A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bahkan ketika kita menjadi seorang penulis, mungkin tidak akan selalu menemukan kreativitas dalam menulis, kadang kita menemukan tulisan-tulisan oleh penulis lain yang rasanya menarik untuk disadur dan dibagikan, apalagi di tempat tulisan asli memang disediakan fasilitas untuk membaginya. Penyaduran memberikan kesempatan bagi seorang penulis menyampaikan ide yang ia temukan melalui bahasanya tanpa mengubah makna dan tujuan asli tulisan asal.

Menghargai hak intelektual pada karya saduran merupakan wujud sebuah kontribusi pada penghargaan kretivitas yang dihadirkan oleh sebuah komunitas penulis di manapun mereka berada. Dalam pengertian dunia menulis, maka penghargaan inipun selayaknya juga berwujud sebagai pengakuan tertulis.

Saya sendiri sedang berusaha mencari desain/pola hitam di atas putih yang pas untuk menempatkan pengakuan pada karya-karya saduran yang saya gunakan di blog ini. Salah satunya adalah menggunakan penandaan “acknowledgement” pada tulisan saduran.

Sebagaimana sejak awal tahun 2010, saya menggunakan layanan penandatangan digital untuk blog ini melalui Digiprove. Dan kini mencoba menggunakan layanan tersebut untuk memberikan penanda pengakuan ini.

 In the creative arts and scientific literature, an acknowledgment (also spelled acknowledgement) is an expression of gratitude for assistance in creating a literary or artistic work.

Meskipun sebenarnya (mungkin) acknowledgement pada dasarnya tidak sepenuhnya berfungsi untuk menyatakan artikel saduran, namun saya rasa dengan penambahan keterangan akan bisa diberikan. Sehingga pada tulisan yang diterbitkan akan memiliki keterangan tersebut.

Jika terdapat kesadaran dalam menghargai kekayaan intelektual sebagai sesama penulis, maka tindakan-tindakan seperti sekadar salin-tempel dan plagiat tidak akan muncul. Dan saya rasa setiap narablog memiliki – seperti – kewajiban moral sebagai seorang penulis untuk memahami hal ini dengan baik.

Artikel Baru Terbit

  • Mitos Kesehatan Jiwa yang Masih Dipercaya: Membedah Stigma di Balik Fakta
    Mitos seputar kesehatan jiwa—dari anggapan bahwa gangguan jiwa langka hingga stigma “gila” pada skizofrenia—masih membebani masyarakat Indonesia. Data SKI 2023 mengungkap kesenjangan akses pengobatan yang lebar dan praktik pemasungan yang bertahan. Artikel ini membedah sebelas mitos populer dengan bukti ilmiah dan konteks kebijakan kesehatan jiwa nasional.
  • Berapa Jam Sebenarnya Kita Butuh Tidur? Lima Mitos yang Perlu Diluruskan
    Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

19 tanggapan

  1. Avatar Nandini

    ciyee Bli Cahya.. salut untuk selalu ada di garis depan perlawanan terhadap salin tempel dan sadur menyadur tanpa sumber.. 🙂

    1. Avatar Cahya

      Nandini, saya cuma bagian mengompori saja :D.

  2. Avatar indobrad
    indobrad

    menarik sekali, jadi karya saduran pun sebaiknya memberi pengakuan selayaknya kepada karya asli ya? dan pake digiprove? oke deh, thanks atas pencerahannya 🙂

    1. Avatar Cahya

      Digiprove hanya salah satu medium saja, jika ada ide kreatif lain mengapa tidak :).

  3. Avatar dHaNy

    Semoga saya termasuk yang selalu menghargai karya oranng lain mas…

  4. Avatar Charles
    Charles

    Benar sekali mas Cahya, kita harus menghargai hak intelektual bahkan pada karya tulis yang ada di blog sekali pun. Menarik untuk dicoba nih aplikasinya. Thanks untuk sharingnya. 😀

  5. Avatar Zippy
    Zippy

    Lha, ini komentar saya dianggap SPAM ya? 🙁

    1. Avatar Cahya

      Ndak kok 🙂

  6. Avatar Zippy
    Zippy

    Wiw..saya malah baru tau mas soal ginian 😀
    Selama ini saya cuma memberi source biasa aja sih pada akhir postingan 😀
    Tapi karyanya hanya berupa gambar, bukan tulisan utuh yang disadur 😀

    1. Avatar Cahya

      Ada banyak cara menghargai karya cipta orang lain, saya hanya sedang mencoba salah satu metode saja :).

  7. Avatar Agung Pushandaka
    Agung Pushandaka

    Salut! Anda benar-benar konsisten utk terus berada di depan dalam hal menghargai hak kekayaan intelektual.

    1. Avatar Cahya

      Mas Pushandaka, saya kira acknowledgement itu adalah hak setiap insan yang berkarya. Kita tidak mungkin kan menahannya hak orang dengan sengaja :).

  8. Avatar gadgetboi

    semoga penulis skenario sinetron akan segera menyusul ikut dengan bli :mrgreen:

    1. Avatar Cahya

      Ha ha…, apa karena sekarang semua isinya tentang tukar-menukar anak ya, dan entah siapa yang memulai :doh:.

      1. Avatar gadgetboi

        lebih tepatnya karena hobi sekali mencaplok ide orang lain dan diolah menjadi karya murahan (strip benny&mice diolah menjadi sinetron low budget kurang bermutu seperti abdel&temon dan banyak lagi korban dari pihak korea dan taiwan 😀 ):lol: … saya juga bingung, itu cerita masih saja meributkan siapa anak siapa? *tepok jidat* kenapa tidak di tes DNA, selesai sudah cerita, we can move on then! hahaha

      2. Avatar Cahya

        Yah, namun kalau tidak laku di pasaran ndak mungkin juga rasanya diproduksi :D.

      3. Avatar gadgetboi

        benar sih, buktinya tetangga dan tante saya ribut buru-buru di depan tv kalau jamnya sudah tiba 😆 mmm … adakah cara mengkritik produsen? masalahnya kalau masih ada yang nonton bagaimana? 😀

      4. Avatar Cahya

        Biarkan saja, nanti kalau Internet maju paling kalah saing sama sinetron dan film dari “The Pirate Bay” :lol:.

  9. Avatar jarwadi

    paling ngga ide mas cahya bisa dipakai untuk melihat silsilah akan suatu karya kreatif, hehehe

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca