Pernahkah Anda merasakan jari yang tiba-tiba “nyangkut” saat menekuknya, disertai bunyi “klik” yang cukup mengejutkan — seolah-olah ada mekanisme pelatuk yang sedang bekerja di dalam jari Anda? Kondisi ini bukan sekadar keluhan sepele. Dalam dunia medis, kondisi tersebut dikenal sebagai trigger finger, atau secara klinis disebut stenosing flexor tenosynovitis — peradangan pada selubung tendon fleksor yang menyebabkan gangguan fungsional nyata pada tangan.
Artikel ini membahas secara menyeluruh tentang apa itu trigger finger, bagaimana ia bisa terjadi, siapa saja yang berisiko, dan apa saja pilihan tatalaksana terkini yang tersedia, termasuk pendekatan-pendekatan baru yang semakin berkembang dalam beberapa tahun terakhir.
Apa Itu Trigger Finger?
Trigger finger adalah kondisi di mana pergerakan normal tendon fleksor jari terganggu akibat peradangan dan penyempitan pada selubung tendon — khususnya di area annular pulley pertama (A1 pulley), yaitu sebuah struktur berbentuk cincin yang berfungsi seperti terowongan penghantar tendon.
Untuk memahaminya, bayangkan tendon sebagai tali yang menggerakkan jari. Tali ini harus melewati serangkaian cincin penahan di sepanjang tulang jari. Ketika salah satu cincin tersebut menyempit — atau ketika tali (tendon) membengkak — pergerakan menjadi terhambat. Saat tendon yang membengkak dipaksa melewati cincin yang menyempit, muncullah sensasi “klik” atau “plup” yang khas, disertai nyeri. Pada kasus yang berat, tendon bahkan bisa terjepit sepenuhnya sehingga jari tidak dapat diluruskan sama sekali.

Seberapa Umum Kondisi Ini?
Trigger finger adalah salah satu penyebab gangguan tangan yang paling sering dijumpai dalam praktik klinis sehari-hari. Berdasarkan data yang dikumpulkan oleh Currie et al. (2022) dan dipublikasikan dalam JAMA, kondisi ini memengaruhi sekitar 2% populasi umum. Namun angka ini melonjak tajam menjadi hingga 20% pada populasi penderita diabetes melitus.
Perempuan lebih sering terkena dibandingkan laki-laki. Rentang usia tersering adalah 40–60 tahun, meskipun kondisi ini dapat terjadi pada usia berapa pun. Aktivitas yang banyak melibatkan gerakan menggenggam atau menekuk jari secara repetitif — seperti mengolah adonan, memainkan alat musik, atau pekerjaan manual lainnya — dapat memicu atau memperparah kondisi ini.
Siapa Saja yang Berisiko?
Penelitian terbaru memberikan gambaran yang lebih lengkap mengenai faktor-faktor risiko trigger finger. Sebuah studi skala besar menggunakan data UK Biobank yang mencakup lebih dari 400.000 subjek, dilakukan oleh Guggenheim et al. (2024), mengidentifikasi sejumlah faktor yang secara independen berkaitan dengan peningkatan risiko trigger finger, antara lain:
Usia dan jenis kelamin. Risiko meningkat seiring bertambahnya usia, dan perempuan memiliki risiko 22% lebih tinggi dibandingkan laki-laki.
Diabetes melitus. Ini adalah faktor risiko paling signifikan. Penderita diabetes tanpa komplikasi memiliki risiko 35% lebih tinggi, sementara mereka dengan komplikasi diabetes memiliki risiko 2,5 kali lebih besar dibandingkan populasi umum. Akumulasi advanced glycation end-products (AGE) akibat kadar glukosa darah yang persisten tinggi diduga merusak struktur kolagen pada selubung tendon.
Obesitas. Studi oleh Kahan et al. (2025) yang menganalisis hampir 200.000 pasien menemukan bahwa obesitas secara independen meningkatkan risiko trigger finger sebesar 2–3%.
Sindrom terowongan karpal (carpal tunnel syndrome). Ini adalah faktor risiko terkuat secara statistik (OR 9,59), mencerminkan adanya patofisiologi bersama antara kedua kondisi ini.
Penyakit Dupuytren. Sebuah temuan yang relatif baru — penyakit Dupuytren ditemukan memiliki asosiasi kuat dengan trigger finger (OR 4,89), mengindikasikan adanya mekanisme fibrosis jaringan ikat yang mendasari keduanya.
Kondisi lain. Hipotiroidisme, artritis reumatoid, dan kadar HbA1c yang tinggi juga terbukti berkaitan secara signifikan dengan peningkatan kejadian trigger finger.
Hubungan Khusus dengan Diabetes: Lebih dari Sekadar Kebetulan
Keterkaitan antara trigger finger dan diabetes layak mendapat perhatian khusus. Studi oleh Choi et al. (2022) dalam Korean Journal of Internal Medicine menegaskan bahwa trigger finger termasuk dalam kelompok komplikasi muskuloskeletal diabetes yang patut diwaspadai, di samping frozen shoulder, carpal tunnel syndrome, dan kontraktur Dupuytren.
Lebih mengkhawatirkan lagi, sebuah studi kohort retrospektif oleh Mineoka et al. (2021) menemukan bahwa pada pasien dengan diabetes tipe 2, keberadaan trigger finger berkaitan dengan risiko kejadian penyakit kardiovaskular yang lebih tinggi hingga 3,33 kali lipat. Temuan ini menjadikan trigger finger pada pasien diabetes bukan hanya masalah gangguan gerak, tetapi juga penanda potensial dari derajat keparahan komplikasi sistemik diabetes.
Bagaimana Gejalanya?
Gejala trigger finger berkembang secara bertahap dan khas:
Pada tahap awal, pasien umumnya merasakan nyeri atau rasa tidak nyaman di pangkal jari — tepat di area telapak tangan dekat ruas jari paling bawah — yang bisa disertai sedikit pembengkakan. Gejala ini sering memburuk di pagi hari setelah lama tidak bergerak, lalu membaik seiring aktivitas.
Seiring perkembangan kondisi, muncul sensasi “klik” atau “plup” yang khas saat menekuk atau meluruskan jari. Kekakuan pun mulai terasa, terutama setelah istirahat panjang.
Pada stadium lanjut, jari bisa “terkunci” dalam posisi menekuk dan tidak bisa diluruskan secara aktif — atau sebaliknya terkunci dalam posisi lurus. Pada tahap ini, fungsi tangan terganggu secara bermakna dan aktivitas sehari-hari seperti menggenggam benda, mengetik, atau bahkan berpakaian menjadi menyulitkan.
Klasifikasi derajat keparahan trigger finger yang banyak digunakan secara klinis adalah Klasifikasi Quinnell, yang terdiri dari empat tingkatan: mulai dari pergerakan tidak merata (derajat 1) hingga jari terkunci sepenuhnya dan tidak dapat digerakkan meski dengan bantuan (derajat 4).
Bagaimana Diagnosis Ditegakkan?
Diagnosis trigger finger pada umumnya bersifat klinis — artinya, dokter dapat menegakkan diagnosis hanya berdasarkan wawancara medis dan pemeriksaan fisik. Tidak diperlukan pemeriksaan penunjang seperti rontgen dalam sebagian besar kasus.
Namun, perkembangan teknologi telah membawa ultrasonografi (USG) menjadi alat bantu diagnostik yang semakin populer. Berdasarkan ulasan oleh Donati et al. (2025) dalam Journal of Clinical Ultrasound, pemeriksaan USG dapat mengidentifikasi secara langsung penebalan A1 pulley (nilai lebih dari 0,62 mm pada pemeriksaan frekuensi tinggi dianggap bermakna) dan memvisualisasikan fenomena “jepitan” tendon secara dinamis saat jari digerakkan. Kemampuan ini membuka peluang untuk penilaian yang lebih objektif dan panduan prosedur terapeutik yang lebih tepat sasaran.
Rontgen tangan mungkin diperlukan apabila dokter ingin menyingkirkan kondisi lain seperti artritis atau fraktur yang dapat meniru gejala trigger finger.
Pilihan Tatalaksana Terkini
Penanganan trigger finger bersifat bertahap, mulai dari yang paling konservatif hingga tindakan bedah, dengan pemilihan modalitas yang disesuaikan berdasarkan derajat keparahan, kondisi komorbid, dan respons terhadap terapi sebelumnya.
1. Istirahat dan Modifikasi Aktivitas
Pada kasus yang sangat ringan, mengurangi aktivitas yang memperparah gejala — seperti gerakan menggenggam berulang — dapat memberikan perbaikan yang berarti. Ini sering menjadi langkah pertama yang disarankan.
2. Bidai (Splinting) atau Ortosis
Penggunaan bidai pada posisi netral — terutama saat tidur malam — terbukti efektif mengurangi nyeri dan memperbaiki fungsi. Donati et al. (2025) melaporkan bahwa program konservatif yang menggabungkan bidai dengan latihan meluncur tendon (tendon gliding exercises) dapat mengurangi nyeri hingga 70% dalam beberapa minggu. Pendekatan ini menjadi sangat relevan terutama pada pasien yang tidak bisa atau tidak ingin menerima suntikan maupun operasi.
3. Obat Antiinflamasi
Penggunaan obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) atau parasetamol dapat membantu mengurangi nyeri, meskipun tidak langsung mengatasi penyebab mekanis dari kondisi ini.
4. Suntikan Kortikosteroid
Suntikan kortikosteroid ke dalam selubung tendon tetap menjadi terapi andalan lini pertama dan telah terbukti efektif secara konsisten. Sebuah tinjauan sistematis oleh Wen et al. (2025) tentang kombinasi pelepasan perkutan A1 pulley dengan suntikan kortikosteroid menunjukkan tingkat kepuasan pasien dan resolusi nyeri mencapai 96,2%.
Namun, efektivitas suntikan kortikosteroid berkurang secara bermakna pada pasien yang menggunakan insulin — sehingga pada pasien diabetes tipe ini, pertimbangan intervensi lebih dini perlu dipikirkan. Secara umum, pedoman klinis memungkinkan hingga tiga kali suntikan kortikosteroid sebelum mempertimbangkan tindakan bedah (Gil et al., 2020).
5. Pelepasan Perkutan (Percutaneous Release)
Teknik ini menggunakan jarum suntik khusus untuk memotong A1 pulley tanpa sayatan terbuka. Prosedur ini dapat dilakukan di ruang praktik atau poliklinik dengan anestesi lokal. Berdasarkan tinjauan sistematis oleh Wen et al. (2025), kombinasi pelepasan perkutan A1 pulley dengan suntikan kortikosteroid memberikan hasil klinis yang sangat baik dengan komplikasi minimal. Namun, teknik ini memerlukan kurva pembelajaran (learning curve) yang signifikan bagi dokter, sehingga penguasaan teknis yang memadai adalah syarat penting sebelum dikerjakan.
6. Terapi Extracorporeal Shock Wave (ESWT)
Pendekatan yang relatif baru ini menggunakan gelombang kejut untuk menstimulasi penyembuhan jaringan. Donati et al. (2024) dalam ulasan yang diterbitkan di BMC Musculoskeletal Disorders menyebutkan ESWT sebagai salah satu modalitas yang semakin berkembang dalam manajemen trigger finger, meskipun data klinis yang mendukungnya masih terus berkembang dan belum sekuat data untuk suntikan kortikosteroid.
7. Pembedahan Terbuka
Apabila semua pendekatan konservatif gagal memberikan hasil yang memadai, pelepasan A1 pulley secara terbuka tetap menjadi standar baku (gold standard) prosedur bedah. Prinsipnya adalah membuat sayatan kecil pada telapak tangan untuk memperlonggar terowongan tendon yang menyempit.
Kabar baiknya, prosedur ini dikerjakan secara rawat jalan — pasien tidak perlu menginap di rumah sakit. Salah satu perkembangan menarik adalah teknik anestesi WALANT (Wide Awake Local Anesthesia No Tourniquet) — pasien tetap sadar penuh dengan hanya menggunakan anestesi lokal tanpa penggunaan manset penghenti aliran darah (tourniquet). Pendekatan ini terbukti meningkatkan kepuasan pasien, mengurangi biaya, dan memungkinkan pasien untuk lebih cepat kembali beraktivitas (Knopp et al., 2023).
Pemulihan gerak jari biasanya dapat dimulai segera setelah operasi, meskipun nyeri ringan di telapak tangan masih dapat dirasakan dalam beberapa hari pertama. Pemulihan penuh dapat memakan waktu beberapa minggu hingga enam bulan, terutama bila sebelum operasi jari sudah dalam kondisi kaku lama. Pada kondisi ini, fisioterapi pasca operasi sangat dianjurkan.
Perhatian Khusus untuk Pasien Diabetes
Pasien diabetes yang akan menjalani tindakan pelepasan trigger finger — baik perkutan maupun terbuka — perlu mendapat perhatian lebih. Sebuah meta-analisis oleh Atthakomol et al. (2022) yang mencakup lebih dari 213.000 pasien menemukan bahwa diabetes meningkatkan risiko infeksi pasca operasi sebesar 65% dibandingkan pasien non-diabetes. Oleh karena itu, kontrol gula darah yang optimal sebelum tindakan adalah hal yang sangat penting, dan pendekatan perkutan — yang tidak memerlukan sayatan besar — dapat menjadi pilihan yang lebih aman untuk mengurangi risiko infeksi pada pasien kelompok ini.
Kapan Harus ke Dokter?
Segera periksakan diri ke dokter bila Anda mengalami:
- Jari yang terasa “nyangkut” atau terkunci lebih dari beberapa hari
- Nyeri yang mengganggu aktivitas sehari-hari
- Tidak bisa meluruskan jari meski dengan bantuan tangan lain
- Gejala yang memburuk secara progresif
Jangan menunda pemeriksaan hanya karena trigger finger bukan kondisi yang mengancam jiwa. Penanganan dini umumnya memberikan respons yang lebih baik dengan modalitas yang lebih sederhana.
Kesimpulan
Trigger finger adalah kondisi yang umum namun kerap diremehkan. Lebih dari sekadar “jari yang berbunyi klik”, kondisi ini dapat berkembang menjadi gangguan fungsional yang bermakna bila tidak ditangani dengan tepat. Pemahaman yang lebih baik tentang faktor risikonya — terutama diabetes, obesitas, dan kondisi jaringan ikat lainnya — memungkinkan deteksi dan intervensi yang lebih dini.
Perkembangan ilmu pengetahuan dalam satu dekade terakhir telah memperluas pilihan terapi yang tersedia: dari bidai dan latihan tendon, suntikan kortikosteroid yang dipandu USG, pelepasan perkutan, hingga ESWT. Sementara pembedahan terbuka tetap menjadi pilihan definitif saat pendekatan konservatif gagal, teknik WALANT modern membuat prosedur tersebut kini jauh lebih nyaman dan efisien bagi pasien.
Bagi mereka yang hidup dengan diabetes, trigger finger bukan sekadar masalah jari — ia bisa menjadi cerminan dari derajat keparahan komplikasi diabetes secara keseluruhan dan, berdasarkan penelitian terkini, bahkan berkaitan dengan peningkatan risiko penyakit kardiovaskular. Ini adalah alasan lebih dari cukup untuk tidak mengabaikannya.
Tulisan ini disusun untuk tujuan edukasi dan informasi kesehatan umum. Kondisi setiap individu berbeda; konsultasikan dengan dokter Anda untuk diagnosis dan penanganan yang tepat.
Daftar Referensi
Atthakomol, P., Khorana, J., Phinyo, P., & Manosroi, W. (2022). Association between diabetes mellitus and risk of infection after trigger finger release: a systematic review and meta-analysis. International Orthopaedics, 46(8), 1–8. https://doi.org/10.1007/s00264-022-05440-y
Choi, J. H., Kim, H.-R., & Song, K.-H. (2022). Musculoskeletal complications in patients with diabetes mellitus. The Korean Journal of Internal Medicine, 37(6), 1099–1110. https://doi.org/10.3904/kjim.2022.168
Currie, K. B., Tadisina, K. K., & Mackinnon, S. E. (2022). Common hand conditions: A review. JAMA, 327(24), 2434–2445. https://doi.org/10.1001/jama.2022.8481
Donati, D., Ricci, V., Boccolari, P., Origlio, F., Vita, F., Nanka, O., Catani, F., & Tarallo, L. (2024). From diagnosis to rehabilitation of trigger finger: A narrative review. BMC Musculoskeletal Disorders, 25(1), 1061. https://doi.org/10.1186/s12891-024-08192-5
Donati, D., Ricci, V., Boccolari, P., Tedeschi, R., Origlio, F., Vita, F., Nanka, O., Catani, F., & Tarallo, L. (2025). Trigger finger: A narrative review of dynamic ultrasound and personalized therapies. Journal of Clinical Ultrasound, 53(5), 1111–1121. https://doi.org/10.1002/jcu.23971
Gil, J. A., Hresko, A. M., & Weiss, A.-P. C. (2020). Current concepts in the management of trigger finger in adults. Journal of the American Academy of Orthopaedic Surgeons, 28(15), e642–e650. https://doi.org/10.5435/JAAOS-D-19-00614
Guggenheim, L., Kang, Y., Furniss, D., & Wiberg, A. (2024). Identifying non-genetic factors associated with trigger finger. Journal of Plastic, Reconstructive & Aesthetic Surgery, 94, 91–97. https://doi.org/10.1016/j.bjps.2024.04.066
Kahan, R., Enthoven, L., Garoosi, K., Higinbotham, S., Pflug, E. M., & Lauder, A. (2025). Is obesity a risk factor for developing trigger finger? A case-control analysis of 198,804 patients. Hand, 15589447251317226. https://doi.org/10.1177/15589447251317226
Knopp, B. W., Kushner, J., Eng, E., Goguen, J., & Esmaeili, E. (2023). Patient experiences with hand surgery in the office versus ambulatory surgery center. Cureus, 15(8), e43763. https://doi.org/10.7759/cureus.43763
Mineoka, Y., Ishii, M., Hashimoto, Y., Yuge, H., Toyoda, M., Nakamura, N., Katsumi, Y., & Fukui, M. (2021). Trigger finger is associated with risk of incident cardiovascular disease in individuals with type 2 diabetes: A retrospective cohort study. BMJ Open Diabetes Research & Care, 9(1). https://doi.org/10.1136/bmjdrc-2020-002070
Wen, J., Syed, B., Khalil, R., Shehabat, M., Alam, M., Sedighi, R., Razick, D., Akhtar, M., Razick, A., & Elahi, F. (2025). Percutaneous A1 pulley with corticosteroid injection for trigger finger release: A systematic review. Journal of Orthopaedic Surgery and Research, 20(1), 431. https://doi.org/10.1186/s13018-025-05776-2
📝 Catatan Pembaruan: Artikel ini merupakan versi yang diperbarui secara menyeluruh dari tulisan asli yang diterbitkan pada 14 Oktober 2014. Pembaruan dilakukan pada Maret 2025 dengan mengintegrasikan temuan dari publikasi ilmiah terkini (2020–2025), mencakup data epidemiologi terbaru, perkembangan alat diagnostik seperti ultrasonografi A1 pulley, modalitas terapi baru meliputi ESWT dan teknik WALANT, serta pemahaman mutakhir tentang hubungan trigger finger dengan diabetes melitus dan risiko kardiovaskular. Referensi telah diperbarui sepenuhnya mengacu pada jurnal-jurnal ilmiah bereputasi.

Tinggalkan komentar