Akhirnya hari ini selesai sudah proses peningkatan dari Ubuntu 13.04 Raring Ringtail ke Ubuntu 13.10 Saucy Salamander. Saya menggunakan metode peningkatan melalui antarmuka grafis (GUI Upgrade), dan memamng memakan waktu cukup lama (karena sambil saya tinggal seminar, komputer bekerja sendiri di rumah).
Apa yang saya temukan baru di sini? Hampir tidak ada yang baru, kecuali hanya seperti produk lama yang dipoles menjadi lebih cantik dan lembut. Saya sendiri tidak begitu merasakannya. Kalau lebih halaus, saya rasa memang iya, tapi beberapa perubahan tampaknya belum disertai perubahan pada ikon sepenuhnya. Misalnya ikon tetikus nirkabel yang saya gunakan dideteksi dalam perangkat yang menggunakan daya, tapi ikon dayanya tampak buruk dengan lingkarang merah dan garis miring.
Permasalahan klasik lainnya adalah, walaupun menggunakan sistem 64-bit, RAM yang terdeteksi hanya 3,3GHz. Dan laptop tampaknya jadi lebih cepat panas daripada biasanya.
Dekstop Ubuntu 13.10 Saucy Salamander, saya menyembunyikan dash dan menggunakan Docky sebagai alternatif. Karena saya tidak menggunakan banyak aplikasi.Saya tidak menggunakan smart screen, sehingga fitur pencarian via dash hanya sebatas aplikasi dan berkas lokal saja.
Tidak banyak fitur baru ditambahkan di edisi ini, kecuali smart screen bagi mereka yang sering berselancar. Tapi saya sendiri tidak menggunakannya. Bahkan menggunakan dash-pun tampaknya laptop saya kewalahan.
Saya hanya ingin mengatakan, bagi yang ingin menggunakannya sebagai sistem operasi sehari-hari, Ubuntu 13.10 cukup layak digunakan karena kemudahannya dan mendukung banyak aplikasi tambahan. Saya berarti sudah menggunakannya selama enam bulan ini tanpa distro Linux lainnya, dan saya rasa cukup stabil tanpa ada masalah bermakna. Silakan langsung mengunduh dari situs resminya, tapi versi asalinya kini adalah versi 64-bit, jika Anda masih menggunakan mesin 32-bit, maka tidak perlu mengunduh versi 64-bit.
Hanya saja memang bosan melihat Ubuntu seperti itu saja, dan dash yang tidak bisa saya pahami. Sepertinya Gnome 3.10 akan lebih menarik perhatian saya pada openSUSE yang akan keluar nanti.
Mitos seputar kesehatan seksual — dari pil KB yang dianggap mencegah IMS hingga anggapan dudukan kloset bisa menularkan penyakit — masih beredar luas. Artikel ini meluruskan sembilan mitos utama dengan data terkini kasus IMS dan HIV di Indonesia, serta menjelaskan akses layanan skrining dan pengobatan gratis melalui JKN.
Bunga segar, tanaman pot, bingkai, dan relief dinding mempercantik suasana ruang rawat, tetapi dapat menjadi reservoir mikroba, terutama bagi pasien dengan imunitas sangat rendah. Artikel ini menimbang bukti ilmiah terbaru, pedoman CDC, dan konteks Indonesia, lalu menawarkan kerangka zonasi yang praktis agar keindahan ruang dan keselamatan pasien dapat berjalan beriringan.
Seorang virolog Kroasia menyuntikkan virus campak dan virus stomatitis vesikular ke tumor payudaranya sendiri, lalu tumor menyusut dan dapat dioperasi. Kisah ini memicu perdebatan etika dan harapan baru bagi terapi virus onkolitik. Artikel ini menimbang bukti, keterbatasan, dan pelajarannya bagi Indonesia. Ini bukan anjuran mencoba sendiri, melainkan bahan refleksi klinis.
DSD adalah kondisi kongenital ketika kromosom, gonad, dan anatomi seks seseorang tidak berkembang selaras—bukan gangguan orientasi seksual. Artikel ini mengulas klasifikasi, diagnosis, tata laksana multidisiplin, serta konteks Indonesia: keterbatasan data epidemiologi, stigma sosial, dan jalur hukum penetapan status kelamin lewat pengadilan sesuai UU Adminduk.
Retinopati diabetik adalah komplikasi mikrovaskular diabetes yang dapat merusak penglihatan tanpa gejala awal. Prevalensinya di Indonesia berkisar 10–32%, dengan satu dari empat pasien berisiko mengalami kondisi mengancam penglihatan. Skrining fundus rutin, kontrol glikemik ketat, serta terapi laser atau anti-VEGF menjadi kunci mencegah kebutaan akibat diabetes.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
sebenarnya saya ingin upgrade, apalagi software precise di reponya udah mulai kudet (biasa, LTS yg mulai ditelantarkan). tapi, apadaya internet cepat cuma awal bulan (lagi-lagi curhat internet), itupun cuma buat update softwarenya. mungkin saya akan mengusahakan upgrade di 14.04 🙂
Ya, Internet kita kebanyakan memang ndak bersahabat bagi yang pingin pegangan sama open source. Soalnya repositorinya tersebar di mana-mana di dunia maya. Tidak seperti closed source, cari di rental atau penyewaan CD mah banyak versi bajakannya.
Selalu update ubuntunya ya Bli?
Saya sudah sangat lama tidak make ubuntu nie, kalo tidak salah, terakir yang say apake 12.10, berarti udah setaun ini meninggalkan ubuntu…..
Sebenarnya, pada dasarnya saya pengguna ubuntu Bli, tapi sejak panel ubuntu bertransformasi seperti sekarang ini, saya kangen jaman gnome 2, dan sepertinya nona2 hijau itu masih konsisten mempertahankan tampilan antar mukanya
Dulu Cinnamon sempat jatuh bangun, tapi sekarang malah berubah menjadi DE sendiri meskipun masih mengambil bahan mentah dari Gnome. Dan saya rasa apa yang ditawarkan Mint memang sesuai dengan selera pasar.
Pak Jarwadi, iya sebenarnya sih mau upgrade kemarin bareng Windows 8.1. Tapi saya malah benerin laptop kantor yang rusak semalaman, dan tertunda sampai pagi tadi.
Ya, setidaknya semua berjalan mulus. Kecuali beberapa aplikasi sepertinya tidak didukung dan hilang saat upgrade, turpial misalnya. Sisanya sama persis.
Tinggalkan Balasan