A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Sepuluh tahun lalu, artikel pendek ini pernah mengangkat pertanyaan yang terasa provokatif: apakah membiarkan anak menjadi obesitas termasuk kelalaian orang tua? Pertanyaan itu kini mendapat jawaban yang jauh lebih kaya dari ilmu pengetahuan—dan jawabannya jauh lebih rumit dari sekadar menyalahkan siapa pun.


Obesitas Anak: Angka yang Mengkhawatirkan

Obesitas pada anak bukan lagi masalah negara-negara kaya saja. Indonesia kini menghadapi apa yang disebut double burden of malnutrition—di satu sisi masih berjuang dengan stunting dan kekurangan gizi, di sisi lain angka obesitas anak terus merangkak naik dengan cepat.

Data Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) 2022 mencatat angka yang mengejutkan: 10,8% anak usia 5–12 tahun tergolong gemuk (overweight) dan 9,2% mengalami obesitas—artinya, satu dari lima anak usia sekolah dasar memiliki berat badan berlebih. Pada kelompok usia 13–15 tahun, gabungan angka overweight dan obesitas mencapai 16%, sementara pada usia 16–18 tahun tercatat 13,5% (Kemenkopmk, 2023). Secara historis, prevalensi obesitas pada anak usia 5–19 tahun di Indonesia meningkat sepuluh kali lipat dalam empat dekade terakhir, antara tahun 1975 hingga 2016.

Angka ini bukan sekadar statistik. Ini adalah sinyal bahwa generasi yang sedang bertumbuh menghadapi ancaman kesehatan yang serius di masa depan.


Obesitas: Bukan Sekadar Soal Kalori

Pemahaman tentang obesitas telah bergeser drastis dalam dua dekade terakhir. Pandangan lama yang menyederhanakan obesitas sebagai akibat dari “makan terlalu banyak dan malas bergerak” kini dipandang tidak memadai dan bahkan berbahaya karena memupuk stigma.

Berdasarkan artikel tinjauan yang diterbitkan dalam Current Issues in Molecular Biology (Młynarska et al., 2025), obesitas adalah penyakit multifaktorial kronis yang melibatkan interaksi kompleks antara faktor genetik, epigenetik, lingkungan, perilaku, dan hormonal. Faktor-faktor yang berkontribusi mencakup predisposisi genetik, disbiosis microbiome usus, paparan bahan kimia pengganggu endokrin (endocrine-disrupting agents), ketidakselarasan ritme sirkadian, serta pengaruh prenatal dari kondisi ibu selama kehamilan. Pada anak secara khusus, pola pemberian makan sejak bayi—termasuk durasi menyusui, waktu introduksi makanan pendamping ASI, hingga jenis susu formula yang diberikan—berperan dalam membentuk jalur metabolik yang dapat meningkatkan risiko obesitas.

Panduan klinis terbaru dari American Academy of Pediatrics (AAP) tahun 2023 secara tegas menyatakan bahwa obesitas adalah penyakit kronis yang kompleks dengan kontributor genetik, fisiologis, sosial-ekonomi, dan lingkungan—bukan sekadar konsekuensi dari pilihan pribadi yang bisa dengan mudah dibalik (Hampl et al., 2023). Pergeseran pemahaman ini fundamental: obesitas adalah kondisi medis yang memerlukan pendekatan komprehensif, bukan sekadar persoalan disiplin dan kemauan keras.


Dampak Kesehatan yang Tidak Bisa Diabaikan

Mengapa obesitas pada anak menjadi perhatian serius para dokter? Karena dampaknya terhadap kesehatan bersifat luas, berjangka panjang, dan saling berkaitan.

Sebuah position paper dari Italian Society for Pediatric Endocrinology and Diabetology (Valerio et al., 2024) merangkum bukti ilmiah yang menunjukkan bahwa obesitas pada masa anak-anak merupakan faktor risiko terbesar untuk penyakit kardiovaskular dan metabolik di kemudian hari. Onset obesitas yang lebih awal berkorelasi dengan durasi paparan yang lebih panjang terhadap faktor risiko kardiometabolik, yang pada akhirnya dapat mempercepat kejadian kardiovaskular fatal maupun non-fatal bahkan sejak usia 40 tahun.

Kondisi-kondisi yang kerap ditemukan pada anak dengan obesitas meliputi hipertensi (tekanan darah tinggi), dislipidemia (gangguan kadar lemak darah), prediabetes dan diabetes melitus tipe 2, metabolic dysfunction-associated steatotic liver disease atau MASLD (dahulu dikenal sebagai perlemakan hati non-alkohol), obstructive sleep apnea (henti napas saat tidur), dan pada anak perempuan yang lebih tua: polycystic ovary syndrome atau PCOS (sindrom ovarium polikistik). Bahkan, ada bukti struktural berupa left ventricular hypertrophy (pembesaran bilik kiri jantung) dan tanda-tanda awal aterosklerosis (pengerasan dan penebalan pembuluh darah) yang dapat terdeteksi pada anak dengan obesitas berat.

Dampak psikososial pun tak kalah seriusnya. Anak dengan obesitas rentan mengalami bullying dan stigma dari teman sebayanya, yang berdampak pada harga diri yang rendah, kecemasan, depresi, dan penurunan kualitas hidup. Penelitian menarik juga menunjukkan hubungan sebaliknya: pengalaman traumatik pada masa kanak-kanak—termasuk kekerasan fisik, seksual, maupun penelantaran—justru meningkatkan risiko obesitas di kemudian hari. Ini berarti ada hubungan dua arah yang kompleks antara pengalaman buruk di masa kecil dan obesitas.


Pertanyaan Etis yang Tak Mudah Dijawab

Artikel tahun 2014 ini pernah menyebutkan sebuah kasus di luar negeri di mana anak dipisahkan dari orang tua karena obesitas berat. Ini menyentuh wilayah etis yang penuh nuansa.

Varness et al. (2009) dalam Pediatrics, sebuah jurnal milik AAP, menyatakan bahwa pemisahan anak dari keluarga hanya dapat dibenarkan jika tiga syarat terpenuhi secara bersamaan: (1) ada kemungkinan besar bahwa cedera serius yang segera akan terjadi, (2) ada kemungkinan yang masuk akal bahwa intervensi paksa akan menghasilkan pengobatan yang efektif, dan (3) tidak ada alternatif lain yang tersedia. Artinya, bukan setiap kasus obesitas anak serta-merta menjadi kasus perlindungan anak.

Di sisi lain, sebuah ulasan dari BMJ menyimpulkan bahwa obesitas pada anak saja tidak cukup sebagai dasar tindakan perlindungan anak, karena etiologi obesitas yang begitu kompleks menjadikannya tidak tepat untuk mengaitkan penyebab obesitas secara langsung dengan kelalaian orang tua. Namun, kegagalan yang konsisten dan berulang untuk mengubah gaya hidup serta menolak keterlibatan dengan tenaga kesehatan—terutama pada anak kecil—memang dapat dipertimbangkan sebagai bentuk penelantaran (neglect) (Viner et al., 2010, dikutip dari ScienceDaily).

Ini adalah garis pembatas yang penting: bukan soal apakah anak gemuk atau tidak, melainkan apakah orang tua secara aktif berusaha menanganinya atau tidak.


Peran Orang Tua: Nyata, Tapi Tidak Berdiri Sendiri

Tidak dapat dipungkiri bahwa orang tua memegang peran sentral dalam membentuk kebiasaan makan dan aktivitas fisik anak. Penelitian Mattoo & Shubayr (2020) di populasi Arab menunjukkan bahwa gaya pengasuhan yang lalai dalam hal pemberian makan dan aktivitas sosial berkorelasi signifikan dengan peningkatan risiko obesitas pada anak hingga dewasa. Faktor-faktor seperti usia ibu, pemberian ASI eksklusif, waktu perkenalan makanan formula, dan tingkat aktivitas fisik orang tua sendiri semuanya memengaruhi lintasan berat badan anak.

Namun, menyederhanakan masalah dengan hanya menyalahkan orang tua adalah sebuah kekeliruan. Ketersediaan dan keterjangkauan makanan sehat, lingkungan yang aman untuk beraktivitas fisik, paparan iklan makanan tidak sehat, beban kerja orang tua, dan tingkat pendidikan serta literasi kesehatan semuanya membentuk “lingkungan obesogenik“—sebuah istilah untuk menggambarkan kondisi lingkungan yang secara sistemis mendorong terjadinya obesitas.

Di Indonesia, tekanan budaya juga bermain peran. Bayi yang gemuk sering kali dipandang sebagai tanda kesehatan dan kelimpahan, sehingga orang tua—bahkan kakek-nenek—acap kali justru mendorong pemberian makan berlebihan. Pandangan “anak gemuk = anak sehat” adalah salah satu mitos yang perlu terus-menerus diluruskan melalui edukasi kesehatan.


Antara Menyalahkan dan Mendukung

Salah satu kesalahan terbesar dalam menangani obesitas anak adalah pendekatan yang berbasis rasa malu dan penghakiman (blame and shame). Ketika seorang anak diejek karena berat badannya—bahkan oleh orang-orang yang berniat baik sekalipun—dampaknya bisa merugikan: harga diri anak terluka, kecemasan meningkat, dan ironisnya, stigma berat badan itu sendiri adalah faktor yang memperburuk obesitas. Penelitian menunjukkan bahwa stres psikologis, termasuk yang bersumber dari weight stigma (stigma berat badan), dapat memicu perilaku makan emosional dan mempersulit pengelolaan berat badan (Mazzeo et al., 2024).

Panduan AAP 2023 menegaskan bahwa bias berat badan (weight bias) dan stigma bersifat meresap dan berbahaya. Pendekatan yang tepat bukan mempermalukan, melainkan mendukung keluarga dengan terapi perilaku, bimbingan nutrisi, dan jika diperlukan, intervensi farmakologis atau bedah pada kasus-kasus berat.


Apa yang Bisa Dilakukan?

Sebuah tinjauan sistematis Cochrane terbaru (Franco et al., 2025) yang menganalisis 33 uji klinis acak (randomized controlled trials) dengan hampir 6.000 peserta usia 10–19 tahun menyimpulkan bahwa intervensi perilaku kesehatan multimodal—yang menggabungkan modifikasi diet, aktivitas fisik, dan perubahan perilaku—dapat menghasilkan sedikit perbaikan pada kualitas hidup dan BMI z-score (skor indeks massa tubuh relatif terhadap usia dan jenis kelamin). Pendekatan berbasis keluarga, yang melibatkan orang tua secara aktif dalam sesi individu maupun kelompok, terbukti lebih efektif daripada program yang hanya berfokus pada individu.

Beberapa prinsip yang relevan untuk konteks Indonesia:

Pencegahan lebih efektif dari pengobatan. Intervensi sedini mungkin—bahkan sejak periode prenatal dan 1.000 hari pertama kehidupan—jauh lebih efektif daripada menangani obesitas yang sudah terbentuk. Memberikan ASI eksklusif selama enam bulan penuh, menunda introduksi makanan pendamping ASI sesuai usia, dan membiasakan anak pada aneka ragam makanan bergizi sejak dini adalah investasi jangka panjang.

Orang tua memerlukan edukasi, bukan penghakiman. Program edukasi gizi dan pola hidup sehat yang menyentuh orang tua—terutama ibu—terbukti mempengaruhi perilaku pemberian makan anak. Dukungan dari tenaga kesehatan di Posyandu, Puskesmas, dan praktik dokter anak menjadi titik kontak yang strategis.

Lingkungan harus mendukung. Kebijakan publik yang mendorong pelabelan kandungan gizi pada produk makanan, pembatasan iklan makanan tidak sehat yang menyasar anak, ketersediaan fasilitas olahraga, dan program aktivitas fisik di sekolah merupakan komponen yang tidak kalah penting.

Pendekatan tanpa stigma. Baik tenaga kesehatan, guru, maupun orang tua perlu dilatih untuk berkomunikasi tentang berat badan tanpa mempermalukan anak. Terminologi yang netral secara medis dan sikap yang suportif dapat membuka pintu perubahan perilaku yang lebih efektif.


Penutup: Tanggung Jawab yang Dibagi, Bukan Dilempar

Kembali ke pertanyaan awal: apakah membiarkan anak mengalami obesitas adalah bentuk kelalaian terhadap anak? Jawabannya bergantung pada konteks. Bukan pada apakah anaknya gemuk, melainkan pada apakah orang tua—dan masyarakat serta sistem kesehatan di sekelilingnya—menyadari masalah ini dan berupaya mengatasinya secara aktif.

Ilmu pengetahuan modern mengajarkan kepada kita bahwa obesitas pada anak adalah persoalan yang terlalu kompleks untuk dibebankan pada satu pihak saja. Ia adalah hasil dari interaksi antara gen yang diwarisi, lingkungan tempat anak tumbuh, kebiasaan yang dibentuk sejak dini, dan tekanan sosial yang melingkupinya. Menanganinya membutuhkan kolaborasi nyata: keluarga yang peduli dan terinformasi, sistem kesehatan yang suportif dan mudah diakses, kebijakan publik yang mendukung pilihan sehat, serta masyarakat yang bebas dari stigma.

Yang jelas, diam dan tidak berbuat apa-apa bukanlah pilihan. Tidak untuk orang tua, tidak untuk tenaga kesehatan, dan tidak untuk kita semua sebagai masyarakat.


Daftar Referensi

Franco, J. V., Guo, Y., Bongaerts, B., Metzendorf, M. I., Hindemit, J., Aqra, Z., Alhalahla, M., Tapinova, K., Villegas Arbelaez, E., Alade, O. T., Medina Rodriguez, M., Rees, K., Al-Khudairy, L., Torbahn, G., & Ells, L. J. (2025). Multimodal health behaviour-changing interventions for adolescents living with obesity. Cochrane Database of Systematic Reviews, 12(12), CD016062. https://doi.org/10.1002/14651858.CD016062

Hampl, S. E., Hassink, S. G., Skinner, A. C., Armstrong, S. C., Barlow, S. E., Bolling, C. F., Avila Edwards, K. C., Eneli, I., Hamre, R., Joseph, M. M., Lunsford, D., Mendonca, E., Michalsky, M. P., Mirza, N., Ochoa, E. R., Sharifi, M., Staiano, A. E., Weedn, A. E., Flinn, S. K., Lindros, J., & Okechukwu, K. (2023). Clinical practice guideline for the evaluation and treatment of children and adolescents with obesity. Pediatrics, 151(2), e2022060640. https://doi.org/10.1542/peds.2022-060640

Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan. (2023). Pemerintah terus berupaya menurunkan angka obesitas pada anak. Kemenkopmk RI. https://www.kemenkopmk.go.id/pemerintah-terus-berupaya-menurunkan-angka-obesitas-pada-anak

Mattoo, K. A., & Shubayr, M. (2020). Association between parental negligence in feeding and social activity of obese adults among Jazan population. Nigerian Journal of Clinical Practice, 23(10), 1356–1367. https://doi.org/10.4103/njcp.njcp_553_19

Mazzeo, S. E., Weinstock, M., Vashro, T. N., Henning, T., & Derrigo, K. (2024). Mitigating harms of social media for adolescent body image and eating disorders: A review. Psychology Research and Behavior Management, 17, 2587–2601. https://doi.org/10.2147/PRBM.S410600

Młynarska, E., Bojdo, K., Bulicz, A., Frankenstein, H., Gąsior, M., Kustosik, N., Rysz, J., & Franczyk, B. (2025). Obesity as a multifactorial chronic disease: Molecular mechanisms, systemic impact, and emerging digital interventions. Current Issues in Molecular Biology, 47(10). https://doi.org/10.3390/cimb47100787

UNICEF Indonesia. (2024). Analisis lanskap kelebihan berat badan dan obesitas di Indonesia: Ringkasan temuan kunci. United Nations Children’s Fund. https://www.unicef.org/indonesia/media/22496/file/Analisis%20Lanskap%20Kelebihan%20Berat%20Badan%20dan%20Obesitas%20di%20Indonesia:%20Ringkasan%20Temuan%20Kunci.pdf

Valerio, G., Di Bonito, P., Calcaterra, V., Cherubini, V., Corica, D., De Sanctis, L., Di Sessa, A., Faienza, M. F., Fornari, E., Iughetti, L., Licenziati, M. R., Manco, M., Del Giudice, E. M., Morandi, A., Salerno, M., Street, M. E., Umano, G. R., Wasniewska, M., & Maffeis, C. (2024). Cardiometabolic risk in children and adolescents with obesity: A position paper of the Italian Society for Pediatric Endocrinology and Diabetology. Italian Journal of Pediatrics, 50(1), 205. https://doi.org/10.1186/s13052-024-01767-x

Varness, T., Allen, D. B., Carrel, A. L., & Fost, N. (2009). Childhood obesity and medical neglect. Pediatrics, 123(1), 399–406. https://doi.org/10.1542/peds.2008-0712


Artikel ini adalah pembaruan Februari 2026 dari tulisan yang diterbitkan pertama kali pada 22 Maret 2014. Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Untuk pertanyaan mengenai kondisi kesehatan anak, konsultasikan dengan dokter anak atau dokter keluarga Anda.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

4 tanggapan

  1. gadgetboi Avatar

    anak obesitas itu tanda orang tua kurang peduli terhadap asupan anak mereka. saya melihat sendiri kok orang tua membiarkan anaknya makan junkfood karena beralasan anak tersebut tidak mau makan (lahap) kalau bukan makanan cepat saji tersebut.

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Apa mungkin junkfood perlu dikategorikan zat adiktif berbahaya ya :D.

      Mendidik anak susah Mas, makanya edukasi orang tua adalah hal hang vital. Tapi di negeri ini, siapa yang mau mengurus hal seperti itu.

      Suka

  2. Zizy Damanik Avatar
    Zizy Damanik

    Kayak teman sekolah Vay. Ada yang montok banget, saat dibilang gendut, dia marah… ibunya juga marah. Padahal, ibunya yang buat anaknya gendut… Anak-anak gendut memang menggemaskan, tapi kalau sampai obesitas, sudah tidak menggemaskan lagi..

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Mungkin karena banyak dari kita tanpa sadar berada dalam kondisi penyangkalan (denial) akan kekurangan kita. Dan saya rasa itu wajar-wajar saja.

      Tapi alangkah bagusnya jika memang bisa membuka diri terhadap masukan ataupun opini.

      Kata-kata “gemuk” atau “gendut” menjadi stigma yang buruk bagi anak-anak. Dan sering kali dianggap sebagai sebuah kekerasan (abuse/bully) verbal. Karena itu saya bagi saya, agak sulit mendekati anak-anak yang menderita obesitas, apalagi jika pendekatan kita justru membuatnya menjadi tertekan secara psikis.

      Sehingga jika masih bisa dicegah, maka cegahlah obesitas pada anak-anak.

      Suka

Tinggalkan komentar