A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diterbitkan pertama kali: 1 Agustus 2012 | Diperbarui: Februari 2026


Ketika artikel ini pertama ditulis pada 2012, kekhawatiran utama berkisar pada compact fluorescent light (CFL) — lampu hemat energi berbentuk spiral yang saat itu sedang gencar dipromosikan sebagai pengganti lampu pijar. Lebih dari satu dekade berlalu, lanskap pencahayaan telah berubah drastis. CFL kini sebagian besar digantikan oleh LED (light-emitting diode), dan ancaman yang diperbincangkan pun bergeser: bukan lagi sekadar lampu di rumah, tetapi juga cahaya yang terpancar dari layar ponsel, tablet, dan laptop yang hampir tidak pernah lepas dari genggaman kita.

Pertanyaan yang sama tetap relevan: apakah cahaya dari lampu-lampu ini berbahaya bagi kulit kita?

Spektrum Cahaya yang Perlu Dipahami

Untuk menjawab pertanyaan itu, kita perlu memahami bahwa “cahaya” bukanlah satu entitas tunggal. Spektrum elektromagnetik yang kita sebut cahaya mencakup berbagai panjang gelombang dengan energi dan kemampuan penetrasi yang berbeda.

Sinar ultraviolet (UV) dibagi menjadi tiga kategori berdasarkan panjang gelombangnya: UVA (315–400 nm), UVB (280–315 nm), dan UVC (100–280 nm). UVA menembus jauh ke lapisan dermis dan bertanggung jawab atas penuaan kulit dini serta kerusakan kolagen. UVB terutama memengaruhi epidermis dan menjadi penyebab utama sunburn serta perubahan DNA yang dapat memicu kanker kulit. UVC sebenarnya paling berbahaya, tetapi secara alami terserap oleh lapisan ozon sebelum mencapai permukaan bumi — meskipun sumber buatan seperti lampu germisida dapat memancarkannya.

Di luar UV, terdapat spektrum cahaya tampak (visible light) dengan rentang panjang gelombang 380–700 nm. Bagian ujung spektrum ini — cahaya biru dengan panjang gelombang 400–490 nm — telah menjadi fokus perhatian ilmiah dalam satu dekade terakhir karena dampaknya terhadap kulit dan ritme sirkadian tubuh.

CFL dan Emisi Ultraviolet: Apa yang Sudah Diketahui

Penelitian awal yang menjadi dasar artikel 2012 ini memang menemukan emisi UV bermakna dari lampu CFL, termasuk UVA dan UVC, yang pada kondisi in vitro memengaruhi fibroblas dan keratinosit kulit. Namun, konteks penting yang perlu ditambahkan adalah soal jarak dan durasi paparan.

Health Protection Agency Inggris melaporkan bahwa pada jarak 3 cm, batas harian paparan UV yang direkomendasikan dapat tercapai dalam 50 menit hingga 5 jam tergantung jenis lampu. Namun pada jarak 30 cm — jarak yang lebih realistis dalam penggunaan sehari-hari — batas tersebut baru tercapai setelah 3 hingga 6 jam, dengan perbedaan yang tidak terlalu signifikan antara CFL dan lampu pijar 60 watt. Lampu CFL dengan selubung ganda (encapsulated/double envelope) terbukti memancarkan jauh lebih sedikit UV dibandingkan CFL spiral terbuka.

Artinya, risiko paparan UV dari CFL dalam kondisi penggunaan normal — di mana lampu berada di langit-langit atau dalam fitting yang sesuai — relatif rendah. Individu dengan kondisi fotosensitif seperti systemic lupus erythematosus atau solar urticaria memang perlu lebih berhati-hati, tetapi untuk populasi umum yang sehat, paparan CFL pada jarak dan durasi normal tidak mencapai ambang bahaya yang ditetapkan.

Era LED: Transisi dengan Tantangan Baru

CFL kini telah banyak digantikan LED karena efisiensi energi yang lebih tinggi dan masa pakai yang lebih panjang. LED putih yang umum digunakan dalam pencahayaan rumah dan perkantoran bekerja dengan cara menggabungkan chip LED biru dengan fosfor yang mengkonversi sebagian cahaya biru menjadi warna lain untuk menghasilkan cahaya putih. Konsekuensinya, LED putih cenderung memiliki puncak emisi di rentang biru (sekitar 450 nm) yang lebih menonjol dibandingkan lampu pijar atau bahkan beberapa jenis CFL.

International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection (ICNIRP) dan Komite Ilmiah Eropa untuk Risiko Kesehatan Lingkungan (SCHEER) telah mengevaluasi keamanan LED secara menyeluruh. Kesimpulan utama mereka: selama paparan berada di bawah batas yang ditetapkan ICNIRP, tidak ada risiko kerusakan pada mata maupun kulit. LED putih untuk pencahayaan umum dinyatakan aman untuk penggunaan normal yang dapat diperkirakan secara wajar.

Namun, ICNIRP juga memberikan rekomendasi pencegahan: paparan terhadap sumber cahaya yang kaya emisi biru sebaiknya dihindari pada malam hari atau menjelang tidur. Ini bukan karena risiko kerusakan kulit langsung, melainkan karena dampaknya terhadap ritme sirkadian dan kualitas tidur.

Cahaya Biru dan Kulit: Kekhawatiran yang Berkembang

Seiring meningkatnya penggunaan perangkat elektronik, penelitian mengenai dampak cahaya biru terhadap kulit semakin berkembang. De Gálvez dan kolega (2022) yang mempublikasikan penelitiannya di Journal of Photochemistry and Photobiology B menemukan bahwa matahari tetap merupakan sumber utama paparan efektif untuk pigmentasi dan stres oksidatif pada kulit. Namun, mereka juga mencatat bahwa kontribusi cahaya biru dari perangkat elektronik bersifat akumulatif dan perlu menjadi perhatian terutama pada individu dengan hipersensitivitas yang dapat memicu hiperpigmentasi.

Penelitian seluler telah mengidentifikasi beberapa mekanisme yang menjadi perhatian. Cahaya biru diketahui mengaktifkan protein Opsin-3 — reseptor membran yang sensitif terhadap cahaya biru — pada melanosit, yang selanjutnya memicu aktivasi enzim tirosinase dan meningkatkan produksi melanin. Portillo dan rekan (2021) menunjukkan bahwa paparan cahaya biru dari perangkat digital dapat memengaruhi morfologi mitokondria dan menginduksi fosforilasi p38 MAPK pada fibroblas manusia, jalur yang terkait dengan respons stres seluler dan melanogenesis.

Neo dan kolega (2023) dalam penelitian yang diterbitkan di International Journal of Molecular Sciences membuktikan bahwa paparan cahaya biru pada melanosit menyebabkan peningkatan pembentukan reactive oxygen species (ROS) dan penurunan potensi membran mitokondria. Hiperpigmentasi yang dihasilkan bersifat persisten — berbeda dengan tanning akibat UVA yang biasanya lebih cepat memudar.

Arjmandi dan kolega (2018) dari Shiraz University of Medical Sciences memperingatkan bahwa bahkan paparan singkat satu jam dari cahaya LED bergelombang pendek dapat memicu pembentukan ROS, apoptosis, dan nekrosis pada sel kulit manusia. Namun penting dicatat bahwa kondisi percobaan laboratorium seringkali berbeda signifikan dari kondisi paparan nyata sehari-hari.

Proporsi yang Perlu Dijaga

Data yang dikumpulkan dari berbagai penelitian konsisten menunjukkan bahwa intensitas cahaya biru dari perangkat digital jauh di bawah batas aman yang ditetapkan ICNIRP. Pengukuran menunjukkan bahwa radiasi efektif cahaya biru dari tablet dan smartphone pada kecerahan maksimal hanya mencapai 0,08 hingga 0,38% dari batas paparan ICNIRP. Bahkan paparan dari langit cerah di musim panas hanya mencapai sekitar 10,4% dari batas tersebut.

Ini bukan berarti kekhawatiran sama sekali tidak berdasar, tetapi proporsi harus dijaga. Risiko akut dari paparan cahaya biru perangkat elektronik untuk kulit dan mata dalam penggunaan normal sangat kecil. Yang menjadi perhatian lebih besar adalah efek kumulatif paparan jangka panjang dan mekanisme biologis yang masih terus diteliti, terutama pada individu dengan kondisi kulit tertentu atau yang secara genetik lebih rentan terhadap hiperpigmentasi — termasuk banyak populasi Asia dengan tipe kulit Fitzpatrick IV–VI yang lebih rentan terhadap hiperpigmentasi pasca-inflamasi.

Brar dan kolega (2025) dalam ulasan komprehensif mereka di Cureus menekankan bahwa berbagai tipe kulit Fitzpatrick memiliki respons berbeda terhadap paparan radiasi. Melanin eumelanin pada kulit lebih gelap memang memberikan perlindungan lebih terhadap stres oksidatif, namun kulit gelap justru lebih rentan terhadap hiperpigmentasi persisten yang dipicu cahaya biru karena melanosit yang lebih aktif.

Kelompok yang Perlu Ekstra Waspada

Meskipun risiko untuk populasi umum rendah, beberapa kelompok perlu memberikan perhatian lebih:

Individu dengan photosensitive conditions seperti lupus eritematosus sistemik, porfiri, atau solar urticaria lebih rentan terhadap efek buruk paparan cahaya buatan, termasuk CFL. Penggunaan pelindung atau penggantian lampu dengan versi berselubung ganda direkomendasikan.

Mereka yang memiliki riwayat hiperpigmentasi atau melasma juga disarankan lebih berhati-hati mengingat mekanisme aktivasi melanogenesis yang sudah terdokumentasi meskipun pada intensitas paparan yang lebih rendah sekalipun bersifat kumulatif.

Pekerja yang terpapar pencahayaan buatan dalam waktu sangat panjang — lebih dari 8 jam sehari dengan jarak dekat — secara teoritis dapat mengakumulasi dosis yang lebih bermakna, meskipun penelitian belum menemukan bukti epidemiologis kuat yang menghubungkan ini dengan kejadian penyakit kulit yang signifikan.

Rekomendasi Praktis Berbasis Bukti

Berdasarkan keseluruhan bukti yang tersedia saat ini, beberapa langkah praktis dapat dipertimbangkan tanpa perlu menimbulkan kekhawatiran berlebihan:

Utamakan perlindungan dari matahari. Bukti konsisten menunjukkan bahwa paparan UV matahari tetap merupakan faktor risiko jauh lebih besar untuk kerusakan kulit dibandingkan cahaya dari lampu atau perangkat elektronik. Penggunaan tabir surya spektrum luas secara teratur tetap menjadi strategi perlindungan kulit paling efektif.

Untuk lampu CFL yang masih digunakan, pilih versi dengan selubung ganda (double envelope) yang memancarkan lebih sedikit UV, dan pastikan tidak menempatkan diri sangat dekat (kurang dari 30 cm) dalam waktu sangat lama.

Untuk pencahayaan LED, pilih produk bermutu yang telah memenuhi standar keamanan. Bagi yang sensitif terhadap cahaya biru atau memiliki masalah hiperpigmentasi, tersedia pilihan LED dengan warm white yang proporsi emisi birunya lebih rendah.

Batasi penggunaan layar elektronik — terutama pada malam hari — bukan terutama karena risiko kerusakan kulit, tetapi karena gangguan ritme sirkadian dan dampaknya terhadap kualitas tidur yang secara tidak langsung memengaruhi regenerasi dan kesehatan kulit.

Penutup

Lebih dari satu dekade setelah artikel pertama ini ditulis, gambaran ilmiah sudah jauh lebih jelas meskipun masih menyimpan banyak pertanyaan terbuka. CFL dan LED pada intensitas dan jarak penggunaan normal tidak menimbulkan risiko akut yang signifikan bagi kulit populasi umum yang sehat. Namun, mekanisme biologis dampak cahaya biru terhadap melanogenesis dan stres oksidatif kulit nyata adanya dan perlu diperhitungkan terutama bagi mereka dengan kondisi tertentu atau paparan kumulatif yang sangat tinggi.

Yang berubah bukan hanya jenis lampunya — dari pijar ke CFL ke LED — tetapi juga skala paparan kita terhadap cahaya buatan secara keseluruhan, dengan layar-layar yang kini menemani hampir setiap momen terjaga. Ini yang membuat pertanyaan tentang cahaya buatan dan kesehatan tetap relevan dan layak terus diteliti.


Referensi

Arjmandi, N., Mortazavi, G., Zarei, S., Faraz, M., & Mortazavi, S. A. R. (2018). Can light emitted from smartphone screens and taking selfies cause premature aging and wrinkles? Journal of Biomedical Physics & Engineering, 8(4), 447–452. https://pmc.ncbi.nlm.nih.gov/articles/PMC6280109/

Brar, G., Dhaliwal, A., Brar, A. S., Sreedevi, M., Ahmadi, Y., Irfan, M., … Abarca-Pineda, Y. A. (2025). A comprehensive review of the role of UV radiation in photoaging processes between different types of skin. Cureus, 17(3), e81109. https://doi.org/10.7759/cureus.81109

De Gálvez, E. N., Aguilera, J., Solis, A., De Gálvez, M. V., De Andrés, J. R., Herrera-Ceballos, E., & Gago-Calderon, A. (2022). The potential role of UV and blue light from the sun, artificial lighting, and electronic devices in melanogenesis and oxidative stress. Journal of Photochemistry and Photobiology B: Biology, 228, 112405. https://doi.org/10.1016/j.jphotobiol.2022.112405

International Commission on Non-Ionizing Radiation Protection. (2020). ICNIRP statement on light-emitting diodes (LEDs). ICNIRP. https://www.icnirp.org/cms/upload/publications/ICNIRPled2020.pdf

Neo, J. R. E., Teo, C. W. L., Ung, Y. W., & Yap, W. N. (2023). Tocotrienol-rich fraction attenuates blue light-induced oxidative stress and melanogenesis in B16-F1 melanocytes via anti-oxidative and anti-tyrosinase properties. International Journal of Molecular Sciences, 24(20), 15373. https://doi.org/10.3390/ijms242015373

Portillo, M., Mataix, M., Alonso-Juarranz, M., Lorrio, S., Villalba, M., Rodríguez-Luna, A., & González, S. (2021). The aqueous extract of Polypodium leucotomos (Fernblock) regulates Opsin 3 and prevents photooxidation of melanin precursors on skin cells exposed to blue light emitted from digital devices. Antioxidants, 10(3), 400. https://doi.org/10.3390/antiox10030400

Scientific Committee on Health, Environmental and Emerging Risks (SCHEER). (2018). Potential risks to human health of LEDs: Final opinion. European Commission. https://health.ec.europa.eu/document/download/9eb31fe0-a7b8-4128-bd19-3105af2686cd_en

Sheppard, A. L., & Wolffsohn, J. S. (2018). Digital eye strain: Prevalence, measurement and amelioration. BMJ Open Ophthalmology, 3(1), e000146. https://doi.org/10.1136/bmjophth-2018-000146

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

3 tanggapan

  1. Cahya Avatar

    Sekilas memang mengerikan, namun ada baiknya kita menunggu respons dari pihak-pihak yang memang memiliki kewenangan untuk mengeluarkan putusan mengenai “physical hazard of electronic device” (semoga ndak salah tulisa).

    Suka

  2. alief Avatar
    alief

    jadi perlu penelitian lebih lanjut agar kita bisa ebih menghemat energi tanpa harus merusak kesehatan diri ya bli.

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Biasanya kalau hasil penelitiannya nanti menimbulkan pro dan kontra, pasti akan diteliti kembali :).

      Suka

Tinggalkan komentar