Pasca mengunduh berkas instalasi Asparagus selama 80 jam dengan mengunakan jaringan “I love Slow“, akhirnya saya bisa mendapatkan berkas ISO untuk DVD openSUSE 12.1 Asparagus yang sedang naik daun belakangan ini. Jadi dengan ini, saya juga mengucapkan selamat tinggal pada Celadon yang sudah cukup lama saya gunakan.
Berbeda dengan Celadon yang saya dapatkan dengan melakukan upgrade dari versi sebelumnya, untuk Asparagus, saya memilih melakukan clean install karena banyaknya perubahan sistem yang terjadi. Saya melakukan dua kali pemasangan, pertama saya melakukan pemasangan dengan banyak fitur, semua jenis dekstop hingga variasi grafis 3D bleeding end, hasilnya, komputer saya menjadi sangat lambat. Maka pemasangan kedua, saya memilih hanya menggunakan Gnome 3.2 asli saja.
Asparagus resmi dirilis tanggal 16 yang lalu, namun sesuai perkiraan saya pada jaringan super lambat milik Smartfren, yang EVDO-nya nyaris tak bisa digunakan. Maka wajarlah baru hari ini saya bisa mencicipinya.
Pemasangannya masih menggunakan metode klasik, yaitu DVD instalasi, berhubung saya tidak memiliki kandar flash (UFD) untuk memasang via USB. Dan caranya masih sama dengan edisi sebelumnya, saya tidak memilih menggunakan GRUB 2 ataupun sistem berkas yang baru, masih yang klasik – karena hendak mempertahankan ekuilibrium dual-boot yang aman. Sebenarnya sih saya ingin mencoba btrfs dengan snapper yang sudah digadang-gadang sejak lama, ah…, tapi saya tunda dulu. I am not a geek, just a newbie.
Dengan moto “All Green!” maka Asparagus membawa green geeko favorit saya ke nuansa hijau cemerlang yang ada di mana-mana dengan adwaita yang memang menyangga GNOME 3.2. Meski demikian, akan ada banyak fitur yang mungkin tidak akan saya manfaatkan, semisalnya cloud dan mirall dari openSUSE.
Gnome Shell dibandingkan pendahulunya sudah terasa lebih responsif, dan lebih nyaman digunakan. Setelah beberapa kali klik di sana-sini, saya menemukan saya lebih suka menggunakan Gnome Shell dibandingkan Unity. Saya tidak akan menyangkal bahwa Unity lebih eye catching, namun jika berselancar layar penuh (Mozilla Firefox) dengan Unity dari Ubuntu, maka tumpang tindih dasher dan tombol backward (mundur satu halaman) akan membuat sangat stres.
Mungkin penghalusan fonta, sejenis font hinting yang sudah lebih baik memang membuat nyaman penggunaan Asparagus dibandingkan Celadon, namun mungkin harus diakui bahwa render yang digunakan tidak akan menghasilkan tatanan fonta sebaik yang diberikan oleh Ubuntu – misalnya. OpenSUSE tampaknya memang agak dibelakang jika dalam urusan fonta, tapi setidaknya Linux Libertine cukup memuaskan saya seperti biasanya.
Sayangnya, segala kemutakhiran yang dihadirkan oleh Gnome Shell dibayar dengan harga yang mahal, yaitu keperluan resources yang bertambah dan perlu tambahan waktu untuk belajar dan membiasakan diri. Ini tidak membuat openSUSE 12.1 edisi GNOME lebih mudah digunakan bagi pemula, karena saya sendiri sempat kebingungan beberapa kali oleh jendela yang tidak pop-up secara default, namun hanya beberapa munculan notifikasi yang membuat saya lambat menyadarinya bahwa itulah jendela yang sebenarnya. Sehingga saya tetap tidak “tega” merekomendasikan GNOME pada openSUSE 12.1 untuk mereka yang pertama kali mencoba Linux, namun KDE mungkin akan lebih nyaman dan bersahabat.
Gnome Shell memang menyulitkan jika tidak familier, karena menjadi labirin yang membingungkan, kecuali Anda terbiasa dengan menggunakan perintah terminal. Namun ketika sudah menemukan celahnya, maka ternyata sangat mudah digunakan, ini mengembalikan sensasi penjelajahan saya ketika pertama kali menggunakan Linux dulu.
OpenSUSE 12.1 juga memberikan dukungan grafik yang baik, setidaknya tidak semengecewakan Ubuntu 11.10 yang saya coba beberapa waktu lalu – dukungan grafisnya membuat saya menghela napas panjang. Tapi setiap orang bisa menemukan masalah yang berbeda untuk tiap distribusi yang mereka coba.
Dukungan repositori juga membaik saya temukan pada openSUSE 12.1, tampaknya repo utama sudah membawa lebih banyak pustaka daripada edisi sebelumnya, sehingga saya mendapatkan 1-click-install yang lebih nihil masalah di edisi ini. Dan dari dulu, inilah yang membuat saya suka openSUSE dibandingkan menggunakan software manager-nya atau Linux lainnya.
Sayangnya saya tidak mencoba dukungan pelokalan, Ubuntu memiliki dukungan pelokalan yang sangat bagus, openSUSE sebenarnya cukup bagus, hanya saja kadang sering buggy di sana-sini, karena itulah saya lebih suka menggunakan bahasa aslinya.
Dukungan konekvitasnya secara default masih menggunakan metode tradisional iftup pada YaST, yang secara kebetulan saya tidak paham – karena mungkin terlalu malas mengikuti kelasnya. Sehingga mesti diubah dulu seperti biasa dengan menggunakan user controlled manager, sehingga saya bisa menggunakan Network Manager. Dengan demikian, modem Pantech PX-500 CDMA dan SpeedUp CDMA saya bisa digunakan melalui hot-plug (baca: tinggal colok saja), metode yang sama seperti yang ada pada Ubuntu dan kebanyakan Linux lainnya, namun kestabilannya sangat bergantung pada jaringan.
Terakhir, saya menambahkan beberapa pustaka untuk membaca format terbatas – sehingga saya bisa menonton koleksi anime saya, beberapa peramban tambahan, dan sedikit sentuhan personal untuk temanya. Dan karena jaringan Internet yang tidak memungkinkan, saya memilih tidak bermigrasi ke Tumbleweed untuk kali ini, cukup yang standar saja. Maka saya sudah mendapatkan openSUSE 12.1 Asparagus dengan GNOME terbaru, tepat seperti apa yang saya inginkan.

Tinggalkan komentar