A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Beberapa orang masih belum bisa sepenuhnya beralih dari Windows ke Linux, karena banyak hal yang berbeda yang ditemukan dalam kedua sistem tersebut. Walau bagi mereka yang sudah mencoba, biasanya tidak akan jauh berbeda. Chalet OS mungkin salah satu sampul distribusi Linux yang mencoba menjembatani kondisi ini dengan memberikan antarmuka dan fitur yang ramah bagi penggunanya.

Saya sendiri hanya bisa melihat beberapa hal yang menarik, seperti tampilan desktop Xubuntu yang dipermak begitu mirip dengan antarmuka Windows 7. Mungkin pengguna Linux yang lebih lama menyentuh Linux tidak akan berminat; namun bagi para pemula ini sangat menyenangkan dicoba.

Yang menarik juga, tampaknya Chalet OS, sebagaimana Xubuntu juga tidak memerlukan komputer dengan spesifikasi yang tinggi untuk dijalankan. Cukup dengan CPU 1 GHz+; RAM sekitar 256 MB (tapi untuk menjalankan Live CD disarankan 512 MB); HHD sekitar 8 GB; dan kartu grafis dan layar yang mendukung resolusi 1024 x 768. Dengan ini, bahkan komputer lama bisa dijalankan kembali.

Chalet OS
Tampilan dekstop kustom cari Chalet OS. Sumber gambar: Google+

Selain itu, di halaman resmi, pihak pengembang juga menyediakan pelbagai aplikasi pendukung sperti Foxit Reader, Google Earth, Skype, dan sebagainya; yang mungkin akan diperlukan pengguna untuk produktivitasnya.

We all know someone who has tried to move to Linux but it was not successful. The system that he tried was too different from what he was used to. There was too many new things and the old things were elsewhere. The goal of this project is to one get used to Linux.
This system is not too different from Xubuntu system on what is based on, but ChaletOS has a style that everyone knows, appealing simplicity and speed that impresses. All this will make them to fall in love with this system quickly. Because of its small hardware requirements it will revive some old machines and refresh others, not so old.
Name ChaletOS came from the style of the mountain houses in Switzerland. The concept of these houses is similar to the concept that we had while we made this system: simplicity, beauty and recognizability. Since we want the new users feel at home, we expect this system to meet this goal.

Jika Anda tertarik mencoba distribusi Linux yang satu ini, silakan mengunduh berkas citra pemasangannya via: ChaletOS.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

8 tanggapan

  1. R10 Avatar
    R10

    Iya sih, cocok untuk komputer speks rendah. Semakin kompleks fitur desktopnya akan butuh RAM lebih besar, seperti Unity Ubuntu

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Katanya Unity untuk versi Ubuntu 15.04 besok sudah cukup ringan. Jadi penasaran saja :).

      Suka

  2. gadgetboi Avatar

    “Mungkin pengguna Linux yang lebih lama menyentuh Linux tidak akan berminat..”
    ah siapa bilang 😀 … saya suka sama desktop classic hihihi …

    dapet-dapet aja bli … saya belom pernah dengar malahan …

    Suka

    1. Cahya Avatar

      Kalau keseringan di distro watch ya bakalan ada saja Mas. ????

      Suka

    2. gadgetboi Avatar

      saya cuman ke distrowatch kalau ada weekly review saja 😀 suka sama yg nyoba-nyobain linux …

      Suka

    3. Cahya Avatar

      Saya malah jarang baca weekly review ????.

      Suka

    4. gadgetboi Avatar

      padahal itu kan the best part of distrowatch 😀

      Suka

    5. Cahya Avatar

      Iya, tapi kepanjangan… ????

      Suka

Tinggalkan Balasan ke R10 Batalkan balasan