A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Well, it been a while since I wrote in English here. I think I shall write down something now. This afternoon I made a reservation for some standard rooms at Abadi Hotel Jogja, which only took about 2 minutes from Malioboro Street and about 10 minutes from The Sultan Palace by feet. I almost got lost, because I knew it as “Mendut Hotel,” and it already changed its name three years ago – and I just know it today.

Oh, before you get any wrong idea, I should disclaim if this is not a paid article/review, my hands just aching to write something in English – but this is the only idea I got in my head.

If some owners want me to put a useful review on their hotel, at least they should give me a honeymoon stay for free. But I think that won’t happen, since I have no wife (yet), and it would be funny if I am going on a honeymoon by myself.

Okay, back to the line of our story…

First of all, I never pick up a hotel before, so how can I choose this hotel? Well, it’s easy since whenever my family or relatives visit Jogja (the informal name for Yogyakarta), they always pick this hotel – so I just continuing the long-lasting tradition. Haha…, perhaps I would see not as a creative person.

Well, the room price was reasonable, I’ve compared it with the same class hotel around Jogja. And since the building relatively new build, I think it is worthy of trying. Well, of course, there are others with lower price, but the location would be less strategist for enjoying Jogja, especially to have a night walk at Malioboro Street.

At last, I can say anything much about this hotel, if you are interesting, you can visit their site at http://www.abadihoteljogja.com.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
  • The Dream That Keeps Breathing
    What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
  • PFAS di Meja Makan: Apa yang Diungkap Tinjauan Lanskap WHO tentang “Bahan Kimia Abadi” yang Kita Telan
    WHO merilis tinjauan tentang 18 senyawa PFAS prioritas yang mencemari makanan dan air minum, serta enam kategori efek kesehatan seperti kanker dan gangguan metabolik. Makanan menjadi jalur pajanan utama. Temuan ini menunjukkan perlunya Indonesia memperkuat pemantauan PFAS untuk meningkatkan keamanan pangan dan air minum.
  • Nasi di Piring, Racun yang Tak Terlihat: Apa Kata Evaluasi Terbaru WHO/FAO tentang Arsenik dalam Makanan
    Evaluasi terbaru oleh JECFA (2026) menunjukkan risiko arsenik dalam makanan tidak hanya terkait kanker, tetapi juga penyakit jantung pada dosis lebih rendah. Beras menjadi sumber utama paparan, termasuk di Indonesia, di mana data dari Sulawesi Utara menunjukkan melampaui ambang aman. Perlu ada langkah kehati-hatian dan pembaruan regulasi keamanan pangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

13 tanggapan

  1. Avatar Vicky Laurentina

    Ok, what hell has made you wanna spend a night in a hotel while you had your own boarding house to sleep there? :p

    1. Avatar Cahya

      He he…, saya ada pelantikan minggu ini, jadi keluarga datang, masa mau bersesakan di kost Mbak :D.

  2. Avatar gadgetboi

    nice info by the way … I like the “reasonable price” and also good service too 😆

    when I’m in Jogja, I will surely try to say in here …

  3. Avatar ladeva

    Which hotel you choose for me? hehehehe….

    1. Avatar Cahya

      Deva, kalau Hotel Rwanda gimana? Kan ada lagunya tuh … :D.

      1. Avatar ladeva

        Sumpah, parah banget kalo Hotel Rwanda!!! Pembantaian besar-besaran etnis di situuuuuuuuu *nangis*

      2. Avatar Cahya

        Deva, makanya kamu kuberikan di sana, jadi nanti pas jadi anggota kabinet lebih ngerti bagaimana susahnya rakyat o:).

      3. Avatar ladeva

        Kamu! Raja tega! Yawda aku ke Hotel Rwanda, kamu ke Burkinafaso 😀

      4. Avatar Cahya

        Ndak ah, di sana ndak ada bakpia :lol:.

      5. Avatar ladeva

        Lho, justru kamu sebagai warga paling inovatif yang bikin bakpia di sana. Bakpia going international 😀

      6. Avatar Cahya

        Ha ha…. mana boleh Deva, batik ke negara sebelah saja ndak boleh, apalagi bakpia – harta sakral negara, lebih ndak boleh lagi :D.

      7. Avatar ladeva

        Lho, kata siapa gak boleh? Yang gak boleh itu kalau negara lain mengakuisisi batik atau apapun dari Indonesia sebagai national heritagenya, karena itu punya Indonesia. Tapi kan beda kalau kamu memperkenalkan national heritage tsb. Sama seperti desainer Indonesia yang bikin baju dari batik terus dipamerin ke LN, sama juga seperti nasi padang kan yang banyak di Amerika. Heheheh…am being so serious #abaikan

      8. Avatar Cahya

        Deva, itu kan untuk produk yang boleh dipasarkan di luar tempat asalnya, lha mana ada yang jual Bakpia Pathok di luar Jogja, atau Dagadu di luar Jogja, ataupun Joger di luar Bali? :D.

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca