Hari-hari saya berada di Yogyakarta semakin pendek, jadi beberapa pekan terakhir saya menghabiskan lumayan banyak waktu dengan bernostalgia ke pelbagai tempat lama, yang dulu sering saya kunjungi. Beberapa hari yang lalu, saya menghabiskan waktu hingga agak larut malam di tempat salah seorang teman, katakanlah kami sama-sama memiliki antusiasme di bidang teknologi informasi, dan saya banyak belajar ilmu komputer darinya sejak pertama kali datang ke Yogyakarta – di mana komputer adalah sesuatu yang asing bagi saya.
Di tengah perbincangan kami, datanglah seorang anak muda dengan tergopoh-gopoh – dan ini bukan berarti bahwa kami sudah tua, meski memang rambut saya telah beruban di mana-mana – , dia datang sembari memanggil nama teman saya ini.
Singkat cerita, dia meletakkan sebuah notebook di atas meja, dan mengatakan ia mengalami masalah bahwa komputernya menjadi sangat lambat, padahal dia baru saja selesai memasang ulang sistem operasi Windows pada komputer tersebut. Dia minta dipasangkan salah satu merek antivirus ternama yang iklannya dibintangi aktor laga Jackie Chan itu.
Kemudian anak itu pergi sebentar mengambil charger untuk notebook-nya. Dan teman saya itu berkata, bahwa anak ini hampir selalu datang setiap beberapa bulan sekali karena notebook-nya mengalami masalah serupa, seperti terinfeksi virus komputer misalnya. Tentu saja bagi kami, kadang pemandangan ini sangat mengherankan, apa iya di zaman yang serba canggih ini, kok masih ada orang yang membiarkan komputernya terinfeksi virus. Sebuah pandangan yang sangat wajar bagi kami yang sudah lama meninggalkan zaman di mana virus komputer adalah sebuah masalah.
Namun jika saya kembali beberapa tahun yang lalu, ketika awal menginjakkan kaki di Yogyakarta, ketika awal berjabat tangan dengan yang namanya komputer. Saya tidak tahu apa-apa, tidak tahu yang mana proprietary software dan yang mana free open source software, bahkan lebih parah lagi, karena tidak pernah belajar komputer modern, saya selalu merusakkan sistem saya sebulan sekali pada awalnya.
Kemudian pelan-pelan saya belajar dengan autodidak, bagaimana menyelesaikan setiap masalah komputer yang saya temui. Berusaha menghindari melakukan kesalahan serupa, mulai memberi perhatian pada usabilitas dan merangkai sistem keamanan yang lebih baik. Perlu bertahun-tahun bagi saya untuk menyesuaikan diri, menemukan setelan sistem yang saya rasa pas untuk diri saya, dan membuat saya terhindar dari masalah klasik seperti serangan virus komputer, sistem yang menjadi lambat tidak responsif. Sehingga saat ini saya berani membeli sebuah komputer yang kosong, dan mengisinya dengan sistem favorit saya secara mandiri tanpa mengalami masalah bermakna.
Saya tidak berkata kemudian belajar semua itu menjadikan saya seorang ahli di dalam bidang komputer, bahkan saya sangat jauh dari citra seperti itu. Namun semua itu adalah sebuah investasi, sehingga menjauhkan saya dari masalah-masalah yang tidak perlu, dan pada akhirnya menghindarkan saya dari mengeluarkan anggaran untuk mengatasi masalah-masalah yang tidak perlu tersebut.
Ya ya…, saya rasa saya dikembalikan pada kenangan-kenangan seperti itu saat kembali mengunjungi tempat-tempat yang dulu sering dikunjungi.

Tinggalkan Balasan ke alief Batalkan balasan