A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Setelah beberapa lama meninggalkan rumah, saya ditemani oleh laptop lawas saya yang terpasang Windows Vista Business sejak pembeliannya dulu. Memang Acer TravelMate 6293 ini sudah agak lama, saya mendapatkannya pada tahun 2008 dengan “menggelapkan” anggaran motor baru. Ha ha…, artinya tetap pakai motor butut yang penting tidak stres menghadapi sistem komputasi yang lambat.

Saya rasa ada banyak nostalgia bersamanya, untungnya dalam 4 tahun ini, sama sekali tidak pernah mengalami kendala peranti keras yang bermakna. Tidak ada komponen yang pernah rusak, meski jam terbangnya rerata di atas komputer teman-teman saya yang lain, dia biasa menyala 72 jam non-stop di saat-saat sibuk dulu.

Namun sistem bawaannya jarang saya gunakan, karena saya memasangkan Linux sebagai sistem operasi tambahan. Sehingga sejak lama Windows Vista yang asli bawaannya jarang sekali tersentuh. Saya sudah terlanjur nyaman bekerja dengan Linux, sehingga tidak begitu ramah lagi bekerja dengan Windows.

Karena mulai bulan depan tampaknya mungkin saya akan memerlukan sistem operasi Windows kembali di notebook ini, maklum bisa jadi tidak semua rekan kerja saya nanti akan paham bagaimana menggunakan Linux. Sehingga saya menengok kembali sistem operasi Windows yang ada. Ah, padahal batas waktu SKB 3 menteri untuk penggunaan peranti lunak legal batas toleransinya adalah tahun ini, namun jika kita mau jujur tidak semua instasi pemerintah telah mengindahkannya.

Saat saya buka kembali Windows Vista-nya, ah, sistem ini berjalan sangat lambat rasanya. Dibandingkan Linux yang tertanam pada cakram keras yang sama. Serasa memasuki gua pengap yang penuh sarang laba-laba.

Saya harus membersihkan sistemnya, memperbarui atau meningkatkan peranti lunak di dalamnya. Beberapa peranti lunak bisa didapatkan gratis seperti antivirus dan aplikasi perkantoran. Setidaknya konsep legal masih bisa dipertahankan. Pun demikian saya memiliki rencana untuk meningkatkan antivirusnya ke edisi berbayar untuk mendapatkan beberapa fitur yang mungkin saya perlukan nantinya.

Jaringan Smartfren di Jogja sepertinya padat merayap (untuk yang berlangganan paket murah meriah), bahkan setengah dari kecepatan yang bisa saya dapatkan di rumah saya yang terpencil di pertengahan sawah. Nah, untung juga masih ada beberapa solusi. Sehingga pemulihan sistem bisa dilakukan dengan cepat.

Setidaknya dalam 2 hari pembenahan ini, Windows Vista lawas bisa bekerja mencapai 4 dari 5 nilai yang saya harapkan. Tidak buruk untuk mesin tua, bahkan kecepatannya masih bisa diadu dengan netbook atau notebook keluaran baru.

Windows 8 akan keluar sebentar lagi, mungkin saya juga tertarik untuk membeli satu salinan dengan lisensi asli. Sayangnya, saya ingin melihat dulu isu dengan secure boot yang diterapkan oleh Microsoft. Bagi saya saat ini, Linux adalah sistem kerja utama, sementara Windows adalah cadangan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

2 tanggapan

  1. MelvinAM Avatar
    MelvinAM

    untuk sementara ini, mungkin saya malah akan belajar linux. dengan support windows xp yang mendekati ajal, spek komputer tidak mampu menangung windows 7 dan 8. maka sistem operasi yang cocok buat saya, ya linux dan freebsd. namun rasanya freebsd masih lebih rumit di bandingkan linux :).

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Antarmuka Linux lebih membantu pengguna awal untuk bermigrasi. Saya rasa meski mesinnya lawas, masih akan bisa beroperasi dengan optimal.

      Suka

Tinggalkan komentar