A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Ditulis ulang dan diperbarui pada 2026 dari tulisan asal (2013)


Lebih dari satu dekade lalu, saya menulis secara singkat tentang apa yang dicari dokter ketika memilih tempat kerja. Kesimpulannya sederhana: kenyamanan lingkungan kerja, kedekatan dengan keluarga, kesempatan kerja, dan terhindar dari ancaman tuduhan malpraktik yang tidak berdasar. Setelah sepuluh tahun lebih, apakah hal itu berubah?

Jawabannya: tidak banyak berubah dalam esensinya, tetapi sangat banyak berubah dalam kedalaman dan kompleksitasnya.

Kenyamanan Bukan Kata yang Remeh

Istilah “kenyamanan bekerja” terdengar seperti preferensi subjektif yang sulit diukur. Namun penelitian-penelitian terkini justru menunjukkan bahwa workplace well-being — kesejahteraan di tempat kerja — adalah prediktor kuat yang menentukan apakah seorang dokter akan bertahan atau meninggalkan institusinya. American Medical Association (AMA) dalam laporan tahunannya mencatat bahwa kepuasan kerja dokter meningkat dari 68% pada 2022 menjadi 72,1% pada 2023, dan terus membaik di 2024. Angka yang tampak melegakan, tetapi perhatikan sisi sebaliknya: hampir 28% dokter masih tidak merasa puas dengan pekerjaan mereka (American Medical Association, 2024).

Lebih mengkhawatirkan lagi, survei CHG Healthcare pada 2024 terhadap 451 dokter menemukan bahwa 62% dari mereka telah melakukan perubahan karier dalam dua tahun terakhir. Motivasi terbesar? Bukan kenaikan gaji, melainkan work-life balance yang lebih baik (51%), jadwal kerja yang lebih fleksibel (34%), dan budaya tempat kerja yang lebih sehat (29%). Kompensasi finansial berada di urutan keempat, hanya menjadi alasan bagi 27% responden (CHG Healthcare, 2024).

Apa yang Membuat Dokter Tidak Nyaman?

Dalam survei AMA 2023, lebih dari seperempat dokter menyatakan bahwa tekanan utama mereka adalah kekurangan tenaga medis dan staf pendukung. Sebanyak 12,7% menyebut beban tugas administratif yang berlebihan sebagai penyebab stres kerja mereka (American Medical Association, 2024). Ini bukan sekadar keluhan ringan — burnout yang lahir dari kondisi-kondisi ini diperkirakan merugikan sistem kesehatan Amerika Serikat sebesar 4,6 miliar dolar per tahun akibat turnover dan pengurangan jam kerja dokter.

Di Asia, kondisi serupa terjadi. Studi kualitatif pada dokter di Bangladesh yang dipublikasikan melalui Interactive Journal of Medical Research (Rony et al., 2025) menggambarkan bagaimana dokter di negara-negara dengan sumber daya terbatas menanggung beban ganda: jam kerja berlebihan, kekurangan kolega, minimnya dukungan kesehatan mental, dan persepsi negatif masyarakat terhadap profesi mereka. Ironisnya, konteks ini tidak terlalu asing bagi kondisi di Indonesia.

Penelitian di Indonesia sendiri menunjukkan temuan yang serupa. Studi pada dokter internship di Bali menemukan bahwa work-life balance secara signifikan meningkatkan kepuasan kerja, sementara burnout — khususnya kelelahan emosional dan depersonalisasi — menurunkannya secara bermakna (Wirati et al., 2025, dalam Community Engagement and Emergence Journal). Data Lamuri dan kolega (2023) yang dikutip dalam berbagai penelitian kesehatan kerja Indonesia mencatat prevalensi burnout pada tenaga medis Indonesia mencapai 44,6%, lebih tinggi dari perawat (33,5%) maupun bidan (36,2%).

Rasa Dihargai: Kebutuhan yang Sering Diabaikan

Salah satu temuan yang paling konsisten dalam berbagai survei kepuasan kerja dokter adalah pentingnya rasa dihargai oleh institusi. AMA melaporkan bahwa pada 2023, hanya 50,4% dokter yang merasa dihargai secara penuh atau moderat oleh organisasi tempat mereka bekerja, meningkat dari 46,3% pada tahun sebelumnya. Masih ada 16% yang sama sekali tidak merasa dihargai (AMA, 2024).

Angka-angka ini memiliki konsekuensi nyata. Dokter yang tidak merasa dihargai cenderung berniat meninggalkan institusinya dalam dua tahun ke depan — sebuah prediksi yang konsisten dalam berbagai model statistik. Dalam konteks Indonesia, di mana distribusi tenaga dokter masih sangat tidak merata antara kota besar dan daerah terpencil, kehilangan satu dokter di fasilitas kesehatan perifer bukan sekadar angka statistik, melainkan krisis pelayanan kesehatan yang nyata.

Lingkungan Hukum dan Rasa Aman Profesi

Kekhawatiran tentang tuduhan malpraktik yang saya tulis pada 2013 ternyata bukan sesuatu yang berlebihan. Gualano dan kolega (2025) dalam studi komparatif yang dipublikasikan di Journal of General Internal Medicine menemukan bahwa dokter yang bekerja di sistem layanan dengan perlindungan hukum lebih kuat dan tanpa tekanan asuransi kesehatan swasta memiliki odds yang jauh lebih rendah untuk mengalami masalah work-life balance dan kekhawatiran malpraktik. Rasa aman secara hukum ternyata adalah komponen penting dari kenyamanan kerja seorang dokter.

Di Indonesia, persoalan ini masih relevan. Regulasi yang melindungi tenaga medis telah ada, namun implementasinya di lapangan — terutama di fasilitas kesehatan tingkat pertama dan rumah sakit daerah — masih sering menghadirkan ketidakpastian yang membebani dokter secara psikologis.

Pengembangan Profesional: Lebih dari Sekadar Karier

Faktor lain yang semakin menonjol dalam penelitian terkini adalah ketersediaan kesempatan pengembangan diri. Studi di Jepang tentang dokter spesialis obstetri-ginekologi (Maeda et al., 2025) menemukan bahwa kepuasan terhadap self-directed professional development — kemampuan mengembangkan diri secara mandiri di luar jam kerja — secara signifikan berkorelasi dengan kebahagiaan dokter dalam bekerja. Sebaliknya, ketidakpuasan terhadap pengembangan diri dan penurunan pendapatan berkorelasi dengan penurunan kebahagiaan.

Bagi dokter Indonesia, khususnya yang bertugas di daerah dengan akses terbatas terhadap pelatihan, konferensi, dan pembaruan ilmu pengetahuan, hambatan pengembangan profesi ini bisa menjadi faktor penentu dalam keputusan untuk bertahan atau hengkang.

Kolega dan Budaya Kerja

Survei Jobstreet (2025) pada pekerja Indonesia — meski tidak khusus pada dokter — menemukan bahwa 77% responden menyebut hubungan dengan rekan kerja sebagai faktor kebahagiaan kerja terbesar, mengalahkan work-life balance dan kompensasi. Di sisi lain, paradoks menarik ditemukan: 40% pekerja yang mengaku bahagia ternyata tetap mengalami burnout, mengindikasikan bahwa kebahagiaan dan kelelahan kronis bisa hadir secara bersamaan, tersembunyi di balik budaya bekerja keras yang terlampau dianggap normal.

Dalam konteks layanan kesehatan, proyek METEOR di Eropa yang melibatkan dokter dan perawat dari empat negara (Szemik et al., 2025) mengidentifikasi bahwa akar penyebab turnover tenaga medis adalah kombinasi antara burnout, kurangnya dukungan organisasional, dan budaya kerja yang tidak sehat — bukan semata-mata masalah gaji. Solusi yang direkomendasikan justru menekankan perbaikan workload, dukungan kesehatan mental, mentoring, dan pengembangan karier.

Relevansi untuk Konteks Indonesia

Di Indonesia, persoalan distribusi dokter ke daerah terpencil masih menjadi tantangan besar. Program Penempatan Tenaga Kesehatan dan berbagai kebijakan insentif telah dirancang, tetapi keberhasilan jangka panjangnya sangat bergantung pada apakah kondisi kerja di lapangan benar-benar memenuhi kebutuhan dasar yang dibahas di atas: lingkungan kerja yang aman secara fisik dan hukum, dukungan kolega dan supervisi yang memadai, akses terhadap pengembangan profesional, serta rasa dihargai oleh institusi dan masyarakat.

Ironi yang kerap terjadi adalah ketika insentif finansial ditawarkan besar-besaran, tetapi fasilitas fisik tidak layak, kolega tidak ada, akses komunikasi terbatas, dan dokter ditinggalkan sendirian menghadapi kompleksitas klinis tanpa dukungan. Dalam kondisi seperti itu, uang tidak cukup menjadi perekat.

Penutup: Yang Berubah, Yang Tetap Sama

Sepuluh tahun berlalu, dan esensinya ternyata sama: dokter, seperti profesional lainnya, hanya bisa bekerja dengan baik jika mereka bisa bekerja dengan nyaman. Tapi “nyaman” kini bukan kata yang sederhana lagi. Ia mencakup work-life balance, keamanan profesi dari ancaman hukum, rasa dihargai oleh institusi, kualitas hubungan antar kolega, dan kesempatan untuk terus tumbuh secara profesional.

Yang berubah adalah kesadaran kita bahwa ini semua bukan sekadar preferensi personal — ini adalah variabel yang terukur, dan ketika tidak terpenuhi, dampaknya nyata: dokter pergi, layanan kesehatan memburuk, dan masyarakatlah yang akhirnya menanggung akibatnya.


Referensi

American Medical Association. (2024). Burnout eases for doctors at every career stage as support rises. https://www.ama-assn.org/practice-management/physician-health/burnout-eases-doctors-every-career-stage-support-rises

CHG Healthcare. (2024). 2024 survey: 62% of physicians made a career change since 2022. https://blog.chghealthcare.com/physician-career-change-survey-2024/

Gualano, S. K., Greene, M. T., Houchens, N., Schildhouse, R. J., Ratz, D., Fowler, K. E., & Saint, S. (2025). Comparing work experiences of internal medicine physicians in Veterans Affairs and non-federal hospitals: A national survey. Journal of General Internal Medicine, 41(2), 437–444. https://doi.org/10.1007/s11606-025-09797-9

Maeda, Y., Nakagawa, S., Nakanishi, K., Inoue, E., Inoue, D., Kido, S., Kido, M., Koga, K., Suzuki, S., Suzuki, Y., … Sugiyama, T. (2025). The short-term impacts of Japan’s 2024 physician working-hour limits on labor conditions, self-directed professional development, and happiness among obstetrician-gynecologists. The Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 51(11), e70112. https://doi.org/10.1111/jog.70112

Rony, R. J., Aalok, S. A., Tisha, L. A., Mahatab, M., & Ahmed, N. (2025). Understanding the mental and physical burdens of physicians and identifying support interventions in Bangladesh: Qualitative study. Interactive Journal of Medical Research, 14, e76934. https://doi.org/10.2196/76934

Szemik, S., de Winter, P., Boone, A., Lavreysen, O., Godderis, L., Maniscalco, L., Enea, M., Barański, K., Matranga, D., & Kowalska, M. (2025). Effective strategies for job retention in hospitals: Insights from the EU METEOR project’s online toolbox. BMC Health Services Research, 25(1), 1567. https://doi.org/10.1186/s12913-025-13742-1

Tirto.id. (2025, Februari). Survei Jobstreet: Pekerja RI paling bahagia di Asia, 43% burnout. https://tirto.id/survei-jobstreet-pekerja-ri-paling-bahagia-di-asia-43-burnout-hqpN

Wirati, N. P. R., Anugerah, K. P., Zamralita, & Sari, M. P. (2025). Prediksi work–life balance, beban kerja, dan burnout terhadap kepuasan kerja pada dokter internship di Bali. Community Engagement and Emergence Journal (CEEJ). https://journal.yrpipku.com/index.php/ceej/article/view/9784

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

6 tanggapan

  1. Tomi Purba Avatar
    Tomi Purba

    Intinya sama saja seperti profesi lain, kita hanya bisa bekerja dengan baik jika kita bisa bekerja dengan nyaman sambil menikmatinya, dukungan yang baik, dan tentunya sedikit klien yang rewel, sok tahu atau sok kuasa.

    kalimat diatas yg paling penting banget bagi semua orang dalam menekuni pekerjaannya.. tidak nyaman tmpt kerjanya, pasti kayak saya yg sering kutu loncat 😀

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Intinya kita tidak ingin kerja dengan menumpuk stres pada hal-hal yang tidak bermakna 🙂

      Suka

  2. PanDe Baik Avatar
    PanDe Baik

    Saya yakin kenyamanan bekerja menduduki semua lini pekerjaan, tidak hanya dalam profesi dokter 🙂

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Sebenarnya sih begitu, sayangnya pilihan pertama itu adalah pilihan yang cukup sulit di masa sekarang.

      Suka

  3. Zizy Damanik Avatar
    Zizy Damanik

    Jadi memang dokter juga tak mudah mendapatkan tempat kerja yaa…

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Saya kira semuanya juga demikian, kecuali kita memiliki keterampilan luar biasa dalam menciptakan lapangan kerja sendiri.

      Suka

Tinggalkan komentar