A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diperbarui dari artikel asli tahun 2011, diperbarui Februari 2026


Kalajengking. Hewan yang satu ini kerap membuat merinding siapa pun yang memandangnya, bahkan sebelum tahu bahwa ekornya bisa membawa malapetaka. Di Indonesia, perjumpaan tak sengaja dengan kalajengking bukan sesuatu yang langka, terutama bagi mereka yang tinggal di daerah pertanian, kawasan dengan banyak tumpukan kayu, atau rumah yang berbatasan langsung dengan hutan. Namun, sebagian besar dari kita masih belum memahami dengan baik apa yang sesungguhnya terjadi dalam tubuh saat kalajengking menyengat, mengapa beberapa kasus bisa begitu berbahaya, dan apa yang harus dilakukan saat berhadapan dengan situasi ini.

Artikel ini hadir untuk menjawab semua itu, dengan basis pengetahuan yang jauh lebih mutakhir dibanding satu dekade lalu.


Disengat, Bukan Digigit

Satu hal yang perlu diluruskan sejak awal: kalajengking tidak “menggigit” manusia dengan cara yang lazim kita bayangkan. Kalajengking memang memiliki sepasang capit (chelicerae) yang digunakan untuk menangkap dan memangsa serangga, cacing, atau artropoda kecil lain. Namun, senjata berbahaya utamanya justru terletak di ujung ekor, yaitu alat sengat yang disebut telson, yang mengandung kelenjar racun (venom gland). Jadi secara teknis, kejadian yang menyebabkan cedera pada manusia adalah sengatan, bukan gigitan.

Pemahaman ini penting, karena mekanisme racun yang masuk ke tubuh berbeda dengan gigitan, dan penanganannya pun memiliki nuansa yang berbeda.


Seberapa Besar Ancaman Kalajengking?

Scorpionism, atau kasus keracunan akibat sengatan kalajengking, termasuk dalam kategori penyakit tropis yang terabaikan (neglected tropical diseases), namun dampaknya jauh dari bisa diabaikan. Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) memperkirakan sekitar 1,2 juta sengatan kalajengking terjadi setiap tahun di seluruh dunia, dengan lebih dari 3.250 kematian yang dilaporkan. Angka ini mungkin jauh lebih rendah dari kenyataan, mengingat banyak kasus yang tidak pernah dilaporkan, terutama di negara-negara berkembang di Afrika, Timur Tengah, Amerika Latin, dan Asia Selatan.

Di kawasan tropis seperti Brasil, sengatan kalajengking menjadi masalah kesehatan masyarakat yang serius. Genus Tityus, khususnya spesies Tityus serrulatus yang dikenal sebagai kalajengking kuning Brasil, bertanggung jawab atas mayoritas kasus berat di sana. Penelitian terbaru dari Universitas São Paulo memperlihatkan bahwa racun Tityus serrulatus mengandung campuran kompleks protein, peptida, asam amino, serta komponen lipid seperti glycerophospholipids dan sphingolipids yang memicu respons peradangan sistemik melalui jalur nuclear factor kappa B dan stres oksidatif (Acunha et al., 2023).

Photo by Sippakorn Yamkasikorn on Pexels.com

Di kawasan Timur Tengah, kalajengking dari keluarga Buthidae menjadi penyebab utama kasus berat. Sebuah studi retrospektif selama lima tahun di Turki yang menganalisis 1.041 kasus sengatan kalajengking menemukan bahwa 39 persen pasien berusia di bawah 17 tahun, dengan musim panas sebagai periode puncak kejadian. Meskipun sebagian besar (94,1%) dapat ditangani secara rawat jalan, sebanyak 12% membutuhkan antivenom dan satu pasien meninggal akibat henti jantung (Kafadar et al., 2025).


Mengenal Kalajengking: Siapa yang Berbahaya?

Dari sekitar 2.500 spesies kalajengking yang diketahui saat ini, hanya sekitar 25 hingga 40 spesies yang dianggap berbahaya bagi manusia. Hampir semuanya termasuk dalam keluarga Buthidae, yang dapat dikenali dari bentuk sternum (tulang dada) segitiga, berbeda dengan bentuk pentagonal pada keluarga lainnya. Secara kasar, kalajengking berbahaya cenderung memiliki capit yang terlihat lemah dan kecil, tubuh yang tipis, namun ekor yang tebal dan kuat. Sebaliknya, kalajengking dengan capit besar dan kokoh umumnya kurang berbisa, meski ini bukan aturan mutlak yang bisa dijadikan jaminan keselamatan.

Di Asia Tenggara, termasuk Indonesia, beberapa genus yang perlu diwaspadai antara lain Isometrus, Lychas, dan Heterometrus. Genus Heterometrus yang berwarna hitam besar memang terlihat menakutkan, namun relatif kurang berbahaya dibanding kalajengking kecil dari genus Isometrus yang justru sering ditemukan di dalam rumah. Di kawasan Afrika Utara dan Timur Tengah, Androctonus, Leiurus, dan Buthus termasuk yang paling mematikan. Di Amerika Latin, genus Tityus dan Centruroides menjadi perhatian utama.

Perlu dicatat bahwa globalisasi dan perdagangan internasional telah memungkinkan perpindahan spesies kalajengking dari habitat aslinya ke wilayah baru. Kasus kalajengking eksotis yang terbawa dalam peti kayu, produk impor, atau bagasi perjalanan telah dilaporkan di berbagai negara, termasuk di Eropa dan Amerika, sehingga pemahaman tentang kalajengking tidak lagi sekadar urusan lokal.


Bagaimana Racun Kalajengking Bekerja dalam Tubuh

Di sinilah ilmu pengetahuan modern membuka cakrawala yang jauh lebih dalam dibanding yang kita ketahui sebelumnya. Racun kalajengking bukanlah zat tunggal, melainkan campuran kompleks yang mengandung ratusan komponen bioaktif.

Komponen utama yang bertanggung jawab atas toksisitas adalah peptida dan protein yang secara selektif menarget ion channels, yaitu saluran molekuler di membran sel saraf dan otot yang mengatur keluar masuknya ion natrium, kalium, kalsium, dan klorin. Toksin yang menarget saluran natrium (sodium channel toxins) bekerja dengan cara menjaga saluran tersebut tetap terbuka lebih lama dari seharusnya, menyebabkan depolarisasi yang terus-menerus dan pelepasan neurotransmiter yang tidak terkontrol.

Akibatnya terjadi badai katekolamin (catecholamine storm): kelenjar adrenal melepaskan epinefrin dan norepinefrin dalam jumlah masif. Inilah yang menjelaskan mengapa pasien dengan sengatan berat bisa mengalami lonjakan tekanan darah, denyut jantung yang cepat dan tidak teratur, berkeringat deras, hipersalivasi (keluarnya air liur berlebih), bahkan edema paru (cairan di paru-paru). Jantung berada di bawah tekanan luar biasa akibat kombinasi vasokonstriksi koroner dan efek toksik langsung terhadap sel-sel miokardium.

Tinjauan sistematis yang diterbitkan dalam American Journal of Tropical Medicine and Hygiene menegaskan bahwa sengatan berat dapat memicu iskemia miokardium temporer, bahkan sindrom menyerupai kardiomiopati Takotsubo akibat gangguan mikrovaskular yang dipicu oleh badai katekolamin dan interaksi neurohormonal yang kompleks (Bahloul et al., 2024). Ini adalah komplikasi yang pada tahun 2011 belum banyak dipahami bahkan oleh sebagian besar klinisi.

Selain efek adrenergik, racun kalajengking juga mengandung komponen yang memicu peradangan sistemik, melepaskan sitokin proinflamasi seperti interleukin-6 (IL-6), interleukin-1β (IL-1β), dan tumor necrosis factor, yang pada gilirannya dapat menyebabkan kerusakan jaringan di paru-paru, ginjal, dan organ-organ vital lainnya.


Derajat Keparahan Sengatan

Secara klinis, sengatan kalajengking dapat diklasifikasikan dalam beberapa derajat keparahan. Pemahaman ini penting karena menentukan pendekatan tata laksana yang tepat.

Pada derajat ringan, gejala terbatas pada area lokal sengatan: nyeri yang terasa membakar, sensasi kesemutan, bengkak ringan, dan kemerahan. Gejala ini dapat bertahan beberapa jam hingga satu hari dan umumnya tidak mengancam jiwa.

Pada derajat sedang, mulai muncul gejala sistemik ringan seperti mual, nyeri kepala, peningkatan keringat, dan agitasi. Tekanan darah dan denyut jantung mungkin sedikit meningkat. Observasi di fasilitas kesehatan diperlukan.

Pada derajat berat, pasien dapat mengalami gangguan kardiovaskular nyata berupa hipotensi atau hipertensi berat, aritmia, edema paru, gangguan pernapasan, hingga gagal napas. Pada sistem saraf, dapat terjadi eksitasi berlebihan, spasme otot, tremor, bahkan koma. Anak-anak dan wanita hamil memiliki risiko jauh lebih tinggi untuk mengalami komplikasi berat.


Pertolongan Pertama: Apa yang Harus Dilakukan

Sebelum berbicara tentang antivenom dan penanganan medis, ada hal-hal mendasar yang bisa dilakukan saat menunggu pertolongan profesional atau dalam perjalanan menuju fasilitas kesehatan.

Hal pertama dan paling penting adalah segera membawa korban ke fasilitas kesehatan. Jangan menunggu melihat apakah gejala memburuk, karena pada anak-anak, lansia, atau orang dengan kondisi tertentu, perburukan bisa terjadi sangat cepat.

Sambil menunggu atau dalam perjalanan, bersihkan area sengatan dengan air mengalir dan sabun. Lepaskan perhiasan atau pakaian yang ketat di sekitar area sengatan untuk mengantisipasi bengkak. Kompres dengan kain yang dibasahi air dingin atau kompres es yang dibungkus kain untuk membantu mengurangi rasa nyeri dan memperlambat penyerapan racun lokal. Berikan paracetamol (asetaminofen) jika tersedia untuk membantu mengurangi nyeri.

Yang tidak boleh dilakukan: jangan membuat sayatan pada bekas sengatan, jangan menyedot area sengatan, jangan mengoleskan balsem atau minyak panas karena efek hangat justru dapat mempercepat penyerapan racun ke dalam sirkulasi, dan jangan mengikat anggota tubuh yang tersengat. Semua tindakan tersebut tidak terbukti efektif dan bahkan berpotensi memperburuk kondisi.


Penanganan Medis Modern

Tata laksana medis sengatan kalajengking telah mengalami perkembangan signifikan dalam satu dekade terakhir.

Antivenom tetap menjadi terapi utama pada kasus berat. Namun debat tentang kapan dan bagaimana antivenom diberikan masih terus berlangsung. Studi dari Israel yang diterbitkan pada 2025 membandingkan penggunaan antivenom SCORPIFAV dengan perawatan suportif saja pada 194 anak dengan sengatan derajat 2 atau lebih. Hasilnya menunjukkan bahwa anak-anak yang menerima antivenom membutuhkan lebih sedikit sedasi, analgetik, dan obat antihipertensi, mengindikasikan bahwa pemberian antivenom dini di unit gawat darurat dapat meredam respons simpatis dan mengurangi intensitas keseluruhan penanganan (Kestenbom et al., 2025).

Perlu diperhatikan, penelitian terbaru dari Brasil juga menunjukkan bahwa tidak semua antivenom bekerja efektif untuk semua spesies kalajengking. Antivenom yang dikembangkan berdasarkan Tityus serrulatus menunjukkan reaktivitas silang (cross-reactivity) yang terbatas terhadap spesies Tityus metuendus dan Tityus obscurus dari kawasan Amazon, menegaskan perlunya antivenom yang disesuaikan dengan profil spesies lokal (Zoccal et al., 2025).

Untuk komplikasi kardiovaskular, manajemen berpusat pada stabilisasi hemodinamik. Pada kasus gagal jantung dan edema paru pasca-sengatan berat, dobutamin terbukti memperbaiki fungsi jantung. Dukungan ventilasi, baik invasif maupun non-invasif, mungkin diperlukan pada kasus edema paru berat. Terapi antiplatelet tidak direkomendasikan meskipun terdapat gambaran iskemia miokardium (Bahloul et al., 2024).

Dari perspektif yang lebih baru dan menarik, penelitian mutakhir justru mengeksplorasi potensi terapeutik dari komponen racun kalajengking itu sendiri. Peptida pendek dari bisa kalajengking Cina (Mesobuthus martensii Karsch atau BmK) sedang diteliti sebagai kandidat obat untuk epilepsi, neuroinflammasi, glioma, dan penatalaksanaan nyeri kronik, berkat kemampuannya memodulasi saluran ion tertentu dengan spesifisitas tinggi (Dong et al., 2026). Ini adalah ironi yang menarik: racun yang berbahaya itu, dalam tangan ilmuwan, justru menjadi inspirasi bagi generasi baru obat-obatan neurologis.


Mengapa Anak-anak Lebih Rentan

Anak-anak dan bayi menghadapi risiko yang jauh lebih besar dari sengatan kalajengking dibanding orang dewasa. Ini bukan hanya karena tubuh mereka yang lebih kecil sehingga konsentrasi racun relatif lebih tinggi per kilogram berat badan, tetapi juga karena sistem imun dan kardiovaskular mereka yang masih dalam tahap perkembangan. Data dari berbagai studi secara konsisten menunjukkan bahwa angka kematian akibat sengatan kalajengking jauh lebih tinggi pada kelompok anak-anak.

Studi di Turki menemukan bahwa kelompok usia 1 hingga 17 tahun merupakan kelompok yang paling banyak terkena sengatan (39,38% dari seluruh kasus), menegaskan pentingnya kewaspadaan orang tua dan edukasi di komunitas yang berisiko tinggi (Kafadar et al., 2025). Wanita hamil juga termasuk kelompok yang berisiko tinggi mengalami komplikasi berat.


Kalajengking di Indonesia: Gambaran Lokal

Di Indonesia, data epidemiologi sengatan kalajengking yang terdokumentasi secara sistematis masih sangat terbatas. Namun dari pengalaman klinis dan laporan kasus yang ada, sengatan kalajengking bukan kejadian langka di daerah pertanian, kawasan berbatu, dan lingkungan tropis lembap. Genus Heterometrus yang hitam besar sering dijumpai di Jawa dan Sumatera, sementara Isometrus maculatus yang berukuran lebih kecil kerap ditemukan di dalam rumah dan di celah-celah kayu.

Kebanyakan kasus di Indonesia melibatkan kalajengking yang tidak tergolong sangat berbisa, sehingga gejala yang timbul seringkali terbatas pada reaksi lokal. Namun demikian, selalu ada kemungkinan reaksi alergi berat atau anafilaksis yang bisa mengancam jiwa, terutama pada orang yang sebelumnya sudah pernah tersengat. Populasi yang paling banyak tersengat adalah petani dan pekerja yang bekerja di ladang jagung, padi, atau yang banyak bersinggungan dengan tumpukan material organik.

Salah satu tantangan terbesar di Indonesia adalah terbatasnya ketersediaan antivenom khusus kalajengking di fasilitas kesehatan primer dan bahkan banyak rumah sakit kabupaten. Antivenom yang ada pun mungkin tidak selalu sesuai dengan spesies lokal. Oleh karena itu, penanganan suportif berkualitas tinggi dan kemampuan manajemen komplikasi di tingkat fasilitas sekunder menjadi sangat penting.


Pencegahan: Langkah Sederhana yang Sering Diabaikan

Pencegahan sengatan kalajengking sesungguhnya tidak memerlukan teknologi canggih. Kalajengking bersifat nokturnal dan bersembunyi di tempat-tempat gelap, lembap, dan sempit sepanjang siang hari. Mereka tidak agresif dan tidak akan menyerang kecuali merasa terancam.

Beberapa langkah pencegahan yang efektif mencakup kebiasaan selalu mengecek alas kaki, pakaian, dan handuk sebelum digunakan, terutama saat berada di kawasan yang diketahui terdapat kalajengking. Penggunaan sarung tangan tebal saat bekerja di kebun, merapikan tumpukan kayu, atau membersihkan gudang adalah perlindungan yang sederhana namun sangat efektif. Di dalam rumah, menyegel celah-celah di dinding, lantai, dan sekitar pipa air dapat mengurangi kemungkinan kalajengking masuk. Tidur menggunakan kelambu juga memberikan perlindungan tambahan, terutama bagi anak-anak.


Catatan Akhir

Sengatan kalajengking adalah cedera yang, dalam banyak kasus, dapat ditangani dengan baik jika respons yang tepat diberikan dengan cepat. Namun meremehkannya adalah kesalahan yang bisa berakibat fatal, terutama ketika yang tersengat adalah seorang anak kecil atau bayi. Ilmu pengetahuan terus berkembang, baik dalam memahami mekanisme racun yang semakin kompleks maupun dalam mengembangkan strategi terapi yang lebih efektif, bahkan hingga mengubah racun kalajengking menjadi kandidat obat masa depan.

Pesan terpentingnya tetap sederhana: jika seseorang tersengat kalajengking, jangan tunda, segera bawa ke fasilitas kesehatan terdekat.


Daftar Referensi

Acunha, T., Rocha, B. A., Nardini, V., Barbosa, F., & Faccioli, L. H. (2023). Lipidomic profiling of the Brazilian yellow scorpion venom: new insights into inflammatory responses following envenomation. Journal of Toxicology and Environmental Health, Part A, 86(9), 283–295. https://doi.org/10.1080/15287394.2023.2188896

Bahloul, M., Bouchaala, K., Chtara, K., Kharrat, S., & Bouaziz, M. (2024). Myocardial ischemia after severe scorpion envenomation: A narrative review. The American Journal of Tropical Medicine and Hygiene, 111(6), 1178–1183. https://doi.org/10.4269/ajtmh.24-0163

Dong, Y., Wang, J., Zhu, Y., Zhao, L., Zeng, Y., Tang, L., Xiao, Q., Cheng, J., Wang, C., & Tao, J. (2026). From venom peptides to neurotherapeutics: BmK defensins and short-chain peptides as modulators of ion channels. Frontiers in Pharmacology, 17, 1754290. https://doi.org/10.3389/fphar.2026.1754290

Kafadar, H., Erin, N., Demir, U., & Buyukaslan, H. (2025). Scorpion stings: Epidemiological, clinical, and forensic medical evaluation using university hospital data. Revista da Sociedade Brasileira de Medicina Tropical, 58, e02082025. https://doi.org/10.1590/0037-8682-0208-2025

Kestenbom, I., Bar-Moshe, S., Test, G., Kaplan, O., Grupel, T., Shilo, M., Bilenko, N., Friger, M., Maimon, M. S., Scolnik, D., & Glatstein, M. (2025). Scropifav antivenom versus supportive care alone in the treatment of pediatric scorpion envenomation. American Journal of Therapeutics. https://doi.org/10.1097/MJT.0000000000002046

Maurer, J., Mutricy, R., Negrello, F., Deschamps, C., Nacher, M., Kallel, H., & Fremery, A. (2025). Epidemiology and management of wildlife contacts in an emergency department of French Guiana. PLoS Neglected Tropical Diseases, 19(12), e0013771. https://doi.org/10.1371/journal.pntd.0013771

Wilkins, D., Pallett, S. J. C., Potter, J., Woolley, S. D., Holden, G., Chapman, K., Kew, A., Warrell, D. A., Lalloo, D., & Lamb, L. (2025). Scorpion sting: A narrative review and proposed guidelines for contemporary UK armed forces operations. BMJ Military Health. https://doi.org/10.1136/military-2025-003107

World Health Organization. (2019). Scorpion envenomation. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/scorpion-envenomation

Zoccal, K. F., de Castro Figueiredo Bordon, K., Reis, M. B., Rosa Nunes de Souza Chini, P. B., Martins, J. G., Zuanazzi, B. A., Wiezel, G. A., Campos Dos Santos, A. C., Emerson de Lima Procópio, R., & Arantes, E. C. (2025). Divergent clinical, inflammatory, and histopathological responses induced by Amazonian Tityus venoms: insights and limitations of current antivenom therapy. Biochimie, 238(Pt B), 159–171. https://doi.org/10.1016/j.biochi.2025.08.004


Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi dan informasi kesehatan publik. Bukan pengganti konsultasi dengan tenaga medis profesional. Jika Anda atau seseorang di sekitar Anda tersengat kalajengking, segera cari pertolongan medis.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

23 tanggapan

  1. tian Prasetyo Avatar
    tian Prasetyo

    Saya punya 3 kalajengking hutan, yang besar dan berwarna hitamm… Itu mnurut kalian jenis ini berbahaya apa tidak yaa.., soal.y ini saya peliharaa.., kalau ad yg mau pesan saya bisa jual..,

    Suka

  2. Desii Juniaa Avatar
    Desii Juniaa

    Ini aku lagi disengat kalajengking. Gatau jenis kalajengking nya apa. Sakit banget:'(:'(:'(:'(:'(

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Tidak lihat ukurannya besar atau kecil?

      Kompres air es dulu dengan menggunakan handuk bersih. Lalu periksalah ke puskesmas terdekat. Sehingga bisa dinilai kondisinya parah atau tidak.
      Jika lukanya kotor, kemungkinan perlu tambahan ATS (untuk mencegah tetatus) jika belum pernah imunisasi DPT sebelumnya.

      Jika tidak terlalu parah, bisa dibantu dengan obat-obat anti nyeri golongan acetaminophen (paracetamol), atau NSAIDs (seperti ibuprofen atau asam mefenamat).

      Suka

  3. andi Avatar
    andi

    aku baru aja disengat sesuatu dikaki. Aku gak tau apa yg nyengat, karena gelap. Sekarang yang aku rasakan mulut ku seakan kram, bibirku serasa bergetar, apakah itu merupakan tanda2 sengatan kalajengking juga?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Andi, ada kemungkinan disengat kalajengking, atau arthropoda jenis lainnya – jika sengatannya di kaki. Saya menyarankan pagi ini segera diperiksakan ke puskesmas atau rumah sakit terdekat.

      Suka

  4. alief Avatar
    alief

    mungkin itu karena kalajengkingnya lagi kelaparan bli,jadi menggigit. 😉

    jadi kalajengking yang bercapit keras kurang berbisa ya? pantes dalam acara2 yg melibatkan kalajengking yg aku tau mereka selalu memakai kalajengking yg memiliki capit besar dan kokoh

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mas Alife, ya bisa juga begitu sih, tapi rasanya manusia diintai kalajengking kelaparan? Wah, kita semua bisa terancam :D. Kalau soal acara komersil saya kurang tahu, tapi memang ada yang hobi memelihara yang tipe racunnya mematikan, biasanya ditaruh dalam terarium.

      Suka

  5. gadgetboi Avatar

    benarkah makin kecil kalajengking makin berbahaya bisanya?. kata Indiana Jones …

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Kurang lebihnya begitu Mas, meski tidak selalu :).

      Suka

  6. Asop Avatar

    Nah, ada kalajengking di halaman kosan saya. 😀

    Keciiil sekali kalajengkingnya. Saya sendiri sempat berpikir, "Kecil begini emang bisa mematikan?" Dan saya gak mau berpikir seperti itu lagi. 😐

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mas Asop, bukannya ada juga yang menjadikan kalajengking sebagai hewan peliharaan? Tapi kan tidak semuanya mematikan, jadi ya, yang paling bijak kita tetap waspada saja Mas.

      Suka

  7. Emanuel Setio Dewo Avatar

    Serem juga ya? Saya pernah baca ada kasus anak2 yang disengat kalajengking saat bermain di kolam bola.

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Kalau saya seumur hidup ndak pernah masuk ke kolam bola, tidak berani sih.

      Suka

  8. @zizydmk Avatar

    Saya ini Scorpio, tp mudah2an gak akan pernah disengat deh….

    Tapi kok serem banget ya kayaknya disengat itu.

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mbak Zizy, ya sebaiknya dihindari, dan berhati-hati saat akan mengakses daerah yang mungkin jadi huniannya. Pakai selalu pelindung – jika bisa – saat bersih-bersih rumah atau lokasi yang lama ditinggalkan (seperti gudang), jika tersedia, sarung tangan dan sepatu boot yang tebal cukup untuk melindungi.

      Suka

  9. Joko Sutarto Avatar

    Kalajengking! Wah-wah, saya tak menyangka ternyata sengatannya sama berbahayanya dengan gigitan ular berbisa. Bahkan lebih ganas, ya khusus pada spesies tertentu. 1 berbanding 10. Terima kasih, Mas infonya.

    Eh, tapi tukang obat kalau nggak salah ada yang jual kalajengking juga, lho. Apa kalajengking juga bisa dimanfaatkan sebagai obat, Mas Cahya?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Pak Joko, mungkin bukan lebih ganas, hanya kejadiannya saja yang lebih banyak. Wah, kalau apa kalajengking bisa untuk obat saya tidak tahu, tidak secara medis mungkin. Tapi rasanya ada sejenis arak Cina yang mengkombinasikan jenis ular dan kalajengking tertentu di dalamnya yang dikatakan bisa dijadikan analgesik (antinyeri) dan antidotum (antibisa) dalam pengobatan tradisional Cina.
      Jika di kedokteran modern sendiri, mungkin ada beberapa penelitian dan aplikasi bisa kalajengking untuk vaksin atau melawan tumor, saya tidak begitu mengikuti beritanya.

      Suka

  10. dosko Avatar

    kebiasaan mengoleskan balsem ke lokasi sengatan kalajengking apakah ada manfaatnya?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Dosko, disarankan menggunakan kompres air dingin untuk mencegah racun-nya beredar ke seluruh tubuh lebih cepat. Sedangkan balsem umumnya memiliki efek menghangatkan yang bisa bermakna mempercepat racun menyebar ke seluruh tubuh. Semakin cepat racun memasuki pembuluh darah dan semakin besar konsentrasinya di dalam darah, efek racunnya akan semakin cepat tampak. Namun karena jenis racun yang dimiliki masing-masing jenis kalajengking berbeda-beda, efek itu-pun bisa berbeda-beda, mulai dari hanya gejala ringan seperti terkena flu, sedangkan yang lain mungkin bisa menyebabkan kematian dalam beberapa jam.

      Suka

  11. jarwadi Avatar

    di lingkungan keluarga saya yang bertani di keseharianya, di sengat kalajengking memang hal biasa, di keluarga saya, kasus sengatan kalajengking terjadi pada musim panen jagung, ya karena kalajengking sering menghuni batang jagung yang mulai mengering

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Ya, di Jogja kalau daerah pertanian setidaknya dalam sebulan biasanya ada 1-2 kasus sengatan kalajengking, syukurnya tidak begitu berbahaya. Apalagi orang dewasa biasanya lebih "kebal" Pak, asal bukan anak kecil atau bayi saja.

      Suka

    2. irma Avatar
      irma

      Mas cahyo,anak sy umur 6 thn baru aja disengat kalajengking bagian lehernya,,trus telapak tangan sy jg,,berbahaya gk sih mas ?? Obatx apa ?? Mohon infox,tks

      Suka

    3. Cahya Avatar

      Jika muncul reaksi alergi atau anafilaksis akan sangat berbahaya. Jika muncul sebatas peradangan atau inflamasi lokal, maka tidak begitu berbahaya. Tapi jika hanya nyeri lokal tanpa tanda lainnya, maka tidak berbahaya.

      Saya sarankan memeriksakan ke petugas kesehatan terdekat untuk mengetahui dulu seberapa dampak sengatan tersebut. Sehingga terapi bisa sesuai.

      Kemungkinan akan memerlukan anti inflamasi, antinyeri, tergantung luka maka antibiotik dan antitetanus juga bisa diperlukan atau bisa tidak.

      Suka

Tinggalkan komentar