A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Update Februari 2026


Kanker payudara bukan sekadar angka statistik. Di balik setiap data epidemiologi, ada perempuan — ibu, saudara, rekan kerja, atau bahkan diri kita sendiri — yang hidupnya berubah setelah diagnosis tersebut disampaikan. Di Indonesia, kanker payudara menempati peringkat pertama sebagai kanker terbanyak pada wanita. Berdasarkan data Global Cancer Obserbatory (Globocan) tahun 2020 yang dirilis oleh International Agency for Research on Cancer (IARC/WHO), terdapat 68.858 kasus baru kanker payudara di Indonesia — setara dengan 16,6% dari seluruh kasus kanker baru di tanah air — dan lebih dari 22.000 di antaranya berujung pada kematian (Kementerian Kesehatan RI, 2022).

Yang memprihatinkan, sebanyak 70% kasus kanker payudara di Indonesia terdeteksi sudah pada stadium lanjut. Ini bukan sekadar masalah klinis — ini adalah cerminan dari kesenjangan kesadaran, akses, dan pemahaman masyarakat tentang penyakit ini. Padahal, deteksi dini secara dramatis meningkatkan peluang bertahan hidup dan kualitas pengobatan.

Tulisan ini bertujuan menelaah apa yang sesungguhnya meningkatkan risiko seseorang terkena kanker payudara — berdasarkan bukti ilmiah terkini — dan apa yang bisa kita lakukan. Bukan sekadar daftar belaka, melainkan pemahaman yang lebih dalam tentang mengapa faktor-faktor itu penting dan bagaimana kita bisa mengambil kendali atas sebagian dari risiko tersebut.

Kanker Payudara: Gambaran Global dan Konteks Indonesia

Secara global, kanker payudara kini menempati urutan kedua kanker terbanyak di dunia setelah kanker paru, dengan 2,3 juta kasus baru dan sekitar 670.000 kematian pada tahun 2022 (WHO, 2024). Proyeksi dari Global Burden of Disease Study 2023 yang dipublikasikan di The Lancet memperkirakan jumlah kasus kanker secara keseluruhan akan meningkat hingga 30,5 juta pada tahun 2050, dengan beban terbesar di negara-negara berpenghasilan menengah ke bawah — termasuk Indonesia (GBD 2023 Cancer Collaborators, 2025).

Indonesia menghadapi tantangan berlapis. Di satu sisi, jumlah kasus meningkat seiring perubahan gaya hidup dan bertambahnya harapan hidup penduduk. Di sisi lain, infrastruktur deteksi dini masih belum merata. Program skrining nasional yang menargetkan 80% perempuan usia 30–50 tahun untuk mendapatkan deteksi dini baru dalam tahap penguatan, sebagaimana tertuang dalam Rencana Aksi Nasional Kanker 2024–2034 yang diluncurkan Kemenkes (Kementerian Kesehatan RI, 2024).

Apa Sesungguhnya yang Dimaksud “Faktor Risiko”?

Sebelum melangkah lebih jauh, penting untuk memahami konsep dasar ini dengan benar. Memiliki faktor risiko kanker payudara tidak berarti seseorang pasti akan terkena kanker payudara. Faktor risiko adalah kondisi, perilaku, atau karakteristik yang meningkatkan peluang seseorang mengembangkan penyakit tertentu dibandingkan mereka yang tidak memiliki faktor tersebut. Sebaliknya, tidak memiliki faktor risiko pun tidak menjamin seseorang bebas dari kanker.

Kajian ilmiah mutakhir yang berskala besar — sebuah umbrella review (tinjauan atas kumpulan meta-analisis) yang diterbitkan di BMC Cancer pada 2024 — menganalisis 781 meta-analisis dari 280 publikasi, dan berhasil mengidentifikasi faktor-faktor mana yang memiliki bukti terkuat hubungannya dengan risiko kanker payudara (Yiallourou et al., 2024). Temuan ini menjadi salah satu dasar utama pembahasan di bawah ini.

Para peneliti membagi faktor risiko ke dalam dua kategori besar: faktor yang tidak dapat diubah dan faktor yang dapat dimodifikasi. Pemahaman ini krusial, karena strategi pencegahan hanya bisa menyasar faktor yang termasuk dalam kategori kedua.

Faktor Risiko yang Tidak Dapat Diubah

Jenis kelamin dan usia adalah dua faktor risiko paling mendasar. Kanker payudara jauh lebih sering terjadi pada wanita dibandingkan pria, meski kanker payudara pada pria tetap ada. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia — sebagian besar kasus didiagnosis pada wanita berusia di atas 50 tahun, dengan tingkat mortalitas mencapai 81% pada kelompok usia tersebut.

Riwayat keluarga dan genetika memainkan peran yang sangat signifikan. Wanita yang memiliki ibu, saudara perempuan, atau anak perempuan dengan riwayat kanker payudara menghadapi risiko yang lebih tinggi. Mutasi pada gen BRCA1 dan BRCA2 — yang dapat diturunkan dari orang tua — meningkatkan risiko kanker payudara seumur hidup secara dramatis. Ini adalah alasan mengapa konseling genetik kini direkomendasikan bagi mereka yang memiliki riwayat keluarga yang kuat. Di Indonesia, akses terhadap tes genetik masih terbatas dan terkonsentrasi di pusat-pusat kesehatan besar.

Riwayat reproduksi juga berpengaruh melalui mekanisme hormonal. Menstruasi pertama (menarche) pada usia yang lebih muda — sebelum 12 tahun — dan menopause yang terjadi lebih lambat — setelah usia 55 tahun — memperpanjang periode paparan estrogen alami tubuh terhadap jaringan payudara, sehingga meningkatkan risiko. Wanita yang tidak pernah hamil, atau melahirkan anak pertama setelah usia 30 tahun, juga memiliki risiko yang lebih tinggi dibandingkan mereka yang hamil lebih awal.

Kepadatan jaringan payudara (breast density) adalah faktor yang mungkin belum banyak dikenal masyarakat umum. Wanita dengan jaringan payudara yang lebih padat — yang terlihat pada hasil mamografi — memiliki risiko kanker payudara yang lebih tinggi. Ini terjadi karena jaringan padat mengandung lebih banyak sel kelenjar dan penunjang yang berpotensi mengalami perubahan. Selain itu, jaringan padat juga mempersulit deteksi massa tumor pada mamografi. Breast Imaging Reporting and Data System (BIRADS) dengan klasifikasi tinggi terbukti secara meyakinkan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara (Yiallourou et al., 2024).

Paparan radiasi pada dada sebelumnya, khususnya terapi radiasi untuk penyakit lain (seperti limfoma Hodgkin) di masa kanak-kanak atau remaja, meningkatkan risiko kanker payudara di kemudian hari.

Faktor Risiko yang Dapat Dimodifikasi

Inilah bagian yang paling relevan secara praktis, karena di sinilah upaya pencegahan dapat bermakna. Kajian umbrella review dari Yiallourou et al. (2024) menemukan bahwa beberapa faktor dengan bukti yang paling kuat (convincing evidence) justru termasuk dalam kategori yang bisa diubah.

Berat badan berlebih (overweight/obesitas). Indeks massa tubuh (body mass index/BMI) yang tinggi terbukti secara meyakinkan berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara, terutama pada wanita pascamenopause. Mekanismenya berkaitan dengan produksi estrogen: setelah menopause, jaringan lemak menjadi sumber utama estrogen. Semakin banyak jaringan lemak, semakin tinggi kadar estrogen, dan semakin besar stimulasi terhadap sel-sel payudara. Kenaikan berat badan yang signifikan setelah menopause pun terbukti memiliki hubungan yang meyakinkan (convincing) dengan peningkatan risiko. Di Indonesia, tren obesitas yang meningkat — khususnya di perkotaan — menjadikan faktor ini semakin relevan.

Ketidakaktifan fisik. Aktivitas fisik yang sedang hingga berat (moderate-vigorous physical activity) terbukti secara highly suggestive melindungi dari kanker payudara. Olahraga teratur memengaruhi metabolisme hormon, sensitivitas insulin, dan proses inflamasi — semuanya berperan dalam risiko kanker. WHO merekomendasikan minimal 150 menit aktivitas fisik intensitas sedang per minggu.

Penggunaan kontrasepsi oral. Penggunaan pil KB pada wanita premenopause terbukti secara meyakinkan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara, meski peningkatan risiko absolut ini relatif kecil dan umumnya menurun setelah penghentian penggunaan. Ini bukan berarti kontrasepsi oral harus dihindari sepenuhnya — manfaatnya dalam merencanakan keluarga dan aspek kesehatan lain harus dipertimbangkan secara menyeluruh bersama dokter.

Terapi hormon pascamenopause. Penggunaan terapi pengganti hormon (hormone replacement therapy/HRT) kombinasi estrogen-progesteron dalam jangka panjang meningkatkan risiko kanker payudara. Keputusan menggunakan terapi ini harus selalu diambil bersama dokter dengan mempertimbangkan manfaat (seperti mengatasi gejala menopause dan mencegah osteoporosis) dan risikonya secara individual.

Konsumsi alkohol. Meskipun konsumsi alkohol relatif rendah di Indonesia dibandingkan negara Barat, bukti ilmiahnya tetap relevan untuk disampaikan. Konsumsi alkohol — bahkan dalam jumlah moderat — berkaitan dengan peningkatan risiko kanker payudara melalui berbagai mekanisme, termasuk peningkatan kadar estrogen dan kerusakan DNA.

Pola makan. Tinjauan sistematis tentang faktor diet yang dilakukan Lamchabbek et al. (2025) menunjukkan bahwa konsumsi buah dan sayuran, ikan, serta pola makan sehat (termasuk pola makan Mediterania dan berbasis tanaman) dikaitkan dengan penurunan risiko kanker payudara. Sebaliknya, pola makan tinggi daging merah dan makanan olahan berkaitan dengan peningkatan risiko. Asupan serat yang tinggi secara khusus memiliki bukti meyakinkan (convincing) sebagai faktor protektif (Yiallourou et al., 2024).

Menyusui. Menyusui memberikan efek perlindungan terhadap kanker payudara. Semakin lama durasi menyusui — baik per anak maupun total kumulatif — semakin besar efek protektifnya. Mekanismenya diduga melibatkan perubahan hormonal, diferensiasi sel kelenjar payudara, dan berkurangnya siklus menstruasi selama menyusui. Di Indonesia, menyusui memiliki akar budaya yang kuat, dan promosi menyusui eksklusif sejalan dengan upaya pencegahan kanker payudara.

Kadar vitamin D. Bukti ilmiah menunjukkan secara highly suggestive bahwa kadar 25-hidroksivitamin D [25(OH)D] yang tinggi bersifat protektif terhadap kanker payudara. Ini menarik mengingat Indonesia adalah negara tropis dengan paparan sinar matahari melimpah, namun ironisnya banyak studi menunjukkan defisiensi vitamin D tetap umum di sini, terutama pada wanita yang banyak beraktivitas di dalam ruangan atau menggunakan pakaian tertutup.

Kadar hormon dalam darah. Kadar androstenedion, estradiol, estron, dan testosteron yang tinggi dalam darah semuanya terbukti secara meyakinkan berhubungan dengan peningkatan risiko kanker payudara. Ini memperkuat pemahaman bahwa lingkungan hormonal tubuh — yang dipengaruhi oleh faktor gaya hidup seperti berat badan dan aktivitas fisik — memainkan peran sentral.

Kaitan Diabetes dengan Kanker Payudara: Temuan Terbaru

Studi yang diterbitkan di BMC Cancer pada 2025 menemukan hubungan yang signifikan antara diabetes melitus dan kanker payudara, dengan faktor-faktor seperti BMI, distribusi lemak tubuh, dan pola makan sebagai mediator kunci (Saroosh et al., 2025). Temuan ini memperkuat urgensi pengelolaan berat badan dan pola makan sehat sebagai strategi lintas penyakit — sekaligus mengingatkan bahwa risiko kanker payudara tidak berdiri sendiri, melainkan saling terkait dengan penyakit tidak menular lainnya yang juga tengah meningkat prevalensinya di Indonesia.

Deteksi Dini: Senjata yang Paling Efektif

Memahami faktor risiko adalah langkah pertama, tetapi tindakan nyata yang paling berdampak adalah deteksi dini yang teratur. Di Indonesia, Kemenkes merekomendasikan dua metode utama yang bisa dilakukan perempuan secara mandiri maupun dengan bantuan tenaga kesehatan.

SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) adalah pemeriksaan mandiri yang idealnya dilakukan setiap bulan, pada hari ke-7 hingga ke-10 setelah hari pertama menstruasi, atau pada tanggal yang sama setiap bulan bagi wanita pascamenopause. Tujuannya adalah mengenali perubahan bentuk, ukuran, atau tekstur payudara dibandingkan kondisi sebelumnya — bukan untuk mendiagnosis, melainkan untuk mendeteksi ketidaknormalan lebih awal.

SADANIS (Pemeriksaan Payudara Klinis) adalah pemeriksaan oleh tenaga kesehatan yang terlatih. Di faskes primer seperti puskesmas, metode Clinical Breast Examination (CBE) sudah dapat dilakukan dan direkomendasikan sebagai bagian dari deteksi dini berbasis komunitas.

Mammografi adalah pemeriksaan pencitraan yang direkomendasikan secara berkala bagi wanita usia 40–74 tahun, atau lebih awal bagi mereka yang memiliki faktor risiko tinggi. Ketersediaan mammografi di Indonesia masih sangat terpusat di kota-kota besar dan rumah sakit rujukan, meskipun Rencana Aksi Nasional Kanker 2024–2034 menargetkan perluasan akses ini secara bertahap.

Apa yang Bisa Kita Lakukan Hari Ini?

Risiko kanker payudara tidak sepenuhnya ada dalam kendali kita — dan itu adalah kenyataan yang perlu diterima dengan lapang. Namun, sebagian besar faktor risiko yang terbukti secara ilmiah adalah faktor yang dapat kita pengaruhi melalui pilihan gaya hidup sehari-hari. Menjaga berat badan ideal, aktif bergerak, makan makanan bergizi dengan banyak serat dan sayuran, menyusui bayi jika memungkinkan, berdiskusi dengan dokter sebelum menggunakan terapi hormon, dan menjalankan pemeriksaan payudara secara rutin adalah langkah-langkah konkret yang berbasis bukti.

Yang tidak kalah penting adalah membangun kesadaran bahwa pergi ke dokter ketika menemukan sesuatu yang mencurigakan — benjolan, perubahan bentuk, atau cairan dari puting — bukan tanda kepanikan yang berlebihan. Itu adalah tindakan yang bertanggung jawab. Di Indonesia, stigma dan ketakutan sering kali menjadi penghalang yang lebih besar dari keterbatasan akses sekalipun.

Kemenkes melalui Strategi Nasional Penanggulangan Kanker Payudara menargetkan 40% kasus didiagnosis pada stadium I dan II — sebuah target yang hanya bisa tercapai jika perempuan Indonesia memiliki pemahaman yang benar tentang risiko dan keberanian untuk bertindak lebih awal.


Referensi

GBD 2023 Cancer Collaborators. (2025). The global, regional, and national burden of cancer, 1990–2023, with forecasts to 2050: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2023. The Lancet, 406(10512), 1565–1586. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01635-6

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Kanker payudara paling banyak di Indonesia, Kemenkes targetkan pemerataan layanan kesehatan. Sehat Negeriku. https://sehatnegeriku.kemkes.go.id/baca/umum/20220202/1639254/kanker-payudaya-paling-banyak-di-indonesia-kemenkes-targetkan-pemerataan-layanan-kesehatan/

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Kasus kanker diprediksi meningkat 70 persen pada 2050, Kemenkes perkuat deteksi dini. https://kemkes.go.id/id/kasus-kanker-diprediksi-meningkat-70-persen-pada-2050-kemenkes-perkuat-deteksi-dini

Lamchabbek, N., Elattabi, C., Bour, A., Chimera, B., Boutayeb, S., Belyamani, L., Faure, E., Huybrechts, I., & Khalis, M. (2025). Associations between dietary factors and breast cancer risk: A systematic review of evidence from the MENA region. Nutrients, 17(3), 394. https://doi.org/10.3390/nu17030394

Saroosh, R., Ahmad, N., Israr, B., Nazir, A., Itrat, N., & Ahmad, A. M. R. (2025). Association of diabetes mellitus and breast cancer in adult men and women: A cross-sectional survey. BMC Cancer, 25(1), 1276. https://doi.org/10.1186/s12885-025-14689-6

World Health Organization. (2024). Global cancer burden growing, amidst mounting need for services. https://www.who.int/news/item/01-02-2024-global-cancer-burden-growing–amidst-mounting-need-for-services

Yiallourou, A., Pantavou, K., Markozannes, G., Pilavas, A., Georgiou, A., Hadjikou, A., Economou, M., Christodoulou, N., Letsos, K., Khattab, E., Kossyva, C., Constantinou, M., Theodoridou, M., Piovani, D., Tsilidis, K. K., Bonovas, S., & Nikolopoulos, G. K. (2024). Non-genetic factors and breast cancer: An umbrella review of meta-analyses. BMC Cancer, 24(1), 903. https://doi.org/10.1186/s12885-024-12641-8


Data yang disajikan dalam artikel ini diperoleh dari berbagai sumber ilmiah termasuk PubMed, publikasi WHO/IARC, dan data Kementerian Kesehatan RI.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

5 tanggapan

  1. hani Avatar
    hani

    bapak & ibu dokter saya adalah wanita berumur 22 tahun, saya mau
    bertanya, saya sudah membaca berbagai artikel baik di internet maupun di
    majalah tentang kanker payu dara, saya lihat salah satu cirinya adalah
    ada benjolan kecil di payudara dan benjolan kecil di ketiak,dan banyak
    lagi ciri lainya, yang saya takutkan adalah saya punya kedua ciri
    itu,sedangkan ciri yg lainya tidak ada. apakah saya bisa dikatakan
    menderita kanker payudara dok? lalu bagaimana solusinya?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Hani, ciri atau tanda adalah temuan yang mencurigakan. Maka kecurigaan tersebut perlu dibuktikan terlebih dahulu apa memang benar kanker atau hanya dua kondisi yang ternyata tidak saling berhubungan dan bukan kanker.
      Saran saya adalah melakukan pemeriksaan ke dokter terdekat. Lebih baik lakukan deteksi dini.

      Suka

  2. Ladeva Avatar

    Cahya, terima kasih ya post yang ini. Penting untuk perempuan:)

    Suka

  3. Sakti Soediro Avatar
    Sakti Soediro

    Thank you for remind us. Thank you for remind me personally.

    By the way, menjadi second hand smoker juga bisa meningkatkan resiko kanker payudara kan Mas? Then how we deal with that? gimana caranya ya? kita, perempuan2 pecinta hidup sehat ini bisa tetep hidup berdampingan dengan para perokok itu tanpa harus mengambil resiko yang nggak perlu 😛

    Yaiy! I made it. Spending sometimes on your blog. Its nice..

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Entahlah, setiap orang memiliki caranya sendiri-sendiri. Kalau saya dengan jarang mengunjungi lokasi publik di mana potensi asap rokok banyak, termasuk jarang mengunjungi hajatan jika potensi perokok banyak berkumpul di situ, jika pun terpaksa, ya waktunya dipersingkat.

      Saat ini tidak ada dukungan/payung hukum yang melindungi masyarakat bukan perokok dari kemungkinan menjadi perokok pasif, ya maka kembali pada cara dan kreativitas kita masing-masing. Tidak ada satu cara yang paling cocok bagi setiap orang untuk menghindari asap rokok 🙂 – so wisely, chose your own path.

      Suka

Tinggalkan komentar