Karena sudah rilisnya openSUSE Leap 42.2, saya berminat melakukan peningkatan (upgrade) dari seri 42.1 yang saat ini saya gunakan ke seri 42.2. Namun setelah membaca sejumlah panduan dan pengalaman pengguna, saya tidak memilih meningkatkannya, karena tetap saja untuk keamanan, saya akan memerlukan sebuah DVD instalasi.
Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba melakukan peningkatan, atau mungkin lebih tepatnya migrasi dari seri Leap 42.1 ke seri Tumbleweed. Dari yang saya baca, Tumbleweed saat ini sudah cukup stabil untuk digunakan harian.
Pengalaman saya menggunakan Leap selama sekitar kurang dari setahun (dan sebenarnya masih ada dukungan untuk enam bulan ke depan) bagi saya cukup nyaman, saya menyukai stabilitas yang diberikan oleh Leap. Tapi sayang, mungkin saya bukan orang yang betah dengan peningkatan besar setiap periode tertentu, walau itu cukup lama sekitar 18 bulan.
Demikianlah pertimbangan yang kemudian menguatkan niat saya untuk mencoba bermigrasi, dan setelah melalui proses selama 48 jam, migrasi ini berhasil.
Mengunduh DVD instalasi 64-bit dari beranda situs openSUSE.
Memasang imagewriter pada seri Leap.
Menyalin berkasi ISO DVD instalasi ke USB Flashdisk dengan menggunakan imagewriter, dan sedemikian hingga siap sebagai bootable media.
Memindahkan tautan alamat repositori tambahan yang saya gunakan dari Leap ke Tumbleweed (proses ini agak lama karena harus melihat satu per satu apakah repositori tambahan memiliki dukungan Tumbleweed atau tidak, jika ‘tidak ada’ maka kemungkinan saya harus merelakan aplikasi dan paket dari repositori itu akan hilang saat migrasi).
Booting up dengan Flashdisk sebelumnya, lalu saya memilih ‘upgrade’.
Melanjutkan proses seperti instalasi biasa, dan ketika ada pilihan untuk memilih antara repositori mana yang paket dipertahankan dan dibuang, saya memilih mempertahankan semua repositori yang sudah saya pindahkan tautannya ke Tumbleweeb pada poin 4 di atas.
Melakukan konfigurasi jaringan dan menyambungkan ke WiFi.
Proses pemasangan berlangsung hingga selesai.
Proses ini memakan waktu yang cukup lama, apalagi di tengah jalan sistem juga mencari paket-paket terkini untuk diunduh dan dipasang.
Studi fase 3b terbaru di JAMA Network Open melaporkan 54% perempuan dengan ISK tanpa komplikasi merasakan gejala membaik dalam 24 jam setelah gepotidacin. Namun desain studinya satu lengan, tanpa pembanding dan tanpa penyamaran. Artikel ini membedah angka, keterbatasan, keamanan, serta relevansinya bagi praktik klinis dan pengendalian resistansi antibiotik di Indonesia.
Bahu adalah sendi paling sering mengalami dislokasi di tubuh manusia—dan salah tangani bisa berujung ketidakstabilan berulang. Artikel ini mengulas mekanisme cedera, lesi Bankart dan Hill-Sachs, protokol reduksi dan imobilisasi terkini, hingga kapan operasi seperti Bankart repair atau Latarjet diperlukan, lengkap dengan konteks layanan ortopedi di Indonesia.
Laporan Direktur Regional WHO Pasifik Barat untuk periode Juli 2025–Juni 2026 memuat bab khusus Indonesia. BPOM naik kelas sebagai WHO Listed Authority dan wabah polio dinyatakan selesai, tetapi hanya 5% penderita hipertensi yang terkendali dan cakupan campak dosis kedua masih 78%.
WHO merilis paket panduan 2026 untuk mencegah penyakit akibat panas di acara massal. Intinya: nilai risiko sejak awal, pasang pelindung berlapis seperti air minum, area pendingin, dan jalur rujukan, tentukan tingkat eskalasi sebelum acara, serta ubah pesan “minum air” menjadi arahan yang didukung layanan nyata. Relevan bagi penyelenggara di Indonesia.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan