A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan saya tahun 2013 yang mempertanyakan dasar bukti ilmiah dari kampanye kondom nasional. Satu dekade kemudian, pertanyaan itu ternyata jauh lebih relevan — bukan karena kondom tidak efektif, tetapi karena cara kita berkampanye mungkin masih belum tepat sasaran.

Ditulis ulang Februari 2026


Setiap 1 Desember, kalender kesehatan global kembali menandai Hari AIDS Sedunia. Di Indonesia, momen ini sering diiringi berbagai kampanye pencegahan, termasuk kampanye kondom. Tradisi ini sudah berlangsung puluhan tahun. Namun pertanyaan yang saya ajukan lebih dari satu dekade lalu masih relevan untuk diulang: apakah program kampanye kondom kita sudah berbasis bukti ilmiah yang kuat? Dan apakah kita sudah belajar cukup dari pengalaman bertahun-tahun itu?

Gambaran HIV di Indonesia: Angka yang Seharusnya Membuat Kita Berefleksi

Angkanya tidak kecil. Per tahun 2023, Kementerian Kesehatan memperkirakan ada 515.455 orang dengan HIV (ODHIV) di Indonesia, menjadikan negara ini menempati posisi ke-14 dengan jumlah kasus HIV tertinggi di dunia. Pada tahun yang sama, lebih dari 50 ribu kasus baru HIV tercatat — dan pada tahun 2024, angka kasus baru setidaknya mencapai 35 ribu selama satu semester pertama. Sebanyak 19 persen kasus baru terjadi pada kelompok usia 20–24 tahun, kelompok usia produktif yang seharusnya paling bisa dijangkau oleh program pencegahan.

Yang lebih mengkhawatirkan, berdasarkan survei pemetaan pengetahuan HIV pada populasi lintas enam pulau besar di Indonesia, ditemukan disparitas bermakna dalam pemahaman masyarakat tentang HIV — termasuk cara transmisi dan peran kondom sebagai proteksi. Peserta dari Jawa memiliki tingkat pengetahuan tertinggi, sementara wilayah lain tertinggal signifikan (Arifin et al., 2023). Ini menandakan bahwa setelah puluhan tahun kampanye kesehatan, kesenjangan literasi HIV masih menganga lebar antar wilayah.

Faktor risiko terbesar penularan HIV di Indonesia adalah hubungan seksual berisiko pada heteroseksual (66,5 persen), diikuti hubungan seks sesama lelaki (10,4 persen), dan penggunaan jarum suntik bergantian (7 persen). Pola ini mestinya menjadi kompas dalam merancang intervensi pencegahan yang tepat sasaran.

Apa Kata Ilmu Pengetahuan tentang Kondom?

Pertama-tama, perlu ditegaskan: secara alat, kondom adalah teknologi pencegahan yang terbukti efektif secara ilmiah. Penggunaan kondom pria yang benar dan konsisten mengurangi transmisi HIV melalui hubungan vaginal hingga 80 persen, dan melalui anal seks 70–90 persen. Kondom wanita (internal condom) memberikan perlindungan setara untuk seks vaginal. WHO, UNFPA, dan UNAIDS secara konsisten menyatakan bahwa kondom tetap menjadi komponen kunci dalam paket pencegahan HIV dan infeksi menular seksual (IMS) yang komprehensif (UNFPA/UNAIDS, 2020; WHO, 2023).

Kondom juga unggul dalam aspek ekonomi: harga satu kondom pria bisa kurang dari Rp500, menjadikannya salah satu intervensi kesehatan paling cost-effective yang tersedia. Berbeda dengan Pre-Exposure Prophylaxis (PrEP) atau terapi antiretroviral yang membutuhkan akses layanan kesehatan berkelanjutan, kondom dapat digunakan secara mandiri.

Masalahnya bukan pada kondomnya. Masalahnya adalah pada cara mendistribusikan dan mempromosikannya.

Di Mana Letak Persoalannya?

Tinjauan sistematis dan meta-analisis dari berbagai program distribusi dan promosi kondom selama bertahun-tahun menunjukkan suatu pola yang konsisten namun tidak nyaman untuk diakui: peningkatan ketersediaan kondom belum tentu berkorelasi langsung dengan penurunan angka transmisi HIV dan IMS di tingkat populasi.

Lembaga riset independen GiveWell, setelah meninjau meta-analisis Cochrane yang mengkaji sembilan randomized controlled trial (RCT), menyimpulkan bahwa meskipun program distribusi dan promosi kondom meningkatkan penggunaan kondom, belum ada bukti kuat yang menunjukkan program tersebut secara langsung menurunkan transmisi HIV atau IMS dalam populasi umum. Dua meta-analisis lain menghasilkan kesimpulan serupa. Ini bukan berarti kondom tidak bekerja — ini berarti kampanye distribusi saja tidak cukup.

Mengapa? Karena hambatan penggunaan kondom bukan semata-mata soal ketersediaan. Hambatan terbesar seringkali bersifat relasional, struktural, dan kultural.

Dalam tinjauan sistematis tentang akseptabilitas kondom wanita di negara berpendapatan rendah dan menengah, ditemukan empat hambatan utama: penolakan pasangan, masalah fungsional alat, estetika, dan akses yang tidak merata. Sebaliknya, faktor pendorong penggunaan justru lebih berakar pada kepercayaan diri, rasa kontrol reproduksi, dan dukungan sosial (Fasehun et al., 2022). Pelajaran penting dari sini: kampanye kondom yang hanya bersifat “distribusikan dan perlihatkan” mengabaikan dimensi-dimensi penentu ini.

Di banyak hubungan, terutama hubungan yang mapan atau pernikahan, mengajukan penggunaan kondom sering dimaknai sebagai pertanda ketidaksetiaan atau kurangnya kepercayaan. Perempuan, khususnya dalam konteks ketidaksetaraan gender, kerap tidak memiliki kuasa untuk menegosiasikan penggunaan kondom dengan pasangannya. Pekerja seks sering menghadapi tekanan dari klien untuk tidak menggunakan kondom, bahkan kadang menghadapi kriminalisasi hanya karena membawa kondom.

Realitas ini tidak bisa diatasi hanya dengan mengendarai kendaraan berlogo kondom di jalan raya.

Pencegahan HIV di Era Modern: Lebih dari Sekadar Kondom

Ilmu kesehatan masyarakat untuk pencegahan HIV telah berkembang pesat. Konsensus global kini menempatkan kondom bukan sebagai satu-satunya alat, melainkan sebagai bagian dari paket pencegahan kombinasi (combination prevention) yang mencakup berbagai lapis intervensi.

WHO dalam pedoman konsolidasinya (2021) dan pembaruan 2023 menegaskan beberapa pilar pencegahan berbasis bukti yang harus bekerja bersama. Pertama, terapi antiretroviral dini — seseorang dengan HIV yang berhasil menekan viral load hingga tidak terdeteksi (< 200 kopi/mL) secara praktikal tidak menularkan virus kepada pasangan seksualnya, sebuah konsep yang dikenal sebagai U=U (Undetectable = Untransmittable). Kedua, PrEP — konsumsi obat antiretroviral oleh orang berisiko tinggi yang belum terinfeksi HIV terbukti sangat efektif mencegah infeksi. Ketiga, deteksi dini melalui tes HIV yang mudah diakses dan tanpa stigma. Keempat, program jarum suntik steril untuk pengguna narkoba suntik. Kelima, kondom — yang tetap penting terutama karena PrEP tidak mencegah IMS lain.

Dari artikel PubMed yang saya telaah, scoping review terbaru tentang penggunaan media sosial dalam pencegahan HIV menunjukkan bahwa intervensi berbasis digital — termasuk Facebook, aplikasi kencan, dan chatbot — efektif menjangkau populasi kunci seperti LSL (lelaki yang berhubungan seks dengan lelaki) dan perempuan transgender, meningkatkan pengujian HIV, menguatkan dukungan sosial, dan mengubah sikap terhadap kondom (Ibrahim et al., 2024). Ini adalah peluang yang masih sangat kurang dimanfaatkan di Indonesia.

Lebih jauh lagi, sebuah realist review yang diterbitkan di BMJ Global Health (2024) menemukan bahwa intervensi pencegahan HIV yang paling efektif pada remaja dan anak muda bukan hanya yang fokus pada perubahan perilaku individual, melainkan yang juga mengatasi determinan ekonomi dan sosial — pemberdayaan ekonomi, perubahan norma komunitas, dan pendidikan berbasis sekolah yang transformatif gender (Gourlay et al., 2024). Intervensi yang hanya meminta orang mengubah perilaku tanpa menyentuh struktur sosial yang mempersulit perubahan itu akan terus-menerus menghadapi tembok yang sama.

Kembali ke Indonesia: Sudah di Mana Kita?

Pertanyaan yang saya ajukan di 2013 — di mana penelitian pra dan pasca intervensi dari kampanye kondom pemerintah? — sayangnya masih relevan. Indonesia memiliki Rencana Aksi Nasional Pencegahan dan Pengendalian HIV/AIDS dan PIMS 2020–2024, dan pemerintah telah meningkatkan alokasi dana dengan rata-rata 16,1 persen per tahun. Namun berbagai pengamat dan laporan independen masih mencatat bahwa program yang dilakukan cenderung mengikuti arus global tanpa kontekstualisasi yang cukup terhadap permasalahan dalam negeri.

Gap terbesar yang diidentifikasi Kemenkes sendiri bukan pada ketersediaan kondom, melainkan pada pengobatan: hanya sebagian kecil ODHIV yang teridentifikasi sudah memulai terapi antiretroviral, dan lebih sedikit lagi yang viral load-nya terpantau. Ini adalah kesenjangan sistem kesehatan yang jauh lebih mendasar daripada sekadar distribusi kondom.

Sementara itu, stigma dan diskriminasi terhadap ODHIV dan kelompok berisiko tinggi masih menjadi hambatan besar dalam pencarian layanan kesehatan. Seseorang yang takut dihakimi tidak akan datang untuk tes HIV, tidak akan mengakses PrEP, dan tidak akan konsisten menggunakan kondom — terlepas dari berapa banyak kondom yang dibagikan secara gratis.

Lalu Apa yang Seharusnya Dilakukan?

Kondom tetap harus ada dalam setiap strategi pencegahan HIV. Tidak ada argumen yang masuk akal untuk mencabutnya dari paket intervensi. Tetapi program kampanye kondom yang efektif berbeda secara fundamental dari sekadar “distribusi massal dengan tanda seru”.

Program yang terbukti berhasil menggabungkan akses fisik ke kondom dengan konseling individual atau kelompok kecil, pendidikan tentang cara pemakaian yang benar, penanganan hambatan relasional dan gender secara eksplisit, serta integrasi dengan layanan IMS dan pengujian HIV. UNFPA dan UNAIDS dalam technical brief mereka menekankan bahwa program kondom komprehensif harus membangun demand sekaligus supply, menargetkan populasi yang paling berisiko, dan melibatkan komunitas sebagai aktor utama — bukan objek kampanye.

Di Indonesia yang memiliki keragaman geografi, budaya, dan struktur sosial yang luar biasa, pendekatan “satu ukuran untuk semua” hampir pasti tidak akan bekerja optimal. Program pencegahan yang efektif untuk LSL di Jakarta mungkin perlu benar-benar berbeda strukturnya dari program untuk pekerja migran di Papua atau remaja di daerah konservatif.

Yang paling penting: setiap program memerlukan evaluasi berbasis data yang konsisten. Bukan hanya menghitung berapa banyak kondom yang terdistribusi, tetapi apakah ada perubahan bermakna dalam perilaku berisiko, dalam angka infeksi baru pada populasi sasaran, dan dalam akses serta penerimaan layanan kesehatan terkait HIV. Tanpa loop umpan balik ilmiah yang kuat, kita hanya mengulangi program yang sama dengan biaya yang terus bertambah — tanpa pernah tahu apakah kita sedang bergerak ke arah yang benar.

Satu dekade berlalu. Saatnya kita menjawab pertanyaan itu dengan lebih serius.


Referensi

Arifin, B., Rokhman, M. R., Zulkarnain, Z., Perwitasari, D. A., Mangau, M., Rauf, S., Noor, R., Padmawati, R. S., Massi, M. N., van der Schans, J., & Postma, M. J. (2023). The knowledge mapping of HIV/AIDS in Indonesians living on six major islands using the Indonesian version of the HIV-KQ-18 instrument. PloS One, 18(11), e0293876. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0293876

Fasehun, L.-K., Lewinger, S., Fasehun, O., & Brooks, M. (2022). Barriers and facilitators to acceptability of the female condom in low- and middle-income countries: A systematic review. Annals of Global Health, 88(1), 20. https://doi.org/10.5334/aogh.3612

Gourlay, A., Walker, D., Singh, S., Mata, M., & Birdthistle, I. (2024). Gender-transformative HIV and SRHR programme approaches for adolescents and young people: A realist review to inform policy and programmes. BMJ Global Health, 9(12). https://doi.org/10.1136/bmjgh-2023-014363

GiveWell. (n.d.). Condom promotion and distribution to prevent HIV/AIDS. https://www.givewell.org/international/technical/programs/condom-distribution

Guimarães, N. S., Magno, L., Monteiro, G. M. B., Ramos, I. C. N., de Castro, C. T., Aranha-Rossi, T. R., Pereira, M., & Dourado, I. (2023). Demand creation and retention strategies for oral pre-exposure prophylaxis for HIV prevention among men who have sex with men and transgender women: A systematic review and meta-analysis. BMC Infectious Diseases, 23(1), 793. https://doi.org/10.1186/s12879-023-08693-z

Ibrahim, K., Kahle, E. M., Christiani, Y., & Suryani, S. (2024). Utilization of social media for the prevention and control of HIV/AIDS: A scoping review. Journal of Multidisciplinary Healthcare, 17, 2443–2458. https://doi.org/10.2147/JMDH.S465905

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2023). Data dan informasi HIV/AIDS Indonesia. Direktorat Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit.

UNFPA & UNAIDS. (2020). Developing effective condom programmes: UNAIDS 2020 reference. UNFPA. https://www.unfpa.org/sites/default/files/pub-pdf/UNFPA_UNAIDS_TechBrief.pdf

UNFPA, WHO, & UNAIDS. (n.d.). Position statement on condoms and the prevention of HIV, other sexually transmitted infections and unintended pregnancy. https://www.unfpa.org/resources/condoms-and-hiv-prevention-position-statement-unaids-unfpa-and-world-health-organization

World Health Organization. (2021). Consolidated guidelines on HIV prevention, testing, treatment, service delivery and monitoring: Recommendations for a public health approach. WHO. https://www.ncbi.nlm.nih.gov/books/NBK572729/

World Health Organization. (2023, July 23). New WHO guidance on HIV viral suppression and scientific updates released at IAS 2023. https://www.who.int/news/item/23-07-2023-new-who-guidance-on-hiv-viral-suppression-and-scientific-updates-released-at-ias-2023

World Health Organization. (2023). Condoms. WHO Global HIV, Hepatitis and STIs Programmes. https://www.who.int/teams/global-hiv-hepatitis-and-stis-programmes/stis/prevention/condoms


Semua data epidemiologi yang dikutip bersumber dari laporan resmi Kementerian Kesehatan RI dan WHO. Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Satu tanggapan

  1. iuef.wordpress.com Avatar
    iuef.wordpress.com

    Hmmm, nice…
    Suatu penolakan dari sisi lain yg belum pernah saya baca

    Suka

Tinggalkan komentar