Sorry, But I Quit

Bekerja di sisi kemanusiaan itu selalu ada tantangannya; ada saja saat-saat di mana tawaran akan datang yang berasal dari tarikan ke sisi yang berseberangan. Atau kadang dorongan yang berasal dari pihak-pihak yang semestinya paham di sisi mana profesi ini selayaknya berada.

Secara materiil mungkin kerugian yang datang akan cukup besar, namun ada masa saya berkata dengan tegas, “sorry, but I quit“. Orang boleh berkata sisi kemanusiaan itu ego belaka dan tidak realistis, tapi sayangnya – saya menyukai sisi yang tidak realistis ini, sehingga saya akan berhenti di mana pun saya bisa, sedemikian hingga saya tidak menyeberang ke sisi yang lainnya.

Diterbitkan oleh Cahya

A writer, a tea & poet lover, a xanxia addict, an accidental photographer, - a medical doctor.

%d blogger menyukai ini: