Aspirin merupakan salah satu obat lama yang ada di pasaran dan bisa didapatkan secara bebas dan murah. Sejak dulu, aspirin memang diketahui memiliki sifat pencegah kanker; namun belum berani direkomendasikan karena kekhawatiran akan dampak penggunaan jangka panjangnya. Kini, ada penelitian yang memberikan gambaran tentang bagaimana aspirin dapat direkomendasikan untuk mendapatkan manfaatnya dalam mencegah kanker.
Penggunaan aspirin dosis rendah/sedang selama setidaknya lima tahun, bisa menurunkan risiko kanker pada usia 50 – 65 tahun. Ini mungkin membuat aspirin akan menjadi rekomendasi selanjutnya setelah program berhenti merokok, mengurangi obesitas atau mempertahankan berat badan ideal, olah raga teratur, dan makan makanan yang sehat dalam rangka mencegah kanker.
Pun demikian, mereka yang hendak menggunakan aspirin juga diminta mempertimbangkan dampak atau efek sampingnya.
Prophylactic aspirin use for a minimum of 5 years at doses between 75 and 325 mg/day appears to have favourable benefit–harm profile; longer use is likely to have greater benefits. Further research is needed to determine the optimum dose and duration of use, to identify individuals at increased risk of bleeding, and to test effectiveness of Helicobacter pylori screening–eradication before starting aspirin prophylaxis.
Mereka yang berusia di atas 70 tahun mungkin akan lebih rentan terhadap efek samping konsumsi aspirin jangka panjang seperti perdarahan di saluran cerna. Jika Anda berkeinginan untuk menggunakan aspirin sebagai alternatif pilihan guna mengurangi risiko kanker, silakan berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter Anda untuk memahami keuntungan dan kerugiannya.
Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.
What if the size of a dream was never the point? Through a Javanese kite-maker’s parable and voices from Rumi to Marcus Aurelius, the Gita to the Dhammapada, this essay asks whether dreaming is less a destination than a form of breathing — one we must keep doing, gently, for as long as we wish to call what we’re living a life.
Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)
Tinggalkan Balasan