A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Jika ditolak, tentu saja itu menyakitkan. Setidaknya demikianlah yang ditunjukkan oleh penelitian baru-baru ini bahwa sakit karena kondisi fisik dan sakit karena penolakan bisa jadi “menyakitkan” dengan cara yang serupa.

Para peneliti menemukan bahwa nyeri fisik dan sakit emosional yang mendalam, seperti perasaan penolakan pasca patah hati atau putus hubungan, mengaktifkan jalur pemrosesan “nyeri” yang sama di otak. Ini bisa jadi memberikan ide baru tentang sakit yang dialami ketika mendapatkan penolakan sosial.

Ketika orang tanpa sengaja menumpahkan kopi panas ke pakaian yang dikenakannya, sementara pada saat yang bersamaan sedang menatap foto orang yang dikasihi yang baru saja putus hubungan dengan cara yang tidak diinginkan. Tampaknya dua hal itu mungkin memberikan rasa sakit yang berbeda, namun pada penelitian tersebut ditunjukkan bahwa mereka mungkin jauh lebih serupa dibandingkan apa yang diduga pada awalnya.

Pada penelitian yang dipublikasikan di Proceedings of the National Academy of Sciences, para peneliti mengumpulkan 40 orang yang mengalami putus hubungan (patah hati) yang tidak diinginkan dalam rentang waktu 6 bulan terakhir. Setiap peserta berkata bahwa memikirkan tentang putus hubungannya membuat mereka merasa begitu patah hati.

Menggunakan pencitraan resonansi magnetis (MRI) fungsional, para peneliti menganalisa aktivitas otak para peserta selama dua situasi yang “menyakitkan”.

Pada satu skenario, para peserta menatap sebuah foto mantan kekasihnya dan memikirkan bagaimana patah hatinya mereka ketika pengalaman putus hubungan itu terjadi. Pada sebuah skenario yang berbeda, para peserta mengalami nyeri fisik ringan menyerupai menggenggam secangkir kopi panas.

Hasilnya menunjukkan bahwa pada kedua situasi, region-region otak yang sama teraktivasi, yang dikenal dengan region korteks somatosensori sekunder dan insula dorso-posterior. Kedua region ini telah dikenal sebelumnya sebagai lokasi pemrosesan nyeri fisik.

We found that powerfully inducing feelings of social rejection activate regions of the brain that are involved in physical pain sensation, which are rarely activated in neuroimaging studies of emotion,” Kata Kross yang merupakan salah satu penelitinya dari Universitas Michigan. “These findings are consistent with the idea that the experience of social rejection, or social loss more generally, may represent a distinct emotional experience that is uniquely associated with physical pain.”

Tulisan ini diadaptasi dari “Pain, Social Rejection Have Similar Effect on Brain“.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

15 tanggapan

  1. Nandini Avatar

    Patah hati itu tidak lebih menyakitkan daripada cemburu *curcol* 😆

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Ha ha…, yang bener? Apa cemburu itu berbeda dengan patah hati, atau cuma sekadar retak hati saja?

      Suka

    2. Nandini Avatar

      Beda donk Bliii… 😦

      Suka

    3. Cahya Avatar

      Lho, kok beda, kan sakitnya sama-sama di hati :).

      Suka

  2. Ladeva Avatar
    Ladeva

    Im smiling while read ur article… 🙂

    Suka

  3. choirul Avatar
    choirul

    wow….. aku g tahu kalau jenengan dokter.. maaf kalau komentar saya g sopan

    nta bisa sakit hati bahaya

    Suka

  4. TuSuda Avatar
    TuSuda

    kalau patah (fraktur) mestinya disambung lagi..dg yg baru :)nah, kalau disebut robek (ruptur) hati gimana, ya… 😀

    Suka

  5. indobrad Avatar

    tuhhh kan…. kamu dokter yaaa 😀

    Suka

    1. Cahya Avatar

      No, not yet :D.

      Suka

  6. ahsanfile Avatar

    Hmmm…

    Kalau nggak pernah patah hati itu namanya bukan manusia..

    ups… maksudnya, patah hati adalah perasaan yang menjadi syarat seorang manusia… jadi nikmati saja 😀

    Suka

  7. zee Avatar

    Berarti istilah lebih baik sakit gigi daripada sakit hati bisa dipatahkan ya. Sama-sama sakit soalnya. Beti-beti saja.;p

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mbak Zee, sakit gigi dalam banyak kasus penangannannya lebih mudah, jika tepat, lebih cepat sembuhnya. Nah, kalau sakit hati? Yah, gitu deh… :D.

      Suka

    2. budiastawa Avatar
      budiastawa

      Setuju, Dok. Patah hati kalau dapat yang lain lagi, maka hati ini akan terobati. Ah, memang yang namanya HATI ini sangat mempengaruhi manusia.

      Besar hati, kecil hati, patah hati, tinggi hati, rendah hati, busuk hati, pokoknya segala yg ada istilah hatinya selalu berhubungan dengan mental dan perasaan deh.

      Suka

  8. budiastawa Avatar
    budiastawa

    Baik dari sisi ilmiah maupun non-ilmiah, sakit hati itu mempengaruhi seluruh tubuh ya Dok?

    Ngomong2, Apa Pak Dokter pernah patah hati? 😀

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Bli Budi, itu sih bisa-bisa saja, kalau karena sakit hati terus mogok makan, susah kan 😉 – Hmm…, have I ever? I wonder… a :brokenheart: :lol:.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Ladeva Batalkan balasan