A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Hampir semua orang pernah mengalami sakit kepala, tetapi migrain adalah pengalaman yang jauh berbeda dari sekadar kepala yang berdenyut sebentar. Bagi jutaan orang di seluruh dunia, migrain adalah kondisi yang melumpuhkan — menghalangi mereka dari bekerja, belajar, bahkan melakukan aktivitas sehari-hari yang paling sederhana sekalipun. Ironisnya, meski migrain termasuk salah satu kondisi neurologis yang paling umum di dunia, ia sering dianggap enteng, didiagnosis terlambat, dan tidak ditangani dengan tepat.

Artikel ini hadir untuk memberikan pemahaman yang lebih lengkap tentang migrain: apa sebenarnya yang terjadi di dalam otak saat migrain menyerang, apa saja yang dapat memicunya, dan bagaimana cara terbaik mencegah serta mengelolanya berdasarkan bukti ilmiah terkini.


Migrain: Sebuah Penyakit Otak, Bukan Sekadar Nyeri Kepala

Selama bertahun-tahun, migrain disalahpahami sebagai “sakit kepala parah” biasa. Pemahaman ilmiah modern telah mengubah perspektif ini secara fundamental. Migrain adalah gangguan neurologis primer yang melibatkan disfungsi jaringan otak yang kompleks, bukan hanya pembuluh darah yang melebar. Global Burden of Disease Study secara konsisten menempatkan migrain sebagai salah satu penyebab disabilitas terbesar di dunia, khususnya pada kelompok usia produktif antara 20 hingga 50 tahun.

Prevalensinya sangat signifikan. Secara global, diperkirakan sekitar 1 dari 7 orang mengalami migrain. Perempuan tiga kali lebih rentan dibanding laki-laki, terutama akibat pengaruh hormonal. Sebuah studi lintas negara di kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang diterbitkan tahun 2025 menemukan prevalensi migrain berkisar antara 19 hingga 39 persen pada populasi dewasa muda, dengan beban disabilitas yang substansial (Samir et al., 2025). Studi serupa di Mesir menemukan hampir separuh penderita migrain mengalami disabilitas berat yang mengganggu fungsi sehari-hari (Samir et al., 2025).

Di Indonesia, data epidemiologi migrain yang komprehensif masih terbatas, namun mengingat pola demografis yang serupa dengan kawasan Asia Tenggara lainnya, beban migrain diperkirakan tidak kalah signifikan. Migrain sering luput dari perhatian karena banyak penderita tidak mencari pertolongan medis, menganggap rasa sakit yang mereka alami sebagai “hal biasa” yang harus ditanggung.


Apa yang Sebenarnya Terjadi di Otak Saat Migrain?

Pemahaman tentang mekanisme migrain telah berkembang pesat dalam satu dekade terakhir. Kunci dari pemahaman modern migrain adalah peran calcitonin gene-related peptide (CGRP) — sebuah molekul sinyal saraf yang dilepaskan oleh serabut saraf trigeminal di sekitar pembuluh darah otak. Ketika CGRP dilepaskan secara berlebihan, ia menyebabkan peradangan neurogenik (neurogenic inflammation) dan vasodilatasi yang menghasilkan nyeri kepala berdenyut yang khas pada migrain (Nayak et al., 2025).

Sebelum nyeri kepala muncul, banyak penderita mengalami fase yang disebut aura — fenomena sensorik yang berlangsung 20 hingga 60 menit berupa kilatan cahaya, gangguan penglihatan seperti garis bergelombang, kesemutan di wajah atau tangan, atau bahkan kesulitan berbicara sesaat. Aura ini merupakan manifestasi dari cortical spreading depolarization — gelombang aktivitas listrik abnormal yang menyapu melalui korteks serebral dengan kecepatan 3–5 mm per menit (Fila et al., 2025).

Riset terbaru bahkan menunjukkan dimensi epigenetik pada migrain. Modifikasi epigenetik pada gen-gen yang mengatur jalur CGRP, termasuk stres oksidatif yang mengaktifkan saluran ion TRPA1, tampaknya berperan dalam mengapa beberapa orang lebih rentan terhadap migrain dan mengapa migrain bisa berkembang menjadi kronis seiring waktu (Fila et al., 2025). Ini menjelaskan mengapa migrain bukan sekadar “bawaan” keturunan secara sederhana, melainkan interaksi rumit antara gen dan lingkungan.

Serangan migrain sendiri umumnya berlangsung antara 4 hingga 72 jam jika tidak diobati, dan disertai mual, muntah, serta hipersensitivitas terhadap cahaya (fotofobia) dan suara (fonofobia). Bahkan aktivitas fisik ringan seperti berjalan kaki dapat memperburuk nyeri pada fase akut ini.


Mengenali Faktor Pencetus: Kunci Pertama Pencegahan

Migrain hampir selalu memiliki faktor pencetus (trigger). Mengenali pencetus pribadi merupakan langkah pertama dan terpenting dalam pencegahan. Setiap orang mungkin memiliki kombinasi pencetus yang berbeda, sehingga dokumentasi melalui buku harian migrain (headache diary) sangat dianjurkan.

Gangguan Tidur dan Ritme Sirkadian

Studi lintas negara menemukan bahwa gangguan tidur merupakan pencetus migrain yang paling sering dilaporkan, diidentifikasi oleh 60–77 persen penderita (Samir et al., 2025). Tidur yang terlalu singkat, terlalu lama, atau tidur pada jam yang tidak teratur dapat memicu serangan. Menariknya, riset terbaru menunjukkan hubungan dua arah antara migrain dan kualitas tidur — migrain mengganggu tidur, dan sebaliknya, tidur yang buruk memperburuk migrain. Regulasi jadwal tidur yang konsisten, termasuk di akhir pekan, merupakan salah satu intervensi lifestyle paling efektif.

Stres dan Respons Pasca-Stres

Stres adalah pencetus klasik migrain, namun yang kurang dipahami adalah fenomena “migrain akhir pekan” atau migrain pasca-stres. Serangan justru sering terjadi saat seseorang mulai relaksasi setelah periode stres tinggi — saat bersantai di rumah setelah minggu kerja yang padat, misalnya. Mekanismenya diduga terkait dengan fluktuasi kadar kortisol saat transisi dari stres ke relaksasi.

Faktor Makanan dan Minuman

Sejumlah zat dalam makanan dapat memicu migrain pada individu yang rentan. Tyramine yang terdapat pada keju matang, daging olahan, dan makanan yang difermentasi; monosodium glutamat (MSG) dalam penyedap makanan; nitrat dan nitrit dalam daging olahan; serta alkohol — terutama anggur merah — adalah pencetus yang paling terdokumentasi dengan baik.

Kafein memiliki hubungan yang lebih kompleks. Konsumsi kafein harian dalam jumlah besar dikaitkan dengan peningkatan risiko migrain (Samir et al., 2025). Namun, sebaliknya, penghentian kafein secara tiba-tiba pun dapat memicu serangan karena efek withdrawal. Konsumsi kafein dalam jumlah moderat dan konsisten adalah strategi yang lebih aman.

Dehidrasi merupakan pencetus yang sering diabaikan. Kecukupan cairan terbukti secara signifikan mengurangi risiko migrain dalam beberapa penelitian populasi (Samir et al., 2025). Melewatkan makan (skipping meals) juga dapat memicu serangan melalui mekanisme hipoglikemia relatif.

Faktor Hormonal

Pada perempuan, fluktuasi kadar estrogen merupakan pencetus utama — menjelaskan mengapa migrain lebih sering terjadi menjelang dan selama menstruasi, serta mengapa migrain sering membaik setelah menopause. Pil kontrasepsi kombinasi yang mengandung estrogen dapat memperburuk migrain pada sebagian perempuan, sehingga konsultasi dengan dokter untuk pemilihan metode kontrasepsi yang tepat sangat penting.

Paparan Sensorik Berlebihan

Cahaya terang, terutama cahaya yang berkedip (flickering light), kebisingan, dan bau yang menyengat — seperti parfum kuat atau asap rokok — merupakan pencetus yang umum. Paparan layar digital yang berlebihan dengan kontras dan kecerahan tinggi juga semakin dikenali sebagai pencetus di era modern. Studi menemukan kebisingan menjadi pencetus kedua tersering, dilaporkan oleh 47–65 persen penderita (Samir et al., 2025).


Pendekatan Pencegahan Non-Farmakologi

Sebelum membahas obat-obatan, perlu ditekankan bahwa modifikasi gaya hidup bukan hanya “pilihan tambahan” — ia adalah fondasi tata laksana migrain yang harus dijalankan bersamaan dengan terapi apapun.

Olahraga Teratur

Aktivitas fisik aerobik yang teratur, seperti jalan cepat, bersepeda, atau berenang selama 30–40 menit tiga kali seminggu, terbukti mengurangi frekuensi serangan migrain secara bermakna. Mekanismenya melibatkan regulasi CGRP, peningkatan kadar endorfin endogen, dan perbaikan kualitas tidur. Penting untuk dicatat bahwa olahraga yang terlalu berat atau mendadak pada orang yang tidak terbiasa justru bisa memicu serangan, sehingga peningkatan intensitas harus dilakukan secara bertahap.

Manajemen Stres

Berbagai teknik relaksasi — termasuk meditasi mindfulness, yoga, dan biofeedback — memiliki bukti yang cukup kuat sebagai intervensi pencegahan migrain. Psikoterapi kognitif-perilaku (cognitive behavioral therapy) khususnya efektif pada penderita migrain dengan komorbiditas kecemasan dan depresi, yang persentasenya sangat tinggi: satu studi menemukan 73 persen penderita migrain mengalami depresi berat (Samir et al., 2025).

Akupunktur

Akupunktur memiliki bukti efektivitas yang semakin kuat dalam pencegahan migrain. Beberapa uji klinis menemukan akupunktur setara dengan terapi pencegahan farmakologis dalam mengurangi frekuensi serangan, dengan profil keamanan yang lebih baik. Pedoman neurologi Eropa saat ini memasukkan akupunktur sebagai pilihan pencegahan yang valid.

Hidrasi dan Pola Makan Teratur

Menjaga kecukupan cairan sepanjang hari dan menghindari jeda makan yang terlalu panjang adalah tindakan sederhana namun terbukti efektif. Target konsumsi air sekitar 2 liter per hari pada iklim tropis seperti Indonesia, dengan penyesuaian berdasarkan aktivitas fisik.


Terapi Farmakologi Pencegahan: Dari Pilihan Klasik hingga Terobosan Terbaru

Bila modifikasi gaya hidup tidak cukup — umumnya didefinisikan sebagai migrain yang terjadi 4 kali atau lebih per bulan, atau serangan yang sangat mengganggu fungsi — terapi pencegahan farmakologis perlu dipertimbangkan. Tujuannya bukan menghilangkan migrain sepenuhnya, melainkan mengurangi frekuensi, durasi, dan beratnya serangan secara bermakna.

Obat-obatan Klasik

Beta-blocker seperti propranolol dan metoprolol telah digunakan sebagai lini pertama pencegahan migrain selama beberapa dekade. Mekanisme pastinya belum sepenuhnya dipahami, namun diduga melibatkan modulasi sistem adrenergik yang memengaruhi sensitivitas sentral. Beta-blocker tidak cocok untuk penderita dengan asma, penyakit paru obstruktif kronik, atau gangguan konduksi jantung.

Antidepresan trisiklik, terutama amitriptilin dalam dosis rendah (10–75 mg malam hari), bekerja melalui mekanisme berbeda dari efek antidepresannya dan efektif terutama pada penderita migrain yang disertai gangguan tidur atau kecemasan. Topiramat, obat antikonvulsan, juga memiliki bukti kuat sebagai pencegahan migrain dan bahkan disetujui oleh FDA Amerika untuk indikasi ini.

Flunarizin, calcium channel blocker yang lebih banyak digunakan di Asia dan Eropa dibanding Amerika, merupakan pilihan yang juga cukup efektif dan tersedia di Indonesia.

Era Baru: Antagonis CGRP

Terobosan terbesar dalam pengobatan migrain dalam beberapa dekade terakhir adalah lahirnya kelas obat yang secara spesifik menargetkan jalur CGRP. Terdapat dua kategori utama: antibodi monoklonal anti-CGRP yang diberikan secara injeksi bulanan (erenumab, fremanezumab, galcanezumab) dan gepant — antagonis reseptor CGRP dalam bentuk oral (ubrogepant, rimegepant, atogepant).

Gepant mewakili perubahan paradigma karena obat ini dikembangkan secara spesifik untuk migrain — tidak seperti beta-blocker atau topiramat yang “dipinjam” dari indikasi lain. Tinjauan komprehensif yang diterbitkan di Pain and Therapy (2025) menegaskan bahwa gepant memiliki profil tolerabilitas yang lebih baik dan efek samping yang lebih sedikit dibandingkan terapi standar sebelumnya (Moriarty & Barch, 2025). Secara penting, gepant tidak menyebabkan medication overuse headache — komplikasi nyeri kepala akibat penggunaan analgesik berlebihan yang ironisnya sangat sering terjadi pada penderita migrain.

Atogepant yang disetujui untuk pencegahan migrain bahkan terbukti secara signifikan memperbaiki kualitas tidur penderita — sebuah manfaat tambahan yang relevan mengingat tingginya komorbiditas gangguan tidur pada populasi migrain (Iannone et al., 2025).

Perlu dicatat bahwa obat-obatan golongan antibodi monoklonal CGRP saat ini belum tersedia secara luas di Indonesia karena kendala ketersediaan dan biaya. Namun pemahaman tentang mekanismenya penting untuk memberikan konteks ilmiah yang benar kepada pasien.


Kapan Harus ke Dokter?

Tidak semua sakit kepala yang berdenyut adalah migrain, dan tidak semua sakit kepala parah harus ditangani sendiri. Segera cari pertolongan medis bila sakit kepala muncul secara tiba-tiba dan sangat hebat (thunderclap headache), disertai demam tinggi dan leher kaku, terjadi setelah cedera kepala, disertai kelemahan atau mati rasa di satu sisi tubuh yang tidak kunjung hilang, atau mengalami perubahan pola sakit kepala yang signifikan pada penderita migrain lama. Tanda-tanda ini bisa menunjukkan kondisi yang lebih serius yang memerlukan evaluasi segera.

Untuk penderita migrain yang sering — terutama yang sudah mengonsumsi analgesik seperti parasetamol atau ibuprofen lebih dari 10–15 hari per bulan — konsultasi dengan dokter menjadi mendesak karena penggunaan analgesik berlebihan justru dapat menyebabkan nyeri kepala kronik yang disebut medication overuse headache.


Hidup dengan Migrain: Pendekatan Holistik

Migrain adalah kondisi kronis yang membutuhkan pendekatan jangka panjang dan holistik. Bukan sekadar “obat saat sakit kepala”. Beberapa prinsip yang perlu diinternalisasi adalah: pertama, kenali pola migrain Anda sendiri melalui pencatatan harian; kedua, jaga konsistensi ritme biologis — tidur, makan, dan aktivitas fisik; ketiga, kelola stres secara proaktif, bukan reaktif; keempat, komunikasikan kondisi Anda kepada dokter secara terbuka termasuk frekuensi dan derajat serangan.

Dengan memahami migrain sebagai penyakit neurologis yang nyata — bukan kelemahan, bukan dibuat-buat — kita dapat menghilangkan stigma yang sering kali menambah beban psikologis penderita. Dukungan dari lingkungan keluarga dan tempat kerja sama pentingnya dengan obat-obatan terbaik.


Referensi

Fila, M., Pawlowska, E., Krekora, J., Mitus-Kenig, M., & Blasiak, J. (2025). Exploring the epigenetic modifications of the RONS-TRPA1-CGRP axis in migraine pathophysiology. The Journal of Headache and Pain, 26(1), 191. https://doi.org/10.1186/s10194-025-02114-z

Iannone, L. F., Boccalini, A., Lo Castro, F., Brovia, D., Romozzi, M., Vernieri, F., Altamura, C., & Guérzoni, S. (2025). Effect of atogepant on sleep quality and sleep-related adverse events in adult patients with migraine: A prospective observational 12-week study. CNS Drugs, 39(12), 1341–1354. https://doi.org/10.1007/s40263-025-01235-y

Moriarty, M. A., & Barch, C. A. (2025). Gepants in primary care: A targeted approach to acute and preventive treatment of migraine. Pain and Therapy, 14(4), 1263–1278. https://doi.org/10.1007/s40122-025-00757-z

Nayak, S. K., Pradhan, P., Sahu, P. K., Parua, P., Ghosh, S., Jana, K., Debnath, B., Rath, G., Ghosh, G., & Kar, B. (2025). Current trends in management of migraine: A review of current practice and recent advances. CNS & Neurological Disorders Drug Targets. https://doi.org/10.2174/0118715273408295250825074429

Samir, A. A., Elgammal, A. S., Alieldeen, A. M., Allam, E. G., Ketata, I., Ellouz, E., Hekal, R. G., Salameh, H., Didda, N., Kebir, N., Selim, A. A., Atshan, H. Z., Bashir, A. A., Kouzeiha, R. A., Alayiab, H., & Kabbash, I. A. (2025). Burden of migraine among university students in the Middle East and North Africa: A cross-sectional study of prevalence, mental health comorbidities, and disability. BMC Public Health, 25(1), 3605. https://doi.org/10.1186/s12889-025-24293-9

Samir, A. A., Hageen, A. W., Elgammal, A., Meshref, M., El-Refaay, M. A., Taalap, M. M., Nassef, A. E., Bedewe, R. A., Almeldein, A., & Kabbash, I. A. (2025). Burden of migraine among Egyptian people: Prevalence and comorbidities. The Journal of Headache and Pain, 26(1), 114. https://doi.org/10.1186/s10194-025-02016-0

World Health Organization. (2023). Headache disorders. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/headache-disorders

Update terakhir: Februari 2026

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

15 tanggapan

    1. Cahya Avatar

      Oke sip Mas, selamat menikmati kopinya, karena sudah sukses melewati bulan puasa… ????

      Suka

  1. indobrad Avatar
    indobrad

    saya pernah dinasihati teman utk segera minum jus belimbing ketika migrain. dan memang bener cepat hilang sih. 🙂

    Suka

  2. jarwadi Avatar

    apakah ada hubungan antara migrain dan vertigo? 🙂

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Tidak ada secara langsung Pak, namun ada yang namanya MAV (migrain terkait vertigo), bukan sesuatu yang umum, biasanya terhubung dengan penyakit-penyakit lain yang menyerang sistem vestibular (saraf dan pusat keseimbangan).

      Suka

  3. gadgetboi Avatar

    management stress, topik bagus tuh bli 😀 …

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Wah, saya bukan ahlinya membahas itu Mas Rangga :D.

      Suka

  4. dHaNy Avatar

    Saya juga punya migren mas. Tapi kalau lagi kambuh obatnya cuma tak tidurin aja. dulu sempet disaranin sama guru bk waktu masih sma kalau migren jangan minum obat, tapi buat tidur saja… gak tau juga gimana argumennya, tapi prosentasenya yang saya alami sering sembuh…

    Suka

  5. Asop Avatar

    Ups, mas Cahya, kopi buatku malah menyembuhkan sakit kepala, lho. 😀

    Suka

    1. gadgetboi Avatar
  6. ladeva Avatar
    ladeva

    Thank God aku belum pernah migrain (mudah-mudahan gak akan pernah) tapi kakakku tuch sering banget migrain. I’ll sending this article to her. Thank you, Cahya 🙂

    Suka

    1. Cahya Avatar

      You are welcome Deva ;).

      Suka

  7. gadgetboi Avatar

    saya setuju kopi bisa membuat hilang migran. karena memang sudah saya coba 😀 kalau migran saya tidak mengkonsumsi obat 😀 lebih baik minum kopi hitam tanpa gula. saya juga sedikit takut sih dengan effek “nagih”nya makanya belum pernah meminum kopi lebih dari 2 gelas kecil 😆

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Gelas kecilnya Mas Rangga itu meragukan :lol:.

      Suka

    2. boy Avatar

      Saya bukan engkong2 di sinetron betawi bli 😀 yg minum kopi gelasnya berdimensi 1 liter 😆 … ?Nanti saya posting deh gelas paporit saya kl minum kupi *penting gitu posting gelas 😆 *

      Suka

Tinggalkan komentar