Peresepan obat selayaknya mengikuti aturan peresepan yang rasional, yang bermakna setiap obat yang dituliskan dalam resep memiliki sejumlah pertimbangan rasional, misalnya efektivitas terapi (kegunaan), efek samping, hingga pertimbangan keterjangkauan oleh pasien yang akan menggunakannya. Hanya saja memilih resep yang rasional memiliki banyak tantangan di lapangan.
Di bidang kegunaan atau efektivitas terapi, tidak akan begitu banyak masalah, karena setiap obat memiliki indikasi yang sudah jelas. Tentu saja dengan takaran yang sesuai, efektivitas obat yang diharapkan bisa dihasilkan. Masalah yang cukup banyak muncul adalah ketika sejumlah penyakit swasembuh, menimbulkan gejala-gejala yang menirdayakan pasien. Di sini harus diberikan penjelasan bahwa obat-obatan berfungsi bukan untuk menyembuhkan, namun mengurangi gejala-gejala yang mengganggu tersebut.
Efek samping obat-obatan biasanya tidak terlalu mengganggu, misalnya sedikit pusing, mengantuk, atau perut terasa tidak nyaman. Tidak semua orang dimendapatkan pengobatan akan mengalami efek samping, ini pun harus dijelaskan pada pasien. Kadang ada pasien yang merasa tidak nyaman, dan beralih berobat ke dokter “selanjutnya” mengira kondisinya memburuk.

Yang terakhir adalah keterjangkauan. Selama ini saya lebih sering meresepkan obat generik, kecuali pasien meminta yang berbeda pasca dijelaskan panjang lebar. Sebenarnya siapapun, berhak atas obat-obatan yang terjangkau. Dan tetap harus dicatat, obat yang terjangkau bukan dimaksudkan selalu digolongkan dalam obat gratis.
Pasien pun kini dianjurkan makin cermat dalam bersama-sama dokter menentukan pilihan obat yang tepat baginya. Dalam hal ini, kerja sama antara dokter dan pasien adalah syarat utama tercapainya pengobatan yang optimal. Pasien tidak hanya berhak tahu obat-obat yang diberikan, namun juga wajib paham bagaimana menggunakannya.

Tinggalkan komentar