A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Karena sudah rilisnya openSUSE Leap 42.2, saya berminat melakukan peningkatan (upgrade) dari seri 42.1 yang saat ini saya gunakan ke seri 42.2. Namun setelah membaca sejumlah panduan dan pengalaman pengguna, saya tidak memilih meningkatkannya, karena tetap saja untuk keamanan, saya akan memerlukan sebuah DVD instalasi.

Akhirnya saya memutuskan untuk mencoba melakukan peningkatan, atau mungkin lebih tepatnya migrasi dari seri Leap 42.1 ke seri Tumbleweed. Dari yang saya baca, Tumbleweed saat ini sudah cukup stabil untuk digunakan harian.

Pengalaman saya menggunakan Leap selama sekitar kurang dari setahun (dan sebenarnya masih ada dukungan untuk enam bulan ke depan) bagi saya cukup nyaman, saya menyukai stabilitas yang diberikan oleh Leap. Tapi sayang, mungkin saya bukan orang yang betah dengan peningkatan besar setiap periode tertentu, walau itu cukup lama sekitar 18 bulan.

Demikianlah pertimbangan yang kemudian menguatkan niat saya untuk mencoba bermigrasi, dan setelah melalui proses selama 48 jam, migrasi ini berhasil.

Adapun langkah-langkah yang saya gunakan adalah:

  1. Mengunduh DVD instalasi 64-bit dari beranda situs openSUSE.
  2. Memasang imagewriter pada seri Leap.
  3. Menyalin berkasi ISO DVD instalasi ke USB Flashdisk dengan menggunakan imagewriter, dan sedemikian hingga siap sebagai bootable media.
  4. Memindahkan tautan alamat repositori tambahan yang saya gunakan dari Leap ke Tumbleweed (proses ini agak lama karena harus melihat satu per satu apakah repositori tambahan memiliki dukungan Tumbleweed atau tidak, jika ‘tidak ada’ maka kemungkinan saya harus merelakan aplikasi dan paket dari repositori itu akan hilang saat migrasi).
  5. Booting up dengan Flashdisk sebelumnya, lalu saya memilih ‘upgrade’.
  6. Melanjutkan proses seperti instalasi biasa, dan ketika ada pilihan untuk memilih antara repositori mana yang paket dipertahankan dan dibuang, saya memilih mempertahankan semua repositori yang sudah saya pindahkan tautannya ke Tumbleweeb pada poin 4 di atas.
  7. Melakukan konfigurasi jaringan dan menyambungkan ke WiFi.
  8. Proses pemasangan berlangsung hingga selesai.

Proses ini memakan waktu yang cukup lama, apalagi di tengah jalan sistem juga mencari paket-paket terkini untuk diunduh dan dipasang.

 

Artikel Baru Terbit

  • Gula Darah Tinggi yang Diam-Diam Merusak: Memahami Diabetes Melitus Tipe 2
    Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
  • Empat Pembaruan Kunci Pedoman Malaria WHO 2026: Apa yang Berubah dan Apa Artinya bagi Indonesia
    WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
  • Vaksin RSV untuk Ibu Hamil: Ketika Antibodi Ibu Jadi Perisai Pertama Bayi
    Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
  • Guru di Garis Depan: Panduan Baru UNESCO, UNICEF, dan WHO untuk Menjaga Kesehatan Jiwa di Ruang Kelas
    Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
  • Ketika Si Kecil Tiba-Tiba Sering Haus dan Berat Badannya Turun: Mengenal Diabetes Melitus Tipe 1
    Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca