Harmoni dan Ketiadaan

Ketika pertanyaan tersebut menghampiri saya, apakah yang membuat hidup ini penuh dengan harmoni, dan apa juga yang menyebabkannya tiada. Pada akhirnya, antara keselarasan dan ketiadaan bukanlah dua hal yang berbeda. Yang satu hanyalah sebutan lain untuk wujud yang sama, selayaknya kehidupan dan kematian ini.

Dalam perjalanan hidup ini, ketika musim kering tiba, daun-daun yang telah tua akan terlepas dari tangkainya dan membumi dengan keelokannya. Pepohonan yang merangas setelah ditinggalkan dedaunannya yang berguguran, hanya tampak seperti sebuah pohon mati, apalagi kadang menyeramkan jika dilintasi ketika gelap menggantikan terang di muka bumi.

Dan bagi mereka yang menolak datangnya pemandangan tersebut, maka berusaha kembali menempelkan dedaunan yang telah gugur agar pepohonan tampak kembali seperti musim penghujan, menghijau nan indah, akan sia-sia belaka. Tidak akan ada kehidupan diperoleh dari upaya menghidupkan yang tiada. Demikian juga, sebaliknya, bagi yang menyukai musim di mana dedaunan berguguran, memangkas dan memaksa pepohonan untuk menggugurkan dedaunannya hanyalah kesia-siaan. Karena semuanya hanya akan menjadi sebuah ilusi belaka.

Demikian pun halnya hati dan pikiran, kerap ingin bertahan dan menetap bersama apa yang telah berlalu. Kehidupan bukanlah sebuah batu yang berdiam di suatu tempat, sehingga yang mencarinya mesti datang dan menggalinya, apalagi mendirikan kemegahan yang mengitarinya untuk kemudian dipuja dan dipuji.

Kehidupan adalah sungai yang mengalir di sini dan kini, kehidupan bukan sesuatu yang tertinggal di masa lalu yang sedemikian hingga saat kita ingin bertemu dengannya, kita justru berpaling darinya. Jika kita mengisi kehidupan ini dengan terlalu banyak masa lalu, maka ruang sesak itu akan membuat kita kehilangan kesempatan menikmati harmoni yang kini sedang mengalir indah di sekitar kita.

Kartu Waisak

Hanya dengan meniadakan semua kemelekatan itu, melepaskan hal-hal yang selayaknya berlalu, yang tiada abadi, maka ketiadaan akan ketidakabadian akan hadir sebagai harmoni yang meresapi seluruh daya kehidupan.

Selamat Hari Raya Waisak 2555.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

11 tanggapan untuk “Harmoni dan Ketiadaan

  1. kata-kata ini sangat mengena di hati… copas dulu ah

    Kehidupan adalah sungai yang meng­alir di sini dan kini, kehidupan bukan sesuatu yang ter­ting­gal di masa lalu yang sedemikian hingga saat kita ingin ber­temu dengan­nya, kita jus­tru ber­paling darinya. Jika kita meng­isi kehidupan ini dengan ter­lalu banyak masa lalu, maka ruang sesak itu akan mem­buat kita kehilangan kesem­patan menik­mati har­moni yang kini sedang meng­alir indah di sekitar kita.

    Suka

  2. dan meniadakan semua kemelekatan itu yang tidak mudah 😦

    tidak semudah mengucapkannya 😦

    Suka

    1. niQue, meniadakan kemelekatan memang tidak mungkin, seperti yang saya sampaikan, "tidak juga membuat dedaunan untuk berguguran yang tidak pada waktunya", namun membiarkan kemelekatan menjadi tiada adalah hal yang sama sekali berbeda.

      Jika melirik pada upaya meniadakan kemelekatan, maka kemelekatan akan upaya dan hasilnya sendiri adalah wujud lain dari kesia-siannya, jika memang sudah waktunya, jika memang sudah kesadarannya hadir, maka kemelekatan itu akan luntur dengan sendirinya, akan tiada dengan alaminya, biarkan saja, tidak perlu dipaksa dan tidak perlu ditangguhkan. :).

      Suka

      1. begitu ya … hmm …

        thanks ya … membaca postinganmu menjadikan sebuah perenungan 🙂

        Suka

  3. Suka 🙂

    Jangan terlalu repot mengisi hari ini dengan kenangan masa lalu, apalagi masa lalu yang buruk. Nanti, hal yang sebenarnya indah di depan mata eh malah gak keliatan. Apa kabar, Cahya? Lama gak baca blog kamu 🙂

    Suka

Komentar ditutup.

%d blogger menyukai ini: