A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Seorang ibu di sebuah kota kecil membeli air minum kemasan untuk anaknya karena percaya itu pilihan paling aman. Ia tidak tahu bahwa senyawa kimia yang telah dipakai sejak akhir 1930-an untuk melapisi panci antilengket, mengedapkan kemasan makanan cepat saji, dan menahan air pada jas hujan, kini juga bisa bersembunyi dalam air yang ia tuang ke gelas si kecil. Senyawa itu disebut per- and polyfluoroalkyl substances (PFAS) — kelompok bahan kimia sintetis yang begitu stabil sehingga dijuluki “forever chemicals”, bahan kimia yang nyaris tidak pernah terurai di alam.

Pada 2026, World Health Organization (WHO) merilis tinjauan lanskap komprehensif pertama yang secara khusus menyisir bukti ilmiah tentang PFAS yang tertelan manusia — melalui air minum, makanan, dan pemantauan biologis (human biomonitoring) — untuk kemudian menyaring ratusan senyawa PFAS menjadi daftar prioritas yang layak dikaji lebih dalam (World Health Organization, 2026). Bagi tenaga kesehatan dan pengelola fasilitas layanan di Indonesia, temuan ini penting dipahami, mengingat paparan PFAS bersifat lintas batas dan tidak mengenal garis administratif negara.

Mengapa PFAS Begitu Sulit Dihindari

Kestabilan ikatan karbon-fluor pada PFAS adalah pedang bermata dua. Di satu sisi, sifat ini membuatnya sangat berguna secara komersial — tahan panas, tahan minyak, dan tahan air — sehingga digunakan luas pada peralatan masak, tekstil tahan air, busa pemadam kebakaran, dan berbagai proses industri. Di sisi lain, sifat yang sama membuat PFAS bertahan lama di lingkungan dan terakumulasi pada jaringan makhluk hidup, termasuk manusia (World Health Organization, 2026).

Dua senyawa PFAS yang paling dikenal luas, yaitu perfluorooctanesulfonic acid (PFOS) dan perfluorooctanoic acid (PFOA), telah terbukti tersebar secara global dan bersifat bioakumulatif, sehingga mendorong berbagai negara melakukan penghentian sukarela penggunaannya serta menetapkan nilai panduan berbasis kesehatan (health-based guidance values) untuk air minum. Namun, nilai panduan yang ditetapkan berbagai otoritas ternyata sangat bervariasi satu sama lain — mencerminkan besarnya ketidakpastian dalam menerjemahkan data toksikologi laboratorium menjadi batas aman bagi manusia.

PFAS

Metodologi: Menyaring Ratusan Senyawa dari Ribuan Sumber

WHO membentuk Technical Advisory Group on Per- and Poly-Fluoroalkyl Substances Assessment (TAG-PFAS), beranggotakan sepuluh pakar internasional di bidang toksikologi, epidemiologi, dan penilaian risiko lingkungan, untuk mengawasi proses tinjauan ini (World Health Organization, 2026). Pencarian literatur dilakukan mengikuti kaidah Preferred Reporting Items for Systematic Reviews and Meta-Analyses (PRISMA), menyisir basis data Medline/PubMed, EMBASE, Scopus, Web of Science, dan Cochrane Library sejak masing-masing basis data itu berdiri hingga akhir Agustus 2024.

Dari 2.665 rekaman yang teridentifikasi, tersaring 49 sumber data untuk informasi keberadaan (occurrence) PFAS di lingkungan dan 48 sumber data untuk efek kesehatan. Basis data keberadaan lingkungan akhirnya mencakup hampir 300.000 titik data untuk 77 jenis PFAS, sementara basis data efek kesehatan mencakup hampir 57.000 titik data untuk 66 jenis PFAS.

Yang menarik, makanan ternyata menjadi kontributor titik data terbesar (sekitar 40% dari seluruh observasi keberadaan lingkungan), mengungguli air permukaan (sekitar 34%) dan air minum (sekitar 23%). Ini menegaskan bahwa jalur pajanan PFAS bukan hanya soal kualitas air minum, melainkan juga rantai pangan secara keseluruhan — sesuatu yang relevan bagi pengawasan keamanan pangan di Indonesia, tidak hanya pengawasan kualitas air.

Skema Prioritisasi: Bukan Sekadar Menghitung, tapi Menimbang

TAG-PFAS mengembangkan kerangka prioritisasi bertingkat yang memberi bobot berbeda pada setiap media pajanan dan spesies uji. Deteksi pada human biomonitoring, air minum, air tanah, dan makanan diberi bobot tertinggi (1,0) karena paling relevan dengan jalur konsumsi manusia, sementara deteksi pada debu atau udara diberi bobot jauh lebih rendah (0,1). Demikian pula untuk efek kesehatan, hasil pada manusia diberi bobot tertinggi dibanding hasil pada hewan uji seperti tikus atau kelinci, dan kategori efek kesehatan seperti gangguan perkembangan serta reproduksi diberi bobot lebih besar dibanding kanker sebagai indeks pembanding.

Skema ini disusun agar senyawa yang paling banyak diteliti tidak otomatis “menang” hanya karena jumlah studinya banyak, dan agar setiap efek kesehatan yang dilaporkan tetap berkontribusi pada skor akhir.

Delapan Belas Senyawa yang Perlu Diwaspadai

Berdasarkan skema tersebut, enam belas PFAS teridentifikasi paling menonjol dari sisi keberadaan lingkungan sekaligus terdeteksi hampir di semua kategori media pajanan utama — manusia, air minum/air tanah, dan makanan. Enam belas senyawa itu adalah PFOS, perfluoroundecanoic acid (PFUnDA), perfluoroheptanoic acid (PFHpA), PFOA, perfluoroheptanesulfonic acid (PFHpS), perfluorobutanoic acid (PFBA), perfluorotridecanoic acid (PFTrDA), perfluorohexanoic acid (PFHxA), perfluorotetradecanoic acid (PFTeDA), perfluorobutanesulfonic acid (PFBS), perfluorohexanesulfonic acid (PFHxS), perfluoropentanoic acid (PFPeA), perfluorododecanoic acid (PFDoA), perfluorononanoic acid (PFNA), perfluorodecanoic acid (PFDA), dan perfluorodecanesulfonic acid (PFDS).

Dua senyawa tambahan direkomendasikan untuk tetap dipertimbangkan meski peringkatnya rendah dalam basis data: trifluoroacetic acid (TFA) dan perfluoro(2-propoxypropanoic acid) (dikenal sebagai HFPO-DA atau GenX). TAG-PFAS menilai peringkat rendah keduanya kemungkinan besar merupakan artefak strategi pencarian literatur, bukan cerminan risiko sesungguhnya — TFA sering tidak dimasukkan dalam definisi PFAS oleh sumber data yang ditinjau, sementara HFPO-DA menarik perhatian khusus karena diperkenalkan industri sebagai pengganti PFOA, salah satu PFAS paling banyak dipelajari.

Sebelas dari enam belas senyawa prioritas itu — PFOS, PFBS, PFOA, PFTrDA, PFNA, PFHxS, PFDA, PFHpA, PFDoA, PFDS, dan PFUnDA — juga menunjukkan skor tinggi untuk efek kesehatan, menandakan tumpang tindih yang kuat antara seberapa sering senyawa ini ditemukan dan seberapa besar potensi bahayanya.

Enam Kategori Efek Kesehatan yang Jadi Prioritas

Dari delapan belas kategori efek kesehatan yang dianalisis, TAG-PFAS akhirnya memprioritaskan enam kategori untuk pengumpulan bukti sistematis lanjutan guna mendukung penyusunan nilai berbasis kesehatan (health-based values), termasuk kemungkinan penilaian risiko campuran (mixtures risk assessment): kanker, gangguan perkembangan (developmental), gangguan hati (hepatic), gangguan imun, gangguan metabolik, dan gangguan reproduksi.

Menariknya, efek endokrin dan efek kardiovaskular — meski memiliki skor komposit tinggi — sengaja tidak dijadikan kategori mandiri. TAG-PFAS beralasan bahwa mekanisme kerja utama PFAS, yaitu aktivasi reseptor peroxisome proliferator-activated receptor alpha/gamma (PPARα/γ), tidak sepenuhnya sesuai dengan pola interaksi reseptor endokrin klasik seperti estrogen atau hormon tiroid, sehingga banyak temuan terkait endokrin sudah tercakup dalam kategori perkembangan dan reproduksi. Demikian pula efek kardiovaskular dinilai lebih tepat dipertimbangkan tidak langsung melalui kategori metabolik.

Sebaliknya, kanker tetap dimasukkan sebagai prioritas meski skor basis datanya relatif rendah, karena TAG-PFAS menduga sedikitnya jumlah studi bioassay hewan yang menunjukkan efek positif justru “terlarutkan” secara statistik oleh banyaknya studi epidemiologi manusia yang hasilnya negatif namun mungkin kurang bertenaga statistik untuk mendeteksi efek sesungguhnya.

Keterbatasan yang Diakui Sendiri oleh Penyusunnya

Salah satu kekuatan tinjauan ini adalah kejujurannya mengakui keterbatasan metodologis. Karena strategi pencarian literatur mengandalkan tinjauan sistematis dan peta bukti yang sudah ada (bukan studi primer), senyawa yang jarang dianggap sebagai “PFAS” oleh basis data yang ditinjau — seperti TFA — berisiko luput terdeteksi meski sebenarnya banyak ditemukan di lingkungan. Selain itu, ketika hanya ada sedikit studi dan semuanya melaporkan efek positif, skor algoritmik bisa melonjak tinggi hanya karena faktor kebetulan statistik — sebagaimana terjadi pada PFBS yang justru menempati peringkat pertama skor efek kesehatan berdasarkan hanya sebelas observasi.

Relevansi bagi Indonesia

Tinjauan WHO ini tidak memuat data pemantauan spesifik Indonesia — sumber data yang dirujuk didominasi laporan dari Amerika Utara, Eropa, dan basis data global. Ini menegaskan kesenjangan yang sudah lama disadari dalam pengawasan keamanan pangan dan air minum nasional: belum tersedianya data biomonitoring PFAS berskala nasional yang setara dengan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) untuk indikator gizi dan penyakit tidak menular lainnya. Dengan meningkatnya penggunaan kemasan pangan dan peralatan masak antilengket di pasar domestik, serta regulasi lingkungan hidup untuk fasilitas kesehatan yang kini turut menyinggung pengelolaan limbah bahan berbahaya dan beracun (B3), penguatan pemantauan PFAS pada air minum dan rantai pangan lokal — sejalan dengan mandat Undang-Undang Kesehatan 17/2023 tentang perlindungan kesehatan masyarakat dari faktor risiko lingkungan — patut menjadi agenda ke depan bagi otoritas kesehatan dan lingkungan hidup Indonesia.


Catatan Transparansi: Artikel ini disusun berdasarkan laporan resmi WHO Key ingested per- and poly-fluoroalkyl substances (PFAS) and their health effects: landscape review (2026), yang metodologinya mengandalkan tinjauan sistematis dan peta bukti sekunder, bukan studi primer baru. Penulis tidak menemukan data pemantauan PFAS spesifik Indonesia dalam sumber data yang dirujuk WHO; bagian relevansi bagi Indonesia dalam artikel ini merupakan interpretasi analitis penulis, bukan posisi resmi WHO atau otoritas kesehatan Indonesia manapun. Angka dan peringkat senyawa PFAS yang dikutip bersumber langsung dari Tabel 5–8 laporan WHO tersebut dan dapat berubah seiring pembaruan tinjauan di masa depan.

Ringkasan: WHO merilis tinjauan lanskap yang menyaring 18 senyawa PFAS prioritas dan enam kategori efek kesehatan — kanker, perkembangan, hati, imun, metabolik, dan reproduksi — dari ratusan senyawa “bahan kimia abadi” yang mencemari makanan dan air minum. Makanan menjadi jalur pajanan terbesar. Temuan ini menegaskan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS pada rantai pangan dan air minum nasional.

Daftar Pustaka

World Health Organization. (2026). Key ingested per- and poly-fluoroalkyl substances (PFAS) and their health effects: landscape review. Geneva: World Health Organization. https://iris.who.int/

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca