A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diperbarui: Februari 2026


Diare masih menjadi salah satu penyebab kematian anak yang paling dapat dicegah di seluruh dunia. Meski kemajuan dalam penanganan medis sudah cukup jauh, penyakit ini masih menghantui jutaan keluarga, terutama di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah seperti Indonesia. Memahami diare, mengetahui cara menanganinya, dan mengenali kapan harus meminta bantuan tenaga medis adalah hal-hal yang perlu diketahui oleh setiap orang tua.


Seberapa Besar Masalah Diare pada Anak?

Secara global, diare menyebabkan sekitar 1,17 juta kematian setiap tahunnya, dan beban terberat masih ditanggung oleh anak-anak di bawah usia 5 tahun. Kabar baiknya, angka kematian akibat diare pada anak di bawah 5 tahun telah turun sekitar 79,2% sejak 1990 hingga 2021 — sebuah pencapaian besar yang ditopang oleh terapi rehidrasi oral, perbaikan sanitasi dan air bersih, serta vaksinasi rotavirus. Rotavirus sendiri bertanggung jawab atas 35,2% kematian akibat diare pada anak di bawah 5 tahun secara global, diikuti Shigella spp. (24%) dan adenovirus (23,8%), sementara Cryptosporidium spp. dan berbagai E. coli patogen juga berkontribusi signifikan (GBD Diarrhoeal Diseases Collaborators, 2024).

Di Indonesia, situasinya masih memerlukan perhatian serius. Berdasarkan data UNICEF Indonesia, diare bertanggung jawab atas sekitar 10% kematian anak di bawah 5 tahun, menduduki peringkat ketiga sebagai penyebab kematian anak setelah pneumonia dan penyakit kongenital. Data Kementerian Kesehatan tahun 2022 mencatat lebih dari 7,3 juta kasus diare pada semua golongan usia, dengan hampir 3,7 juta kasusnya terjadi pada balita. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi diare pada balita antar provinsi sangat bervariasi, dan masalah ini erat kaitannya dengan kualitas air minum dan sanitasi — Kementerian Kesehatan mencatat bahwa 88% kematian akibat diare pada anak terkait dengan praktik sanitasi yang buruk dan air minum yang tidak layak.


Apa Itu Diare?

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), diare didefinisikan sebagai buang air besar (BAB) cair atau encer sebanyak tiga kali atau lebih dalam satu hari (24 jam). Frekuensi BAB yang normal pada bayi menyusui bisa lebih sering, sehingga penting membedakannya dari diare. Jika konsistensi tinja menjadi lebih cair dan frekuensinya meningkat dari biasanya, itu perlu diwaspadai.

Berdasarkan lamanya, diare dibagi menjadi diare akut (berlangsung kurang dari 14 hari), diare persisten (14–30 hari), dan diare kronik (lebih dari 30 hari). Sebagian besar diare pada anak adalah diare akut yang bisa membaik sendiri, namun kondisi ini tetap dapat membahayakan jika tidak ditangani dengan benar.


Apa Penyebab Diare pada Anak?

Penyebab diare pada anak sangat beragam. Secara umum dapat dibagi menjadi sebab infeksi dan non-infeksi.

Penyebab infeksi merupakan penyebab tersering diare akut, mencakup virus (terutama rotavirus dan norovirus), bakteri (Salmonella, Shigella, E. coli, Campylobacter), dan parasit (Giardia, Cryptosporidium). Penularan infeksi ini umumnya melalui jalur feko-oral — tangan yang tidak dicuci, air atau makanan terkontaminasi, dan kontak dengan tinja penderita.

Penyebab non-infeksi meliputi intoleransi laktosa (baik bawaan maupun yang muncul sementara akibat infeksi sebelumnya), konsumsi jus buah berlebihan, alergi atau hipersensitivitas makanan, dan efek samping antibiotik. Diare terkait antibiotik terjadi karena antibiotik mengganggu keseimbangan bakteri baik dalam usus (gut microbiome). Pada kasus seperti ini, pemberian yogurt yang mengandung live active culture (kultur hidup aktif, lihat keterangan pada label) kadang bisa membantu, dan sebaiknya selalu dikonsultasikan kepada dokter apakah antibiotik perlu dilanjutkan, diganti, atau dihentikan — jangan pernah menghentikan antibiotik secara sepihak tanpa berkonsultasi.


Mengapa Diare Berbahaya: Ancaman Dehidrasi

Bahaya terbesar dari diare adalah kehilangan cairan dan elektrolit secara cepat yang berujung pada dehidrasi. Dehidrasi pada bayi dan anak kecil bisa terjadi sangat cepat, dan bila tidak ditangani, dapat berakibat fatal.

Tanda-tanda dehidrasi yang perlu diwaspadai meliputi mulut dan lidah kering, tidak ada air mata saat menangis, mata tampak cowong, ubun-ubun cekung (pada bayi), kulit yang kembalinya lambat saat dicubit (skin turgor menurun), tidak BAK selama 5–6 jam atau popok kering berkepanjangan, serta anak tampak lesu atau gelisah yang tidak biasa.

WHO dan pedoman internasional membagi derajat dehidrasi menjadi tiga: tanpa dehidrasi, dehidrasi sedang (some dehydration), dan dehidrasi berat (severe dehydration). Semakin berat dehidrasi, semakin mendesak kebutuhan penanganan medis segera.


Penanganan: Prioritas Utama Adalah Mengganti Cairan

Landasan penanganan diare pada anak adalah terapi rehidrasi — mengganti cairan dan elektrolit yang hilang. Pedoman tata laksana diare anak dari China tahun 2024 (Clinical Practice Guidelines for Acute Infectious Diarrhea in Children) kembali menegaskan bahwa terapi rehidrasi oral (oral rehydration therapy/ORT) adalah pilihan utama, kecuali pada anak dengan dehidrasi berat atau yang tidak dapat mempertahankan asupan oral karena muntah berulang.

Gunakan larutan rehidrasi oral (oralit), bukan air putih biasa. Air putih saja tidak cukup, karena tidak mengandung elektrolit penting seperti natrium dan kalium yang juga turut hilang bersama diare. Penelitian terbaru bahkan meneliti formulasi oralit baru tanpa glukosa berbasis asam amino yang menunjukkan profil keamanan serupa dengan oralit WHO standar (Bardhan et al., 2024). Oralit standar WHO (low-osmolarity ORS) dengan osmolaritas rendah tetap menjadi pilihan yang direkomendasikan secara luas.

Pemberian cairan dilakukan sedikit demi sedikit, tidak langsung dalam jumlah besar sekaligus, karena memaksa anak minum dalam jumlah besar dapat memicu muntah. Pada anak dengan dehidrasi sedang, WHO merekomendasikan 75 mL/kgBB oralit dalam 3–4 jam. Bila terjadi dehidrasi berat, cairan intravena (infus) diperlukan dan anak harus segera dibawa ke fasilitas kesehatan.


Zinc: Suplemen Penting yang Sering Dilupakan

Selain oralit, suplemen zinc adalah komponen penanganan diare yang direkomendasikan WHO. Zinc membantu memperpendek durasi diare dan mengurangi keparahannya, serta menurunkan risiko episode diare berikutnya. Panduan klinis terbaru dari China (Fang et al., 2025) merekomendasikan suplemen zinc untuk anak berusia lebih dari 6 bulan yang berada di wilayah dengan defisiensi zinc.

Dosis yang lazim direkomendasikan WHO adalah 20 mg/hari selama 10 hari untuk anak di atas 6 bulan, dan 10 mg/hari untuk bayi di bawah 6 bulan. Di Indonesia, suplemen zinc tersedia luas dalam bentuk sirup atau tablet yang dapat dilarutkan (dispersible tablet).


Bagaimana dengan Makan dan Minum Sehari-hari?

Prinsip penting yang perlu diingat: jangan puasakan anak yang diare. Menghentikan makan justru dapat memperburuk kondisi anak karena usus yang tidak mendapat asupan nutrisi akan lebih lambat pulih.

Untuk bayi yang masih mendapat ASI, teruskan pemberian ASI. ASI mengandung zat pelindung termasuk antibodi yang membantu melawan infeksi penyebab diare. Untuk bayi yang mendapat susu formula, lanjutkan pemberian seperti biasa. Beberapa anak mungkin mengalami intoleransi laktosa sementara akibat kerusakan mukosa usus selama diare — kondisi ini biasanya membaik sendiri.

Untuk anak yang sudah makan makanan padat, lanjutkan makanan yang biasa dikonsumsi selama masih ditoleransi anak. Makanan bertepung, buah dan sayuran segar, serta nasi dapat membantu membentuk tinja yang lebih padat. Sebaliknya, jus buah dalam jumlah banyak, minuman manis, atau makanan berlemak tinggi sebaiknya dihindari sementara.

Nafsu makan yang membaik biasanya merupakan tanda akhir dari proses pemulihan, dan anak tidak perlu dipaksa untuk segera makan dalam porsi normal.


Antibiotik: Tidak Selalu Diperlukan

Banyak orang tua segera meminta antibiotik ketika anaknya diare. Padahal, sebagian besar diare akut pada anak disebabkan oleh virus yang tidak akan merespons antibiotik sama sekali. Pemberian antibiotik tanpa indikasi justru dapat memperburuk diare, mengganggu keseimbangan mikrobioma usus, dan berkontribusi pada resistensi antibiotik.

Pedoman klinis terkini (Fang et al., 2025) menegaskan bahwa antibiotik hanya diindikasikan pada diare yang disertai gejala seperti disentri (tinja berdarah), dugaan kolera dengan dehidrasi berat, atau anak dengan penyakit penyerta tertentu. Pemberian antibiotik harus berdasarkan penilaian dan resep dokter.


Probiotik: Peran yang Masih Dalam Kajian

Probiotik telah banyak diteliti sebagai terapi tambahan pada diare anak. Meta-analisis terbaru yang diterbitkan dalam Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition (Alsabri et al., 2025) — berdasarkan 25 uji klinis acak terkontrol dengan 5.170 pasien — menunjukkan bahwa probiotik secara bermakna memperpendek durasi diare (rata-rata sekitar 7,76 jam lebih pendek) dan mengurangi frekuensi diare serta durasi muntah pada anak.

Namun, tinjauan sistematis yang dikerjakan untuk WHO (Minaz et al., 2024) mencatat bahwa kualitas bukti yang mendukung penggunaan probiotik masih tergolong rendah hingga sangat rendah, karena adanya heterogenitas tinggi antar studi — baik dari segi jenis strain probiotik, dosis, maupun durasi penggunaan. WHO pun hingga saat ini belum menjadikan probiotik sebagai rekomendasi standar penanganan diare anak. Panduan klinis dari China (2025) merekomendasikan probiotik secara moderat pada diare virus yang bersifat cair. Intinya: probiotik mungkin membantu, tapi belum menggantikan rehidrasi dan zinc sebagai terapi utama.


Kapan Harus Segera ke Dokter atau Fasilitas Kesehatan?

Diare yang ringan dan tanpa tanda bahaya seringkali bisa ditangani di rumah. Namun, segera bawa anak ke fasilitas kesehatan jika:

  • Anak tampak tidak aktif, sangat lemas, atau mengantuk berlebihan yang tidak biasa
  • Terdapat tanda-tanda dehidrasi: mulut kering, tidak BAK lebih dari 5–6 jam, tidak ada air mata saat menangis, mata cowong
  • Tinja mengandung darah atau lendir (bisa jadi disentri yang memerlukan antibiotik)
  • Diare disertai muntah berulang yang membuat pemberian cairan oral tidak dapat dilakukan
  • Demam tinggi, terutama pada bayi di bawah 3 bulan
  • Diare berlangsung lebih dari 2–3 hari tanpa perbaikan, atau muncul dalam seminggu setelah bepergian jauh atau berkemah (kemungkinan infeksi bakteri atau parasit)
  • Bayi berusia kurang dari 6 bulan mengalami diare

Pemeriksaan feses mungkin diperlukan untuk mengidentifikasi penyebab infeksi. Dokter akan menentukan penanganan yang paling sesuai berdasarkan kondisi anak.


Pencegahan: Lebih Baik daripada Mengobati

Langkah-langkah pencegahan diare anak sejalan dengan prinsip higiene dan sanitasi dasar:

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir adalah intervensi paling efektif — terutama sebelum menyiapkan makanan, sebelum menyuapi anak, dan setelah mengganti popok. Pastikan air minum bersih dan makanan yang dikonsumsi anak bersih dan dimasak dengan benar. Berikan ASI eksklusif selama 6 bulan pertama kehidupan; ASI mengandung antibodi yang melindungi saluran cerna bayi.

Untuk pencegahan diare karena rotavirus — penyebab nomor satu diare berat pada anak kecil — vaksinasi rotavirus kini tersedia dan telah masuk dalam Program Imunisasi Nasional Indonesia. Vaksin ini terbukti menurunkan angka rawat inap dan kematian akibat diare secara bermakna. Pastikan anak mendapatkan vaksinasi rotavirus sesuai jadwal imunisasi yang direkomendasikan.


Catatan untuk Kondisi Indonesia

Di Indonesia, banyak kasus diare anak masih terjadi di wilayah dengan akses air bersih dan sanitasi yang terbatas. Data SKI 2023 menunjukkan variasi prevalensi diare balita yang sangat besar antar provinsi, dengan wilayah pedesaan umumnya memiliki angka lebih tinggi. Inisiatif seperti Sanitasi Total Berbasis Masyarakat (STBM) dan perluasan cakupan vaksinasi rotavirus merupakan upaya penting yang perlu terus didorong.

Bagi orang tua di wilayah dengan akses terbatas terhadap fasilitas kesehatan, pengetahuan tentang cara membuat oralit sederhana dan mengenali tanda bahaya dehidrasi menjadi bekal yang sangat berharga. Oralit tersedia di apotek dan puskesmas di seluruh Indonesia tanpa resep dokter.


Penutup

Diare pada anak adalah kondisi yang serius, namun sangat dapat ditangani jika orang tua memiliki pengetahuan yang cukup. Kunci utamanya adalah mengganti cairan yang hilang dengan oralit, melanjutkan pemberian makan dan minum, memberikan suplemen zinc, dan mengenali tanda-tanda bahaya yang membutuhkan penanganan medis segera. Dengan langkah pencegahan yang tepat — termasuk higiene tangan, air bersih, dan vaksinasi rotavirus — banyak kasus diare pada anak dapat dicegah sama sekali.


Referensi

Alsabri, M., Rath, S., Abo-Elnour, D. E., Shaban, N. S., Aziz, M. M., Aboali, A. A., Dafallah, M. A., & Gamboa, L. L. (2025). Efficacy of probiotics in reducing the duration and severity of acute gastroenteritis in children: A meta-analysis of randomized controlled trials. Journal of Pediatric Gastroenterology and Nutrition, 81(4), 1000–1009. https://doi.org/10.1002/jpn3.70172

Bardhan, P. K., Das, R., Nahar, B., Haque, M. A., Sobi, R. A., Sultana, A. A., Mahfuz, M., Fawkes, N., Smith, A. B., Vidyasagar, S., Fontaine, O., & Ahmed, T. (2024). Assessing safety and efficacy of a novel glucose-free amino acid oral rehydration solution for watery diarrhea management in children: A randomized, controlled, phase III trial. EClinicalMedicine, 72, 102630. https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2024.102630

Fang, Y. H., Wan, C. M., Gong, S. T., Fang, F., Sun, M., Qian, Y., Huang, Y., Wang, B. X., Xu, C. D., Jin, Y., Ye, L. Y., Shu, S. N., Wu, Q. B., Wu, J., Li, X. Q., Chen, J. F., Xu, H. M., Li, Z. H., Yu, H., … Chen, J. (2025). Clinical practice guidelines for acute infectious diarrhea in children in China (2024). World Journal of Pediatrics, 21(7), 708–719. https://doi.org/10.1007/s12519-025-00894-7

GBD Diarrhoeal Diseases Collaborators. (2024). Global, regional, and national age-sex-specific burden of diarrhoeal diseases, their risk factors, and aetiologies, 1990–2021, for 204 countries and territories: A systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2021. The Lancet Infectious Diseases, 25(5), 519–536. https://doi.org/10.1016/S1473-3099(24)00691-1

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2022). Profil Kesehatan Indonesia 2021. Kemenkes RI.

Khan, S., Sultan, M. T., Abbas, A., Kausar, T., Sidrah, Shabbir, H., Hussain, A., & Elkhedir, A. E. (2026). The interplay between malnutrition, persistent diarrhea, lactose intolerance, and food associated gut dysbiosis in children; a comprehensive review. BMC Pediatrics, 26(1), 113. https://doi.org/10.1186/s12887-026-06529-8

Minaz, A., Alam, R., Jiwani, U., Vadsaria, K., Khan, A., Ishaq, A., Sultan, S., Mohsin, M., Sharif, A., Nisar, Y. B., Das, J. K., Soofi, S., & Ariff, S. (2024). Efficacy of probiotics for treatment of acute or persistent diarrhoea in children from birth till 10 years: Systematic review and meta-analysis. Journal of Global Health, 14, 04236. https://doi.org/10.7189/jogh.14.04236

UNICEF Indonesia. (n.d.). Health: Children’s health in Indonesia. UNICEF. https://www.unicef.org/indonesia/health

World Health Organization. (2017). Diarrhoeal disease fact sheet. WHO. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/diarrhoeal-disease


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan. Konsultasikan kondisi anak Anda kepada tenaga medis untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar