Kadang saya kangen menggunakan desktop yang ‘terasa’ ringan, dan mungkin menyerupai Windows pada Linux. Ini gara-gara beberapa hari belakangan saya berkutat dengan komputer-komputer lawas yang masih menggunakan sistem operasi Windows XP yang sudah lama kedaluwarsa. Saya pun memutuskan menambahkan Xfce ke dalam openSUSE Leap 42.1 yang saya gunakan.
Saya rasa hasilnya kemudian memuaskan, apalagi karena dibangun dengan sudah memiliki desktop Gnome sebelumnya, aplikasi Gnome seperti Cuaca dan Peta masih bisa digunakan dengan baik.
Banyak orang suka Xfce karena memang sederhana, ringan dan bisa digunakan dengan mudah – bahkan oleh mereka yang pertama kali menggunakan atau beralih ke Linux.
Tentu saja saya melakukan beberapa penyesuaian terhadap Xfce yang saya gunakan. Walau tidak seperti yang ditulis di ‘Xfce and openSUSE – Five steps to perfection‘, saya menggunakan sublimasi yang lebih sederhana.
Misalnya saja pada tampilan secara khusus, saya menggunakan gaya ‘Vertex Dark’, dengan ikon ‘Numix Circle’ yang tidak berubah dari Gnome, Fonta ‘Cabin Condensed’ 11 yang rasanya pas untuk Xfce, dan beberapa lainnya.
Saat ini, openSUSE Leap sudah menyediakan Xfce versi 4.12 – dan tentunya dengan sentuhan sendiri dari Tim openSUSE sehingga membuatnya lebih nyaman digunakan dibandingkan dengan aslinya desktop ini.
Jadi, saat ini, saya akan menikmati dulu si tikus kecil yang lincah ini.
Ulasan katalog mutasi WHO edisi ketiga untuk Mycobacterium tuberculosis: cara membaca gen resistensi obat TBC, lima grup bukti, dan batas penggunaannya.
Ulasan publikasi WHO 2026 tentang pelatihan cupping therapy: jenjang program, domain kompetensi, celah ilmu biomedis, dan relevansinya bagi keselamatan pasien.
Kemenkes menerbitkan pedoman alur klinis (clinical pathway) untuk rumah sakit melalui Keputusan Dirjen Kesehatan Lanjutan HK.02.02/D/2681/2025. Artikel ini mengulas cara menetapkan judul, format formulir, tahap penerapan, indikator evaluasi, serta catatan kritis bagi manajemen RS.
Seribu lima ratus tahun lebih sebelum kita, seorang pangeran terbuang menghentikan untanya di tepi bukit pasir dan mengajak kawannya menangisi bekas kemah kekasih. Dari satu seruan itu lahir pola elegi yang diwarisi sastra Arab selama berabad-abad.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan