Pasca menutup proyek Linux, kini saya bertahan dengan menggunakan openSUSE Celadon beraroma Elementary, meskipun sebenarnya hanya menggunakan Equinox semata – namun saya rasa agak pas sambil menunggu rilis Luna yang akan berbasis Ubuntu 12.04.
Saya sendiri tidak terlalu yakin akan menggunakan Gnome Shell nantinya, meski tidak-lah buruk, tapi hanya saja belum pas di hati. Sedangkan openSUSE 12.1 yang akan berujung tombak dengan salah satunya adalah Gnome 3 akan segera rilis beberapa bulan lagi. Haruskah tetap menggunakan openSUSE jika mesti beralih dengan teknologi yang baru ini?
Meskipun harus menggunakan banyak klik, namun gaya klasik akan tetap menarik menurut saya. Gnome Shell tentu saja akan bersaing dengan Windows 8 Metro Style untuk menunjukkan kompitisi di layar sentuh, dan memanjakan mereka yang berlimpah dengan kecanggihan teknologi tertinggi. Setidaknya KDE masih cukup elegan di versi 4.7 yang tetap mengusung gaya klasik dengan tanpa mengurangi dukungan terhadap layar sentuh.
openSUSE bernuansa Elementary dengan memanfaatkan Equinox.
Namun saya rasa tidak akan ada gunanya mengkhawatirkan semua itu. Bahkan Ubuntu Oeneric Oncelot-pun tidak bisa memaketkan dengan sempurna Unity-nya, seperti misalnya dengan tidak disertakannya dukungan integrasi Unity terhadap aplikasi Libre Office yang merupakan salah satu aplikasi vital dalam sebuah distribusi Linux.
Mungkin di balik perkembangan pesat Linux, maka kata kesempurnaan itu tak akan pernah hadir, tidak ada satu-pun distribusi yang sempurna, karena jika dia sudah sempurna maka pengembangan tidak akan diperlukan lagi. Justru dengan kelemahan-kelemahannya, Linux menjadikan penggunanya untuk cerdas belajar secara mandiri guna menemukan solusi bagi permasalahan-permasalahan yang dihadapi.
Jadi, untuk belajar ke depannya, mungkin openSUSE ini akan jadi versi terakhir Gnome 2.x yang akan saya gunakan, ah…, salah satu dekstop terlama yang saya minati saat menggunakan Linux. Siapa tahu jauh di masa depan, saya akan merindukannya lagi.
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
11 tanggapan
Melvin
jadi mo nyoba SUSE 😀
tapi bikin dual bootnya yang ribet 🙁
klo ubuntu biasanya pake wubi buat dual boot 🙂
Sifat open source rasanya tergantung komunitas pengembangnya,jadi berasa ngga ada matinya. Bukan berarti Linux ngga stabil-stabil karena dikit-dikit update/upgrade. Versi beta selamanya? 😀
Kalau Linux for work, ya pilih yang versi stabil seperti dipakai di server-server itu atau pakai versi semacam LTS. 🙂
Mas Is, yang saya maksudkan adalah sistem global menu pada Unity, maaf jika tidak spesifik. Global menu adalah handalan dekstop Unity, dan Libre Office pada Oneiric sebagaimana pada Natty, tidak akan memiliki global menu karena alasan stabilitas. Coba cek blog pengembangnya di “No global menubar in Ubuntu Oneiric by default.“
Pada tahap milestone ini kalau tidak salah perubahan dari InitV system menjadi systemd masih diperdebatkan mengenai kestabilannya–‘belum siap’. Alasan itu yang membuat Greg K. H. mengumumkan ke milis openSUSE-pabrik dan menghapus systemd dari tumbleweed karena ada beberapa dependensi antar paket yang tidak siap untuk tumbleweed. “Respecting users is a priority to the openSUSE Project so when something does not work the way it should be, taking a step back is more preferable than delivering something that is not ready yet” katanya.
Kita tunggu saja nanti versi finalnya, ikut fresh install atau bertahan dengan tumbleweed. 🙂
Mas Agung, kalau openSUSE asal memainkan di repo-nya bisa pas, maka tidak perlu fresh install biasanya, tapi ya itu, koneksi lambat bisa membahayakan sistem. Untuk negara ini yang penuh korupsi maka pemasangan tatanan baru yang bersih diperlukan guna mengimbangan jaringan terbatas :lol:.
Tinggalkan Balasan