Belakangan ini saya jarang bermain fotografi lagi, karena kamera prosumer yang biasa saya gunakan sempat dipindahtangankan. Karena kamera Canon SX30 IS yang saya gunakan memiliki sensor yang relatif kecil, maka seringkali menimbulkan banyak noise pada ISO yang tinggi. Tentu saja hal ini adalah sesuatu yang wajar.
Gambaran noise sebenarnya tidak menyenangkan, karena bintik-bintik itu tampak begitu mengganggu, apalagi ketika berharap hasil foto menjadi bersih. Terutama dalam pencahayaan yang tidak begitu terang, misalnya ketika mendung; di situasi seperti ini noise lebih cenderung meningkat pada kamera yang saya gunakan. Namun tidak selamanya noise itu tidak bisa diolah.
Pada situasi tertentu seperti pencahayaan yang rendah, noise bisa memberikan kesan artistik dengan permainan pada eksposur (paparan cahaya) yang tepat. Jika berlebihan, noise bisa dikurangi dengan sejumlah peranti lunak seperti Adobe Lightroom (versi terbarunya bisa dibeli seharga $150).
Tentu saja dengan pola seperti ini kita tidak mendapatkan gambar yang realis, namun Anda bisa menikmati cita rasa impresionisme dalam melakukan eksplorasi. Noise memberikan kita kekuatan untuk mempermainkan cahaya dan warna.
Salah satu foto sore tadi yang saya ambil menggunakan Kamera Canon SX30 IS. Paparan: 0,006 sec (1/160) | Bukaan: f/5.8 | Jarak fokus: 150.5 mm | Kecepatan ISO: 400. Disentuh dengan Adobe Lightroom 5.
Oleh karena tidak bergantung pada kesan yang nyata, maka eksplorasi noise tidak memerlukan objek khusus, sesuatu yang acak bisa memenuhi kepuasan kita dalam menjelajah dunia fotografi.
Tentu saja sebagai penggemar fotografi amatir, saya tidak bisa memberikan penjelasan yang memuaskan. Tapi setidaknya, saya puas saya bisa mengerjakan beberapa hal yang saya sukai melalui hobi sampingan saya ini.
Diabetes melitus tipe 2 menyerang diam-diam—hanya satu dari 4-5 penyandang di Indonesia yang menyadari kondisinya. Artikel ini membahas patofisiologi resistansi insulin, kriteria diagnosis PERKENI, peran SGLT2 inhibitor dan GLP-1 receptor agonist dalam terapi terkini, serta kesenjangan akses pembiayaan JKN/BPJS terhadap golongan obat baru tersebut.
WHO mengeluarkan pembaruan pedoman malaria pada September 2026, mencakup empat perubahan penting: pencegahan malaria pada ibu hamil dengan HIV, batas penggunaan primakuin dosis tunggal, formulasi baru artemether-lumefantrine untuk bayi <5 kg, serta peninjauan jadwal vaksin. Pembaruan ini relevan untuk Indonesia, khususnya Papua sebagai daerah berisiko tinggi.
Vaksin RSV maternal (Abrysvo) terbukti menurunkan risiko penyakit saluran napas bawah berat pada bayi hingga 90% dalam 90 hari pertama bila diberikan pada minggu ke-28–36 kehamilan. WHO baru mengesahkan vial multidosisnya untuk memperluas akses global. Di Indonesia, vaksin ini sudah terdaftar BPOM namun belum masuk program nasional.
Panduan baru UNESCO-UNICEF-WHO (2026) menegaskan peran guru dalam kesehatan jiwa sekolah: mempromosikan kesejahteraan, menyadari tanda distres, dan menghubungkan murid ke dukungan — tanpa mendiagnosis atau memberi terapi. Dengan I-NAMHS mencatat 15,5 juta remaja Indonesia mengalami masalah kesehatan mental, panduan ini relevan bagi UKS, PPKSP, dan sistem sekolah Indonesia.
Diabetes melitus tipe 1 pada anak Indonesia meningkat tajam dalam dua dekade terakhir, namun tujuh dari sepuluh kasus baru terdiagnosis setelah jatuh ke ketoasidosis diabetikum. Artikel ini membahas patofisiologi, kriteria diagnosis, lima pilar pengelolaan, teknologi CGM, imunoterapi teplizumab, serta konteks jaminan BPJS Kesehatan bagi penyandang DMT1.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Hmm… Lebih banyak foto yang bagus (menurut opini pribadi) saya hasilkan cuma dari kebetulan. Dan sisanya, mungkin peranti lunak seperti ini hanya mempercantik saja.
Memuat…
Rusydi Hikmawan
lama gak ke sini. eh ternyata maennya fotografi saja, saya pikir linux doang. hasil jepretannya keren pak. apalagi kalo kena edit gambar. sy bosan maen di andro, edit gambar gitu2 doang. jadi adobe lightroom itu semacam program di komputer gitu, pak?
Android kemampuan aplikasinya terbatas terutama yang gratisan. Kalau yang berbayar saya belum pernah coba.
Iya, Adobe Lightroom aplikasi natif di Windows. Sebenarnya mau coba pakai GIMP, hanya saja belum tahu caranya. Mungkin perlu sejenis ekstensi atau script-fu.
Ini cuma jepretan kebetulan saja. Kalau kebanyakan sih hasilnya iseng :).
Photoshop soalnya memanjakan penggunanya dengan pelbagai fitur yang siap santap. Sedangkan GIMP mesti diolah manual terlebih dahulu, fiturnya juga belum sekaya Photoshop.
Selamat mencoba-coba kalau begitu Mas :).
Memuat…
Zizy Damanik
Keren fotonya….
Saya di rumah bunganya ituuuu aja, ga kreatif kalo foto bunga hehe..
Tinggalkan Balasan