Saya memiliki beberapa asuransi kesehatan untuk menyokong beban tidak terduga dari biaya masuk rumah sakit, alias rawat inap. Saya teringat hal ini ketika bersih-bersih rumah beberapa waktu yang lalu. Saya menemukan beberapa “relik masa lalu” dari sisa-sisa yang membuktikan saya cukup sering menjalani rawat inap selama di Yogyakarta.
Beberapa di antaranya adalah tas-tas plastik untuk wadah peralatan mandi yang biasanya diterima pasien rawat inap. Tentunya pasien hanya mendapatkan tas tersebut satu buah setiap satu periode rawat inap, dan saya menemukan beberapa tas tersebut di sudut-sudut kamar ketika membongkarnya untuk dibersihkan. Ah, saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala saja.
Karena sudah tua & lusuh, saya pun memutuskan untuk membuangnya saja. Sambil tersenyum dalam hati, toh nanti kalau berjodoh kembali jadi pasien rawat inap akan dapat yang baru. Kadang orang tua saya yang datang ke Jogja untuk menengok akan berceletuk, “wah, dapat tas mandi baru nih” sembari mengeluarkan yang lama.
Entahlah, mungkin dalam tujuh tahun terakhir ini, sudah lima atau enam kali saya menjalani rawat inap yang cukup panjang. Dan tentunya sudah tidak menghitung lagi beberapa kali keluar masuk rumah sakit untuk pemeriksaan rutin dan lain sebagainya. Mungkin karena dari kecil memang sudah terbiasa keluar masuk rumah sakit, jadinya saya tidak begitu memusingkannya.
Jika memang sudah waktunya, tinggal masuk saja dan segera tertidur di dalam bangsal. Lha, orang sakit kan tidak baik jika berpikir terlalu banyak. Sehingga kadang saya menjadi tidak cukup peka melihat orang-orang yang khawatir atau bahkan fobia untuk masuk ke dalam rumah sakit.
Saya tidak begitu khawatir jika berada di rumah sakit dan terbaring dengan kondisi yang memburuk, atau lebih tepatnya mungkin tidak terlalu penduli. Jika saya mengambil peran sebagai dokter, saya sering berkata, “mohon jangan khawatir, biarkan kami para dokter dan perawat yang mengkhawatirkan segala sesuatunya, pasien sebaiknya jangan memikirkan hal tersebut terlalu berat.” Jadi, ketika saya mengambil peran sebaliknya, saya akan jadi cuek dan malas memikirkan hal-hal teknis tentang penyakit saya, yang seringkali menjadi tidak jelas pada akhirnya.
Tidak mengkhawatirkan kondisi sendiri bukan berarti apatis bagi saya, karena pada akhirnya, kekhawatiran itu menjadi sia-sia belaka. Saya selalu berpikir, mengapa saya mesti membuang energi dengan kekhawatiran? Ketika saya terbaring di situ, bisa jadi hidup saya akan berakhir dalam beberapa jam ke depan, dan jika itu terjadi betapa sia-sianya menjalani sepanjang waktunya dengan khawatir. Setidaknya jika saya masih bisa menikmati suasana langit sore di beranda, atau menikmati jam tidur yang lebih lama, saya rasa kekhawatiran akan kehilangan tempatnya dengan sendirinya.
Ketika terlalu sering masuk rumah sakit, terlalu sering berada dalam posisi antara hidup & mati, terlalu sering menikmati sayuran yang nyaris hambar dengan bubur khasnya, terlalu sering dikunjungi malaikat maut sembari melihatnya menimbang-nimbang apakah akan melakukan hobinya atau tidak. Semua itu akan membuat perpindahan sudut pandang akan kehidupan ke lapang yang lebih lebar.
Semua itu akan membuat orang mencintai kehidupan dengan amat sangat, bukan mencintai kehidupan karena takut akan kematian pun bukan mencintai kehidupan sehingga membenci kematian. Karena di dalam cinta dengan sendirinya ketakutan & kebencian akan luluh, jika Anda takut akan tidak sedang mencintai, dan jika Anda benci maka akan tidak mampu mencintai.
Mencintai kehidupan tidak berarti memisahkan maknanya terhadap kematian, bagaimana mungkin itu terpisah, itu seperti rangkaian melodi yang begitu harmonis sejak dimulainya penciptaan. Merangkul mesra kehidupan dan kematian bermakna Anda tidak akan pernah takut akan kematian, dan juga tidak akan pernah membenci kehidupan itu sendiri.
Tapi tentu saja, guna mencintai kehidupan ini, Anda tidak perlu masuk rumah sakit terlalu sering pastinya.

Tinggalkan Balasan ke wid Batalkan balasan