar
    Aksi Hepatitis

    Peringatan Hari Hepatitis Sedunia
    Kesadaran dan kewaspadaan akan penyakit Hepatitis masih kurang di lingkungan/masyarakat kita, melalui Aksi Peduli Hepatitis tanggal 08 September 2013, kami mengajak warga masyarakat/facebooker, untuk turut serta meningkatkan kepedulian masyarakat serta meningkatkan kesadaran, kewaspadaan dan peran masyarakat akan penyakit hepatitis. Yuukk … para facebooker, kita peduli akan penyakit Hepatitis, dengan tujuan : 1. Meningkatkan Kepedulian Masyarakat (Awareness), 2. Meningkatkan Kesadaran & Peran Serta Masyarakat, 3. Sosialisasi Pencegahan & Pengobatan, 4. Menghilangkan Stigmata Akan Hepatitis, 5. Menyehatkan Masyarakat.

    Aksi Peduli Hepatitis 08 September 2013, Lokasi acara di Monas, dengan suasana : 1. Olah raga (fun bike & jalan sehat), 2. Family day, 3. Komunitas, 4. Budaya. Dan di isi dengan kegiatan : 1. Jalan Sehat, 2 Fun Bike, 3. Quiz (ada hadiahnya loh …), 4. Hiburan, 5. Penyebaran Informasi dan Edukasi.

    Dan masih banyak lagi kegiatan yang lainnya dalam “Aksi Peduli Hepatitis, pada tanggal 08 September 2013”

    Pendaftaran : 021-96009305
    Email : aksihepatitispphi@gmail.com

    Suka

  5. Guest Avatar
    Guest

    Malam Pak Dokter, sy mu tanya apakah seseorang yang di diagnosa HbsAg itu bisa bisa di ketahui nggak kapan terinveksinya melalui pemeriksaan lab atau pemeriksaan dokter, trimakasih…

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Tidak bisa secara pasti, apalagi dengan peralatan terbatas di wilayah. Periode jendela yang berbeda, dan banyak faktor lagi. Kondisi klinis mungkin bisa membantu, tapi itu pun tidak bisa memastikan onset infeksi.

      Suka

  6. Jemmy Avatar
    Jemmy

    Selamat malam Dok Cahya, & teman teman,

    Pasti Dokter sering mendengar cerita seperti saya… Moga moga dokter ga bosen2 nanggepin dan bisa kasih masukan buat hidup saya =)). Awal saya mengetahui saya seorang carrier Hep B , saat saya gagal medchek salah satu perusahaan. HRD memberi tahu, bahwa saya seorang carrier Hep B, Seakan tidak percaya, dulu kata mama ud divaksin sd 3 kali, Saya pun melakukan cek sendiri ,HBS ag namanya dan hasilnya positif. Namun saya bertekad untuk sembuh, saya kunjungi dokter spesialist hepa. Disana saya disuruh melakukan cek darah, dengan hasil serulogi : ( HBSag +, Anti Hbs titer 0,2 mIU/mL non reaktif, Hbe Ag + 11.72 , & Anti HAV IgG 1,49 reaktif ) dan hasil faal hati ( SGPT : 29, SGOT : 29, Gamma GT : 16). Setelah itu saya lanjut USG, dengan hasil normal. Dokter memvonis saya carrier hepa B, dengan harus kontrol per 3 bulan. Untuk Obat saya hanya diberi : vitamin Bcom dan curliv (extract curcuma) .Jujur, posisi saya sebagai carrier sangat berat bagi orang orang disekitar saya. Saya merasa bahwa saya seorang penderita yg bisa menularkan T_T .hingga muncul beberapa pertanyaan dibenak saya. pertama , Jika penderita akut bisa sembuh total , Apakah seorang carrier bisa sembuh total juga, ? kedua, apakah serokonversi bisa terjadi dengan hanya memakan vitamin ? dan terakhir, bagaimana pendapat dokter jika saya mencoba terapi combine menggunakan entecavir hingga DNA virus
    tidak terdeteksi, setelah itu di lanjut dengan mengkonsumsi obat yang mengandung Nitazoxanide. Nitazoxanide bisa untuk meningkatkan respon immun terhadap HbsAg, sehingga titer HbsAg turun secara konsisten dan akhirnya menghilang hingga memperoleh HbsAb yang positif. , mohon bantuan pencerahannya dok, dan semoga bisa membantu teman teman yang mengalami kasus dengan saya. Makasih sebelumnya Dok… =))

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Jemmy, kasus karier pada HBV memang tidak jamak dapat diprediksikan. Saya mungkin tidak ahli dalam masalah hepatologi, namun inilah jawaban umum yang dapat saya berikan:

      Pertama, ada kasus di mana penderita karier dapat sembuh dengan sendirinya. Yang berarti seluruh virus hepatitis bisa hilang dan tubuhnya membentuk serokonversi menjadi memiliki antibodi. Bagaimana hal ini terjadi, saya sendiri kurang jelas. Namun kebanyakan kasus karier tidak berakhir demikian.

      Kedua, sehingga opsi yang terbaik dan terjangkau bagi sebagian besar masyarakat kita dengan karier adalah mencegah kondisi karier menjadi hepatitis B kronis, yang bermakna mencegah. Salah satunya dengan cara memberikan multivitamin yang bisa melindungi organ hati yang diinfeksi oleh virus. Dapatkah menyembuhkan? Maka kembali pada poin di atas.

      Entecavir memang salah satu obat yang menjajikan pada penderita hepatitis kronis, tapi biasanya tidak ditujukan bagi karier. Entecavir bekerja dengan menurunkan jumlah virus dalam tubuh, namun tidak menyembuhkan infeksi HBV, juga tidak mencegah komplikasi dari kondisi kronis. Jika Jemmy adalah penderita hepatitis B kronis, entecavir mungkin disarankan, namun jika hanya karier, risiko efek samping kerusakan hati dari obat ini layak menjadi pertimbangan yang lebih mendapatkan perhatian.

      Sudah lama saya tidak mendengar nama obat nitazonide. Sebenarnya – mungkin Jemmy sudah tahu, obat ini ditujukan untuk mengobati Giardia, sejenis infeksi protozoa. Namun kemudian ditemukan sepertinya berefek pada virus hepatitis B dan C. Setahu saya terapi nitazonide bersama peginterveron/ribavin masih sedang memasuki babak uji coba klinis (clinical trial). Artinya masih diselidiki efek terapi dan efek sampingnya pada kondisi infeksi HBV.

      Jika saya boleh berkata jujur, tidak dalam kompetensi saya untuk menawarkan apalagi menganjurkan pilihan obat yang masih dalam tahap uji klinis. Pun demikian, Jemmy bisa berkonsultasi pada spesialis yang merawat saat ini, jika ingin mencoba pengobatan tersebut, maka mungkin bisa disertakan dalam salah satu uji klinis yang (jika ada) sedang berlangsung sebagai sukarelawan.

      Hemat saya, saya masih tetap lebih cenderung pada terapi yang memanfaatkan hepatoprotektor (perlindungan untuk hati) pada penderita karier, dengan alasan di atas.

      Suka

    2. Jemmy Avatar
      Jemmy

      Terima kasih atas tanggapannya Dok Cahya…. Sangat membantu bagi orang awam seperti saya… Akan saya teruskan pengobatan hepatoprotektor sesuai saran dokter… semoga proses serokonversi bisa terjadi… AMIN … =)) . Namun ada yg masih mengganjal, kenapa saya bisa menjadi carrier ya dok, padahal secara prosedur kesehatan saya sudah pernah divaksin sd 3 kali oleh ibu saya . Proses seorang sehat menjadi carrier hepa B itu seperti apa ya dok? bisakah saya menarik kesimpulan ketika seorang sehat terkena virus dia ada kemungkinan menjadi carrier (jika tubuh tidak bereaksi) atau penderita (tubuh bereaksi thp virus) mohon koreksinya dok Cahya…. terima kasih banyak…..

      Suka

    3. Cahya Avatar

      Jemmy, sulit mengatakan bagaimana orang yang sudah menjalani vaksinasi HBV bisa menjadi karier. Tentu saja karier bermakna bahwa ia pernah mengalami infeksi sebelumnya.

      Hanya saja harus dilacak, apakah infeksi terjadi pasca vaksinasi ataukah sebelum vaksinasi. Kalau sebelum vaksinasi telah terjadi infeksi sebelum vaksinasi, kemungkinan vaksinasi tidak akan banyak membantu.

      Lalu jika terjadi infeksi pasca vaksinasi, maka pertanyaannya apakah vaksinasi yang diberikan telah mencapai respons perlindungan yang diinginkan atau tidak.

      Pasca vaksinasi biasanya diharapkan kadar anti-Hbs berada di atas 100uIU/ml. Namun tidak semua bisa mencapai itu, hanya sekitar 85-90% populasi. Kondisi ini memerlukan booster lagi untuk mencapai perlindungan penuh.

      Melacak ini tentunya bukanlah pekerjaan yang mudah. Apalagi di negara kita yang sistem pecatatan kesehatannya masih, mungkin bisa dibilang tidak begitu baik.

      Saya hanya bisa menduga, kemungkinan infeksi terjadi di antara kondisi tubuh yang tidak terlindungi, atau belum terlindungi sepenuhnya.

      Suka

  7. Cahya Avatar

    Oziel, kronis atau tidaknya infeksi virus hepatitis B dilihat dari kondisi infeksi yang masih aktif atau tidak dalam waktu lebih dari 6 bulan. Pemeriksaannya dengan mengecek nilai HBsAg. Sedangkan tanda kerusakan sel hati dari pemeriksaan SGPT/SGOT bisa saja berasal dari penyebab lain, jadi tidak spesifik menunjuk pada infeksi HBV.

    Penyebab infeksi HBV adalah virus yang ditularkan melalui cairan tubuh. Gejala yang muncul bisa jadi terdapat nyeri ulu hati, mual dan muntah, namun itu tidak spesifik juga.

    Suka

  8. nitnot Avatar
    nitnot

    apakah beda antara sirrosis dengan hepatoma…dan semuanya berawal dari virus hepatitis b ini mas ?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Sirrosis jika kerusakan hati menyebabkan munculnya jaringan parut, seperti pada luka di kulit jika tidak sembuh sempurna akan meninggalkan bekas seperti jaringan parut (scar tissue). Jaringan yang sudah rusak jadi jaringan parut tidak akan bisa dipulihkan lagi, biasanya hati yang mengalami sirrosis akan menciut ukurannya karena pembentukan jaringan parut ini.

      Sedangkan hepatoma merupakan tumor hati, jadi kerusakan sel-sel menyebabkan perubahan sifat sel menjadi ganas (tumor/kanker), membelah tidak terkendali dan merusak sel-sel sekitarnya. Hati yang mengalami hepatoma biasanya bertambah ukurannya (membesar) karena pembelahan sel dan sifat tumor itu sendirinya.

      Ya, keduanya bisa disebabkan oleh infeksi HBV.

      Suka

  9. Indobrad Avatar

    pertanyaannya: bisakah penderita Hepatitis B sembuh?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Bisa, hanya saja tidak pada semua kasus.

      Suka

Tinggalkan komentar