Ketika pertanyaan tersebut menghampiri saya, apakah yang membuat hidup ini penuh dengan harmoni, dan apa juga yang menyebabkannya tiada. Pada akhirnya, antara keselarasan dan ketiadaan bukanlah dua hal yang berbeda. Yang satu hanyalah sebutan lain untuk wujud yang sama, selayaknya kehidupan dan kematian ini.
Dalam perjalanan hidup ini, ketika musim kering tiba, daun-daun yang telah tua akan terlepas dari tangkainya dan membumi dengan keelokannya. Pepohonan yang merangas setelah ditinggalkan dedaunannya yang berguguran, hanya tampak seperti sebuah pohon mati, apalagi kadang menyeramkan jika dilintasi ketika gelap menggantikan terang di muka bumi.
Dan bagi mereka yang menolak datangnya pemandangan tersebut, maka berusaha kembali menempelkan dedaunan yang telah gugur agar pepohonan tampak kembali seperti musim penghujan, menghijau nan indah, akan sia-sia belaka. Tidak akan ada kehidupan diperoleh dari upaya menghidupkan yang tiada. Demikian juga, sebaliknya, bagi yang menyukai musim di mana dedaunan berguguran, memangkas dan memaksa pepohonan untuk menggugurkan dedaunannya hanyalah kesia-siaan. Karena semuanya hanya akan menjadi sebuah ilusi belaka.
Demikian pun halnya hati dan pikiran, kerap ingin bertahan dan menetap bersama apa yang telah berlalu. Kehidupan bukanlah sebuah batu yang berdiam di suatu tempat, sehingga yang mencarinya mesti datang dan menggalinya, apalagi mendirikan kemegahan yang mengitarinya untuk kemudian dipuja dan dipuji.
Kehidupan adalah sungai yang mengalir di sini dan kini, kehidupan bukan sesuatu yang tertinggal di masa lalu yang sedemikian hingga saat kita ingin bertemu dengannya, kita justru berpaling darinya. Jika kita mengisi kehidupan ini dengan terlalu banyak masa lalu, maka ruang sesak itu akan membuat kita kehilangan kesempatan menikmati harmoni yang kini sedang mengalir indah di sekitar kita.
Hanya dengan meniadakan semua kemelekatan itu, melepaskan hal-hal yang selayaknya berlalu, yang tiada abadi, maka ketiadaan akan ketidakabadian akan hadir sebagai harmoni yang meresapi seluruh daya kehidupan.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
Merokok berdampak negatif pada kesuburan, dengan risiko infertilitas meningkat 1,4 kali pada perempuan perokok dan disfungsi seksual pada laki-laki perokok. Paparan asap rokok juga berbahaya. Berhenti merokok dapat meningkatkan peluang kehamilan, penting bagi pasangan yang merencanakan memiliki anak untuk memahami risiko tersebut dan melakukan perubahan gaya hidup.
Dua alat penilaian risiko terbaru WHO, QIRA dan MS-RRA, dirancang untuk meningkatkan respons terhadap keadaan darurat kesehatan. QIRA menyediakan penilaian cepat dalam waktu singkat, sementara MS-RRA menawarkan analisis mendalam. Keduanya melengkapi praktik penilaian risiko yang sudah ada di Indonesia, meningkatkan sistem dokumentasi dan pengambilan keputusan.
KMK 951/2026 mengatur izin edar alat kesehatan berbasis perangkat lunak, termasuk Software as a Medical Device (SaMD), yang diperlukan regulasi lebih ketat. Regulasi ini mengadopsi standar internasional, menyediakan mekanisme sandbox, dan mewajibkan validasi klinis lokal untuk produk berisiko tinggi, namun masih memerlukan penguatan kapasitas implementasi di daerah.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
11 tanggapan
suzannita
kata-kata ini sangat mengena di hati… copas dulu ah
Kehidupan adalah sungai yang mengalir di sini dan kini, kehidupan bukan sesuatu yang tertinggal di masa lalu yang sedemikian hingga saat kita ingin bertemu dengannya, kita justru berpaling darinya. Jika kita mengisi kehidupan ini dengan terlalu banyak masa lalu, maka ruang sesak itu akan membuat kita kehilangan kesempatan menikmati harmoni yang kini sedang mengalir indah di sekitar kita.
niQue, meniadakan kemelekatan memang tidak mungkin, seperti yang saya sampaikan, "tidak juga membuat dedaunan untuk berguguran yang tidak pada waktunya", namun membiarkan kemelekatan menjadi tiada adalah hal yang sama sekali berbeda.
Jika melirik pada upaya meniadakan kemelekatan, maka kemelekatan akan upaya dan hasilnya sendiri adalah wujud lain dari kesia-siannya, jika memang sudah waktunya, jika memang sudah kesadarannya hadir, maka kemelekatan itu akan luntur dengan sendirinya, akan tiada dengan alaminya, biarkan saja, tidak perlu dipaksa dan tidak perlu ditangguhkan. :).
Jangan terlalu repot mengisi hari ini dengan kenangan masa lalu, apalagi masa lalu yang buruk. Nanti, hal yang sebenarnya indah di depan mata eh malah gak keliatan. Apa kabar, Cahya? Lama gak baca blog kamu 🙂
Tinggalkan Balasan