Pasca menutup proyek Linux, kini saya bertahan dengan menggunakan openSUSE Celadon beraroma Elementary, meskipun sebenarnya hanya menggunakan Equinox semata – namun saya rasa agak pas sambil menunggu rilis Luna yang akan berbasis Ubuntu 12.04.
Saya sendiri tidak terlalu yakin akan menggunakan Gnome Shell nantinya, meski tidak-lah buruk, tapi hanya saja belum pas di hati. Sedangkan openSUSE 12.1 yang akan berujung tombak dengan salah satunya adalah Gnome 3 akan segera rilis beberapa bulan lagi. Haruskah tetap menggunakan openSUSE jika mesti beralih dengan teknologi yang baru ini?
Meskipun harus menggunakan banyak klik, namun gaya klasik akan tetap menarik menurut saya. Gnome Shell tentu saja akan bersaing dengan Windows 8 Metro Style untuk menunjukkan kompitisi di layar sentuh, dan memanjakan mereka yang berlimpah dengan kecanggihan teknologi tertinggi. Setidaknya KDE masih cukup elegan di versi 4.7 yang tetap mengusung gaya klasik dengan tanpa mengurangi dukungan terhadap layar sentuh.
Namun saya rasa tidak akan ada gunanya mengkhawatirkan semua itu. Bahkan Ubuntu Oeneric Oncelot-pun tidak bisa memaketkan dengan sempurna Unity-nya, seperti misalnya dengan tidak disertakannya dukungan integrasi Unity terhadap aplikasi Libre Office yang merupakan salah satu aplikasi vital dalam sebuah distribusi Linux.
Mungkin di balik perkembangan pesat Linux, maka kata kesempurnaan itu tak akan pernah hadir, tidak ada satu-pun distribusi yang sempurna, karena jika dia sudah sempurna maka pengembangan tidak akan diperlukan lagi. Justru dengan kelemahan-kelemahannya, Linux menjadikan penggunanya untuk cerdas belajar secara mandiri guna menemukan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
Jadi, untuk belajar ke depannya, mungkin openSUSE ini akan jadi versi terakhir Gnome 2.x yang akan saya gunakan, ah…, salah satu dekstop terlama yang saya minati saat menggunakan Linux. Siapa tahu jauh di masa depan, saya akan merindukannya lagi.

Tinggalkan komentar