Diterbitkan ulang dan diperbarui pada Februari 2026 dari artikel asli “Dokter dan Stres” (April 2013)
Lebih dari satu dekade lalu, saya menulis tentang tekanan yang dialami para dokter di Indonesia — tentang gaji yang tidak mencukupi, beban kerja yang menggerus kesehatan jiwa, dan angka bunuh diri yang mengejutkan. Kini, dengan bukti ilmiah yang jauh lebih kuat dan kompleks, gambarannya tidak jauh berbeda — bahkan dalam beberapa hal justru semakin memprihatinkan.
Profesi dokter kerap diasosiasikan publik dengan status sosial tinggi dan kemampuan finansial yang mapan. Namun di balik jas putih dan stetoskop, terdapat realitas yang jarang diungkapkan secara terbuka: para dokter adalah kelompok profesi dengan risiko gangguan kesehatan mental yang secara konsisten lebih tinggi dibandingkan populasi umum, termasuk risiko kelelahan kerja kronis (burnout), depresi, kecemasan, bahkan bunuh diri.
Burnout: Lebih dari Sekadar Kelelahan Biasa
Burnout adalah kondisi yang diakui secara resmi oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) sejak 2019 sebagai fenomena yang berkaitan dengan dunia kerja dan tercantum dalam International Classification of Diseases edisi ke-11 (ICD-11). Konsep ini pertama kali dikembangkan secara sistematis oleh psikolog Christina Maslach, yang mendefinisikannya melalui tiga dimensi utama: kelelahan emosional (emotional exhaustion), depersonalisasi — yakni berkembangnya sikap dingin dan jarak psikologis terhadap pasien — serta menurunnya rasa pencapaian pribadi dalam pekerjaan.
Burnout bukan sekadar “merasa lelah setelah piket malam.” Ia adalah kondisi psikologis kronis yang terbentuk dari paparan stres kerja berkepanjangan tanpa pemulihan yang memadai. Seorang dokter yang mengalami burnout berat mungkin masih terlihat berfungsi secara klinis, namun secara emosional ia sudah hampir tidak terhubung dengan apa yang ia lakukan.
Skala Masalah yang Sesungguhnya
Data global menunjukkan prevalensi burnout di kalangan tenaga medis yang mengkhawatirkan. Sebuah tinjauan sistematis mencakup 182 studi dari 45 negara antara tahun 1991 hingga 2018 melaporkan prevalensi burnout sebesar 67% di kalangan tenaga kesehatan. Di kalangan dokter khususnya, angka ini bervariasi antara 30 hingga 60% tergantung spesialisasi, lokasi, dan metode pengukuran yang digunakan.
Situasi di dokter pedesaan dan daerah terpencil bahkan lebih berat. Sebuah systematic review terbaru yang diterbitkan di Journal of Public Health (2026) menganalisis data dari 11.130 dokter pedesaan dan menemukan bahwa burnout adalah dampak kesehatan mental paling menonjol, dengan faktor pendorong utama berupa beban kerja berlebih, minimnya otonomi, batas yang kabur antara kehidupan kerja dan pribadi, serta kekurangan sumber daya sistemis. Isolasi geografis memperburuk kecemasan, depresi, dan gangguan tidur. Para peneliti merekomendasikan reformasi struktural yang berpusat pada kesejahteraan dokter, otonomi profesional, dan dukungan berbasis komunitas (Coumans & Ciller, 2026).
Di Indonesia sendiri, data dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia menunjukkan bahwa 83% dokter umum menyatakan mengalami burnout — angka yang paralel dengan tenaga kesehatan lain seperti perawat (84%), bidan (83%), dan apoteker (84%). Survei nasional yang melibatkan 1.461 tenaga kesehatan dari seluruh Indonesia menemukan bahwa 82% mengalami burnout tingkat sedang dan 1% tingkat berat — data yang mempertegas bahwa ini bukan masalah individual, melainkan krisis sistemik.
Data terbaru dari Lamuri dkk. (2023) yang menganalisis 3.629 tenaga kesehatan di Indonesia menemukan bahwa sindrom burnout ditemukan pada 37,5% tenaga kesehatan, dengan prevalensi tertinggi pada tenaga medis (44,6%), diikuti bidan (36,2%) dan perawat (33,5%). Prevalensi tertinggi ditemukan pada tenaga kesehatan yang bekerja di Jawa (38,4%) dan di rumah sakit (28,6%).
Dari Stres ke Depresi: Sebuah Kontinum yang Berbahaya
Burnout tidak berdiri sendiri. Ia sering hidup berdampingan dengan depresi dan kecemasan, membentuk sebuah kontinum gangguan kesehatan mental yang bisa berujung pada konsekuensi paling serius. Sebuah scoping review yang diterbitkan di Worldviews on Evidence-Based Nursing (2025) menemukan bahwa depresi adalah prediktor yang lebih kuat untuk ideasi bunuh diri dibandingkan burnout itu sendiri, meski keduanya saling berinteraksi. Komponen kelelahan emosional dan depersonalisasi dari burnout secara konsisten dikaitkan dengan gejala depresif yang lebih berat (Nguyen et al., 2025).
Di kalangan mahasiswa kedokteran — yang merupakan generasi dokter masa depan — masalah ini sudah dimulai jauh sebelum mereka benar-benar masuk ke dunia praktik. Sebuah scoping review yang mencakup 16 studi sistematis dan meta-analisis menemukan bahwa prevalensi gejala depresi di kalangan mahasiswa kedokteran berkisar antara 18,1% hingga 50%, sementara gejala kecemasan berkisar antara 17% hingga 54% (Agyapong-Opoku et al., 2026). Di Indonesia, data dari Universitas Islam Bandung (2024) menunjukkan bahwa 89,2% mahasiswa kedokteran tahun pertama mengalami burnout dalam kategori sedang.
Bunuh Diri: Angka yang Tidak Boleh Diabaikan
Di Amerika Serikat, angka bunuh diri di kalangan dokter diperkirakan mencapai 300-400 kasus per tahun — setara dengan satu atau dua angkatan penuh mahasiswa kedokteran. Yang membuat angka ini semakin menyedihkan adalah bahwa dokter memiliki akses dan pengetahuan terhadap metode yang lebih mematikan, sehingga tingkat kematian akibat percobaan bunuh diri lebih tinggi dibandingkan populasi umum.
Sebuah artikel penting yang diterbitkan di JAMA (2025) menegaskan bahwa tantangan kesehatan mental di kalangan dokter adalah isu kesehatan masyarakat yang kritis, dengan konsekuensi serius bagi keberlangsungan tenaga kesehatan dan mutu layanan. Meski pengobatan terbukti efektif, sebagian besar dokter dengan kondisi kesehatan mental tidak mencari bantuan. Hambatan utamanya adalah stigma budaya medis yang menormalkan tekanan tinggi, ketakutan akan konsekuensi profesional dan lisensi, serta keinginan kuat untuk menjaga kerahasiaan (Saddawi-Konefka et al., 2025).
Penelitian di kalangan residen bedah saraf Amerika Serikat (2025) menemukan bahwa 10% responden melaporkan pikiran untuk menyakiti diri sendiri atau bunuh diri — angka yang secara absolut sangat mengkhawatirkan mengingat ini adalah populasi dengan pendidikan tinggi dan kondisi yang terlihat “baik-baik saja” dari luar (Tavakol et al., 2025).
Faktor Risiko: Apa yang Membuat Seorang Dokter Lebih Rentan?
Penelitian terkini mengidentifikasi beberapa faktor yang secara konsisten meningkatkan risiko burnout dan gangguan kesehatan mental pada dokter:
Beban kerja dan jam kerja panjang menjadi faktor risiko yang paling sering disebut. Di Indonesia, studi yang mengutip data Kompas Health (2023) melaporkan bahwa sekitar 58% dokter umum di rumah sakit Jakarta mengalami tingkat stres kerja tinggi, dengan penyebab utama berupa beban kerja berlebih, ketidakjelasan peran, dan kondisi kerja yang tidak kondusif.
Spesialisasi tertentu membawa risiko lebih tinggi. Dokter onkologi, bedah, anestesi, gawat darurat, perawatan intensif, dan unit AIDS secara konsisten dilaporkan memiliki angka burnout lebih tinggi. Sebuah tinjauan sistematis yang diterbitkan di BMC Surgery (2025) menemukan bahwa ahli bedah mengalami burnout pada angka 30-60% dengan stresor utama berupa jam kerja panjang, tanggung jawab tinggi terhadap pasien, dan minimnya dukungan institusional (Otukoya et al., 2025).
Perbedaan gender juga berperan nyata. Meta-analisis terhadap 42.434 ahli bedah di wilayah Amerika (2025) menemukan bahwa dokter perempuan memiliki risiko burnout 32% lebih tinggi, depresi 31% lebih tinggi, dan kelelahan 39% lebih tinggi dibandingkan rekan laki-laki mereka. Dokter perempuan juga lebih kecil kemungkinannya memiliki anak — mengindikasikan pengorbanan aspek kehidupan pribadi yang lebih besar (Lech et al., 2025).
Faktor sistemik — termasuk minimnya otonomi profesional, birokrasi administratif yang berlebihan, ketidakpastian regulasi, dan rendahnya kesejahteraan — memainkan peran yang setidaknya sama pentingnya dengan faktor individual.
Kondisi Indonesia: Di Antara Idealisme dan Kenyataan Lapangan
Dalam konteks Indonesia, persoalan kesehatan mental dokter tidak dapat dipisahkan dari realitas struktural sistem kesehatan nasional. Distribusi dokter yang tidak merata — dengan konsentrasi besar di kota-kota besar Jawa dan Bali sementara daerah terpencil kekurangan tenaga medis — menciptakan beban yang tidak proporsional bagi dokter yang bertugas di wilayah underserved.
Dokter yang ditempatkan di daerah terpencil menghadapi tantangan berlapis: keterbatasan fasilitas diagnostik, minimnya konsultasi spesialis, isolasi sosial dan profesional, keterbatasan akses terhadap pengembangan ilmu pengetahuan, serta dalam banyak kasus, kesejahteraan finansial yang jauh dari memadai. Burnout dalam konteks ini bukan hanya soal tekanan psikologis semata, melainkan juga ekspresi dari kegagalan sistem untuk mendukung tenaga kesehatannya.
Budaya medis yang mewariskan nilai “dokter harus kuat dan tidak boleh mengeluh” memperburuk situasi. Meminta bantuan psikologis sering kali dipandang sebagai tanda kelemahan, bukan sebagai tindakan tanggung jawab profesional. Padahal, seorang dokter yang tidak sehat secara mental tidak hanya menanggung penderitaannya sendiri — penelitian secara konsisten menunjukkan bahwa burnout dokter berdampak langsung pada keselamatan pasien, meningkatkan risiko kesalahan medis, dan menurunkan kualitas hubungan terapeutik.
Apa yang Bisa Dilakukan? Intervensi Berbasis Bukti
Kabar baiknya: intervensi untuk mengatasi burnout dan stres dokter sudah tersedia dan telah diuji secara ilmiah. Meta-analisis yang diterbitkan di Annals of Internal Medicine (2025) — mencakup 93 randomized controlled trial dengan 9.330 partisipan — menemukan bahwa professional coaching secara konsisten efektif mengurangi burnout di kalangan dokter, dengan pengurangan komponen depersonalisasi yang signifikan secara statistik. Sebaliknya, intervensi berbasis mindfulness — meski efektif untuk perawat — tidak menunjukkan efek yang konsisten untuk dokter secara spesifik (Collett et al., 2025).
Pada tingkat institusional dan sistemik, bukti menunjukkan bahwa intervensi paling efektif mencakup:
Penjadwalan yang lebih fleksibel dan pengurangan beban administratif yang tidak perlu. Pengembangan layanan kesehatan mental yang terintegrasi dalam lingkungan kerja rumah sakit, dengan jaminan kerahasiaan yang kuat. Perubahan kebijakan lisensi dan kredensial yang tidak mempertanyakan riwayat gangguan kesehatan mental secara diskriminatif. Program peer support dan resilience training yang dilaksanakan secara terstruktur. Inisiatif wellness di tingkat departemen atau rumah sakit yang didukung penuh oleh pimpinan.
Di Indonesia, implementasi langkah-langkah ini membutuhkan komitmen dari berbagai pihak: Kementerian Kesehatan, Ikatan Dokter Indonesia (IDI), manajemen rumah sakit, dan institusi pendidikan kedokteran. Program yang hanya berfokus pada individu — meminta dokter untuk bermeditasi atau melakukan self-care — tanpa mengatasi akar masalah struktural tidak akan cukup untuk membalikkan tren yang ada.
Penutup: Merawat yang Merawat
Lebih dari satu dekade berlalu sejak saya pertama kali menulis tentang ini. Pertanyaannya tetap sama, namun kini disertai lebih banyak bukti: bagaimana kita, sebagai sistem, merawat mereka yang setiap hari merawat orang lain?
Dokter bukan robot, dan idealisme yang mengantarkan seseorang ke dunia kedokteran tidak dapat menggantikan kebutuhan dasar manusiawi: tidur yang cukup, pendapatan yang layak, dukungan emosional, dan pengakuan bahwa kondisi mereka pun layak mendapat perhatian. Profesi medis memerlukan perlindungan sistemik yang setara dengan tuntutan yang dibebankan padanya.
Menyembuhkan mereka yang menyembuhkan bukanlah kemewahan — ini adalah prasyarat bagi sistem kesehatan yang benar-benar berfungsi.
Referensi
Agyapong-Opoku, N., Agyapong-Opoku, F., Agyapong, B., & Greenshaw, A. J. (2026). Anxiety and depressive symptoms among medical students—A scoping review of systematic reviews and meta-analyses. Frontiers in Public Health, 13, 1710333. https://doi.org/10.3389/fpubh.2025.1710333
Collett, G., Gupta, J., Eltayeb, A., Korszun, A., Sharples, L., Rice, K., & Gupta, A. K. (2025). Efficacy of individual-level interventions to mitigate the risk for burnout among health care professionals: A systematic review and meta-analysis of randomized controlled trials. Annals of Internal Medicine, 179(1), 51–66. https://doi.org/10.7326/ANNALS-25-00469
Coumans, J. V. F., & Ciller, I. (2026). Stress and retention challenges among rural and regional physicians: A mixed-methods systematic review and framework for action. Journal of Public Health (Oxford). https://doi.org/10.1093/pubmed/fdag011
Humas FKUI. (2020). 83% tenaga kesehatan di Indonesia mengalami burnout syndrome derajat sedang dan berat selama masa pandemi Covid-19. Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia. https://fk.ui.ac.id
Lech, G. E., Gerk, A., Viana, S. W., Bicudo Diniz, A. M., Salomão, S. L., Moreira Melo, P. H., Camargo, C. P., Mooney, D. P., & Kratky, L. (2025). Exploring gender-related disparities in mental health and parenthood among surgeons: A systematic review and meta-analysis. American Journal of Surgery, 252, 116732. https://doi.org/10.1016/j.amjsurg.2025.116732
Lamuri, A., dkk. (2023). Prevalensi dan distribusi sindrom burnout pada tenaga kesehatan di Indonesia. Jurnal Kesehatan Indonesia [dikutip dalam berbagai publikasi sekunder].
Nguyen, N., Spooner, E., O’Balle, P., Ashraf, H., Heskett, K., Zisook, S., & Davidson, J. E. (2025). The relationship between depression, burnout, and suicide among healthcare professionals: A scoping review. Worldviews on Evidence-Based Nursing, 22(3), e70037. https://doi.org/10.1111/wvn.70037
Otukoya, E. Z., Amiri, A., & Alimohammadi, E. (2025). Surgeon well-being: A systematic review of stressors, mental health, and resilience. BMC Surgery, 25(1), 430. https://doi.org/10.1186/s12893-025-03180-5
Saddawi-Konefka, D., Moutier, C. Y., & Ehrenfeld, J. M. (2025). Reducing barriers to mental health care for physicians: An overview and strategic recommendations. JAMA. https://doi.org/10.1001/jama.2025.12587
Tavakol, S. A., Nawaz, S., Coulibaly, N. J. O., Barnett, R., Kim, M., Torabi, R., Jea, A., & Shakir, H. J. (2025). Prevalence of and risk factors for depression, anxiety, and burnout in U.S. neurosurgery residents. Surgical Neurology International, 16, 424. https://doi.org/10.25259/SNI_663_2025
World Health Organization. (2019). International classification of diseases, 11th revision (ICD-11). WHO. https://icd.who.int
Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan asli “Dokter dan Stres” yang pertama kali diterbitkan di legawa.com pada 20 April 2013. Pembaruan dilakukan berdasarkan tinjauan literatur ilmiah terkini dari berbagai jurnal terakreditasi.

Tinggalkan komentar