A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Film ke-18 Detective Conan mengambil judul “the Dimensional Sniper“, tentang pembunuhan yang dilakukan secara beruntun oleh penembak jitu di tengah keramaian kota, sehingga membuat seluruh kota menjadi panik. Sepertinya film ini adalah perayaan ke-20 tahun keberadaan Detective Conan, dan ceritanya masih belum mau berakhir.

Film kali menceritakan ketika Conan dan kawan-kawan tidak sengaja berada di lokasi seseorang yang ditembak secara misterius oleh penembak jitu yang tidak dikenal. Ini membuat Conan berusaha memburu penembak jitu tersebut, dan petualangannya bersama rekan-rekan detektif, kepolisian setempat dan para agen FBI dimulai memburu pelaku yang dicurigai adalah mantan anggota SEAL, yang merupakan bekas penembak jitu terbaik kedua di negaranya.

The Dimensional Sniper menawarkan lebih sedikit komedi dibandingkan biasanya, namun banyak aksi laga selayaknya film James Bond. Ada banyak adegan di mana Conan nyaris mati, dan harus diselamatkan secara ajaib berulang kali oleh rekan-rekannya. Filmnya memang tidak pernah masuk akal sejak dulu, tapi mungkin ini adalah salah satu yang termasuk paling tidak masuk akal.

Saya bisa bilang film ini cukup seru, walau kali ini penyelidikannya cukup dipaksakan, dengan argumen-argumen yang bergerak secara cepat. Tapi belum kehilangan cita rasa penyelidikan ala Holmes yang selalu ada dalam cerita detektif remaja ini. Di sini tidak ada tokoh baru kecuali tokoh tamu, tapi kita bisa menemukan beberapa titik yang hilang atau belum sempat disimak dalam manga rutinnya.

Secara keseluruhan, the Dimensional Sniper saya rasa sayang dilewatkan oleh pecinta Conan. Teka-teki yang ditinggalkan pelaku kali ini cukup unik, belum lagi jargon-jargon modern baru bermunculan di sini, berbeda dengan film-film sebelumnya.

https://www.youtube.com/watch?v=AtwRBjmUHX8

Artikel Baru Terbit

  • Ketika Perawat dan Bidan Diizinkan Mengoles Fluorida: Menimbang Kebijakan Darurat di Tengah Krisis Dokter Gigi
    Di Puskesmas Sragen, seorang bidan melakukan skrining kesehatan gigi untuk 30 anak sekolah dasar, dan lebih dari 20 anak mengalami karies. Karena kekurangan dokter gigi, Menteri Kesehatan mengeluarkan SE 909/2026 yang memberi wewenang sementara kepada tenaga medis lain untuk mengaplikasikan fluorida topikal sebagai respons terhadap situasi tersebut.
  • Ablasio Retina: Ketika Tirai Gelap Tiba-Tiba Menutupi Penglihatan
    Kilatan cahaya, bintik hitam melayang, dan bayangan seperti tirai bukan sekadar mata lelah—bisa jadi tanda ablasio retina, kondisi darurat yang dapat merenggut penglihatan permanen jika terlambat ditangani. Artikel ini mengulas patofisiologi, faktor risiko (terutama miopia tinggi), pilihan tata laksana bedah terkini, serta konteks layanan kesehatan dan rujukan di Indonesia.
  • Ketika Gunung Berbicara: Kesiapsiagaan Kesehatan Saat Erupsi Vulkanik Melanda Indonesia
    Erupsi Gunung Anak Krakatau pada September 2026 meningkatkan risiko kesehatan masyarakat, terutama paparan abu vulkanik yang dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan, iritasi mata dan kulit, serta memperburuk penyakit kronis. Kesiapsiagaan sistemik, penggunaan masker respirator, dan perlindungan sumber air menjadi langkah penting bagi fasilitas kesehatan di wilayah rawan.
  • Ketika Sedih Tak Kunjung Pergi: Memahami Depresi pada Orang Dewasa
    Depresi pada orang dewasa sering menyamar sebagai keluhan fisik yang tak kunjung sembuh. Artikel ini mengulas prevalensi depresi di Indonesia dan dunia, faktor risiko, cara mendiagnosis di layanan primer, serta pilihan terapi psikologis dan farmakologis berbasis bukti terkini dari WHO, NICE, dan data SKI 2023.
  • Ketika Sakit Gigi Berubah Menjadi Ancaman Nyawa: Memahami Abses Gigi dari Karies hingga Komplikasi Serius
    Sakit gigi yang tampak sepele bisa berkembang menjadi abses yang mengancam jalan napas. Artikel ini mengupas patofisiologi abses gigi, tanda bahaya penyebaran infeksi seperti Ludwig’s angina, prinsip tata laksana berbasis drainase dan antibiotik rasional, serta data SKI 2023 yang mengungkap kesenjangan besar antara prevalensi karies dan akses perawatan gigi di Indonesia.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca