Diperbarui dari artikel asli tahun 2011, diperbarui Februari 2026
Kalajengking. Hewan yang satu ini kerap membuat merinding siapa pun yang memandangnya, bahkan sebelum tahu bahwa ekornya bisa membawa malapetaka. Di Indonesia, perjumpaan tak sengaja dengan kalajengking bukan sesuatu yang langka, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pertanian, kawasan dengan banyak tumpukan kayu, atau rumah yang berbatasan langsung dengan hutan. Namun, sebagian besar dari kita masih belum memahami dengan baik apa yang sesungguhnya terjadi dalam tubuh saat kalajengking menyengat, mengapa beberapa kasus bisa begitu berbahaya, dan apa yang harus dilakukan saat berhadapan dengan situasi ini.
Artikel ini hadir untuk menjawab semua itu, dengan basis pengetahuan yang jauh lebih mutakhir dibanding satu dekade lalu.
Disengat, Bukan Digigit
Satu hal yang perlu diluruskan sejak awal: kalajengking tidak “menggigit” manusia dengan cara yang lazim kita bayangkan. Kalajengking memang memiliki sepasang capit (chelicerae) yang digunakan untuk menangkap dan memangsa serangga, cacing, atau artropoda kecil lain. Namun, senjata berbahaya utamanya justru terletak di ujung ekor, yaitu alat sengat yang disebut telson, yang mengandung kelenjar racun (venom gland). Jadi secara teknis, kejadian yang menyebabkan cedera pada manusia adalah sengatan, bukan gigitan.
Pemahaman ini penting, karena mekanisme racun yang masuk ke tubuh berbeda dengan gigitan, dan penanganannya pun memiliki nuansa yang berbeda.
Seberapa Besar Ancaman Kalajengking?
Scorpionism, atau kasus keracunan akibat sengatan kalajengking, termasuk dalam kategori penyakit tropis yang terabaikan (neglected tropical diseases), namun dampaknya jauh dari bisa diabaikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,2 juta sengatan kalajengking terjadi setiap tahun di seluruh dunia, dengan lebih dari 3.250 kematian yang dilaporkan. Angka ini mungkin jauh lebih rendah dari kenyataan, mengingat banyak kasus yang tidak pernah dilaporkan, terutama di negara-negara berkembang di Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia Selatan.
Di kawasan tropis seperti Brasil, sengatan kalajengking menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Genus Tityus, khususnya spesies Tityus serrulatus yang dikenal sebagai kalajengking kuning Brasil, bertanggung jawab atas mayoritas kasus berat di sana. Penelitian terbaru dari Universitas São Paulo memperlihatkan bahwa racun Tityus serrulatus mengandung campuran kompleks protein, peptida, asam amino, serta komponen lipid seperti glycerophospholipids dan sphingolipids yang memicu respons peradangan sistemik melalui jalur nuclear factor kappa B dan stres oksidatif (Acunha et al., 2023).

Di kawasan Timur Tengah, kalajengking dari keluarga Buthidae menjadi penyebab utama kasus berat. Sebuah studi retrospektif selama lima tahun di Turki yang menganalisis 1.041 kasus sengatan kalajengking menemukan bahwa 39 persen pasien berusia di bawah 17 tahun, dengan musim panas sebagai periode puncak kejadian. Meskipun sebagian besar (94,1%) dapat ditangani secara rawat jalan, sebanyak 12% membutuhkan antivenom dan satu pasien meninggal akibat henti jantung (Kafadar et al., 2025).
Mengenal Kalajengking: Siapa yang Berbahaya?
Dari sekitar 2.500 spesies kalajengking yang diketahui saat ini, hanya sekitar 25 hingga 40 spesies yang dianggap berbahaya bagi manusia. Hampir semuanya termasuk dalam keluarga Buthidae, yang dapat dikenali dari bentuk sternum (tulang dada) segitiga, berbeda dengan bentuk pentagonal pada keluarga lainnya. Secara kasar, kalajengking berbahaya cenderung memiliki capit yang terlihat lemah dan kecil, tubuh yang tipis, namun ekor yang tebal dan kuat. Sebaliknya, kalajengking dengan capit besar dan kokoh umumnya kurang berbisa, meski ini bukan aturan mutlak yang bisa dijadikan jaminan keselamatan.
Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, beberapa genus yang perlu diwaspadai antara lain Isometrus, Lychas, dan Heterometrus. Genus Heterometrus yang berwarna hitam besar memang terlihat menakutkan, namun relatif kurang berbahaya dibanding kalajengking kecil dari genus Isometrus yang justru sering ditemukan di dalam rumah. Di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah, Androctonus, Leiurus, dan Buthus termasuk yang paling mematikan. Di Amerika Latin, genus Tityus dan Centruroides menjadi perhatian utama.
Perlu dicatat bahwa globalisasi dan perdagangan internasional telah memungkinkan perpindahan spesies kalajengking dari habitat aslinya ke wilayah baru. Kasus kalajengking eksotis yang terbawa dalam peti kayu, produk impor, atau bagasi perjalanan telah dilaporkan di berbagai negara, termasuk di Eropa dan Amerika, sehingga pemahaman tentang kalajengking tidak lagi sekadar urusan lokal.
Bagaimana Racun Kalajengking Bekerja dalam Tubuh
Di sinilah ilmu pengetahuan modern membuka cakrawala yang jauh lebih dalam dibanding yang kita ketahui sebelumnya. Racun kalajengking bukanlah zat tunggal, melainkan campuran kompleks yang mengandung ratusan komponen bioaktif.
Komponen utama yang bertanggung jawab atas toksisitas adalah peptida dan protein yang secara selektif menarget ion channels, yaitu saluran molekuler di membran sel saraf dan otot yang mengatur keluar masuknya ion natrium, kalium, kalsium, dan klorin. Toksin yang menarget saluran natrium (sodium channel toxins) bekerja dengan cara menjaga saluran tersebut tetap terbuka lebih lama dari seharusnya, menyebabkan depolarisasi yang terus-menerus dan pelepasan neurotransmiter yang tidak terkontrol.
Akibatnya terjadi badai katekolamin (catecholamine storm): kelenjar adrenal melepaskan epinefrin dan norepinefrin dalam jumlah masif. Inilah yang menjelaskan mengapa pasien dengan sengatan berat bisa mengalami lonjakan tekanan darah, denyut jantung yang cepat dan tidak teratur, berkeringat deras, hipersalivasi (keluarnya air liur berlebih), bahkan edema paru (cairan di paru-paru). Jantung berada di bawah tekanan luar biasa akibat kombinasi vasokonstriksi koroner dan efek toksik langsung terhadap sel-sel miokardium.
Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam American Journal of Tropical Medicine and Hygiene menegaskan bahwa sengatan berat dapat memicu iskemia miokardium temporer, bahkan sindrom menyerupai kardiomiopati Takotsubo akibat gangguan mikrovaskular yang dipicu oleh badai katekolamin dan interaksi neurohormonal yang kompleks (Bahloul et al., 2024). Ini adalah komplikasi yang pada tahun 2011 belum banyak dipahami bahkan oleh sebagian besar klinisi.
Selain efek adrenergik, racun kalajengking juga mengandung komponen yang memicu peradangan sistemik, melepaskan sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 (IL-6), interleukin-1β (IL-1β), dan tumor necrosis factor, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kerusakan jaringan di paru-paru, ginjal, dan organ-organ vital lainnya.
Derajat Keparahan Sengatan
Secara klinis, sengatan kalajengking dapat diklasifikasikan dalam beberapa derajat keparahan. Pemahaman ini penting karena menentukan pendekatan tata laksana yang tepat.
Pada derajat ringan, gejala terbatas pada area lokal sengatan: nyeri yang terasa membakar, sensasi kesemutan, bengkak ringan, dan kemerahan. Gejala ini dapat bertahan beberapa jam hingga satu hari dan umumnya tidak mengancam jiwa.
Pada derajat sedang, mulai muncul gejala sistemik ringan seperti mual, nyeri kepala, peningkatan keringat, dan agitasi. Tekanan darah dan denyut jantung mungkin sedikit meningkat. Observasi di fasilitas kesehatan diperlukan.
Pada derajat berat, pasien dapat mengalami gangguan kardiovaskular nyata berupa hipotensi atau hipertensi berat, aritmia, edema paru, gangguan pernapasan, hingga gagal napas. Pada sistem saraf, dapat terjadi eksitasi berlebihan, spasme otot, tremor, bahkan koma. Anak-anak dan wanita hamil memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi berat.
Pertolongan Pertama: Apa yang Harus Dilakukan
Sebelum berbicara tentang antivenom dan penanganan medis, ada hal-hal mendasar yang bisa dilakukan saat menunggu pertolongan profesional atau dalam perjalanan menuju fasilitas kesehatan.
Hal pertama dan paling penting adalah segera membawa korban ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu melihat apakah gejala memburuk, karena pada anak-anak, lansia, atau orang dengan kondisi tertentu, perburukan bisa terjadi sangat cepat.
Sambil menunggu atau dalam perjalanan, bersihkan area sengatan dengan air mengalir dan sabun. Lepaskan perhiasan atau pakaian yang ketat di sekitar area sengatan untuk mengantisipasi bengkak. Kompres dengan kain yang dibasahi air dingin atau kompres es yang dibungkus kain untuk membantu mengurangi rasa nyeri dan memperlambat penyerapan racun lokal. Berikan paracetamol (asetaminofen) jika tersedia untuk membantu mengurangi nyeri.
Yang tidak boleh dilakukan: jangan membuat sayatan pada bekas sengatan, jangan menyedot area sengatan, jangan mengoleskan balsem atau minyak panas karena efek hangat justru dapat mempercepat penyerapan racun ke dalam sirkulasi, dan jangan mengikat anggota tubuh yang tersengat. Semua tindakan tersebut tidak terbukti efektif dan bahkan berpotensi memperburuk kondisi.
Penanganan Medis Modern
Tata laksana medis sengatan kalajengking telah mengalami perkembangan signifikan dalam satu dekade terakhir.
Antivenom tetap menjadi terapi utama pada kasus berat. Namun debat tentang kapan dan bagaimana antivenom diberikan masih terus berlangsung. Studi dari Israel yang diterbitkan pada 2025 membandingkan penggunaan antivenom SCORPIFAV dengan perawatan suportif saja pada 194 anak dengan sengatan derajat 2 atau lebih. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima antivenom membutuhkan lebih sedikit sedasi, analgetik, dan obat antihipertensi, mengindikasikan bahwa pemberian antivenom dini di unit gawat darurat dapat meredam respons simpatis dan mengurangi intensitas keseluruhan penanganan (Kestenbom et al., 2025).
Perlu diperhatikan, penelitian terbaru dari Brasil juga menunjukkan bahwa tidak semua antivenom bekerja efektif untuk semua spesies kalajengking. Antivenom yang dikembangkan berdasarkan Tityus serrulatus menunjukkan reaktivitas silang (cross-reactivity) yang terbatas terhadap spesies Tityus metuendus dan Tityus obscurus dari kawasan Amazon, menegaskan perlunya antivenom yang disesuaikan dengan profil spesies lokal (Zoccal et al., 2025).
Untuk komplikasi kardiovaskular, manajemen berpusat pada stabilisasi hemodinamik. Pada kasus gagal jantung dan edema paru pasca-sengatan berat, dobutamin terbukti memperbaiki fungsi jantung. Dukungan ventilasi, baik invasif maupun non-invasif, mungkin diperlukan pada kasus edema paru berat. Terapi antiplatelet tidak direkomendasikan meskipun terdapat gambaran iskemia miokardium (Bahloul et al., 2024).
Dari perspektif yang lebih baru dan menarik, penelitian mutakhir justru mengeksplorasi potensi terapeutik dari komponen racun kalajengking itu sendiri. Peptida pendek dari bisa kalajengking Cina (Mesobuthus martensii Karsch atau BmK) sedang diteliti sebagai kandidat obat untuk epilepsi, neuroinflammasi, glioma, dan penatalaksanaan nyeri kronik, berkat kemampuannya memodulasi saluran ion tertentu dengan spesifisitas tinggi (Dong et al., 2026). Ini adalah ironi yang menarik: racun yang berbahaya itu, dalam tangan ilmuwan, justru menjadi inspirasi bagi generasi baru obat-obatan neurologis.
Mengapa Anak-anak Lebih Rentan
Anak-anak dan bayi menghadapi risiko yang jauh lebih besar dari sengatan kalajengking dibanding orang dewasa. Ini bukan hanya karena tubuh mereka yang lebih kecil sehingga konsentrasi racun relatif lebih tinggi per kilogram berat badan, tetapi juga karena sistem imun dan kardiovaskular mereka yang masih dalam tahap perkembangan. Data dari berbagai studi secara konsisten menunjukkan bahwa angka kematian akibat sengatan kalajengking jauh lebih tinggi pada kelompok anak-anak.
Studi di Turki menemukan bahwa kelompok usia 1 hingga 17 tahun merupakan kelompok yang paling banyak terkena sengatan (39,38% dari seluruh kasus), menegaskan pentingnya kewaspadaan orang tua dan edukasi di komunitas yang berisiko tinggi (Kafadar et al., 2025). Wanita hamil juga termasuk kelompok yang berisiko tinggi mengalami komplikasi berat.
Kalajengking di Indonesia: Gambaran Lokal
Di Indonesia, data epidemiologi sengatan kalajengking yang terdokumentasi secara sistematis masih sangat terbatas. Namun dari pengalaman klinis dan laporan kasus yang ada, sengatan kalajengking bukan kejadian langka di daerah pertanian, kawasan berbatu, dan lingkungan tropis lembap. Genus Heterometrus yang hitam besar sering dijumpai di Jawa dan Sumatera, sementara Isometrus maculatus yang berukuran lebih kecil kerap ditemukan di dalam rumah dan di celah-celah kayu.
Kebanyakan kasus di Indonesia melibatkan kalajengking yang tidak tergolong sangat berbisa, sehingga gejala yang timbul seringkali terbatas pada reaksi lokal. Namun demikian, selalu ada kemungkinan reaksi alergi berat atau anafilaksis yang bisa mengancam jiwa, terutama pada orang yang sebelumnya sudah pernah tersengat. Populasi yang paling banyak tersengat adalah petani dan pekerja yang bekerja di ladang jagung, padi, atau yang banyak bersinggungan dengan tumpukan material organik.
Salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah terbatasnya ketersediaan antivenom khusus kalajengking di fasilitas kesehatan primer dan bahkan banyak rumah sakit kabupaten. Antivenom yang ada pun mungkin tidak selalu sesuai dengan spesies lokal. Oleh karena itu, penanganan suportif berkualitas tinggi dan kemampuan manajemen komplikasi di tingkat fasilitas sekunder menjadi sangat penting.
Pencegahan: Langkah Sederhana yang Sering Diabaikan
Pencegahan sengatan kalajengking sesungguhnya tidak memerlukan teknologi canggih. Kalajengking bersifat nokturnal dan bersembunyi di tempat-tempat gelap, lembap, dan sempit sepanjang siang hari. Mereka tidak agresif dan tidak akan menyerang kecuali merasa terancam.
Beberapa langkah pencegahan yang efektif mencakup kebiasaan selalu mengecek alas kaki, pakaian, dan handuk sebelum digunakan, terutama saat berada di kawasan yang diketahui terdapat kalajengking. Penggunaan sarung tangan tebal saat bekerja di kebun, merapikan tumpukan kayu, atau membersihkan gudang adalah perlindungan yang sederhana namun sangat efektif. Di dalam rumah, menyegel celah-celah di dinding, lantai, dan sekitar pipa air dapat mengurangi kemungkinan kalajengking masuk. Tidur menggunakan kelambu juga memberikan perlindungan tambahan, terutama bagi anak-anak.
Catatan Akhir
Sengatan kalajengking adalah cedera yang, dalam banyak kasus, dapat ditangani dengan baik jika respons yang tepat diberikan dengan cepat. Namun meremehkannya adalah kesalahan yang bisa berakibat fatal, terutama ketika yang tersengat adalah seorang anak kecil atau bayi. Ilmu pengetahuan terus berkembang, baik dalam memahami mekanisme racun yang semakin kompleks maupun dalam mengembangkan strategi terapi yang lebih efektif, bahkan hingga mengubah racun kalajengking menjadi kandidat obat masa depan.
Pesan terpentingnya tetap sederhana: jika seseorang tersengat kalajengking, jangan tunda, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.
Daftar Referensi
Acunha, T., Rocha, B. A., Nardini, V., Barbosa, F., & Faccioli, L. H. (2023). Lipidomic profiling of the Brazilian yellow scorpion venom: new insights into inflammatory responses following envenomation. Journal of Toxicology and Environmental Health, Part A, 86(9), 283–295. https://doi.org/10.1080/15287394.2023.2188896
Bahloul, M., Bouchaala, K., Chtara, K., Kharrat, S., & Bouaziz, M. (2024). Myocardial ischemia after severe scorpion envenomation: A narrative review. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, 111(6), 1178–1183. https://doi.org/10.4269/ajtmh.24-0163
Dong, Y., Wang, J., Zhu, Y., Zhao, L., Zeng, Y., Tang, L., Xiao, Q., Cheng, J., Wang, C., & Tao, J. (2026). From venom peptides to neurotherapeutics: BmK defensins and short-chain peptides as modulators of ion channels. Frontiers in Pharmacology, 17, 1754290. https://doi.org/10.3389/fphar.2026.1754290
Kafadar, H., Erin, N., Demir, U., & Buyukaslan, H. (2025). Scorpion stings: Epidemiological, clinical, and forensic medical evaluation using university hospital data. Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical, 58, e02082025. https://doi.org/10.1590/0037-8682-0208-2025
Kestenbom, I., Bar-Moshe, S., Test, G., Kaplan, O., Grupel, T., Shilo, M., Bilenko, N., Friger, M., Maimon, M. S., Scolnik, D., & Glatstein, M. (2025). Scropifav antivenom versus supportive care alone in the treatment of pediatric scorpion envenomation. American Journal of Therapeutics. https://doi.org/10.1097/MJT.0000000000002046
Maurer, J., Mutricy, R., Negrello, F., Deschamps, C., Nacher, M., Kallel, H., & Fremery, A. (2025). Epidemiology and management of wildlife contacts in an emergency department of French Guiana. PLoS Neglected Tropical Diseases, 19(12), e0013771. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0013771
Wilkins, D., Pallett, S. J. C., Potter, J., Woolley, S. D., Holden, G., Chapman, K., Kew, A., Warrell, D. A., Lalloo, D., & Lamb, L. (2025). Scorpion sting: A narrative review and proposed guidelines for contemporary UK armed forces operations. BMJ Military Health. https://doi.org/10.1136/military-2025-003107
World Health Organization. (2019). Scorpion envenomation. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/scorpion-envenomation
Zoccal, K. F., de Castro Figueiredo Bordon, K., Reis, M. B., Rosa Nunes de Souza Chini, P. B., Martins, J. G., Zuanazzi, B. A., Wiezel, G. A., Campos Dos Santos, A. C., Emerson de Lima Procópio, R., & Arantes, E. C. (2025). Divergent clinical, inflammatory, and histopathological responses induced by Amazonian Tityus venoms: insights and limitations of current antivenom therapy. Biochimie, 238(Pt B), 159–171. https://doi.org/10.1016/j.biochi.2025.08.004
Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi dan informasi kesehatan publik. Bukan pengganti konsultasi dengan tenaga medis profesional. Jika Anda atau seseorang di sekitar Anda tersengat kalajengking, segera cari pertolongan medis.

Tinggalkan komentar