Setiap tahun, jutaan perempuan di seluruh dunia menjalani pemeriksaan mammografi — sebuah prosedur pencitraan payudara menggunakan sinar-X dosis rendah yang telah terbukti menyelamatkan nyawa. Di Indonesia, kanker payudara merupakan jenis kanker dengan kasus baru tertinggi: berdasarkan data GLOBOCAN 2020, jumlah kasus baru kanker payudara mencapai 68.858 kasus atau 16,6% dari total kasus kanker baru di Indonesia, dengan kematian lebih dari 22.000 jiwa. Yang memprihatinkan, 70 persen di antaranya sudah pada tahap lanjut ketika dideteksi, karena masih banyak perempuan yang menganggap remeh tanda-tanda awal kanker.
Di sinilah mammografi memainkan peran yang sangat penting. Namun, dunia pemeriksaan mammografi telah mengalami perkembangan pesat sejak sepuluh tahun terakhir — dari teknologi pencitraan digital tiga dimensi hingga kecerdasan buatan (artificial intelligence) yang mampu membaca hasil pemindaian. Artikel ini membahas apa yang perlu Anda ketahui tentang mammografi berdasarkan bukti ilmiah terkini.
Apa Itu Mammografi?
Mammography atau mammografi adalah teknik pencitraan medis yang menggunakan sinar-X dosis rendah untuk memeriksa jaringan payudara. Tujuan utamanya adalah mendeteksi perubahan abnormal pada payudara — termasuk massa, kalsifikasi, atau distorsi arsitektur jaringan — sedini mungkin, bahkan sebelum gejala klinis muncul.
Pemeriksaan ini dilakukan dengan cara memposisikan payudara di antara dua lempeng penjepit (compression paddles) yang akan menekan payudara secara perlahan untuk meratakan jaringan, mengurangi dosis radiasi yang dibutuhkan, dan menghasilkan gambar yang lebih tajam. Proses ini mungkin terasa tidak nyaman, tetapi berlangsung hanya beberapa detik untuk setiap proyeksi.

Mengapa Mammografi Penting?
Implementasi program skrining mammografi telah berkontribusi pada penurunan angka kematian akibat kanker payudara setidaknya 20% dalam 30 tahun terakhir. Manfaat ini muncul karena kanker yang terdeteksi pada stadium awal jauh lebih mudah diobati, membutuhkan terapi yang lebih ringan, dan memiliki angka kelangsungan hidup yang lebih tinggi.
Deteksi dini dengan skrining mammografi terbukti menurunkan angka kematian akibat kanker payudara, meskipun besarnya manfaat bervariasi berdasarkan usia. Hal ini menjadikan mammografi sebagai salah satu intervensi kesehatan preventif dengan bukti ilmiah terkuat yang ada saat ini.
Jenis-Jenis Mammografi
1. Mammografi Digital Konvensional (Digital Mammography)
Teknologi ini menggantikan film foto analog dengan detektor digital, menghasilkan gambar yang dapat dimanipulasi secara elektronik untuk meningkatkan ketajaman diagnostik. Mammografi digital standar hingga kini tetap menjadi tulang punggung program skrining di berbagai negara.
2. Digital Breast Tomosynthesis (DBT) atau Mammografi 3D
DBT, atau yang sering disebut mammografi tiga dimensi, mengambil serangkaian gambar payudara dari berbagai sudut untuk menghasilkan rekonstruksi tiga dimensi. Digital breast tomosynthesis, USG, MRI payudara, dan yang terbaru mammografi kontras, merupakan modalitas pencitraan tambahan yang tersedia dan telah menunjukkan potensi untuk lebih meningkatkan performa diagnostik. DBT khususnya bermanfaat pada perempuan dengan jaringan payudara padat (dense breasts) karena mampu memisahkan lapisan jaringan yang saling tumpang tindih.
3. Contrast-Enhanced Mammography (CEM)
Merupakan teknik yang relatif baru di mana agen kontras berbasis yodium disuntikkan secara intravena sebelum pencitraan dilakukan. CEM menggunakan akuisisi energi ganda (dual-energy acquisition) dengan spektrum sinar-X energi rendah dan tinggi setelah injeksi kontras yodium intravena, menghasilkan informasi anatomi sekaligus fungsional dalam satu pemeriksaan.
Sejak kemunculannya pada 2011, CEM secara konsisten menunjukkan performa superior dibandingkan mammografi standar dan kombinasi mammografi-USG, khususnya pada perempuan dengan payudara padat, dengan sensitivitas tinggi yang mendekati MRI — mendukung penggunaannya sebagai alat diagnostik dan skrining yang hemat biaya.
Siapa yang Direkomendasikan Menjalani Mammografi?
Panduan Internasional Terkini
Pedoman skrining mammografi terus diperbarui seiring bertambahnya bukti ilmiah. Dari 23 panduan internasional yang diterbitkan antara 2010 hingga 2021 di 11 negara atau kawasan, sebagian besar merekomendasikan skrining mammografi untuk perempuan berusia 40–74 tahun, dengan kelompok usia 50–69 tahun dianggap sebagai rentang optimal untuk skrining.
Salah satu pembaruan paling signifikan datang dari US Preventive Services Task Force (USPSTF) pada tahun 2024. USPSTF merekomendasikan skrining mammografi dua tahunan (biennial) untuk perempuan berusia 40 hingga 74 tahun (rekomendasi B), dengan kesimpulan bahwa skrining pada kelompok ini memberikan manfaat moderat yang nyata. Rekomendasi terbaru ini merupakan perubahan dari panduan sebelumnya yang menunda skrining rutin hingga usia 50 tahun.
Dari sisi Eropa, European Society of Breast Imaging (EUSOBI) menekankan bahwa mammografi rutin tetap harus dianggap sebagai fondasi utama skrining kanker payudara; sementara perempuan berisiko tinggi dan perempuan dengan jaringan payudara sangat padat direkomendasikan menggunakan MRI sebagai skrining tambahan atau pengganti.
Skrining Berdasarkan Tingkat Risiko
Faktor risiko kanker payudara yang diidentifikasi dalam berbagai panduan secara umum mencakup: riwayat personal lesi prakanker atau kanker payudara; riwayat keluarga dengan kanker payudara; predisposisi genetik yang diketahui (seperti mutasi BRCA1/BRCA2); riwayat radioterapi mantel atau dada; serta payudara padat.
Untuk perempuan berisiko tinggi, terdapat konsensus di antara sebagian besar panduan bahwa mammografi tahunan atau MRI tahunan harus diberikan, dan skrining harus dimulai lebih awal dibandingkan kelompok risiko rata-rata. Secara lebih spesifik, perempuan berisiko tinggi direkomendasikan memulai skrining lebih awal dengan MRI payudara tahunan yang dapat dilengkapi dengan mammografi tahunan atau dua tahunan mulai usia 35–40 tahun.
Mammografi di Indonesia: Tantangan dan Harapan
Situasi Terkini
Hingga saat ini, Indonesia belum memiliki program skrining mammografi nasional yang terstruktur. Strategi Nasional Penanggulangan Kanker Payudara Indonesia mencakup tiga pilar yakni promosi kesehatan, deteksi dini, dan tatalaksana kasus, dengan target 80% perempuan usia 30–50 tahun menjalani deteksi dini kanker payudara.
Penelitian yang dilakukan di Yogyakarta oleh Choridah et al. (2023) menunjukkan keterbatasan pemeriksaan fisik semata dalam program skrining oportunistik. Penilaian kombinasi mammografi dan USG berhasil mendeteksi 343 lesi payudara (68,2%), sementara pemeriksaan payudara klinis (clinical breast examination/CBE) hanya mendeteksi 76 lesi (15,1%), dengan ukuran lesi yang terdeteksi melalui mammografi atau USG secara signifikan lebih kecil dibandingkan yang terdeteksi melalui CBE.
Analisis Efektivitas Biaya
Kabar baik datang dari studi analisis efektivitas biaya yang dipublikasikan tahun 2025 oleh peneliti dari Universitas Gadjah Mada. Temuan mereka menunjukkan bahwa skrining mammografi di Indonesia terbukti cost-effective dibandingkan tanpa skrining dalam berbagai skenario, termasuk skrining pada perempuan usia 40–65 tahun setiap 4 tahun dengan tingkat partisipasi 50%, dengan nilai incremental cost-effectiveness ratio di bawah 3 kali produk domestik bruto per kapita Indonesia. Studi ini secara eksplisit merekomendasikan implementasi skrining mammografi sebagai program nasional di Indonesia.
Peran Kecerdasan Buatan dalam Mammografi
Perkembangan paling menggembirakan dalam beberapa tahun terakhir adalah integrasi artificial intelligence (AI) atau kecerdasan buatan dalam pembacaan hasil mammografi.
Sistem AI berbasis deep learning telah menunjukkan peningkatan signifikan dalam deteksi kanker payudara, dengan potensi untuk meningkatkan hasil skrining, mengurangi hasil negatif palsu dan positif palsu, serta mendeteksi kelainan halus yang terlewatkan oleh pengamat manusia.
Bukti klinis prospektif datang dari studi ScreenTrustCAD di Swedia. Studi prospektif berbasis populasi ini menemukan bahwa pembacaan ganda oleh satu radiologis ditambah AI bersifat non-inferior untuk deteksi kanker dibandingkan pembacaan ganda oleh dua radiologis, dengan tingkat deteksi kanker 4% lebih tinggi. Temuan ini membuka jalan bagi implementasi AI sebagai pembaca pendamping yang dapat membantu mengatasi kekurangan tenaga radiologis, termasuk di negara berkembang seperti Indonesia.
Meski menjanjikan, tantangan seperti kurangnya dataset terstandarisasi, potensi bias dalam data pelatihan, dan proses persetujuan regulasi masih menghambat adopsi AI secara luas.
Persiapan Sebelum Pemeriksaan Mammografi
Agar hasil pemeriksaan optimal, beberapa persiapan perlu dilakukan:
Yang harus dihindari pada hari pemeriksaan:
- Jangan menggunakan deodoran, antiperspiran, parfum, losion, atau bedak di area ketiak dan payudara. Kandungan partikel metalik pada produk-produk ini dapat tampak pada citra sinar-X dan menyerupai kalsifikasi.
- Hindari memakai perhiasan di sekitar area dada.
Informasi yang perlu disampaikan kepada petugas:
- Keberadaan implan payudara (breast implant), karena diperlukan proyeksi tambahan untuk memvisualisasikan jaringan payudara secara menyeluruh.
- Riwayat operasi payudara sebelumnya.
- Kehamilan atau kemungkinan sedang hamil.
- Kondisi fisik tertentu seperti kesulitan berdiri, mengangkat lengan, atau menahan napas.
- Hasil mammografi sebelumnya, yang sebaiknya dibawa sebagai pembanding.
Waktu terbaik untuk pemeriksaan: Bagi perempuan yang masih menstruasi, waktu terbaik adalah satu minggu setelah menstruasi berakhir, saat payudara paling tidak sensitif dan hasil gambar cenderung lebih baik.
Memahami Hasil Mammografi: Sistem BI-RADS
Hasil mammografi dilaporkan menggunakan sistem Breast Imaging Reporting and Data System (BI-RADS) yang dikembangkan oleh American College of Radiology. Kategori BI-RADS terdiri dari:
- BI-RADS 0: Pemeriksaan belum lengkap, diperlukan evaluasi lebih lanjut
- BI-RADS 1: Negatif, tidak ditemukan kelainan
- BI-RADS 2: Temuan jinak yang definitif
- BI-RADS 3: Kemungkinan jinak (risiko keganasan <2%), disarankan follow-up dalam 6 bulan
- BI-RADS 4: Temuan mencurigakan (risiko keganasan 2–95%), disarankan biopsi
- BI-RADS 5: Sangat sugestif keganasan (risiko >95%), diperlukan tindakan segera
- BI-RADS 6: Keganasan yang sudah terbukti secara histopatologi
Batasan Mammografi
Penting untuk memahami bahwa mammografi bukanlah pemeriksaan yang sempurna.
Hasil negatif palsu (false negative): Mammografi dapat melewatkan kanker, terutama pada perempuan dengan jaringan payudara sangat padat. Kepadatan payudara yang tinggi tidak hanya mempersulit visualisasi tumor, tetapi juga secara independen meningkatkan risiko kanker payudara itu sendiri.
Hasil positif palsu (false positive): Mammografi dapat menunjukkan kelainan yang tampak mencurigakan tetapi ternyata bukan kanker, berujung pada kecemasan, pemeriksaan tambahan, dan prosedur biopsi yang sebenarnya tidak diperlukan.
Overdiagnosis: Skrining dapat mendeteksi kanker yang, bila tidak ditemukan, tidak akan pernah menimbulkan gejala atau mengancam jiwa dalam rentang hidup seseorang. Ini menjadi alasan mengapa pendekatan skrining yang dipersonalisasi berdasarkan risiko individu semakin banyak dikaji.
Pendekatan berbasis risiko yang dipersonalisasi (risk-stratified approach), alih-alih pendekatan one-size-fits-all, dapat membantu meningkatkan rasio manfaat-kerugian sekaligus efektivitas biaya skrining kanker payudara.
Mammografi Bukan Satu-satunya Jalan: Modalitas Pelengkap
Dalam situasi tertentu, mammografi dapat dilengkapi dengan modalitas lain:
- USG payudara: Berguna khususnya pada payudara padat dan sebagai panduan biopsi. Jika MRI tidak tersedia, USG dapat dilakukan sebagai alternatif, meski nilai tambahnya dalam deteksi kanker dibandingkan mammografi saja masih terbatas.
- MRI payudara: Direkomendasikan untuk perempuan berisiko sangat tinggi (misalnya pembawa mutasi BRCA), karena sensitivitasnya lebih tinggi dari mammografi.
- Pemeriksaan Payudara Klinis (SADANIS) dan Pemeriksaan Payudara Sendiri (SADARI): Tetap penting sebagai komponen deteksi dini, khususnya di daerah dengan akses terbatas terhadap fasilitas mammografi.
Kapan Harus Segera ke Dokter?
Hasil mammografi yang negatif tidak menjamin kebebasan dari kanker selamanya. Menilai risiko kanker payudara secara individual dapat memandu keputusan mengenai skrining kanker payudara. Segera konsultasikan ke dokter apabila Anda menemukan:
- Benjolan baru di payudara atau ketiak
- Perubahan bentuk atau ukuran payudara
- Perubahan pada kulit payudara (kemerahan, penebalan, retraksi seperti kulit jeruk)
- Perubahan pada puting susu (tertarik ke dalam, nyeri, atau keluar cairan yang tidak normal)
- Nyeri payudara yang menetap
Simpulan
Mammografi tetap menjadi pemeriksaan utama dalam deteksi dini kanker payudara, dengan bukti yang kuat bahwa skrining rutin berkontribusi nyata pada penurunan angka kematian. Di Indonesia, tantangan terbesar masih berkisar pada belum adanya program skrining nasional yang terstruktur, rendahnya kesadaran masyarakat, serta keterbatasan aksesibilitas fasilitas mammografi di luar kota besar.
Perkembangan teknologi — dari tomosynthesis 3D, contrast-enhanced mammography, hingga kecerdasan buatan — membuka peluang untuk pemeriksaan yang semakin akurat. Sementara bukti ilmiah terbaru mendorong pendekatan skrining yang dipersonalisasi berdasarkan faktor risiko masing-masing individu.
Yang paling penting, jangan menunggu gejala muncul. Diskusikan dengan dokter Anda mengenai waktu yang tepat untuk memulai skrining mammografi, berdasarkan usia, riwayat keluarga, dan faktor risiko pribadi Anda.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis. Untuk informasi lebih lanjut mengenai deteksi dini kanker payudara dan ketersediaan fasilitas mammografi di wilayah Anda, silakan berkonsultasi dengan dokter atau tenaga kesehatan terdekat.
Daftar Referensi
Choridah, L., Icanervilia, A. V., Rengganis, A. A., At Thobari, J., Postma, M. J., & van Asselt, A. D. I. (2023). Comparing the performance of three modalities of breast cancer screening within a combined programme targeting at-risk women in Indonesia: An implementation study. Global Public Health, 18(1), 2284370. https://doi.org/10.1080/17441692.2023.2284370
Coffey, K., & Jochelson, M. S. (2022). Contrast-enhanced mammography in breast cancer screening. European Journal of Radiology, 156, 110513. https://doi.org/10.1016/j.ejrad.2022.110513
Dembrower, K., Crippa, A., Colón, E., Eklund, M., & Strand, F. (2023). Artificial intelligence for breast cancer detection in screening mammography in Sweden: A prospective, population-based, paired-reader, non-inferiority study. The Lancet Digital Health, 5(10), e703–e711. https://doi.org/10.1016/S2589-7500(23)00153-X
Díaz, O., Rodríguez-Ruíz, A., & Sechopoulos, I. (2024). Artificial intelligence for breast cancer detection: Technology, challenges, and prospects. European Journal of Radiology, 175, 111457. https://doi.org/10.1016/j.ejrad.2024.111457
Farkas, A. H., & Nattinger, A. B. (2023). Breast cancer screening and prevention. Annals of Internal Medicine, 176(11), ITC161–ITC176. https://doi.org/10.7326/AITC202311210
Icanervilia, A. V., Poelhekken, K., At Thobari, J., Choridah, L., Hutajulu, S. H., de Bock, G. H., Postma, M. J., Greuter, M. J. W., & van Asselt, A. D. I. (2025). Cost-effectiveness analysis of mammography-based breast cancer screening in Indonesia. Value in Health Regional Issues, 48, 101112. https://doi.org/10.1016/j.vhri.2025.101112
Kementerian Kesehatan RI. (2022). Kanker payudara paling banyak di Indonesia, Kemenkes targetkan pemerataan layanan kesehatan. https://kemkes.go.id/id/kanker-payudaya-paling-banyak-di-indonesia-kemenkes-targetkan-pemerataan-layanan-kesehatan
Kementerian Kesehatan RI. (2024). Rencana Aksi Nasional Kanker 2024–2034. https://kemkes.go.id/id/kasus-kanker-diprediksi-meningkat-70-persen-pada-2050-kemenkes-perkuat-deteksi-dini
Marcon, M., Fuchsjäger, M. H., Clauser, P., & Mann, R. M. (2024). ESR Essentials: Screening for breast cancer — General recommendations by EUSOBI. European Radiology, 34(10), 6348–6357. https://doi.org/10.1007/s00330-024-10740-5
Nicholson, W. K., Silverstein, M., Wong, J. B., Barry, M. J., Chelmow, D., & US Preventive Services Task Force. (2024). Screening for breast cancer: US Preventive Services Task Force recommendation statement. JAMA, 331(22), 1918–1930. https://doi.org/10.1001/jama.2024.5534
Ren, W., Chen, M., Qiao, Y., & Zhao, F. (2022). Global guidelines for breast cancer screening: A systematic review. Breast, 64, 85–99. https://doi.org/10.1016/j.breast.2022.04.003

Tinggalkan komentar