A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Tulisan ini mungkin terlambat sehari, namun tak mengapa – karena beberapa hal yang begitu membuat saya ingin menulisnya juga. Jika dibandingkan dengan kapal-kapal saat ini, mungkin Titanic hanyalah sebuah peninggalan dari era yang terdahulu. Namun pada masanya, Titanic adalah sebuah simbol kemewahan dan kemegahan dunia pelayaran.

Pertama kali saya mengenal Titanic mungkin dari sebuah buku ilmu bumi tua dengan ejaan lama yang kertasnya sudah sedemikian tuanya dan melapuk. Mungkin pada sebuah bab yang bercerita tentang Samudra Atlantik, di sana ada sebuah foto kapal tua megah dengan empat cerobong raksasa yang menjulang. Saya terkesan dengan gambar tua itu, dan bagaimana Atlantik menenggalamkannya.

Dan kini, setelah lebih dari dua puluh tahun dari pertama kali saya membacanya, dan lebih dari 100 tahun Titanic telah berada di kedalaman 4 kilometer di dasar samudra. Masih bagi beberapa orang, mengenangnya memberikan sebuah sentuhan emosi tersendiri.

Kisah Titanic menjadi sahabat saya dulu mengarungi dunia melalui halaman-halaman atlas yang buram, melihat di mana ia tenggelam dan berimajinasi akan perjalanannya. Saya bisa melihat diri saya yang masih kecil dengan tangan mungil di atas halaman-halaman peta berwarna kusam dengan suryakanta dan berusaha melihat di mana gairah dan rasa ingin tahu saya menjelajah.

Titanic
Sebuah cuplikan berita koran tenggelamnya Titanic | Sumber gambar: National Geographic Indonesia.

Kini onggokan bangkai Titanic di dasar samudra telah menjadi salah satu bagian dari warisan budaya dunia UNESCO. Salah satu dari karya besar di bidang pelayaran yang berusia demikian singkatnya.

Dan juga sejak dulu, ada banyak teori tentang bagaimana Titanic dapat tenggalam, dan pertanyaan-pertanyaan, mengapa Titanic bisa tenggelam. Mulai dari rumor yang beraroma mitos – yang biasanya menjadi santapan ulangan pada pelbagai media untuk menarik pembaca/pendengar/pemirsanya. Hingga ke teori modern yang melibatkan peredaran/keberadaan lunar (bulan) yang memicu pergerakan (hanyutnya) gunung es hingga jauh ke Seletan ke lintasan yang dilalui Titanic.

Satu dari banyak hal yang membuktikan bahwa Titanic telah menjadi fenomena, jauh lebih hebat dari kapal tercanggih yang pernah ada sekali pun. Jika seandainya Titanic tidak tenggelam 100 tahun yang lalu, mungkin di zaman modern ini tidak ada yang akan masih mengingatnya. Tidak akan ada film fenomenal Titanic yang kini diproduksi ulang dengan memanfaatkan teknologi 3D – meskipun saya sendiri tidak tertarik sejak dulu menonton film ini.

Saya mungkin orang yang lebih menyukai aroma misteri dibalik kisah tragis malam itu. Yang mana mungkin tak akan pernah terjelaskan sepenuhnya. Pun ketika James Cameron membuat animasi komputer baru tentang bagaimana Titanic tenggelam.

Mungkin ini tetap akan menjadi salah satu kisah (misterius) abadi dunia pelayaran di muka bumi.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

7 tanggapan

  1. fanny Avatar
    fanny

    melegenda banget nih kapal ya.

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Yup, untungnya tidak menjadi legenda kapal hantu :).

      Suka

  2. Applausr Avatar
    Applausr

    ini filem fenomenal banget dulu.. kalau di 3D bisa jadi keren ga ya…?

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Saya tidak nonton dari film 2D-nya, jadi ndak tahu juga :).

      Suka

  3. jarwadi Avatar

    saya mendengar kata titanic itu sendiri dari judul film yang diputar di bioskop pada jaman saya SMA 🙂

    Suka

  4. tomi Avatar

    weeew saya baru liat video ini loh mas. nek secara logika memang keliatannya teori jatuhnya benar.. tp masalah kenapa tiba2 ada batu es di jalur titanic itu yg masih jadi misteri

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Yup, penjelasan tentang es itu sampai sekarang hanya sebatas teori atau hipotesa.

      Suka

Tinggalkan Balasan ke Applausr Batalkan balasan