A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Bayangkan sebuah selang air yang terus-menerus dialiri tekanan tinggi. Lama-kelamaan, dindingnya akan melemah, menggelembung di sana-sini, bahkan bisa pecah. Inilah gambaran sederhana dari apa yang terjadi pada pembuluh darah seseorang yang hidup bersama hipertensi tanpa penanganan yang tepat. Hipertensi — atau tekanan darah tinggi — bukan sekadar angka yang mengkhawatirkan saat cek kesehatan rutin. Ia adalah ancaman diam yang bekerja tanpa henti, menyerang organ demi organ, seringkali tanpa gejala yang terasa.

Dunia kesehatan menyebut hipertensi sebagai silent killer — pembunuh senyap — bukan tanpa alasan. Seseorang bisa hidup bertahun-tahun dengan tekanan darah yang tinggi tanpa menyadarinya, sementara kerusakan terus berlangsung di dalam tubuh. Laporan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) tahun 2025 mencatat bahwa 1,4 miliar orang dewasa di seluruh dunia menderita hipertensi, dan yang mengejutkan, hanya satu dari lima di antaranya yang memiliki tekanan darahnya terkontrol dengan baik (World Health Organization, 2025). Di Indonesia, data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan prevalensi hipertensi sebesar 30,8% — artinya hampir sepertiga penduduk dewasa Indonesia menderita kondisi ini. Lebih mengkhawatirkan lagi, sebagian besar dari mereka tidak mendapat pengobatan secara rutin (Kementerian Kesehatan RI, 2023).

Artikel ini membahas secara rinci bagaimana hipertensi yang tidak terkontrol merusak organ-organ vital tubuh — dari jantung, otak, ginjal, hingga mata — dan mengapa penanganannya tidak boleh ditunda.


Hipertensi dan Pembuluh Darah: Kerusakan yang Menjadi Akar Semua Masalah

Semua dampak buruk hipertensi bermula dari satu titik: pembuluh darah arteri. Dalam kondisi sehat, dinding arteri bersifat elastis dan fleksibel, mampu meregang dan berkontraksi sesuai irama detak jantung. Tekanan darah yang terus-menerus tinggi mengubah sifat ini secara perlahan. Sel-sel endotel yang melapisi bagian dalam arteri mengalami kerusakan, permukaan yang seharusnya licin menjadi kasar, dan lemak pun mulai menumpuk di tempat-tempat yang rusak tersebut.

Proses ini dikenal sebagai aterosklerosis — pengerasan dan penyempitan arteri akibat penumpukan plak. Dari sinilah bencana berantai dimulai: aliran darah ke berbagai organ tubuh terhambat, risiko serangan jantung meningkat, stroke mengintai, dan fungsi ginjal berangsur-angsur menurun. Riset yang diterbitkan dalam Global Burden of Disease Study 2021 di jurnal The Lancet menempatkan tekanan darah sistolik yang tinggi sebagai faktor risiko kedua terbesar beban penyakit global — bertanggung jawab atas 7,8% dari total disability-adjusted life years (DALYs) di seluruh dunia (GBD 2021 Risk Factors Collaborators, 2024).

Salah satu komplikasi pembuluh darah yang sering luput dari perhatian adalah aneurisme — penggelembungan abnormal pada dinding arteri yang melemah akibat tekanan berkepanjangan. Aneurisme paling sering terbentuk di aorta, pembuluh darah terbesar di tubuh. Jika pecah, konsekuensinya bisa fatal dalam hitungan menit.


Jantung di Bawah Tekanan

Jantung adalah organ yang paling merasakan beban berat hipertensi. Ketika tekanan darah tinggi, jantung harus bekerja jauh lebih keras dari biasanya untuk memompa darah ke seluruh tubuh. Ibarat seseorang yang dipaksa membawa beban berat setiap hari — otot jantung pun mengalami perubahan sebagai respons terhadap kerja keras yang berlebih ini.

Perubahan pertama yang terjadi adalah penebalan dinding bilik kiri jantung, kondisi yang dikenal sebagai left ventricular hypertrophy (LVH) atau hipertrofi ventrikel kiri. Sebuah systematic review dan meta-analysis yang dipublikasikan di jurnal Hypertension menemukan bahwa anak-anak dan remaja dengan hipertensi ambulatori sudah menunjukkan risiko LVH hampir lima kali lebih tinggi dibandingkan mereka yang normotensif — menegaskan bahwa kerusakan jantung akibat hipertensi dapat dimulai jauh lebih awal dari yang selama ini diduga (Chung et al., 2023). Otot jantung yang menebal justru menjadi lebih kaku dan kurang efisien dalam memompa darah, meningkatkan risiko gagal jantung, serangan jantung, dan kematian mendadak.

Hipertensi juga mempercepat proses penyakit arteri koroner — penyempitan pembuluh darah yang memasok oksigen ke otot jantung itu sendiri. Ketika suplai oksigen ke jantung terganggu, timbullah nyeri dada (angina pektoris), aritmia, bahkan serangan jantung (infark miokard). Tidak mengherankan jika penyakit jantung iskemik tetap menjadi penyebab kematian nomor satu di dunia hingga data Global Burden of Disease Study 2023 (GBD 2023 Collaborators, 2025).


Otak: Ketika Pembuluh Darah Gagal Menjaga Pikiran

Otak membutuhkan aliran darah yang konstan dan stabil untuk menjalankan fungsinya. Hipertensi mengganggu keseimbangan ini dengan dua cara: menyempitkan pembuluh darah sehingga suplai oksigen berkurang, atau melemahkan dinding pembuluh darah hingga akhirnya pecah dan menyebabkan perdarahan otak.

Stroke adalah komplikasi otak yang paling ditakuti dari hipertensi. Di Indonesia, data International Health Metrics and Evaluation (IHME) menunjukkan stroke sebagai penyebab kematian nomor satu, dan hipertensi merupakan faktor risiko utama di balik angka tersebut (Kementerian Kesehatan RI, 2019). Sebelum stroke penuh terjadi, penderita hipertensi seringkali mengalami transient ischemic attack (TIA) — atau yang dikenal sebagai “serangan otak mini” — di mana gejala menyerupai stroke muncul sesaat kemudian menghilang. TIA adalah peringatan keras yang tidak boleh diabaikan; ia merupakan pertanda bahwa risiko stroke besar sangat nyata.

Yang tidak kalah penting adalah kaitan antara hipertensi dan demensia. Tekanan darah tinggi yang berlangsung lama merusak pembuluh-pembuluh darah kecil di otak, mengurangi aliran darah ke jaringan otak secara kronis. Kondisi ini berkontribusi pada demensia vaskular, salah satu bentuk demensia yang paling umum. Bukti ilmiah terbaru juga menunjukkan bahwa hipertensi di usia paruh baya secara signifikan meningkatkan risiko penurunan fungsi kognitif dan demensia di usia lanjut — sebuah konsekuensi jangka panjang yang semakin memperkuat urgensi pengendalian tekanan darah sejak dini.


Ginjal: Filter Tubuh yang Perlahan Rusak

Ginjal dan tekanan darah memiliki hubungan yang saling memengaruhi dan berpotensi membentuk lingkaran setan yang berbahaya. Di satu sisi, hipertensi merusak pembuluh darah di ginjal; di sisi lain, ginjal yang rusak semakin sulit mengatur keseimbangan cairan dan tekanan darah, sehingga tekanan darah pun makin sulit dikendalikan.

Struktur paling rentan di ginjal adalah glomeruli — anyaman pembuluh darah kecil yang berfungsi menyaring darah. Hipertensi kronis merusak glomeruli ini secara bertahap, menyebabkan glomerulosklerosis (pembentukan jaringan parut pada glomeruli) dan akhirnya gagal ginjal. Di Indonesia, data BPJS Kesehatan menunjukkan bahwa biaya pelayanan hipertensi dan komplikasinya terus meningkat setiap tahun — mencerminkan beban kesehatan yang sangat besar akibat kerusakan ginjal dan organ lain yang tidak tercegah (Kementerian Kesehatan RI, 2019).

Pada penderita hipertensi yang juga menderita diabetes, risiko kerusakan ginjal berlipat ganda. Kedua kondisi ini bersinergi dalam merusak mikrovaskular ginjal, dan gabungan keduanya merupakan penyebab utama gagal ginjal stadium akhir yang membutuhkan dialisis (cuci darah) atau transplantasi ginjal.


Mata: Jendela yang Bisa Gelap

Mata memiliki jaringan pembuluh darah yang sangat halus dan rentan terhadap perubahan tekanan. Hipertensi yang tidak terkontrol dapat menyebabkan retinopati hipertensif — kerusakan pembuluh darah pada retina yang dapat berujung pada gangguan penglihatan bahkan kebutaan. Pada pemeriksaan funduskopi (pemerikaan bagian belakang mata), dokter dapat melihat secara langsung perubahan pembuluh darah yang disebabkan hipertensi — menjadikan mata sebagai “jendela” yang memberikan gambaran nyata tentang kondisi pembuluh darah di seluruh tubuh.

Selain retinopati, hipertensi juga dapat menyebabkan koroidopati (penumpukan cairan di belakang retina) dan neuropati optik iskemik (kerusakan saraf penglihatan akibat gangguan aliran darah). Sebuah systematic review yang diterbitkan di European Journal of Preventive Cardiology menemukan bahwa perubahan mikrovaskular retina sudah dapat terdeteksi bahkan selama periode kehamilan dengan hipertensi, dan beberapa perubahan ini menetap bahkan setelah tekanan darah kembali normal pasca persalinan (Cutler et al., 2024).


Disfungsi Seksual: Dampak yang Jarang Dibicarakan

Hipertensi juga berdampak pada kehidupan seksual, meskipun topik ini sering kali tidak dibahas secara terbuka. Pada pria, kerusakan pembuluh darah akibat hipertensi dapat menghambat aliran darah ke organ intim, menyebabkan disfungsi ereksi. Pada perempuan, berkurangnya aliran darah ke organ genital dapat menimbulkan penurunan hasrat seksual, kekeringan vagina, dan kesulitan mencapai orgasme.

Dampak ini sering diperparah oleh beberapa jenis obat antihipertensi, terutama golongan beta-blocker dan diuretik tertentu, yang diketahui dapat memengaruhi fungsi seksual. Hal ini penting diketahui oleh penderita hipertensi agar dapat berdiskusi secara terbuka dengan dokter tentang pilihan pengobatan yang sesuai — karena seringkali ada alternatif terapi yang lebih ramah terhadap fungsi seksual namun tetap efektif mengontrol tekanan darah.


Dampak Lain yang Sering Terabaikan

Di luar organ-organ utama di atas, hipertensi juga memengaruhi berbagai aspek kesehatan lainnya. Hipertensi dikaitkan dengan peningkatan ekskresi kalsium melalui urine, yang dalam jangka panjang dapat menyebabkan penurunan kepadatan tulang (osteoporosis) dan meningkatkan risiko patah tulang, terutama pada perempuan pascamenopause.

Hubungan antara hipertensi dan obstructive sleep apnea (OSA) juga sudah didokumentasikan dengan baik. Gangguan tidur ini — ditandai dengan mendengkur keras dan henti napas sementara saat tidur — terjadi pada lebih dari separuh penderita hipertensi. Keduanya saling memperburuk: hipertensi memicu OSA, dan OSA pada gilirannya mempersulit pengendalian tekanan darah. Penelitian terbaru juga semakin mengungkap peran gut microbiome (mikrobiota usus) dalam patofisiologi hipertensi dan kerusakan organ yang ditimbulkannya — sebuah frontier ilmu pengetahuan baru yang menjanjikan strategi terapi yang lebih personal di masa depan (Pala et al., 2025).


Krisis Hipertensi: Ketika Darurat Datang Tiba-tiba

Meskipun hipertensi umumnya merupakan penyakit yang berkembang lambat, pada situasi tertentu tekanan darah dapat melonjak drastis dan mendadak hingga mencapai kondisi yang mengancam jiwa — dikenal sebagai hypertensive emergency (kedaruratan hipertensi). Kondisi ini dapat menyebabkan stroke hemoragik, edema paru akut (cairan di paru-paru yang menyebabkan sesak napas berat), gagal ginjal akut, serangan jantung, dan pada ibu hamil dapat memicu eklampsia — kejang yang berbahaya bagi ibu dan janin.

Hypertensive emergency memerlukan penanganan segera di unit perawatan intensif, dan sebagian besar terjadi pada penderita yang selama ini tidak mendapat pengobatan atau pengendalian tekanan darah yang memadai.


Konteks Indonesia: Beban yang Nyata

Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 menunjukkan bahwa hipertensi merupakan faktor risiko tertinggi keempat penyebab kematian di Indonesia dengan angka 10,2%, dan berkontribusi pada 22,2% kasus disabilitas pada populasi dewasa (Kementerian Kesehatan RI, 2023). Lebih dari separuh penderita hipertensi di Indonesia tidak menjalani pengobatan secara teratur dengan alasan beragam: merasa sehat, kunjungan tidak teratur ke fasilitas kesehatan, hingga preferensi menggunakan obat tradisional.

Ironisnya, biaya akibat komplikasi hipertensi yang tidak terkontrol jauh lebih besar dibandingkan biaya pencegahan dan pengobatan rutin. Data BPJS Kesehatan menunjukkan pengeluaran untuk layanan hipertensi dan komplikasinya terus meningkat setiap tahun, mencerminkan beban ekonomi kesehatan yang sangat signifikan.

Sebuah analisis tingkat kabupaten/kota di Indonesia yang diterbitkan dalam International Journal of Environmental Research and Public Health menemukan bahwa prevalensi hipertensi bervariasi signifikan antarwilayah — dengan wilayah Kalimantan mencatat prevalensi tertinggi — dan berkaitan erat dengan ketimpangan sosial-ekonomi serta akses terhadap layanan kesehatan (Oktamianti et al., 2022).


Mencegah dan Mengendalikan: Kunci Menghindari Komplikasi

Kerusakan organ akibat hipertensi yang sudah terlanjur terjadi seringkali tidak dapat dipulihkan sepenuhnya. Oleh karena itu, pencegahan dan pengendalian sejak dini adalah satu-satunya strategi yang efektif. Kementerian Kesehatan RI merekomendasikan perilaku CERDIK (Cek kesehatan rutin, Enyahkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet seimbang, Istirahat cukup, Kelola stres) untuk pencegahan, dan PATUH (Periksa kesehatan rutin, Atasi penyakit dengan pengobatan tepat, Tetap diet gizi seimbang, Upayakan aktivitas fisik, Hindari rokok dan alkohol) untuk pengendalian bagi yang sudah terdiagnosis.

Pengendalian tekanan darah yang optimal — melalui kombinasi perubahan gaya hidup dan obat-obatan bila diperlukan — terbukti secara ilmiah dapat mencegah atau memperlambat terjadinya kerusakan organ target. WHO menargetkan pengurangan prevalensi hipertensi yang tidak terkontrol sebesar 25% antara tahun 2010 dan 2025, sebuah ambisi yang memerlukan komitmen bersama antara pemerintah, tenaga kesehatan, dan masyarakat.

Pemeriksaan tekanan darah secara rutin adalah langkah paling sederhana namun paling bermakna yang bisa dilakukan siapa saja. Karena hipertensi tidak selalu menunjukkan gejala, satu-satunya cara mengetahuinya adalah dengan mengukurnya.


Referensi

Chung, J., Robinson, C. H., Yu, A., Bamhraz, A. A., Ewusie, J. E., Sanger, S., Mitsnefes, M., Parekh, R. S., Raina, R., Thabane, L., Dionne, J. M., & Chanchlani, R. (2023). Risk of target organ damage in children with primary ambulatory hypertension: A systematic review and meta-analysis. Hypertension, 80(6), 1183–1196. https://doi.org/10.1161/HYPERTENSIONAHA.122.20190

Cutler, H. R., Barr, L., Sattwika, P. D., Frost, A., Alkhodari, M., Kitt, J., Lapidaire, W., Lewandowski, A. J., & Leeson, P. (2024). Temporal patterns of pre- and post-natal target organ damage associated with hypertensive pregnancy: A systematic review. European Journal of Preventive Cardiology, 31(1), 77–99. https://doi.org/10.1093/eurjpc/zwad275

GBD 2021 Risk Factors Collaborators. (2024). Global burden and strength of evidence for 88 risk factors in 204 countries and 811 subnational locations, 1990–2021: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2021. The Lancet, 403(10440), 2162–2203. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(24)00933-4

GBD 2023 Collaborators. (2025). Global burden of 292 causes of death in 204 countries and territories and 660 subnational locations, 1990–2023: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2023. The Lancet, 406(10513), 1811–1872. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01917-8

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2019). Hipertensi penyakit paling banyak diidap masyarakat. https://kemkes.go.id/id/hipertensi-penyakit-paling-banyak-diidap-masyarakat

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Bahaya hipertensi, upaya pencegahan dan pengendalian hipertensi. https://kemkes.go.id/id/bahaya-hipertensi-upaya-pencegahan-dan-pengendalian-hipertensi

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Prevalensi hipertensi di Indonesia turun dibanding 2018. Tempo.co. https://www.tempo.co/gaya-hidup/kemenkes-sebut-prevalensi-hipertensi-di-indonesia-turun-dibanding-2018-389964

Oktamianti, P., Kusuma, D., Amir, V., Tjandrarini, D. H., & Paramita, A. (2022). District-level inequalities in hypertension among adults in Indonesia: A cross-sectional analysis by sex and age group. International Journal of Environmental Research and Public Health, 19(20), 13268. https://doi.org/10.3390/ijerph192013268

Pala, B., Frank, G., Pennazzi, L., Di Renzo, L., Gualtieri, P., Tocci, G., & Rubattu, S. (2025). The role of gut microbiota in hypertension-mediated organ damage (HMOD): A systematic review. Journal of Translational Medicine, 23(1), 1242. https://doi.org/10.1186/s12967-025-07050-9

World Health Organization. (2023). Global report on hypertension: The race against a silent killer. World Health Organization.

World Health Organization. (2025). Hypertension. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/hypertension

World Health Organization. (2025, September 23). Uncontrolled high blood pressure puts over a billion people at risk. https://www.who.int/news/item/23-09-2025-uncontrolled-high-blood-pressure-puts-over-a-billion-people-at-risk

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

10 tanggapan

  1. a! Avatar
    a!

    untungnya tekanan darah masih normal. yg agak tinggi justru kolesterol dan asam urat. 🙂

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Kolesterol dan asam urat juga masih bisa dikontrol dengan obat, pola diet dan olahraga. Jadi bisa sambil “ngempu” Bani dan Satori, sekalian olahraga keliling Niti Mandala :).

      Suka

  2. Vicky Laurentina Avatar

    Bagian yang menyulitkan dari darah tinggi ini adalah kalau penderitanya sampai hamil.

    Pembuluh-pembuluh darah pada penderita begitu rapuh, sehingga jika sampai terbentuk pembuluh darah pada plasenta yang menghubungkan ibu ke bayi di dalam perutnya, bayi akan sulit memperoleh makanan dan oksigen dari ibunya. Dia akan gagal tumbuh dalam kandungan, beratnya tidak sebesar bayi-bayi normal, bahkan kalaupun lahir pun kecerdasannya tertinggal daripada anak-anak sebayanya.

    Ibaratnya, ibu dengan penyakit darah tinggi akan menyakiti anaknya sendiri.

    Suka

  3. Zizy Damanik Avatar
    Zizy Damanik

    Wew. Serem ya kalau baca bahaya apa saja yang bisa ditimbulkan oleh satu gejala penyakit…

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Asal tidak diremehkan, maka risikonya bisa diringankan dengan kesadaran menjaga kesehatan dengan baik.

      Suka

  4. alief Avatar

    wah, bahaya sangat ternyata. dan aku termasuk orang yang memiliki ecenderungan darah tinggi…
    hiks…….

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Berarti mulai sekarang mesti mulai dirawat dan dijaga dengan lebih telaten. Kan tekanan darah bisa dikontrol.

      Suka

  5. Cahya Avatar

    Yang penting kesehatan dijaga sejak dini, setidaknya dengan demikian kita sudah mencegah kemungkinan buruk kondisi-kondisi tersebut.

    Suka

  6. Applausr Avatar
    Applausr

    wah ini penyakit keluarga nih…. jadi jaga jaga makan garam nih…

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Garam memang bisa meningkatkan tekanan darah, konsumsinya dibatasi. Karena kan kasihan juga jika tidak mencicipi asin sama sekali.
      Banyak kasus kadang pengaturan diet saja tidak cukup untuk menangani hipertensi, sehingga perlu dilakukan pendekatan yang lebih holistik.

      Suka

Tinggalkan komentar