Saya lupa sudah berapa lama tidak menulis di sini, tapi rasanya mungkin sudah ada lebih dari seminggu. Pasca pembekalan di Surabaya akhir bulan yang lalu, kini saya berada di Kota Genteng, Kabupaten Banyuwangi, Provinsi Jawa Timur. Saya akan berada di sini hingga satu tahun ke depan, masa dinas 8 bulan di RSUD Genteng dan 4 bulan sisanya di Puskesmas Sempu.

Dan memang sudah lama saya tidak menyentuh kegiatan klinisi, sehingga perlu cukup banyak beradaptasi kembali. Belum lagi karena perbedaan beberapa terminologi yang memang mesti dibiasakan mencercapnya. Namun perlahan-lahan akan terbiasa juga, setidaknya demikian harapan untuk saat ini.

Karena belum menjelajahi semua wilayah (oleh sebabnya padatnya jadwalnya dinas), saya belum mengenal seluruh wilayah dengan baik, kecuali seputaran rumah sakit.

Persawahan
Pemandangan persawahan pagi hari dari depan tempat tinggal selama di Genteng.

Satu tahun ini saya tinggal di salah satu kost yang lumayan banyak terdapat di sekitar RSUD Genteng. Biaya hidup di sini bisa dikatakan mirip di Jogja, walau mungkin sedikit lebih tinggi dari Jogja ataupun Kota Banyuwangi sendiri yang berjarak satu jam perjalanan ke arah Timur.

Kota ini cukup padat aktivitas, terutama jalanan yang menghubungkan Banyuwangi dan Jember. Saking padatnya, saya mesti benar-benar berhati-hati menyeberang jalan dan mengendarai kendaraan bermotor. Kecelakaan lalu lintas cukup tinggi, namun angka lain yang cukup tinggi yang layak diwaspadai adalah angka ODHA yang terus meningkat. Oleh karena tuntutan profesi, para pekerja medis memiliki risiko tertular HIV/AIDS lebih tinggi dibandingkan masyarakat umum, sehingga kewaspadaan dini ditekankan di mana-mana.

Saya tidak dapat bercerita lebih banyak lagi. Seminggu belum cukup untuk melihat semua sisi daerah Genteng.

Artikel Baru Terbit

  • Dari Klinik Spesialis ke Meja Dokter Layanan Primer: Membaca Pernyataan Ilmiah ADA tentang Teknologi Diabetes
    ADA menerbitkan pernyataan ilmiah pertamanya tentang teknologi diabetes di layanan primer. Pemantauan glukosa kontinu, pena insulin terhubung, dan insulin otomatis diharapkan masuk praktik sehari-hari lewat pelatihan, pembagian peran, dan peninjauan data rutin. Artikel ini menimbang relevansinya bagi puskesmas dan klinik di Indonesia, serta kesenjangan akses dan pembiayaan yang perlu dijembatani.
  • Retatrutide pada Diabetes Tipe 2 dan Obesitas: Membaca Hasil TRIUMPH-2 dengan Kepala Dingin
    Uji fase 3 TRIUMPH-2 menunjukkan retatrutide, agonis tiga hormon sekali seminggu, menurunkan berat badan hingga 20,8% dan HbA1c hingga 1,6 poin pada 1.152 penyandang diabetes tipe 2 dengan obesitas. Efek samping terutama pencernaan. Obat ini belum disetujui, dan pertanyaan keamanan serta penerapannya di populasi Asia masih perlu dijawab studi lanjutan.
  • Dari Tahu ke Menjalankan: Membaca Buku Panduan Implementasi SAFER WHO untuk Mengurangi Bahaya Alkohol
    Panduan implementasi SAFER WHO (30 September 2026) bukan rekomendasi baru, melainkan peta jalan menjalankan lima intervensi alkohol yang sudah terbukti: pembatasan ketersediaan, penegakan aturan berkendara, skrining dan terapi, pelarangan iklan, serta cukai. Dari tingkat nasional, komunitas, hingga tempat kerja, kuncinya pemantauan dan perlindungan dari konflik kepentingan.
  • Ketika Tempurung Lutut “Keluar dari Jalurnya”: Mengenal Dislokasi Patela
    Tempurung lutut yang tiba-tiba “keluar dari jalurnya” saat berolahraga bukan sekadar keseleo biasa. Artikel ini mengulas dislokasi patela berdasarkan konsensus ESSKA 2024 terbaru—mulai mekanisme cedera, diagnosis, pilihan tata laksana konservatif versus bedah, hingga mengapa separuh pasien tetap bergejala meski tanpa kekambuhan, dan konteks alur layanan di Indonesia
  • Tidak Semua Pre-XDR-TB Sama: Membaca Panduan WHO Edisi Kedua tentang Pengobatan dan Perawatan Tuberkulosis
    Panduan WHO edisi kedua (September 2026) menyempurnakan pengobatan TBC resistan obat: pasien pre-XDR-TB kini dibedakan menurut derajat keparahan paru untuk memilih BPaL, BPaLC, atau BDLC, dan perawatan paliatif resmi masuk rekomendasi. Bukti masih berkepastian sangat rendah, sehingga adaptasi nasional dan penilaian keparahan yang cermat menjadi kunci bagi layanan di Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

6 tanggapan

  1. Avatar jarwadi

    wah, selamat menikmati daerah penugasan mas, hehe

    1. Avatar Cahya

      Iya Pak, lagi mencoba suasana pedesaan :-).

  2. Avatar ladeva
    ladeva

    Wait, ODHA tinggi di Genteng? Kok bisa? More detail please and take care! Gak baik nulis di atas genteng lho…hehehehe…

    1. Avatar Cahya

      Hei, ayo ke sini buat penelitian tentang komunikasi masyarakat dengan para ODHA, tunjukkan kemampuan Deva :-).

      1. Avatar ladeva
        ladeva

        Mau bangeeet kalo ada yang ngajak. Itu akan seru banget bahas tentang AIDS

      2. Avatar Cahya

        Yo, tapi carikan sponsor ya. Soalnya tanpa dana semuanya serba susah 🙁

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca