A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Suatu hari, seorang perempuan berusia 49 tahun mengeluh kepada dokternya bahwa ia sering terbangun tengah malam dengan tubuh basah keringat, mudah marah tanpa sebab yang jelas, dan kadang lupa kata yang hendak ia ucapkan — seolah “otaknya berkabut.” Ia khawatir ada yang salah dengan kesehatannya. Namun setelah pemeriksaan, dokternya menjelaskan bahwa semua yang ia alami adalah bagian dari transisi menopause — sebuah fase alami yang akan dilalui setiap perempuan, tetapi seringkali kurang dipahami dengan baik.

Menopause adalah salah satu peristiwa biologis terpenting dalam kehidupan seorang perempuan, namun ironisnya masih sering dianggap tabu untuk dibicarakan secara terbuka di banyak budaya, termasuk di Indonesia. Artikel ini hadir untuk mengubah hal itu: memberi pemahaman mendalam, berbasis bukti ilmiah terkini, agar setiap perempuan — dan orang-orang yang mendampinginya — dapat melewati fase ini dengan lebih siap dan bijak.


Apa Itu Menopause?

Secara medis, menopause didefinisikan sebagai berhentinya siklus menstruasi secara permanen, yang didiagnosis setelah 12 bulan berturut-turut tanpa haid. Ini bukan sebuah penyakit, melainkan sebuah titik dalam perjalanan hidup yang menandai berakhirnya masa reproduksi seorang perempuan.

Namun menopause bukan peristiwa tunggal yang terjadi dalam satu malam. Ada sebuah perjalanan panjang yang dikenal sebagai transisi menopause atau perimenopause — periode yang dapat berlangsung selama 4–10 tahun sebelum menopause itu sendiri tiba. Selama masa ini, kadar hormon estrogen dan progesteron yang diproduksi oleh indung telur (ovarium) mulai berfluktuasi tidak menentu sebelum akhirnya menurun secara permanen.

Setelah titik menopause dilewati, fase berikutnya disebut pascamenopause (postmenopause), yang berlangsung sepanjang sisa hidup seorang perempuan. Memahami ketiga fase ini — perimenopause, menopause, dan pascamenopause — penting karena tantangan kesehatan yang muncul di setiap fase berbeda-beda.

Rata-rata usia menopause alami berkisar antara 45–55 tahun, dengan usia median sekitar 51 tahun. Di Indonesia, beberapa studi menunjukkan rata-rata usia menopause yang sedikit lebih muda, berkisar antara 48–51 tahun, kemungkinan dipengaruhi oleh faktor genetik, gizi, dan kondisi sosial ekonomi. Menopause yang terjadi sebelum usia 40 tahun disebut insufisiensi ovarium prematur (premature ovarian insufficiency) dan memerlukan evaluasi medis lebih lanjut karena implikasinya terhadap kesehatan jangka panjang lebih signifikan.

Selain menopause alami, ada pula menopause yang terjadi akibat tindakan medis — misalnya pengangkatan kedua indung telur (ooforektomi bilateral) atau kemoterapi yang merusak fungsi ovarium. Menopause jenis ini cenderung menimbulkan gejala yang lebih tiba-tiba dan berat karena tidak melalui periode transisi bertahap.


Mengapa Menopause Terjadi? Dasar Biologi yang Perlu Dipahami

Untuk memahami mengapa menopause terjadi, kita perlu sedikit menyelami biologi reproduksi perempuan. Sejak lahir, seorang bayi perempuan sudah membawa sekitar 1–2 juta sel telur (folikel ovarium) di dalam indung telurnya. Jumlah ini terus berkurang seiring waktu — pada masa pubertas tersisa sekitar 300.000–400.000, dan sepanjang hidup reproduktif hanya sekitar 300–400 sel telur yang benar-benar diovulasikan.

Menopause terjadi ketika cadangan folikel ovarium ini hampir habis. Tanpa folikel yang berfungsi, ovarium tidak lagi mampu memproduksi estrogen dalam jumlah cukup untuk memicu siklus menstruasi. Otak — khususnya kelenjar hipofisis (pituitary gland) — merespons dengan meningkatkan produksi hormon FSH (follicle-stimulating hormone) secara drastis, seolah “berteriak” kepada ovarium yang tak lagi merespons. Kadar FSH yang tinggi ini, bersama dengan kadar estrogen yang rendah, adalah dasar dari pemeriksaan laboratorium yang digunakan untuk mengkonfirmasi menopause.

Penurunan estrogen yang dramatis inilah yang menjadi akar dari hampir seluruh gejala menopause. Estrogen bukan sekadar “hormon reproduksi” — ia memiliki reseptor di hampir seluruh jaringan tubuh: otak, tulang, jantung, pembuluh darah, kulit, saluran kemih, hingga usus. Oleh karena itu, ketika estrogen turun, dampaknya terasa di seluruh penjuru tubuh.


Gejala: Lebih dari Sekadar Berkeringat di Malam Hari

Banyak perempuan dan masyarakat awam mengidentikkan menopause hanya dengan hot flashes (rasa panas tiba-tiba) dan keringat malam. Padahal, spektrum gejala menopause jauh lebih luas dan beragam, mencakup dimensi fisik, psikologis, seksual, dan kognitif.

Gejala vasomotor adalah yang paling dikenal. Hot flashes — sensasi panas mendadak yang menjalar dari dada ke wajah, disertai kemerahan dan berkeringat — dialami oleh sekitar 75–85% perempuan menopause. Setiap episode dapat berlangsung 1–5 menit, dan beberapa perempuan mengalaminya hingga puluhan kali sehari, termasuk saat tidur dalam bentuk night sweats (keringat malam). Mekanismenya melibatkan disregulasi termostat tubuh di hipotalamus akibat fluktuasi estrogen — ambang pemicu berkeringat menjadi sangat sempit sehingga perubahan suhu kecil pun sudah memicu respons berlebihan.

Gangguan tidur adalah gejala yang dampaknya sangat besar terhadap kualitas hidup namun seringkali kurang mendapat perhatian. Sebuah studi besar yang melibatkan hampir 50.000 perempuan di Amerika Serikat dan Eropa menemukan bahwa gangguan tidur dialami oleh 61–67% perempuan perimenopause dan pascamenopause, bahkan pada mereka yang tidak mengalami gejala vasomotor sekalipun. Lebih mengkhawatirkan lagi, penelitian dari Study of Women’s Health Across the Nation (SWAN) 2024 menemukan bahwa insomnia persisten pada perempuan menopause dikaitkan dengan peningkatan risiko kejadian kardiovaskular sebesar 71%, terlepas dari ada tidaknya gejala vasomotor (Huang et al., 2026). Ini berarti gangguan tidur pada menopause bukan sekadar masalah kenyamanan, melainkan juga masalah kesehatan jantung.

“Kabut otak” atau brain fog adalah keluhan yang sering disampaikan tetapi sering pula diabaikan. Perempuan dalam masa perimenopause kerap melaporkan kesulitan berkonsentrasi, mudah lupa, dan kesulitan menemukan kata yang tepat. Sebuah studi dari Monash University menemukan bahwa faktor psikososial dan gejala menopause lainnya — seperti kecemasan dan masalah seksual — berkontribusi signifikan terhadap keluhan kognitif ini, sementara praktik mindfulness terbukti berkaitan dengan penurunan risiko keluhan memori dan perhatian (Zhu et al., 2026).

Perubahan urogenital mencakup kekeringan vagina, rasa terbakar atau gatal di area kewanitaan, nyeri saat berhubungan intim (dispareunia), serta sering berkemih atau infeksi saluran kemih yang berulang. Kondisi ini dikenal sebagai genitourinary syndrome of menopause (GSM) dan dialami oleh sekitar 27–84% perempuan pascamenopause. Tidak seperti hot flashes yang cenderung membaik seiring waktu, GSM justru sering memburuk jika tidak ditangani.

Perubahan suasana hati dan kesehatan mental juga merupakan bagian nyata dari pengalaman menopause. Fluktuasi hormonal selama perimenopause dapat meningkatkan kerentanan terhadap depresi dan kecemasan, terutama pada perempuan yang sebelumnya sudah memiliki riwayat gangguan mood. Studi lintas budaya dari Singapura menunjukkan bagaimana keheningan sosial dan stigma seputar menopause memperburuk kondisi psikologis, memperlambat pencarian pertolongan medis, dan mengisolasi perempuan dalam pengalaman yang sebenarnya sangat umum (Aggarwal et al., 2026).

Selain itu, ada perubahan pada tubuh yang bersifat lebih gradual namun berdampak jangka panjang: penurunan massa tulang yang meningkatkan risiko osteoporosis, perubahan distribusi lemak tubuh ke arah sentral (perut) yang meningkatkan risiko kardiovaskular, penurunan elastisitas kulit, dan perubahan profil lipid darah.


Dampak Kardiovaskular dan Metabolik: Risiko yang Tidak Boleh Diabaikan

Salah satu dampak terpenting namun paling kurang dibicarakan dari menopause adalah lonjakan risiko penyakit kardiovaskular. Sebelum menopause, estrogen berperan sebagai pelindung pembuluh darah — ia membantu menjaga kadar kolesterol baik (HDL) tetap tinggi, mengurangi peradangan dinding pembuluh darah, dan mempertahankan elastisitas arteri. Ketika estrogen turun, perlindungan ini menghilang.

Masa perimenopause secara khusus diidentifikasi sebagai periode sensitif obesogenik — yaitu periode di mana tubuh menjadi jauh lebih rentan mengalami penimbunan lemak visceral (lemak dalam perut) bahkan tanpa kenaikan berat badan yang signifikan. Lemak visceral ini jauh lebih berbahaya dari lemak subkutan karena menghasilkan zat-zat inflamasi yang merusak metabolisme dan pembuluh darah (Manning et al., 2025). Inilah mengapa banyak perempuan merasakan “lingkar pinggang yang mengembang” saat menopause meski berat badan keseluruhan tidak banyak berubah.

Implikasi klinisnya jelas: pemantauan tekanan darah, profil lipid, gula darah, dan indeks massa tubuh perlu menjadi bagian rutin dari perawatan kesehatan perempuan yang memasuki masa perimenopause.


Diagnosis: Kapan Harus ke Dokter?

Untuk sebagian besar perempuan berusia 45 tahun ke atas dengan gejala khas dan perubahan siklus haid, menopause adalah diagnosis klinis — tidak selalu memerlukan pemeriksaan laboratorium untuk dikonfirmasi.

Namun pemeriksaan kadar FSH dan estradiol (estradiol) di darah berguna dalam situasi tertentu: perempuan berusia di bawah 45 tahun dengan gejala menopause, perempuan yang sudah menjalani histerektomi (pengangkatan rahim) namun masih memiliki ovarium, atau saat gejala masih ambigu dan perlu dibedakan dari kondisi lain seperti gangguan tiroid atau masalah adrenal. Kadar FSH >40 IU/L bersama estradiol yang rendah umumnya mengkonfirmasi menopause pada konteks klinis yang sesuai.

Penting untuk tidak memandang semua keluhan pada perempuan paruh baya sebagai “pasti menopause” begitu saja. Gejala seperti kelelahan ekstrem, perubahan berat badan mendadak, atau perdarahan yang tidak biasa tetap memerlukan evaluasi untuk menyingkirkan kondisi medis lain.


Pengelolaan: Dari Perubahan Gaya Hidup hingga Terapi Hormon

Pendekatan terhadap gejala menopause harus bersifat individual — disesuaikan dengan derajat gejala, kondisi kesehatan, preferensi, dan nilai-nilai personal setiap perempuan. Tidak ada satu terapi yang cocok untuk semua orang.

Perubahan gaya hidup adalah fondasi dari setiap pendekatan pengelolaan menopause. Diet berbasis tanaman (plant-forward diet) yang kaya fitoestrogen — senyawa nabati yang memiliki efek mirip estrogen lemah, banyak ditemukan dalam produk kedelai, biji rami, dan kacang-kacangan — terbukti dapat meringankan gejala vasomotor dan mendukung kesehatan tulang serta kardiovaskular. Olahraga teratur, terutama kombinasi latihan aerobik dan latihan beban (resistance training), tidak hanya memperlambat kehilangan massa tulang dan otot, tetapi juga memperbaiki kualitas tidur, suasana hati, dan fungsi kognitif. Sebuah tinjauan integratif dari The American Journal of Medicine (2026) menegaskan bahwa pendekatan terpadu yang menggabungkan strategi nutrisi, aktivitas fisik, dan mind-body practices seperti yoga mampu secara bermakna meningkatkan kualitas hidup selama perimenopause (Kennard & Saunders, 2026).

Suplemen untuk beberapa aspek mendapat dukungan bukti ilmiah: kalsium, vitamin D, magnesium, dan vitamin K2 untuk kesehatan tulang; black cohosh (Cimicifuga racemosa) memiliki bukti moderat untuk meringankan gejala vasomotor; sementara pengobatan herbal Tiongkok (Chinese herbal medicine/CHM) dan akupunktur menunjukkan bukti moderat untuk perbaikan tidur dan gejala menopause secara umum. Tinjauan sistematis yang dikerjakan untuk memperbarui rekomendasi International Menopause Society (IMS) menemukan bahwa vitamin D memiliki bukti kuat untuk keamanannya dan bukti moderat untuk mengurangi risiko patah tulang, sementara sebagian besar terapi komplementer lainnya masih membutuhkan penelitian yang lebih ketat (Maunder et al., 2026).

Terapi perilaku kognitif (cognitive-behavioral therapy/CBT) adalah pendekatan non-farmakologis dengan bukti yang semakin kuat. Tinjauan yang mencakup 40 studi menemukan bahwa CBT — termasuk variannya seperti CBT untuk insomnia, intervensi berbasis mindfulness, dan teknik relaksasi — memberikan dampak positif signifikan terhadap gejala depresi, kecemasan, gangguan tidur, gejala vasomotor, dan masalah seksual pada perempuan perimenopause (Branquinho et al., 2026). Ini menjadikan CBT sebagai pilihan pertama yang layak, terutama bagi perempuan yang tidak dapat atau tidak ingin menggunakan terapi hormonal.

Terapi Hormon Menopause (menopausal hormone therapy/MHT), yang dulu dikenal sebagai hormone replacement therapy (HRT), adalah pengobatan paling efektif untuk gejala vasomotor dan GSM. MHT bekerja dengan menggantikan estrogen yang kadarnya menurun, sehingga meringankan hot flashes, memperbaiki tidur, meningkatkan kesehatan vagina, dan juga memiliki efek protektif terhadap tulang.

Setelah kontroversi besar pada awal 2000-an akibat studi Women’s Health Initiative yang sempat mengguncang kepercayaan terhadap terapi hormon, pemahaman tentang MHT kini jauh lebih bernuansa. Panduan European Society of Endocrinology (ESE) 2025 dan rekomendasi terkini dari International Menopause Society (IMS) menegaskan bahwa untuk perempuan sehat berusia di bawah 60 tahun atau dalam 10 tahun pertama setelah menopause, manfaat MHT umumnya melebihi risikonya — terutama untuk pengelolaan gejala yang signifikan. Risiko yang perlu diperhatikan mencakup trombosis vena, kanker payudara (terutama dengan penggunaan jangka panjang dari kombinasi estrogen-progesteron sintetis), dan potensi peningkatan risiko stroke, yang bervariasi tergantung pada jenis, dosis, rute pemberian, dan profil risiko individual pasien.

Di Indonesia, akses terhadap MHT masih terbatas dan pengetahuan tenaga kesehatan tentang terapi ini masih perlu ditingkatkan. Pengambilan keputusan yang bersifat berbagi (shared decision-making) antara pasien dan dokter — mempertimbangkan gejala, faktor risiko individual, dan preferensi — adalah pendekatan yang dianjurkan.


Pendekatan Komprehensif di Konteks Indonesia

Indonesia memiliki konteks sosial budaya yang unik dalam memandang menopause. Banyak perempuan Indonesia tidak mencari bantuan medis karena menganggap gejala menopause sebagai sesuatu yang harus “diterima saja,” atau karena malu membicarakan masalah yang dianggap tabu. Fenomena serupa terdokumentasi di negara-negara Asia lainnya — studi dari Singapura menemukan bahwa “keheningan sosial” dan misinformasi seputar menopause menjadi penghalang utama bagi perempuan untuk mencari pertolongan, bahkan dari tenaga kesehatan (Aggarwal et al., 2026).

Di sisi lain, Indonesia juga menghadapi tantangan keterbatasan akses: tidak semua perempuan memiliki akses ke spesialis ginekologi atau endokrinologi, dan MHT tidak selalu tersedia di fasilitas kesehatan primer. Oleh karena itu, peran dokter umum dan bidan menjadi sangat penting dalam memberikan edukasi, skrining, dan pengelolaan awal menopause di tingkat layanan kesehatan primer.

Beberapa langkah praktis yang relevan untuk konteks Indonesia antara lain: mendorong perempuan usia 40 tahun ke atas untuk rutin memeriksakan kesehatan reproduksi dan kardiovaskularnya; menggalakkan pola makan berbasis pangan lokal yang kaya fitoestrogen seperti tempe dan tahu (keduanya berbasis kedelai); mendorong aktivitas fisik yang disesuaikan dengan kondisi lokal; serta menciptakan ruang yang aman bagi perempuan untuk membicarakan pengalaman menopause tanpa rasa malu.

Perlu pula diingat bahwa menopause bukanlah “akhir” dari kehidupan produktif seorang perempuan. Banyak perempuan justru menemukan fase pascamenopause sebagai periode yang penuh potensi — bebas dari kekhawatiran menstruasi dan kehamilan, dengan energi yang dapat diarahkan ke aspirasi personal, profesional, dan sosial.


Kesimpulan

Menopause adalah transisi biologis universal yang dialami setiap perempuan, tetapi cara setiap perempuan mengalaminya sangat individual. Memahami apa yang terjadi pada tubuh selama fase ini — dari perubahan hormonal, gejala yang beragam, hingga risiko kesehatan jangka panjang — adalah langkah pertama untuk melewatinya dengan lebih berdaya.

Sains terkini mengajarkan kita bahwa menopause bukan sesuatu yang harus “ditanggung,” melainkan sesuatu yang dapat dikelola secara aktif melalui perubahan gaya hidup, dukungan psikologis, terapi komplementer yang berbasis bukti, dan jika diperlukan, terapi medis yang tepat. Yang terpenting adalah bahwa setiap perempuan berhak mendapat informasi yang akurat dan dukungan yang memadai dari tenaga kesehatan maupun dari lingkungan sekitarnya.

Jika Anda atau orang yang Anda sayangi sedang memasuki fase ini, jangan ragu untuk berkonsultasi dengan dokter. Menopause adalah sebuah perjalanan — dan tidak ada yang harus menempuhnya sendirian.


Daftar Referensi

Aggarwal, I. M., Aiyappan, R., Husain, F. S., Pathiraja, V., Mathur, M., Kathirvel, R., … & Delanerolle, G. (2026). Navigating menopause in Singapore: Sociocultural, clinical, and policy implications from a qualitative study (MARIE-Singapore). Annals of the Academy of Medicine, Singapore, 55(1), 5–16. https://doi.org/10.47102/annals-acadmedsg.2025305

Branquinho, M., Berganton, K., Carvalho, F., Monteiro, F., & Fonseca, A. (2026). Cognitive-behavioral interventions for (peri)menopausal symptoms: A scoping review of interventions characteristics and content. Patient Education and Counseling, 147, 109545. https://doi.org/10.1016/j.pec.2026.109545

Huang, R., Liu, W., Yi, Y., Li, D., & Deng, Y. (2026). Over 50% of Women Affected by Menopausal Sleep Disorders: Urgent Need to Integrate Sleep Management into Menopause Guidelines. European Journal of Endocrinology. https://doi.org/10.1093/ejendo/lvag029

Kennard, A., & Saunders, K. T. (2026). Integrative approaches to perimenopause. The American Journal of Medicine. https://doi.org/10.1016/j.amjmed.2025.12.024

Manning, M. E., Stockman, S. L., & Zanni, M. V. (2025). Perimenopause as an obesogenic sensitive period: Contributions to elevated cardiovascular risk. American Journal of Preventive Cardiology, 26, 101398. https://doi.org/10.1016/j.ajpc.2025.101398

Maunder, A., Mardon, A. K., Rao, V., Torkel, S., Metri, N. J., Liu, J., … & Ee, C. (2026). Complementary therapies for management of menopausal symptoms: a systematic review to inform the update of the International Menopause Society recommendations on women’s midlife health. Climacteric, 1–45. https://doi.org/10.1080/13697137.2025.2584061

Soares, C. N., Briggs, P., Dinkel-Keuthage, C., Schoof, N., Moeller, C., Nguyen, J., … & Maki, P. M. (2026). The burden of sleep disturbances on quality of life and mental well-being in nearly 50,000 perimenopausal and postmenopausal women with and without concurrent vasomotor symptoms from the United States and Europe. Menopause, 33(3), 261–269. https://doi.org/10.1097/GME.0000000000002654

World Health Organization. (2022). Menopause. WHO Fact Sheets. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/menopause

Zhu, C., Thomas, E. H., Arunogiri, S., Spector, A., Li, Q., & Gurvich, C. (2026). Factors associated with subjective cognitive symptoms during the menopause transition. Menopause, 33(3), 340–348. https://doi.org/10.1097/GME.0000000000002651


Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi kesehatan. Konsultasikan kondisi kesehatan Anda dengan dokter atau tenaga medis profesional untuk mendapatkan saran medis yang sesuai dengan situasi individual Anda.

Update terakhir: Februari 2026

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

5 tanggapan

  1. Nandini Avatar
    Nandini

    saya belum pernah menopause, tapi sering menghadapi wanita yang menopause. ternyata berhentinya siklus menstruasi berefek signifikan bagi si wanita dan agak mengagetkan orang-orang di sekitarnya 🙂

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Ya, perempuan kebanyakan akan mengalami menopause, jadi Nandini juga akan mengalaminya sendiri nanti.

      Suka

  2. die Avatar

    Untung aku ndak menopause.  

    Suka

  3. Nicamperenique Avatar
    Nicamperenique

    Jika dari 6 ciri di atas, ada 1 yang dirasa cocok, apakah itu pertanda menopause???? Ada batasan usia yang umum? *mumpung konsul gratis :D*

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Tidak ada batas usia umum Mbak, hanya saja dimulai pada usia 45 tahun. Cirinya memang bisa cuma muncul satu, tapi kan bertahan, bahkan sebelum menopause terjadi. Hanya saja tidak selalu salah satu ciri tersebut muncul, merupakan tanda mutlak menopause.
      He he…, ini hanya sekadar berbagi informasi, bukan konsultasi :).

      Suka

Tinggalkan komentar