A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Belakangan ini saya menemukan ada sesuatu yang aneh dengan jaringan EVDO Smartfren di Jogja, sekitar 2 atau 3 hari setelah saya membeli modem SpeedUp CDMA tanggal 14 November yang lalu. Hal ini bertepatan juga dengan mulai bisa digunakannya kembali nomor Mobi saya pada modem lama, dan tampaknya saringan Internet Sehat Mobi juga sudah diangkat.

Yang aneh adalah, jaringan EVDO Smartfren tidak bisa digunakan dalam tempo waktu lama. Kecepatan mengunduhnya yang hingga di atas 40 KB/s (384 kbps) itu hanya bertahan beberapa saat dan sangat tidak stabil, bahkan tidak sampai mampu mengunduh data 10 MB, baik secara langsung maupun tidak, jaringan langsung putus.

Putus di sini maksud saya adalah, pada modem SpeedUp jaringan akan langsung down, jadi tidak dapat melakukan transfer data, namun masih terhubung. Sedangkan pada modem Pantech PX-500 saya, modem akan langsung lepas koneksi dari komputer (seperti tercabut / un-plug), padahal modem ini termasuk stabil sejak dulu.

Saya menemukan ini hanya terjadi pada saat kedua modem menggunakan akses EVDO. Jika modem SpeedUp saya ganti setelannya hanya untuk menerima sinyal CDMA 1x saja, maka jaringan akan stabil untuk berpuluh jam digunakan. Tapi tentu saja itu membuat saya sebagai konsumen terugikan, bayangkan saja saya jadinya perlu sekitar 4 hari untuk mengunduh openSUSE 12.1.

Parahnya, pemindahan mode jaringan ini hanya bisa dilakukan di Windows, karena software untuk mengatur setelan ini hanya tersedia antarmukanya untuk Windows. Sedangkan pada Linux, ya otomatis sistem akan mencari jaringan terbaik, yaitu EVDO. Hasilnya, bisa dikatakan hubungan Internet akan selalu terputus dengan ditandakan modem mengalami un-plug. Jadi harus siap menyambung manual modem beberapa saat lagi untuk melanjutkan aktivitas berinternet, dan tentu saja ini mengganggu, apalagi saat melakukan pembaharuan (update) sistem.

Mekanisme un-plug ini tidak begitu pasti/jelas, misalnya modem Pantech PX-500 (nomor Mobi) tampaknya lebih stabil di Linux dan bisa bertahan cukup lama, sehingga saya biasanya menggunakan modem ini untuk berinternet di Linux baik Ubuntu ataupun openSUSE. Sedangkan modem SpeedUp (nomor Smartfren) cukup cepat mengalami un-plug di Linux, namun dengan setelan CDMA 1x akan lebih stabil digunakan di Windows.

Saya juga menemukan, bahwa bukan saya saja yang mengalami masalah ini, tetangga saya yang menggunakan jaringan Smartfren pada perangkat Android dan sejenis Mifi-nya juga mengalami hal yang sama. Perangkatnya mengalami restart berulang kali karena jaringan EVDO yang tidak stabil ini. Padahal dia menggunakan akun premium yang dalam catatan semestinya mendapatkan kecepatan beberapa kali lipat lebih cepat dibandingkan modem saya, ya pada akhirnya dapat kecepatannya sama semua, sekadar hanya 153 kbps saja.

Sehingga untuk saat ini, saya tidak bisa merekomendasikan jaringan Smartfren untuk wilayah Yogyakarta. Entahlah untuk wilayah lainnya saat ini, apakah mengalami hal yang atau tidak. Ataukah ini karena rencananya akan ada penerapan EVDO Rev-B di Yogyakarta? Seperti ketika Mobile-8 hendak menerapkan jaringan EVDO Rev-A dulu di Yogyakarta untuk Mobi-nya, jaringan mengalami masalah selama beberapa bulan – seingat saya.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

12 tanggapan

  1. Avatar ekosch
    ekosch

    aku juga pernah ngalami itu, tapi sekarang stabil setelah ganti modem baru mas

    1. Avatar Cahya

      Modem baru memang bisa memberikan stabilitas yang baik. Namun kan kadang kita berharap modem lama itu masih bekerja dengan baik :).

  2. Avatar Blog Teknik IT

    Sekarang Smartfren semakin payah gan, speed turun semua. Pelanggan semakin banyak tp kualitas semakin menurun.

  3. Avatar jarwadi

    apakah hal seperti itu kira kira setting dari isp untuk mengakali konsumen?

    1. Avatar Cahya

      Nah, kalau itu saya kurang tahu Pak. Karena memang tidak pernah ada penjelasan resmi – setidaknya alasan untuk kondisi-kondisi seperti ini.

  4. Avatar Joko Sutarto

    Untuk masalah modem saya masih setia mengandalkan yang jenis GSM, Mas Cahya. Sempat awal 2008 lalu pernah nyoba CDMA kartunya pakai Starone tapi sekarang sudah tidak lagi. Saya kini menggunakan Telkomsel Flash.

    Wah, kalau begitu tak sesuai dengan iklannya, dong. Ini, sih slow beneran. 😀

  5. Avatar gadgetboi

    doa’in aja itu mungkin karena upgrade jaringan 😆 … kalau pun bukan … bagaimana dengan “paket vampir”-nya si cepat kilat? lumayan murah toh … 50.000=8GB 😀 kasian si huawei-nya di simpen terus …

    1. Avatar Cahya

      Mas Rangga, saya sudah pernah coba itu, kebetulan ada tetangga yang beli paketnya, hasilnya, lambatnya minta ampun, jauh lebih lambat dari Smartfren yang notabene sudah lambat. Entahlah di tempat Mas Rangga, tapi di sini, saya tidak mungkin menggunakannya. Yang masih lumayan cepat di sini adalah IM2, tapi ribet dan mahalnya minta ampun, memang sih mereka yang satu-satunya punya IPv 6 sehingga bisa kencang, tapi Rp 300.000,00 untuk 6 GB sudah mahal sekali.

  6. Avatar narno

    dari pertama saya belum berubah masih tetap pakai smart yang belum pakai fren

  7. Avatar akuali
    akuali

    smart tidak stabil, hanya sdikit yng stabil dan kenceng.

  8. Avatar agung

    Alhamdulillah jaringan Internet saya tetap stabil hehe. :mrgreen:

  9. Avatar Fad

    bener Bli.. saya kan juga menggunakan Smartfren anti lelet itu.. memang selalu bisa terhubung dengan internet.. tetapi kadang nggak bisa membuka 1 websitepun.. kecepatan yang didapat cuma 8-10 kbps untuk downloadnya…
    tapi setelah di coba connet ulang baru jaringan stabil…
    awal bulan kemarin kencang bli.. meskipun saya memilih paket paling murahnya.. hahaha..tapi belakangan ini memang rada lemot..cepet..lemot..cepet…

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca