A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Beberapa waktu yang lalu, saya mendapatkan kiriman ‘bahan’ presentasi dari salah satu instansi pemerintahan. Bahan presentasi ini sebenarnya sudah dipresentasikan pada saya ketika saya menghadiri acaranya, namun diharapkan dipresentasikan ulang pada karyawan yang bekerja di tempat saya. Apa daya ketika surat elektronik tersebut tiba, bahan presentasi yang dikirimkan dalam bentuk berkas PDF – Portable Data Format, yang tidak akan bisa saya presentasikan menggunakan aplikasi Impress pada LibreOffice. Seandainya dalam bentuk/format PPT atau PPTX dari Microsoft Office PowerPoint, saya masih bisa mempresentasikannya.

Biasanya ada dua pilihan:

  1. Membuat presentasi ulang, baik dengan mengetik manual ataupun melakukan ekspor dari PDF ke bentuk gambar (JPG/PNG) dengan GIMP atau perangkat lunak sejenis, lalu memasukkannya ke dalam Impress, dan ini tidak menyenangkan – karena menghabiskan banyak waktu.
  2. Melakukan presentasi dengan menggunakan aplikasi pembaca PDF, seperti Evince, MuPDF, atau dalam situasi saya biasanya menggunakan Foxit Reader. Tapi menggulung halaman itu entah kenapa tidak tampak keren sama sekali.

Akhirnya, saya dihadapkan pada sebuah tantangan untuk mencari solusi, dan hasilnya adalah gambar di atas.

Pada repositori openSUSE, terdapat perangkat lunak open source yang bernama pdfpc yang dirancang khusus untuk menampilkan presentasi dari berkas PDF pada layar ganda (multi-monitor). Ini merupakan hal pas yang saya butuhkan.

Dan aplikasi pdfpc ini sangat sederhana karena cukup dijalankan dari terminal dengan menggunakan baris perintah:

pdfpc namaberkas.pdf

Ini tentu saja tidak memerlukan saya untuk mengakses antarmuka yang lebih banyak lagi.

Sehingga, jika ada lagi yang mengirimkan berkas presentasi yang telah dikonversi ke dalam bentuk PDF, saya tidak perlu lagi khawatir tidak bisa mempresentasikannya ulang. Walau tentu saja, hasilnya hanya sesederhana menampilkan halaman per halaman.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.
  • Wajah Ganda Sang Parasit: Mengenal Leishmaniasis Kutaneus dan PKDL, Dua Babak dari Satu Penyakit
    Leishmaniasis kutaneus dan PKDL adalah dua wajah dari infeksi parasit Leishmania yang ditularkan lalat pasir—jarang ditemukan di Indonesia, namun tetap relevan lewat kasus impor dari personel yang bertugas di kawasan endemik. Artikel ini mengulas gejala, diagnosis banding dengan kusta, dan tata laksana berdasarkan panduan terbaru WHO SEARO

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca