Di Pucuk Kesendirian

Ada kesunyian mencakup nan mendekap erat sayap-sayap kecilnya, angin pun enggan menunjuk cakrawala yang telah ia benamkan dalam mimpi-mimpi tak terungkapkan. Aku mendengar rayuan sunyi mengantarkan buluh-buluh kehidupan yang telah menua di antara ranting-rantingnya, sebuah gita yang tertawan oleh canda di balik kemesraan yang sirna.

Kini, adakah kesendirian meruam sunyi di antara kelembutan sayap-sayap mungilnya? Adakah ia masih menanti canda yang menyeruak jingga di kaki cakrawala? Ataukah batinnya hendak menyulam mesra dari puntiran-puntiran angin kecil yang datang menyapa?

Pucuk Kesendirian

Entahlah, hanya kusaksikan tatapan bisu nan tajam yang bernaung di bawah kelabu & mencengkeram erat di pucuk kesendirian.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

8 tanggapan untuk “Di Pucuk Kesendirian

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: