Well, it been a while since I wrote in English here. I think I shall write down something now. This afternoon I made a reservation for some standard rooms at Abadi Hotel Jogja, which only took about 2 minutes from Malioboro Street and about 10 minutes from The Sultan Palace by feet. I almost got lost, because I knew it as “Mendut Hotel,” and it already changed its name three years ago – and I just know it today.
Oh, before you get any wrong idea, I should disclaim if this is not a paid article/review, my hands just aching to write something in English – but this is the only idea I got in my head.
If some owners want me to put a useful review on their hotel, at least they should give me a honeymoon stay for free. But I think that won’t happen, since I have no wife (yet), and it would be funny if I am going on a honeymoon by myself.
Okay, back to the line of our story…
First of all, I never pick up a hotel before, so how can I choose this hotel? Well, it’s easy since whenever my family or relatives visit Jogja (the informal name for Yogyakarta), they always pick this hotel – so I just continuing the long-lasting tradition. Haha…, perhaps I would see not as a creative person.
Well, the room price was reasonable, I’ve compared it with the same class hotel around Jogja. And since the building relatively new build, I think it is worthy of trying. Well, of course, there are others with lower price, but the location would be less strategist for enjoying Jogja, especially to have a night walk at Malioboro Street.
At last, I can say anything much about this hotel, if you are interesting, you can visit their site at http://www.abadihoteljogja.com.
Kebutuhan tidur bervariasi berdasarkan usia dan individu, bukan sekadar “8 jam”. Tubuh tidak dapat dilatih untuk butuh tidur lebih sedikit. Tidur siang singkat 10–20 menit justru bermanfaat. Tidak semua hewan tidur seperti manusia. Terlalu banyak tidur juga berisiko. Dan meski kurang tidur jarang membunuh langsung, microsleep akibatnya menewaskan ribuan orang di jalan Indonesia setiap tahun.
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Lho, kata siapa gak boleh? Yang gak boleh itu kalau negara lain mengakuisisi batik atau apapun dari Indonesia sebagai national heritagenya, karena itu punya Indonesia. Tapi kan beda kalau kamu memperkenalkan national heritage tsb. Sama seperti desainer Indonesia yang bikin baju dari batik terus dipamerin ke LN, sama juga seperti nasi padang kan yang banyak di Amerika. Heheheh…am being so serious #abaikan
Deva, itu kan untuk produk yang boleh dipasarkan di luar tempat asalnya, lha mana ada yang jual Bakpia Pathok di luar Jogja, atau Dagadu di luar Jogja, ataupun Joger di luar Bali? :D.
Tinggalkan Balasan