A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Campak — disebut pula rubeola, morbilli, atau measles dalam literatur berbahasa Inggris — bukan sekadar penyakit masa lalu yang tersimpan di halaman buku teks kedokteran. Pada Agustus 2025, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI) mencatat 46 wilayah di 42 kabupaten/kota dari 14 provinsi sedang mengalami Kejadian Luar Biasa (KLB) campak. Indonesia bahkan tercatat sebagai negara dengan jumlah KLB campak terbanyak kedua di dunia berdasarkan data pemantauan global CDC Amerika Serikat per Februari 2026. Fakta ini seharusnya menggugah kita semua.

Artikel yang saya tulis pada 2014 lalu sudah waktunya diperbarui — tidak hanya karena data berubah, tetapi karena ancaman yang kita hadapi saat ini jauh lebih nyata dan kompleks.


Apa Itu Campak, Sebenarnya?

Campak disebabkan oleh measles virus, anggota genus Morbillivirus dari famili Paramyxoviridae. Virus ini menginfeksi manusia melalui jalur pernapasan, yakni droplet atau partikel udara dari penderita yang batuk atau bersin. Daya tularnya luar biasa: virus campak dapat bertahan aktif di udara atau permukaan benda hingga dua jam setelah penderita meninggalkan ruangan. Tingkat basic reproduction number (R₀) campak — yang menggambarkan berapa banyak orang yang dapat ditulari oleh satu penderita — berkisar antara 12 hingga 18, menjadikannya salah satu virus paling menular yang pernah dikenal dalam sejarah (WHO, 2025).

Artinya, jika tidak ada kekebalan komunitas (herd immunity) yang memadai, satu orang dengan campak bisa menulari belasan orang rentan di sekitarnya. Untuk mencapai kekebalan komunitas yang cukup, diperlukan cakupan vaksinasi minimal 95% dengan dua dosis pada seluruh populasi.


Perjalanan Penyakit: Dari Gejala Awal Hingga Ruam yang Khas

Setelah terpapar virus, masa inkubasi campak berlangsung sekitar 10 hingga 14 hari sebelum gejala pertama muncul. Penyakit ini kemudian berkembang melalui beberapa fase yang khas.

Fase prodromal berlangsung selama 2 hingga 4 hari, ditandai dengan demam tinggi yang dapat mencapai 40°C, pilek (coryza), batuk, dan konjungtivitis (mata merah dan berair). Pada tahap ini muncul tanda patognomonik (tanda khas) campak yang disebut Koplik’s spots — bintik-bintik keputihan kecil seperti butiran pasir yang tampak di mukosa pipi bagian dalam, tepat di hadapan gigi geraham. Tanda ini, meski hanya bertahan 1 hingga 2 hari, sangat membantu diagnosis klinis dan merupakan penanda bahwa penderita sudah sangat menular.

Fase erupsi dimulai sekitar hari ke-3 hingga ke-5 sakit, ketika ruam makulopapular (bercak kemerahan yang sedikit menonjol) muncul pertama kali di belakang telinga dan wajah, lalu menyebar ke bawah ke leher, badan, tangan, dan kaki dalam 2 hingga 3 hari. Paradoksnya, fase erupsi ini biasanya justru diikuti perbaikan kondisi — namun tetap berbahaya karena penderita masih menular hingga 4 hari setelah ruam muncul. Secara keseluruhan, penderita campak sudah menular sejak 4 hari sebelum ruam muncul hingga 4 hari setelahnya (Xue & Ren, 2025).


Komplikasi: Lebih dari Sekadar Ruam

Salah satu kesalahpahaman paling berbahaya tentang campak adalah menganggapnya penyakit ringan yang pasti sembuh sendiri. Memang benar campak tergolong self-limited disease, tetapi komplikasinya bisa fatal — terutama pada anak berusia di bawah 5 tahun, individu dengan gizi buruk, defisiensi vitamin A, dan mereka yang mengalami gangguan imunitas.

Komplikasi yang paling umum meliputi pneumonia (infeksi paru-paru), diare berat dengan risiko dehidrasi, dan otitis media (infeksi telinga tengah) yang dapat menyebabkan gangguan pendengaran permanen. Komplikasi neurologis yang paling ditakuti adalah ensefalitis akut — peradangan otak — yang terjadi pada sekitar 1 dari 1.000 kasus dan berpotensi menyebabkan kerusakan otak permanen atau kematian.

Yang kurang dikenal publik adalah komplikasi neurologis jangka panjang bernama Subacute Sclerosing Panencephalitis (SSPE) — suatu penyakit degeneratif otak yang muncul 7 hingga 10 tahun setelah infeksi campak, terutama jika terjadi pada anak berusia di bawah 2 tahun. SSPE bersifat progresif dan hampir selalu fatal (Gyseghem et al., 2025; Jain et al., 2025). Selain itu, kasus campak yang dialami ibu hamil dapat menyebabkan keguguran, kelahiran prematur, atau bayi lahir dengan berat badan rendah.

Satu konsep yang semakin diakui dalam dekade terakhir adalah fenomena immune amnesia — “amnesia imun”. Infeksi campak tidak hanya menyebabkan imunosupresi sementara selama beberapa minggu, tetapi juga merusak sel-sel memori imunologis yang sebelumnya terbentuk dari infeksi atau vaksinasi lain. Penelitian di Brasil menunjukkan bahwa infeksi campak meningkatkan kematian anak akibat penyakit infeksi lain secara signifikan, sebagian besar akibat imunosupresi akut ini (Xia et al., 2022). Artinya, terkena campak tidak hanya membuat anak sakit campak — tetapi juga membuat mereka lebih rentan terhadap berbagai penyakit infeksi lain dalam jangka waktu berbulan-bulan sesudahnya.

Komplikasi jangka panjang berupa bronkiektasis — kerusakan struktural saluran napas yang bersifat permanen — juga dapat terjadi sebagai sekuele (sequelae) pneumonia campak yang berat. Sebuah laporan kasus terbaru dari Portugal mendokumentasikan seorang perempuan berusia 65 tahun yang kini bergantung pada oksigen jangka panjang dan ventilasi non-invasif akibat bronkiektasis kistik bilateral yang berasal dari pneumonia campak berat di masa kecilnya (Magno Pinto et al., 2025).


Situasi Global: Kemenangan yang Terancam

Sebelum vaksin campak ditemukan pada 1963, virus ini merenggut sekitar 2,6 juta jiwa setiap tahunnya di seluruh dunia. Upaya vaksinasi selama lebih dari enam dekade berhasil menurunkan angka kematian akibat campak sebesar 88% antara tahun 2000 dan 2024 — menyelamatkan diperkirakan 59 juta nyawa (WHO, 2025).

Namun, kemenangan itu kini terancam serius. Pada 2023, WHO dan CDC mencatat sekitar 10,3 juta kasus campak di seluruh dunia — meningkat 20% dibandingkan 2022 — dengan estimasi 107.500 kematian, mayoritas pada anak di bawah usia 5 tahun. Pada 2024, jumlah kasus diperkirakan mencapai 11 juta dengan 95.000 kematian; sebanyak 59 negara melaporkan KLB besar atau mengganggu — hampir tiga kali lipat dibandingkan 2021 (WHO, 2025). Kawasan Asia Tenggara mengalami peningkatan kasus sebesar 42% pada 2024 dibandingkan periode pra-pandemi 2019.

Kelompok peneliti yang mengkaji dinamika wabah di Italia dan Amerika Serikat menemukan bahwa mayoritas kasus terjadi di kluster individu yang tidak divaksinasi, dengan genotipe D8 yang mendominasi sirkulasi global saat ini (Branda et al., 2025). Meta-analisis terbaru juga menunjukkan bahwa kadar antibodi pelindung (seropositivity) pada individu yang telah divaksinasi menurun sekitar 0,48% setiap tahun, dan setelah lebih dari 23 tahun hanya sekitar 82% individu yang masih terlindungi — menegaskan pentingnya dosis kedua vaksin (Mustafa et al., 2025).

Faktor pendorong kebangkitan campak global adalah: penurunan cakupan vaksinasi akibat pandemi COVID-19, berkembangnya gerakan anti-vaksin yang berbasis misinformasi, serta ketimpangan akses terhadap layanan kesehatan. Studi Global Burden of Disease 2023 yang diterbitkan dalam jurnal The Lancet memperkirakan bahwa Indonesia masuk dalam delapan negara dengan jumlah anak zero-dose (tidak pernah mendapat satu pun vaksin dasar) terbanyak di dunia, bersama Nigeria, India, dan Republik Demokratik Kongo (GBD Vaccine Coverage Collaborators, 2025).


Indonesia: Peringkat Kedua KLB Campak Dunia

Situasi Indonesia tidak bisa dipandang ringan. Kemenkes RI mencatat lebih dari 4.800 kasus campak terkonfirmasi pada 2022, melonjak menjadi lebih dari 10.600 kasus pada 2023, lalu turun menjadi lebih dari 3.500 kasus pada 2024, dan kembali meningkat pada 2025 dengan lebih dari 3.400 kasus hanya hingga bulan Agustus (Kemenkes RI, 2025). Dari sisi KLB, tercatat 64 KLB pada 2022, 95 KLB pada 2023, 53 KLB pada 2024, dan 46 KLB hingga Agustus 2025.

Penyebab utama kondisi ini adalah penurunan cakupan imunisasi rutin. Cakupan imunisasi MR dosis pertama (MR1) yang pernah mencapai 102,2% pada 2022 — termasuk vaksinasi kejar — turun menjadi 95,4% pada 2023, 92% pada 2024, dan hanya 45,1% per Agustus 2025. Cakupan MR dosis kedua (MR2) pada 2024 hanya mencapai 82,3%, masih jauh dari ambang batas 95% yang diperlukan untuk membentuk kekebalan komunitas (Kemenkes RI, 2025).

Penelitian tentang wabah campak di Kecamatan Brondong, Kabupaten Lamongan, Jawa Timur pada 2023 mengidentifikasi dua faktor risiko utama: status gizi buruk (OR 3,73) dan ketidaklengkapan vaksinasi — mendapat satu dosis atau tidak sama sekali (OR 7,0). Penurunan cakupan imunisasi dosis kedua MR dipicu oleh dampak pandemi COVID-19, kesalahpahaman terkait keyakinan agama, dan loss to follow-up akibat interval panjang antara dosis pertama dan kedua (Ua et al., 2025).

Faktor keagamaan dan kekhawatiran terhadap keamanan vaksin terbukti menjadi hambatan signifikan di beberapa wilayah Indonesia. Studi di Aceh — provinsi dengan cakupan vaksinasi MR1 terendah di Indonesia (54%) — menemukan bahwa kekhawatiran religius berkontribusi pada 36% kasus tidak vaksinasi (population-attributable fraction), sementara kekhawatiran terhadap efek samping vaksin berkontribusi 35% (Murphy et al., 2025). Kondisi ini menunjukkan bahwa pendekatan teknis saja tidak cukup — diperlukan komunikasi risiko yang melibatkan tokoh agama dan komunitas.


Diagnosis: Klinis dan Laboratoris

Diagnosis campak di fasilitas kesehatan primer pada umumnya dapat ditegakkan secara klinis berdasarkan gambaran yang khas: demam tinggi diikuti trias gejala (three C’s) — cough (batuk), coryza (pilek), dan conjunctivitis (mata merah) — yang kemudian diikuti ruam makulopapular yang menyebar dari wajah ke bawah, disertai adanya Koplik’s spots.

Untuk konfirmasi laboratoris, deteksi antibodi IgM spesifik campak dari sampel serum adalah metode paling umum yang tersedia. Metode yang lebih canggih seperti real-time reverse transcriptase polymerase chain reaction (rRT-PCR) dari sampel usap nasofaring atau urin kini menjadi standar emas untuk konfirmasi dan genotipe virus — penting untuk kepentingan surveilans epidemiologi dan pemetaan rantai penularan (Xue & Ren, 2025). Petugas kesehatan dianjurkan untuk mengambil dan mengirimkan spesimen ke laboratorium rujukan campak nasional, karena data ini krusial bagi pengembangan strategi respons wabah.


Penanganan: Tidak Ada Antivirus, Fokus pada Tata Laksana Suportif

Hingga saat ini, tidak ada terapi antiviral spesifik yang tersedia untuk campak. Penanganan berfokus pada tata laksana suportif dan pencegahan serta penanganan komplikasi.

Suplementasi vitamin A dosis tinggi merupakan komponen tata laksana yang sangat penting dan direkomendasikan WHO untuk semua anak dengan campak, terutama di negara berkembang. Vitamin A diketahui berperan dalam mempertahankan integritas epitel mukosa pernapasan dan saluran cerna, serta mendukung respons imunitas. Dosis yang direkomendasikan adalah 200.000 IU per oral selama dua hari berturut-turut untuk anak usia 12 bulan ke atas, dengan dosis lebih rendah untuk anak yang lebih muda (Amodan et al., 2025; WHO, 2025).

Selain itu, penderita perlu dijaga kecukupan cairannya untuk mencegah dehidrasi, mendapat antipiretik untuk mengendalikan demam, dan diawasi ketat terhadap tanda-tanda komplikasi seperti sesak napas (indikasi pneumonia) atau penurunan kesadaran (indikasi ensefalitis). Antibiotik diberikan hanya bila ada bukti infeksi bakteri sekunder, bukan sebagai terapi rutin. Penderita yang dirawat jalan harus menggunakan masker dan diisolasi dari anggota keluarga atau masyarakat yang rentan, mengingat tingginya daya tular virus.

Penderita dengan komplikasi berat seperti dehidrasi parah, pneumonia, atau tanda-tanda neurologis memerlukan rawat inap dan tata laksana intensif sesuai kondisi klinis.


Vaksinasi: Satu-Satunya Cara Memutus Rantai Penularan

Vaksin campak telah ada selama lebih dari 60 tahun. Dalam bentuk kombinasi MMR (Measles, Mumps, Rubella) atau MR (Measles, Rubella), vaksin ini aman, efektif, dan murah — harganya kurang dari satu dolar AS per dosis. Dua dosis vaksin memberikan perlindungan sekitar 97% terhadap campak.

Di Indonesia, jadwal imunisasi nasional saat ini mencakup pemberian vaksin MR pada usia 9 bulan (MR1), 18 bulan (MR2), dan satu dosis saat anak memasuki kelas 1 SD melalui program Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS). Untuk daerah yang mengalami wabah, pemerintah melaksanakan Outbreak Response Immunization (ORI) — vaksinasi massal darurat yang menyasar semua anak di kelompok usia rentan tanpa memandang status vaksinasi sebelumnya.

Perlu ditegaskan bahwa klaim hubungan antara vaksin MMR dan autisme sudah berulang kali dibantah oleh bukti ilmiah yang kuat. Studi asli Andrew Wakefield yang menjadi sumber klaim tersebut telah ditarik dari jurnal The Lancet karena terbukti mengandung kecurangan data, dan Wakefield sendiri telah dicabut izin praktiknya. Puluhan penelitian besar skala dunia secara konsisten menemukan tidak ada hubungan kausal antara vaksin MMR dan autisme.

Untuk mencapai dan mempertahankan kekebalan komunitas terhadap campak, dibutuhkan cakupan vaksinasi dua dosis minimal 95% pada seluruh populasi anak. Ini bukan angka arbitrer — ini adalah ambang batas matematis yang dibutuhkan mengingat R₀ campak yang sangat tinggi. Setiap kali cakupan turun di bawah ambang batas ini, terbentuk “celah kekebalan” yang menjadi bahan bakar bagi wabah (Siddiqui et al., 2025).


Peran Kita Bersama

Data terkini menunjukkan bahwa Indonesia menghadapi ancaman nyata. Penurunan cakupan vaksinasi yang dipicu pandemi COVID-19, ditambah meluasnya misinformasi di media sosial mengenai keamanan vaksin, telah membuka celah yang kini dieksploitasi oleh virus campak. Kenyataan bahwa Indonesia kini menduduki peringkat kedua dunia dalam jumlah KLB campak seharusnya menjadi alarm nasional.

Apa yang bisa kita lakukan? Sebagai individu dan orang tua: memastikan anak mendapat imunisasi MR lengkap sesuai jadwal — 9 bulan, 18 bulan, dan kelas 1 SD. Tidak ada istilah terlambat untuk vaksinasi kejar bagi yang belum lengkap. Sebagai masyarakat: menjadi agen koreksi terhadap misinformasi tentang vaksin. Sebagai tenaga kesehatan: memastikan setiap kunjungan pasien menjadi kesempatan untuk mengecek dan melengkapi status imunisasi, serta melaporkan kasus suspek kepada dinas kesehatan setempat sesuai sistem surveilans aktif yang berlaku.

Campak adalah penyakit yang bisa kita eliminasi. Namun eliminasi itu hanya mungkin terwujud jika kita membangun dan mempertahankan kekebalan komunitas bersama-sama — karena dalam pertahanan melawan virus ini, tidak ada yang benar-benar aman sampai semua orang terlindungi.


Referensi

Amodan, B. O., Ssendikwanawa, E., Namayanja, J., Opio, B. R., Biroma, G., Morukileng, J., Ochula, D., & Baganizi, M. (2025). Epidemiological investigation of measles outbreak in a refugee settlement in Lamwo District, Uganda. The Pan African Medical Journal, 51(Suppl 1), 13. https://doi.org/10.11604/pamj.supp.2025.51.1.47672

Branda, F., Giovanetti, M., Petrosillo, N., Ahmed, M. M., Perra, M., Sanna, D., Ceccarelli, G., Ciccozzi, M., Bucci, E., & Scarpa, F. (2025). Measles and public health: an integrative approach. Biology Direct, 20(1), 103. https://doi.org/10.1186/s13062-025-00693-0

GBD 2023 Vaccine Coverage Collaborators. (2025). Global, regional, and national trends in routine childhood vaccination coverage from 1980 to 2023 with forecasts to 2030: a systematic analysis for the Global Burden of Disease Study 2023. The Lancet, 406(10500), 235–260. https://doi.org/10.1016/S0140-6736(25)01037-2

Gyseghem, P. V., Andrei, A., Presiozi, M., Goffinon, E., Aeby, A., & Van Hecke, A. (2025). Spasms and not myoclonus in subacute sclerosing panencephalitis: a case report and review of the literature. Neuropediatrics, 56(6), 408–411. https://doi.org/10.1055/a-2642-8218

Jain, S., James, A., Varanasi, S. V., Botsa, S., Choudhary, A., Dahake, U., Bang, A., & Girish, M. (2025). Diagnostic dilemma between autoimmune encephalitis and SSPE: case report of two pediatric patients. Indian Journal of Pediatrics, 92(7), 774–776. https://doi.org/10.1007/s12098-025-05604-9

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, Agustus 27). KLB campak meningkat, Kemenkes ingatkan pentingnya imunisasi lengkap. https://kemkes.go.id/id/klb-campak-meningkat-kemenkes-ingatkan-pentingnya-imunisasi-lengkap

Magno Pinto, S., Pereira, M., & Pinto, P. G. (2025). Preventable pulmonary sequelae of measles: a case report of an adult patient with cystic bronchiectasis. Cureus, 17(12), e99687. https://doi.org/10.7759/cureus.99687

Murphy, A. A., Indah, R., Yufika, A., Ichsan, I., Liansyah, T. M., Harapan, H., Birchok, D., Pogue, J. M., Khairadini, F., & Wagner, A. L. (2025). Understanding the influence of religious and safety concerns on childhood measles and pertussis vaccination: a study conducted in Aceh, Indonesia, 2022. BMC Infectious Diseases, 25(1), 1140. https://doi.org/10.1186/s12879-025-11448-7

Mustafa, M., Reznik, A. S., Uribe, J., Mintz, J., Taldone, S., Shukla, B., Raja, M., & Natori, Y. (2025). Measles seropositivity in previously vaccinated individuals: a systematic review and meta-analysis. EClinicalMedicine, 89, 103564. https://doi.org/10.1016/j.eclinm.2025.103564

Siddiqui, E., Khan, M. S., Chandani, D. K., Khalid, M., & Waafira, A. (2025). Measles resurgence in Texas: a public health wake-up call. Annals of Medicine and Surgery, 87(11), 6937–6939. https://doi.org/10.1097/MS9.0000000000003849

Ua, K., Hendrati, L. Y., Langga Son, K., Sari, S. S. N., & Astutik, E. (2025). Investigation of a measles outbreak in Brondong subdistrict, Lamongan district, Indonesia, 2023. Western Pacific Surveillance and Response Journal, 16(4), 43–49. https://doi.org/10.5365/wpsar.2025.16.1145

World Health Organization. (2025, November 28). Measles deaths down 88% since 2000, but cases surge. https://www.who.int/news/item/28-11-2025-measles-deaths-down-88–since-2000–but-cases-surge

World Health Organization. (2025). Measles: fact sheet. https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/measles

Xia, S., Gullickson, C. C., Metcalf, C. J. E., Grenfell, B. T., & Mina, M. J. (2022). Assessing the effects of measles virus infections on childhood infectious disease mortality in Brazil. The Journal of Infectious Diseases, 227(1), 133–140. https://doi.org/10.1093/infdis/jiac233

Xue, Y.-C., & Ren, P. (2025). Diagnostic approaches for measles virus: methods, advances, and ongoing challenges. Pathogens, 14(12), 1295. https://doi.org/10.3390/pathogens14121295


Artikel ini adalah pembaruan dari tulisan “Sekilas Tentang Campak” yang pertama kali diterbitkan pada 16 Juni 2014 di legawa.com. Data dan referensi telah diperbarui menggunakan literatur ilmiah terbitan 2022–2025.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar