A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Artikel ini merupakan pembaruan Februari 2026 dari tulisan tahun 2014 tentang Limfoma Hodgkin. Ilmu pengetahuan medis terus berkembang pesat, dan pemahaman kita tentang penyakit ini telah jauh lebih dalam — dari mekanisme molekuler hingga terapi-terapi baru yang revolusioner.


Apa Itu Limfoma Hodgkin?

Hodgkin lymphoma (HL) — yang dalam bahasa Indonesia disebut Limfoma Hodgkin — adalah jenis kanker yang berasal dari sistem limfatik, yaitu jaringan pembuluh dan kelenjar getah bening yang tersebar di seluruh tubuh. Berbeda dengan kebanyakan kanker lain, Limfoma Hodgkin dikenal memiliki karakteristik yang relatif dapat diprediksi dalam pola penyebarannya dan, yang lebih menggembirakan, memiliki angka kesembuhan yang sangat tinggi bahkan pada stadium lanjut.

Penyakit ini pertama kali dideskripsikan oleh Thomas Hodgkin pada tahun 1832 dan hingga kini menjadi salah satu model keberhasilan terbesar dalam onkologi modern — sebuah kanker yang dahulu hampir selalu mematikan, kini dapat disembuhkan pada sebagian besar pasien dengan terapi yang tepat.


Seberapa Umum Penyakit Ini?

Secara global, Limfoma Hodgkin merupakan jenis kanker yang relatif jarang. Data GLOBOCAN 2022 yang dikeluarkan oleh International Agency for Research on Cancer (IARC) mencatat sekitar 83.000 kasus baru di seluruh dunia setiap tahunnya. Penyakit ini memiliki distribusi usia yang unik dengan pola bimodal — puncak pertama terjadi pada kelompok usia muda (15–35 tahun) dan puncak kedua pada orang berusia di atas 55 tahun. Artinya, tidak seperti banyak kanker lain yang lebih sering menyerang usia lanjut, Limfoma Hodgkin justru cukup sering ditemukan pada anak muda dan dewasa produktif (Munir et al., 2023).

Di Indonesia, data dari Rumah Sakit Kanker Dharmais menunjukkan bahwa Limfoma Hodgkin merupakan salah satu dari jenis limfoma yang ditemukan, meski lebih jarang dibandingkan Limfoma Non-Hodgkin. Sebuah studi dari Rumah Sakit Dr. Sardjito Yogyakarta periode 2012–2018 menemukan bahwa Classical Hodgkin Lymphoma subtipe Nodular Sclerosing tercatat sebagai subtipe HL yang paling sering ditemukan, menempati urutan kedua terbanyak di antara seluruh kasus limfoma setelah diffuse large B-cell lymphoma (Anggorowati et al., 2022). Di kawasan Asia Tenggara, termasuk Indonesia, Limfoma Hodgkin secara epidemiologis memiliki karakteristik sedikit berbeda dibanding negara Barat, antara lain proporsi subtipe Mixed Cellularity yang lebih tinggi dan keterkaitannya dengan infeksi Virus Epstein-Barr (EBV).


Bagaimana Penyakit Ini Berkembang?

Untuk memahami Limfoma Hodgkin, kita perlu terlebih dahulu memahami sistem limfatik. Sistem ini terdiri dari jaringan pembuluh limfe yang mengalirkan cairan limfe di seluruh tubuh, serta kelenjar getah bening (lymph node) yang berfungsi sebagai “pos pemeriksaan” imun. Di dalam kelenjar inilah limfosit — sel darah putih yang bertugas melawan infeksi — berkumpul dan bekerja.

Limfoma Hodgkin bermula ketika sebuah limfosit mengalami transformasi ganas. Hampir selalu, sel yang terkena adalah limfosit B (B cell) yang sedang berada dalam tahap pematangan di dalam folikel limfoid, tepatnya di pusat germinativum (germinal center). Akibat akumulasi mutasi genetik — terutama yang melibatkan jalur sinyal NF-κB dan JAK-STAT — sel ini kehilangan kemampuannya untuk menjalani kematian sel terprogram (apoptosis) yang seharusnya terjadi secara alami (Munir et al., 2023).

Sel abnormal yang dihasilkan ini disebut sel Hodgkin dan sel Reed-Sternberg (HRS). Sel Reed-Sternberg adalah ciri khas yang paling dikenal: sel raksasa dengan dua inti besar yang masing-masing mengandung anak inti menonjol, sehingga penampilannya di bawah mikroskop sering digambarkan menyerupai “mata burung hantu” (owl eyes). Menariknya, sel-sel HRS ini hanya merupakan sebagian kecil dari massa tumor — sekitar 1–5% saja. Sebagian besar massa tumor justru terdiri dari sel-sel imun normal seperti limfosit T, makrofag, sel plasma, dan eosinofil yang “terjebak” dalam lingkungan mikro tumor (tumor microenvironment/TME) yang dibentuk oleh sel HRS (Martynchyk et al., 2023).

Pemahaman terbaru menunjukkan bahwa sel HRS sangat cerdik dalam “memanipulasi” lingkungan sekitarnya. Melalui berbagai mekanisme molekuler, sel-sel ini mengeluarkan sinyal yang menarik sel imun normal ke sekitarnya sambil secara bersamaan “mematikan” respons imun tersebut. Salah satu strategi utamanya adalah dengan mengekspresikan protein PD-L1 (Programmed Death-Ligand 1) dalam jumlah tinggi di permukaannya. PD-L1 akan berikatan dengan reseptor PD-1 pada limfosit T, mengirimkan sinyal “jangan serang saya” sehingga sel-sel imun yang seharusnya menghancurkan tumor justru menjadi tidak aktif (Alibrahim et al., 2024). Pemahaman mendalam tentang mekanisme penggelap imun (immune evasion) inilah yang kemudian melahirkan era terapi baru yang revolusioner.


Klasifikasi: Tidak Semua Limfoma Hodgkin Sama

Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) mengklasifikasikan Limfoma Hodgkin ke dalam dua kategori besar:

1. Limfoma Hodgkin Klasik (Classical Hodgkin Lymphoma/cHL)

Ini adalah bentuk yang paling umum, mencakup sekitar 95% dari seluruh kasus. Limfoma Hodgkin Klasik dibagi lagi menjadi empat subtipe berdasarkan gambaran histologis (pemeriksaan jaringan di bawah mikroskop):

Nodular Sclerosis (NS-cHL) adalah subtipe yang paling sering ditemukan di negara maju (60–80% kasus), ditandai dengan adanya pita-pita jaringan ikat fibrosa yang membagi jaringan kelenjar getah bening menjadi nodul-nodul. Subtipe ini lebih sering pada perempuan muda dan sering mengenai kelenjar getah bening mediastinum (dada). Mixed Cellularity (MC-cHL) merupakan subtipe yang lebih banyak ditemukan di Asia dan negara berkembang, lebih sering dikaitkan dengan infeksi EBV. Lymphocyte-Rich (LR-cHL) dan Lymphocyte-Depleted (LD-cHL) merupakan subtipe yang lebih jarang.

2. Limfoma Hodgkin Predominan Limfosit Nodular (Nodular Lymphocyte-Predominant Hodgkin Lymphoma/NLPHL)

Ini adalah bentuk yang jarang (sekitar 5% kasus), dengan perilaku klinis yang berbeda dari cHL — cenderung lebih jinak dan lamban, namun dengan risiko kambuh jangka panjang yang perlu dipantau.


Tanda dan Gejala: Apa yang Perlu Diwaspadai?

Gejala yang paling khas dari Limfoma Hodgkin adalah pembesaran kelenjar getah bening yang tidak nyeri. Berbeda dengan pembesaran kelenjar getah bening akibat infeksi yang biasanya terasa nyeri dan muncul bersamaan dengan demam atau pilek, pembesaran pada Limfoma Hodgkin biasanya tidak disertai rasa sakit dan berlangsung perlahan-lahan selama berminggu-minggu atau berbulan-bulan.

Lokasi yang paling sering terkena adalah leher (sekitar 60–70% kasus), disusul daerah ketiak dan daerah selangkangan. Sekitar sepertiga pasien juga memiliki pembesaran kelenjar di mediastinum (rongga tengah dada) yang mungkin menyebabkan batuk kering persisten atau sesak napas ringan.

Selain itu, terdapat sekelompok gejala sistemik yang dikenal sebagai “Gejala B” (B symptoms), yang kehadirannya memiliki makna klinis penting dalam penentuan stadium dan perencanaan terapi:

Demam yang tidak jelas penyebabnya, biasanya di atas 38°C, yang bisa muncul dan hilang secara berkala. Keringat malam (night sweats) yang hebat, hingga membasahi pakaian atau sprei. Penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, lebih dari 10% berat badan dalam 6 bulan terakhir. Adapun gejala lain yang juga bisa menyertai adalah rasa lelah yang berkepanjangan, gatal-gatal di seluruh tubuh, serta — secara khas pada sebagian kecil pasien — nyeri pada daerah kelenjar getah bening yang diperbesar setelah mengonsumsi alkohol (suatu fenomena yang mekanismenya belum sepenuhnya dipahami).


Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?

Kecurigaan terhadap Limfoma Hodgkin umumnya muncul saat dokter menemukan pembesaran kelenjar getah bening yang persisten, terutama jika disertai dengan gejala B. Namun, diagnosis pasti hanya bisa ditegakkan melalui serangkaian pemeriksaan.

Pemeriksaan darah rutin dan kimia darah memberikan informasi awal tentang kondisi umum pasien, termasuk ada atau tidaknya kelainan sel darah, peningkatan erythrocyte sedimentation rate (LED/laju endap darah), kadar albumin, dan laktat dehidrogenase (LDH). Biopsi kelenjar getah bening adalah pemeriksaan yang tidak bisa dihilangkan. Potongan kelenjar yang membesar akan diperiksa di bawah mikroskop oleh dokter patologi anatomis. Ditemukannya sel Reed-Sternberg klasik adalah bukti definitif diagnosis Limfoma Hodgkin Klasik. Pemeriksaan imunohistokimia juga dilakukan untuk mengonfirmasi profil antigen permukaan sel yang khas, yaitu positif untuk CD30 dan CD15, serta negatif untuk CD20 dan CD45 pada cHL.

Setelah diagnosis patologis ditegakkan, pasien perlu menjalani serangkaian pemeriksaan pencitraan untuk menentukan stadium penyakit. CT Scan toraks, abdomen, dan pelvis adalah standar untuk memetakan semua kelenjar getah bening yang terkena. PET-CT scan (Positron Emission Tomography-CT) telah menjadi baku emas dalam pencitraan Limfoma Hodgkin. Pemeriksaan ini menggabungkan gambaran anatomis CT dengan informasi metabolik dari PET, sehingga mampu mendeteksi area aktif tumor dengan akurasi jauh lebih tinggi. PET-CT tidak hanya digunakan untuk penentuan stadium awal, tetapi juga untuk menilai respons terapi di tengah perjalanan pengobatan — suatu pendekatan yang dikenal sebagai response-adapted therapy (Schroers-Martin & Advani, 2024). Biopsi sumsum tulang mungkin diperlukan pada kasus-kasus tertentu.


Penentuan Stadium: Sistem Ann Arbor

Stadium Limfoma Hodgkin ditentukan menggunakan sistem Ann Arbor yang telah dimodifikasi (Lugano Classification). Sistem ini menggunakan angka Romawi I hingga IV:

Stadium I berarti penyakit hanya mengenai satu kelompok kelenjar getah bening atau satu lokasi. Stadium II berarti dua atau lebih kelompok kelenjar getah bening terlibat, namun masih berada di satu sisi diafragma (baik di atas maupun di bawah). Stadium III berarti kelenjar getah bening yang terlibat berada di kedua sisi diafragma. Stadium IV berarti penyakit telah menyebar ke organ-organ di luar sistem limfatik, seperti hati, paru-paru, sumsum tulang, atau tulang.

Selain angka stadium, ditambahkan huruf A atau B untuk menunjukkan ada (B) atau tidak adanya (A) gejala B. Penambahan huruf E menandakan keterlibatan jaringan ekstra-limfatik yang berdekatan langsung dengan kelenjar yang terkena.


Terapi: Dari Kemoterapi Konvensional hingga Imunoterapi Modern

Kemajuan terbesar dalam tatalaksana Limfoma Hodgkin dalam satu dekade terakhir adalah munculnya agen-agen bertarget yang secara dramatis mengubah lanskap pengobatan, khususnya untuk kasus kambuh atau refrakter.

Terapi Lini Pertama

Untuk Limfoma Hodgkin stadium awal (I–II) tanpa faktor risiko, terapi standar adalah kombinasi kemoterapi ABVD (Adriamycin/doxorubicin, Bleomycin, Vinblastine, Dacarbazine) yang dikombinasikan dengan radioterapi dosis yang telah direduksi sesuai penilaian respons dengan PET-CT. Pendekatan response-adapted ini memungkinkan dokter untuk menyesuaikan intensitas terapi berdasarkan respons awal pasien, sehingga yang merespons baik tidak perlu menerima terapi yang lebih toksik dari yang dibutuhkan.

Untuk stadium lanjut (III–IV), kombinasi kemoterapi yang semakin banyak digunakan adalah BV-AVD, yaitu penambahan brentuximab vedotin (BV) pada regimen AVD (tanpa bleomycin), sebagai pengganti ABVD konvensional. Brentuximab vedotin adalah antibody-drug conjugate yang menggabungkan antibodi anti-CD30 dengan zat sitotoksik; karena sel HRS mengekspresikan CD30 dalam jumlah sangat tinggi, terapi ini secara selektif menghantarkan “racun” langsung ke sel-sel tumor (Munir et al., 2023).

Terapi untuk Kasus Kambuh dan Refrakter

Sekitar 10–15% pasien Limfoma Hodgkin mengalami kambuh atau tidak merespons terapi lini pertama. Inilah kelompok yang paling diuntungkan oleh perkembangan terapi terbaru.

Immune checkpoint inhibitors — khususnya nivolumab (anti-PD-1) dan pembrolizumab (anti-PD-1) — telah menunjukkan efektivitas yang luar biasa pada pasien kambuh/refrakter. Mengingat bahwa amplifikasi gen PD-L1 adalah salah satu ciri khas molekuler Limfoma Hodgkin Klasik, tidak mengherankan jika penghambatan jalur PD-1/PD-L1 menghasilkan angka respons yang sangat tinggi, bahkan melebihi terapi sebelumnya yang tersedia (Alibrahim et al., 2024). Pembrolizumab telah mendapat persetujuan FDA Amerika Serikat untuk pengobatan Limfoma Hodgkin kambuh refrakter pada orang dewasa dan anak-anak.

Transplantasi sel punca autologus (autologous stem cell transplantation/ASCT) tetap menjadi pilihan bagi pasien yang responsif terhadap terapi penyelamatan. Setelah kemoterapi dosis tinggi yang membunuh sel kanker sekaligus sel-sel normal di sumsum tulang, sel punca yang sebelumnya telah diambil dari pasien itu sendiri ditransplantasikan kembali untuk “memulihkan” kemampuan produksi sel darah.

Terapi yang lebih baru dan sedang dalam pengembangan aktif adalah CAR-T cell therapy (Chimeric Antigen Receptor T-cell therapy), di mana limfosit T pasien dimodifikasi secara genetik di laboratorium agar mampu mengenali dan menyerang sel kanker secara lebih efektif. Uji klinis dengan CAR-T sel yang menargetkan CD30 pada Limfoma Hodgkin kambuh/refrakter telah menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan (Meier et al., 2022).


Prognosis: Harapan yang Sangat Nyata

Limfoma Hodgkin adalah salah satu keganasan hematologis dengan prognosis terbaik. Secara keseluruhan, angka harapan hidup 5 tahun (5-year overall survival) untuk seluruh stadium mencapai lebih dari 85–90% dengan tata laksana modern. Bahkan untuk stadium lanjut (III–IV), angka kesintasan 5 tahun melebihi 80% (Munir et al., 2023).

Beberapa faktor yang memengaruhi prognosis antara lain usia saat diagnosis (lebih muda cenderung lebih baik), ada atau tidaknya gejala B, stadium penyakit, dan kadar berbagai penanda laboratorium. Sistem penilaian yang sering digunakan untuk stadium lanjut adalah International Prognostic Score (IPS) yang mempertimbangkan tujuh parameter klinis dan laboratoris.

Yang perlu diperhatikan adalah bahwa keberhasilan terapi yang tinggi ini membawa konsekuensi lain: late effects atau efek samping jangka panjang dari terapi. Pasien yang telah sembuh perlu dipantau dalam jangka panjang karena risiko kanker sekunder (terutama kanker payudara dan paru bagi yang mendapat radioterapi dada), penyakit kardiovaskular akibat paparan kemoterapi atau radioterapi jantung, dan gangguan endokrin. Ini menjadi alasan mengapa pendekatan response-adapted dan minimalisasi toksin menjadi prioritas utama dalam tata laksana modern.


Konteks Indonesia: Tantangan yang Masih Ada

Di Indonesia, diagnosis Limfoma Hodgkin masih menghadapi beberapa tantangan. Keterlambatan diagnosis cukup umum terjadi karena pembesaran kelenjar getah bening sering kali tidak segera diperiksakan atau dikira infeksi biasa. Aksesibilitas terhadap PET-CT scan yang merupakan baku emas pencitraan masih terbatas pada beberapa kota besar. Demikian pula dengan imunoterapi modern seperti checkpoint inhibitors yang belum merata ketersediaan dan keterjangkauannya.

Meskipun demikian, kemoterapi konvensional seperti ABVD tetap tersedia di banyak pusat kanker rujukan provinsi, dan hasilnya pun sudah sangat baik bila diagnosis ditegakkan tepat waktu. Peningkatan kesadaran masyarakat tentang gejala-gejala limfoma, serta penguatan kemampuan diagnostik patologi anatomis di berbagai rumah sakit, menjadi kunci untuk memperbaiki luaran pasien di Indonesia.


Penutup

Limfoma Hodgkin adalah pengingat yang kuat bahwa kanker tidak selalu berarti keputusasaan. Dengan pemahaman yang semakin mendalam tentang biologi molekulernya — dari peran sel Reed-Sternberg hingga mekanisme penggelap imun via PD-L1/PD-1 — serta dengan berkembangnya terapi-terapi baru yang lebih terarah dan efektif, sebagian besar pasien Limfoma Hodgkin kini memiliki harapan hidup yang sangat nyata.

Jika Anda atau anggota keluarga menemukan pembesaran kelenjar getah bening yang tidak kunjung mengecil, disertai demam berkepanjangan, keringat malam, atau penurunan berat badan tanpa sebab yang jelas, jangan tunda untuk memeriksakan diri ke dokter. Diagnosis dini adalah kunci terbaik menuju kesembuhan.


Referensi

Alibrahim, M. N., Gloghini, A., & Carbone, A. (2024). Pathobiological features and therapeutic opportunities linked to TNF family member expression in classic Hodgkin lymphoma. Cancers, 16(23), 4070. https://doi.org/10.3390/cancers16234070

Anggorowati, N., Dhyanti, A., Arkananda, H., Rizki, S. H., Setiawan, S. A., Bagaskoro, M. R., & Hardianti, M. S. (2022). Sociodemographic and clinicopathological features of lymphoma patients in Indonesia: A report from Special Region of Yogyakarta Province. Asian Pacific Journal of Environment and Cancer, 4(1), 33–38. https://waocp.com/journal/index.php/apjec/article/view/770

Harahap, A. S., Ham, M. F., Kurniawan, A., Charles, S., Wijovi, F., & Sukrisman, L. (2024). Fifteen years of non-Hodgkin lymphoma in an Indonesian national referral hospital: Epidemiologic trends and diagnostic challenges. JCO Global Oncology, 10, e2400346. https://doi.org/10.1200/GO-24-00346

International Agency for Research on Cancer. (2024). Global Cancer Observatory: Cancer Today – Indonesia Fact Sheet 2022. IARC. https://gco.iarc.who.int/today

Kurlapski, M., Braczko, A., Dubiela, P., Walczak, I., Kutryb-Zając, B., & Zaucha, J. M. (2025). Metabolic interactions in the tumor microenvironment of classical Hodgkin lymphoma: Implications for targeted therapy. International Journal of Molecular Sciences, 26(15), 7508. https://doi.org/10.3390/ijms26157508

Martynchyk, A., Chowdhury, R., Hawkes, E. A., & Keane, C. (2023). Prognostic markers within the tumour microenvironment in classical Hodgkin lymphoma. Cancers, 15(21), 5217. https://doi.org/10.3390/cancers15215217

Meier, J. A., Savoldo, B., & Grover, N. S. (2022). The emerging role of CAR T cell therapy in relapsed/refractory Hodgkin lymphoma. Journal of Personalized Medicine, 12(2), 197. https://doi.org/10.3390/jpm12020197

Müller-Meinhard, B., Seifert, N., Grund, J., Reinke, S., Yalcin, F., Kaul, H., Borchmann, S., von Tresckow, B., Borchmann, P., Plütschow, A., Richter, J., Engert, A., Altenbuchinger, M., Bróckelmann, P. J., & Klapper, W. (2024). Human leukocyte antigen (HLA) class I expression on Hodgkin-Reed-Sternberg cells is an EBV-independent major determinant of microenvironment composition in classic Hodgkin lymphoma. HemaSphere, 8(6), e84. https://doi.org/10.1002/hem3.84

Munir, F., Hardit, V., Sheikh, I. N., AlQahtani, S., He, J., Cuglievan, B., Hosing, C., Tewari, P., & Khazal, S. (2023). Classical Hodgkin lymphoma: From past to future — A comprehensive review of pathophysiology and therapeutic advances. International Journal of Molecular Sciences, 24(12), 10095. https://doi.org/10.3390/ijms241210095

Schroers-Martin, J. G., & Advani, R. H. (2024). The role of response adapted therapy in the era of novel agents. Seminars in Hematology, 61(4), 229–235. https://doi.org/10.1053/j.seminhematol.2024.06.002

Xavier, A. C., Hochberg, J., & Cairo, M. S. (2024). Targeted immunotherapy in the treatment of childhood and adolescent classic Hodgkin lymphoma. Clinical Advances in Hematology & Oncology, 22(10), 520–530. (PMID: 39820376)


Artikel ini disusun untuk tujuan edukasi kesehatan umum. Informasi di sini bukan pengganti konsultasi medis profesional. Jika Anda memiliki kekhawatiran tentang kesehatan Anda, segera konsultasikan dengan dokter.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar