Bulan ini sebenarnya ada banyak distribusi Linux yang saya coba, namun beberapa hal membuat saya terpaksa mengurungkan niat itu hingga beberapa waktu yang tak terbatas. Saat ini kecepatan mengunduh Smartfren Connex hanya berkisar 20 KiB/s, dan maksimal 40 KiB/s (setara dengan 156 kbps sampai 384 kbps). Dan juga penutupan akses torrent membuat saya tidak bisa mengunduh dengan baik.
Sangat berbeda dengan saat masih berada dalam payung Mobi dulu, kecepatan dapat mencapai 200 KiB/s setara dengan 1,3 Mbps. Saya rasa karena semakin banyaknya pengguna Smartfren, tidak hanya yang menggunakan modem, namun juga banyak perangkat Androids (baik yang legal maupun dari pasar gelap) yang menggunakan jaringan ini.
Dulu mengunduh distribusi Linux berukuran DVD bukanlah sesuatu yang perlu ditunggu seharian untuk selesai, namun sekarang, mengunduh distribusi Linux berukuran CD-pun masih perlu memikirkan kapan bisa selesai.
Hingga saya mendapatkan akses Internet yang lebih baik, saya mungkin akan menutup proyek mencicipi Linux saya, karena sekarang sudah tidak memungkinkan lagi.
Hanya beberapa distro saja yang mungkin masuk ke dalam daftar unduhan.
Linux memerlukan infrastruktur dunia IT termasuk jaringan Internet yang memadai, tanpa itu kita tidak akan dapat secara mandiri belajar akan peranti lunak open source, apalagi mau turut serta dalam pengembangannya.
Setidaknya, saya masih beruntung karena Green Geeko saya masih bisa berjalan pada jaringan seperti ini.
Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
22 tanggapan
Melvin
kemarin saya mendownload ubuntu menggunakan koneksi speedy, tapi kenapa speed maksimalnya cuma sampai 46 kbps 🙁
apakah pengguna speedy sudah terlalu banyak ???
kadang kala pe(n)ja(ha)bat indonesia pn menggunakan backdoor kok kalau enggak mau ketemu pers 😆 … kita sebagai rakjat indonesia pun berhak menggunakannya! :ngaco-mode-on:
*menggutip di film WarGames : Backdoor is not a secret!
jah pajah … 20-40 ngeloeh … majoritas rakjat indoenesia masih dibawah itu (sepoerti saja) masih maju pantang moendoer 😆 *membalas komen terdahulu 😀 *kaboer*
Mas Asop, kalau untuk browsing lho, Smartfren masih relatif cepat di lokasi saya, setidaknya masih lebih baik dari Telkomsel Flash, AHA, 3 ataupun Flexi yang pernah saya coba. Browsing-nya setara dengan kecepatan IM2 pasca bayar premium (ketika masih ada kuota), ya lumayanlah. Buat mengunduh, sebenarnya 20-40 KiB/s itu lumayan cepat untuk sebuah layanan dial-up, tapi ya itu, dibandingkan dulu, kualitas dan kecepatannya sudah jauh menurun :(.
Iklannya tidak bohong, dulu memang membuka youtube berukuran 360p sama sekali tidak pernah menunggu rending, tapi sekarang mah harus mengelus dada :D. Masih kurang memuaskan untuk sebuah layanan berbasis EVDO.
Kalau untuk mengunduh file Linux, saya sangat terbantu dengan paket malam dari salah satu ISP ternama. Kecepatannya sekitar 100-200an KiB/s (maksimal 2 Mbps). Cocok sekali digunakan pada malam hari, tepatnya dini hari (mulai pukul 00.00 – 05.59). Lumayan banget kok. Dengan harga 25 ribu, kuota yang diberikan sekitar 4 GB (masa aktif sebulan). Sedangkan jika memilih paket 50 ribu, kuotanya 8 GB (masa aktif juga sebulan). Tapi ya cuma bisa digunakan pada dini hari. Itupun tergantung kondisi jaringan di tempat kita berada juga. Kalau di tempat saya, speed-nya kenceng banget (sesuai yang dijanjikan pada promonya).
Rencananya saya akan memulai proyek mencicipi Linux ala mas Cahya 🙂 Proyek pertama saya ialah Bodhi Linux. Memanfaatkan Virtual Box yang selama ini nganggur..hehehe. Tapi masih nunggu mood untuk menuliskan hasil penggunaannya. Kemungkinan juga nggak akan saya tuliskan di blog.
Pokoknya yang penting saya bisa lebih banyak menjajal distro lain aja deh (selain Ubuntu).
Mas Is, kalau Smartfren pakai paket premium juga bisa segitu 😀 – tapi kan tetap saja limited, lha biasanya saya mengunduh puluhan GB dalam sebulan, mana cukup hanya dengan 8 GB, he he… #moderakus :D.
Sekarang mengunduh 10 GB bisa perlu waktu seminggu, padahal dulu 2 hari saja selesai. Sedih… :(.
Lha, bayangkan saja, kalau sebulan rilis 8 OS baru dengan 4 CD dan 4 DVD apa cukup 8 GB? 🙂 – lagipula biasanya saya share via torrent, sehingga kita tidak hanya mengunduh, namun juga membagi pada mereka yang memerlukan ;).
Kalau tentang Linux sih ilmunya sudah betebaran di dunia maya, mulai ilmu jadi pengguna, hingga membangun sendiri Linux-nya secara mandiri, tinggal ditelusuri saja kalau memang mau meluangkan waktu untuk belajar :).
Saya & teman saya juga sudah 3 bulan terakhir ini beralih menggunakan jasa dari telkom speedy setelah beberapa kali mencoba menggunakan jasa dari provider GSM. Yeah, cukuplah paket rumahan untuk menghidupi openSUSE tumbleweed dan untuk bermain dengan ponsel cerdas punya teman saya. 🙁
Wah, saya belum ada anggaran kalau mau pakai Speedy Mas, setidaknya itu perlu anggaran sekitar sejuta setiap bulannya, kalau sudah jadi pebisnis mungkin (lha, ndak mungkin juga) :D.
Kapan-kapan deh, melihat jodoh dengan akses Internet yang lebih baik, berdoa saja :D.
Tinggalkan Balasan