Pelbagai berita beberapa hari ini menyiarkan betapa maraknya demonstrasi (unjuk rasa) ribuan mahasiswa dan rakyat yang tersebar di pelbagai tempat di nusantara untuk menolak kenaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) yang direncanakan oleh pemerintah mulai 1 April mendatang. Tentu saja hal ini benar-benar menjadi sebuah fenomena nasional, di satu sisi sebagian besar orang – saya yakin – tidak setuju BBM dinaikan, di sisi lain kadang unjuk rasa memberikan banyak hal yang menjadi tidak selayaknya terjadi sebagai sebuah bentuk yang wajarnya bernama aksi damai.
Saya bisa melihat pembakaran, pengerusakan fasilitas publik, kemacetan, huru-hara, hingga keresahan masyarakat yang datang dari demonstrasi begitu banyak kepala. Pun demikian siapa yang bisa disalahkan?
Di satu sisi saya senang karena mereka membawa suara rakyat yang tak didengarkan oleh pemerintah dan bahkan mungkin wakil rakyat. Tidak heran jika para demonstran pun mendapatkan julukan parlemen jalanan.
Saya sendiri sering bertanya-tanya, jika ada yang berkata dan bertanya tidak masalah BBM harganya dinaikan, ya tidak usah pakai motor atau mobil saja, mengapa harus unjuk rasa protes segala? Seandainya cuma itu masalahnya, maka pasti akan sederhana. Namun apa mereka tidak melihat kehidupan yang ada di luar jangkauan mata mereka yang enggan menoleh ke samping ataupun ke bawah?
Bagaimana dengan nelayan, bagaimana dengan petani, bagaimana dengan industri kecil menengah yang memerlukan bahan bakar minyak? Karena saya melihat bagaimana susahnya orang tanpa bahan bakar minyak yang terjangkau bagi mereka, kini akan harus bertambah susah lagi.
Maka saya sering kesal sendiri dengan orang yang duduk tenang di jok mobilnya sambil bilang, “work hard, paid well, let the gas goes high.” Saya ingin sekali berkata pada orang seperti itu, “Persetan dengan kapitalisme-mu!” – Ah, untungnya, saya belum pernah mendengar yang seperti itu.
Jika keadilan sosial telah tercipta di negeri ini, boleh-lah berbicara seperti itu. Namun negeri ini adalah negeri yang setali tiga uang dengan anarkismenya – tentu saja anarkisme dalam makna yang sesungguhnya.
Sehingga saya mendukung secara moril, bagi mereka yang bersedia turun ke jalan menyuarakan penderitaan yang tidak dilihat orang di atas sana, dan orang di samping sini yang terlalu kenyang dengan kemewahan dan kesejahteraan pribadi. Saya senang jika melihat masih ada yang berpikir bahwa kehidupan ini bukanlah untuk diri kita sendiri.
Namun saya juga sedih, jika unjuk rasa untuk menyuarakan nurani menjadi sebuah gelombang yang dipenuhi dengan kekerasan. Kita memerlukan kucuran keringat, namun kucuran darah bukanlah yang kita kehendaki di negeri yang katanya penuh dengan tata krama dan susila ini.
Datanglah dengan kecerdasan, karena kepalan akan jauh lebih kuat daripada hanya digunakan untuk melemparkan batu atau mengayunkan bambu.

Mengapa tidak datang dengan senyum, mengapa tidak protes dengan senyum? Datanglah dengan senyum, kumandangkan suara rakyat, gebrak bahana langkah-langkahmu dengan saling berpegangan tangan dan jadikan jalanan gegap gempita dengan tujuan yang mulia. Sudahi kekerasan, dan datanglah dengan senyumanmu.

Tinggalkan Balasan ke Cahya Batalkan balasan