Pernahkah Anda datang ke Instalasi Gawat Darurat (IGD) dengan keluhan yang Anda anggap mendesak, namun harus menunggu cukup lama sementara pasien lain yang datang lebih belakang justru dipanggil lebih dulu? Situasi ini seringkali menimbulkan kebingungan, bahkan kekecewaan bagi pasien dan keluarga. Padahal, di balik sistem pelayanan IGD terdapat mekanisme penting yang disebut triase – sebuah proses sistematis untuk menentukan prioritas penanganan berdasarkan tingkat kegawatan kondisi medis pasien.
- Apa Itu Triase?
- Sistem Triase Modern di Indonesia
- Proses Triase di IGD
- Mengapa Sistem Triase Penting?
- Tantangan dalam Implementasi Triase
- Kapan Seharusnya Anda Datang ke IGD?
- Tips untuk Kunjungan ke IGD
- Peran Sistem Kesehatan Berjenjang
- Penutup
Apa Itu Triase?
Triase berasal dari bahasa Prancis “trier” yang berarti memilah atau menyortir. Dalam konteks medis, triase adalah proses pengkajian cepat untuk mengklasifikasikan pasien berdasarkan tingkat urgensi kondisi medis mereka, sehingga mereka yang membutuhkan penanganan segera dapat dilayani terlebih dahulu.
Konsep triase pertama kali dikembangkan oleh Baron Dominique Jean Larrey, ahli bedah Napoleon Bonaparte, pada era perang Napoleonik (1792-1815). Sistem ini kemudian disempurnakan selama Perang Dunia I, ketika tenaga medis di medan perang harus membuat keputusan cepat dengan sumber daya terbatas. Mereka mengklasifikasikan korban ke dalam tiga kategori sederhana:
- Mereka yang kemungkinan besar akan bertahan hidup tanpa intervensi medis segera
- Mereka yang kemungkinan besar tidak akan bertahan hidup meskipun mendapat perawatan
- Mereka yang akan bertahan hidup jika mendapatkan intervensi medis segera
Namun sistem triase modern di IGD saat ini jauh lebih sistematis dan terstandarisasi dibandingkan era perang dunia tersebut.
Sistem Triase Modern di Indonesia
Di Indonesia, mayoritas rumah sakit mengadopsi sistem triase berbasis skala 5 level yang telah direkomendasikan oleh Kementerian Kesehatan. Sistem ini sejalan dengan standar internasional seperti Australasian Triage Scale (ATS) dan Canadian Triage and Acuity Scale (CTAS). Kelima level tersebut adalah:
Level 1 – Resusitasi (Merah/P1)
Pasien dalam kondisi mengancam nyawa yang membutuhkan tindakan resusitasi segera. Waktu tanggap maksimal: 0 menit (harus ditangani segera saat tiba).
Contoh kondisi:
- Henti jantung atau henti napas
- Syok berat (tekanan darah sangat rendah dengan kesadaran menurun)
- Stroke dengan gangguan fungsi vital
- Trauma mayor dengan perdarahan masif
- Kejang status epileptikus yang tidak terkontrol
- Gangguan jalan napas akut
Level 2 – Emergensi (Merah/P1)
Pasien dengan kondisi yang berpotensi mengancam nyawa dan membutuhkan penanganan segera. Waktu tanggap maksimal: 10 menit.
Contoh kondisi:
- Nyeri dada yang diduga sindrom koroner akut
- Stroke akut dalam window period
- Asma berat atau sesak napas berat
- Perdarahan aktif yang signifikan
- Trauma kepala sedang-berat dengan kesadaran menurun
- Nyeri perut akut dengan tanda peritonitis
- Luka bakar luas
Level 3 – Urgensi (Kuning/P2)
Pasien dengan kondisi yang berpotensi serius tetapi saat ini stabil. Waktu tanggap maksimal: 30 menit.
Contoh kondisi:
- Nyeri perut sedang tanpa tanda bahaya
- Demam tinggi pada anak dengan kondisi umum masih baik
- Trauma ortopedi (patah tulang) tanpa komplikasi
- Dehidrasi sedang
- Nyeri kepala berat tiba-tiba (red flag untuk SAH)
- Reaksi alergi ringan-sedang tanpa gangguan napas
Level 4 – Semi-Urgensi (Hijau/P3)
Pasien dengan kondisi yang memerlukan evaluasi dan pengobatan tetapi tidak darurat. Waktu tanggap maksimal: 60 menit.
Contoh kondisi:
- Demam ringan tanpa tanda bahaya
- Infeksi saluran kemih tanpa komplikasi
- Luka ringan yang memerlukan jahitan
- Nyeri ringan-sedang tanpa tanda bahaya
- Keluhan gastrointestinal ringan
Level 5 – Non-Urgensi (Hijau/P3)
Pasien dengan keluhan minor yang dapat ditangani di pelayanan kesehatan primer. Waktu tanggap maksimal: 120 menit.
Contoh kondisi:
- Batuk pilek ringan
- Keluhan kronis yang stabil (kontrol rutin)
- Permintaan resep ulang
- Luka minor tanpa komplikasi
- Keluhan ringan yang sebaiknya ditangani di puskesmas atau klinik
Proses Triase di IGD
Ketika pasien tiba di IGD, mereka akan melalui proses triase yang dilakukan oleh perawat terlatih (biasanya memiliki sertifikasi BTCLS/Basic Trauma and Cardiac Life Support atau ATLS/Advanced Trauma Life Support). Proses ini umumnya berlangsung sangat cepat, sekitar 2-5 menit, dan meliputi:
- Penilaian cepat keluhan utama: Apa yang membawa pasien ke IGD?
- Pemeriksaan tanda vital: Tekanan darah, nadi, laju napas, saturasi oksigen, suhu tubuh, dan tingkat kesadaran
- Observasi visual: Tampilan umum pasien, warna kulit, pola napas, ekspresi nyeri
- Anamnesis singkat: Riwayat singkat keluhan, faktor risiko, dan riwayat penyakit terdahulu yang relevan
- Penentuan level triase: Berdasarkan kriteria yang telah ditetapkan
- Penempatan sesuai prioritas: Pasien ditempatkan di zona yang sesuai dengan tingkat kegawatannya

Mengapa Sistem Triase Penting?
1. Mengoptimalkan Penyelamatan Nyawa
Sistem triase memastikan bahwa pasien dengan kondisi paling kritis mendapat penanganan terlebih dahulu. Penelitian menunjukkan bahwa sistem triase yang efektif dapat menurunkan angka kematian di IGD hingga 20-30%.
2. Mengelola Sumber Daya yang Terbatas
IGD memiliki keterbatasan tenaga medis, tempat tidur, dan peralatan. Triase membantu mengalokasikan sumber daya ini secara efisien kepada mereka yang paling membutuhkan.
3. Mencegah Crowding (Kepadatan Berlebih)
Dengan mengarahkan pasien non-urgensi ke layanan yang lebih tepat, triase membantu mencegah kepadatan berlebih di IGD yang dapat menurunkan kualitas pelayanan secara keseluruhan.
4. Meningkatkan Keselamatan Pasien
Sistem triase yang baik mengurangi risiko undertriage (meremehkan kegawatan) dan overtriage (berlebihan dalam menilai kegawatan), sehingga setiap pasien mendapat penanganan yang tepat.
Tantangan dalam Implementasi Triase
Meski penting, implementasi sistem triase di Indonesia masih menghadapi berbagai tantangan:
1. Persepsi Masyarakat
Banyak masyarakat yang belum memahami sistem triase dan menganggap pelayanan “siapa cepat dia dapat”. Edukasi publik sangat diperlukan.
2. Keterbatasan SDM Terlatih
Tidak semua IGD memiliki perawat triase yang terlatih secara memadai. Kompetensi perawat triase sangat menentukan akurasi penilaian.
3. Crowding IGD
Banyak IGD di Indonesia mengalami overcrowding karena masyarakat lebih memilih datang langsung ke rumah sakit dibanding puskesmas atau klinik untuk keluhan ringan.
4. Sistem Rujukan yang Belum Optimal
Sistem rujukan berjenjang dari fasilitas kesehatan tingkat pertama ke rumah sakit belum berjalan optimal, menyebabkan banyak pasien non-gawat datang langsung ke IGD rumah sakit.
5. Kendala Administrasi
Di era JKN, terdapat kompleksitas administratif yang kadang menghambat proses triase dan pelayanan cepat di IGD.
Kapan Seharusnya Anda Datang ke IGD?
Berdasarkan sistem triase, IGD adalah tempat yang tepat untuk kondisi-kondisi berikut:
Segera ke IGD jika mengalami:
- Nyeri dada atau sesak napas berat
- Kehilangan kesadaran atau penurunan kesadaran
- Kelemahan atau kelumpuhan mendadak pada satu sisi tubuh
- Kesulitan berbicara atau pelo mendadak
- Kejang
- Perdarahan yang tidak terkontrol
- Trauma berat (kecelakaan, jatuh dari ketinggian, dll)
- Luka bakar luas atau berat
- Muntah atau diare berlebihan dengan tanda dehidrasi berat
- Reaksi alergi berat (sesak, bengkak pada wajah/leher)
- Keracunan atau overdosis obat
Pertimbangkan layanan kesehatan primer (puskesmas/klinik) untuk:
- Batuk pilek ringan
- Demam ringan tanpa tanda bahaya
- Nyeri ringan yang sudah berlangsung lama
- Keluhan kronis yang stabil
- Permintaan resep ulang
- Luka kecil atau goresan
- Keluhan yang dapat menunggu sampai besok
Tips untuk Kunjungan ke IGD
- Jangan panik, tetapi jangan tunda: Jika kondisi memang gawat darurat, segera ke IGD. Tetapi tetap tenang agar dapat memberikan informasi dengan jelas.
- Bawa informasi penting: Riwayat penyakit, obat yang sedang dikonsumsi, riwayat alergi, dan hasil pemeriksaan sebelumnya (jika ada).
- Pahami bahwa Anda mungkin harus menunggu: Jika kondisi Anda stabil dan tidak mengancam nyawa, Anda mungkin harus menunggu sementara pasien kritis ditangani terlebih dahulu.
- Komunikasikan dengan jelas: Sampaikan keluhan utama, sejak kapan, dan gejala yang menyertai dengan jelas kepada perawat triase.
- Jangan meremehkan gejala pada diri sendiri: Jika ragu apakah kondisi Anda gawat darurat atau tidak, lebih baik datang untuk dievaluasi.
- Ikuti arahan petugas: Perawat dan dokter IGD terlatih menilai tingkat kegawatan. Percayalah pada penilaian profesional mereka.
Peran Sistem Kesehatan Berjenjang
Keberhasilan sistem triase juga bergantung pada efektivitas sistem kesehatan berjenjang di Indonesia. Puskesmas dan klinik pratama seharusnya menjadi gerbang utama (gatekeeper) untuk keluhan non-gawat darurat. Dengan memperkuat pelayanan kesehatan primer, diharapkan:
- Pasien dengan keluhan ringan mendapat pelayanan yang lebih personal dan tidak menunggu lama
- IGD dapat fokus pada fungsi utamanya menangani kasus gawat darurat
- Biaya kesehatan dapat lebih terkendali karena tidak semua kasus ditangani di rumah sakit
Sebagai pengguna layanan kesehatan, kita dapat berperan dengan memahami sistem ini dan memilih layanan kesehatan yang tepat sesuai dengan kondisi kita.
Penutup
Sistem triase di IGD bukan dimaksudkan untuk mendiskriminasi pasien, tetapi justru untuk memastikan bahwa setiap orang mendapat penanganan yang tepat sesuai dengan tingkat kegawatan kondisinya. Dengan memahami sistem ini, kita sebagai masyarakat dapat lebih bijak dalam memanfaatkan layanan gawat darurat dan turut mendukung efektivitas pelayanan kesehatan.
Ingatlah bahwa IGD adalah pintu terakhir untuk penyelamatan nyawa. Ketika Anda atau orang yang Anda cintai mengalami kondisi gawat darurat sejati, jangan ragu untuk segera datang ke IGD. Namun untuk keluhan kesehatan yang lebih ringan, layanan kesehatan primer seperti puskesmas atau klinik adalah pilihan yang lebih tepat dan efisien.
Referensi:
- Kementerian Kesehatan RI. Pedoman Pelayanan Gawat Darurat. 2021.
- WHO. Emergency Triage Assessment and Treatment (ETAT). 2016.
- Australasian College for Emergency Medicine. Guidelines on the Implementation of the Australasian Triage Scale in Emergency Departments. 2016.
- Emergency Nurses Association. Emergency Nursing Core Curriculum. 7th Edition. 2018.

Tinggalkan komentar