Kanker serviks—atau kanker leher rahim—adalah salah satu keganasan yang paling bisa dicegah di antara seluruh jenis kanker yang ada. Fakta ini seharusnya menjadi kabar baik. Namun kenyataan di lapangan masih memprihatinkan: hingga hari ini, kanker ini masih merenggut nyawa perempuan setiap dua menit sekali di seluruh dunia, dan sebagian besar kematian itu terjadi di negara-negara berkembang, termasuk Indonesia.
Artikel ini mengulas secara terpadu pendekatan pengendalian kanker serviks—mulai dari memahami penyebabnya, strategi skrining dan vaksinasi, tata laksana klinis, hingga agenda eliminasi global yang kini aktif dijalankan pemerintah Indonesia.
Beban Global dan Epidemiologi di Indonesia
Secara global, kanker serviks adalah kanker keempat tersering pada perempuan, dengan sekitar 600 ribu kasus baru per tahun dan beban kumulatif lebih dari 53 juta kasus di seluruh dunia. Satu nyawa perempuan hilang setiap dua menit akibat penyakit ini.
Distribusi geografisnya sangat tidak merata. Insidens kanker serviks masih sangat terkait erat dengan status sosioekonomi individu dan indeks pembangunan manusia suatu negara, sehingga upaya eliminasi tidak akan berhasil tanpa menempatkan ekuitas kesehatan sebagai prioritas utama.
Di kawasan Asia-Pasifik, situasinya juga mengkhawatirkan. Di antara negara-negara Asia dan Oseania, Fiji, Papua Nugini, Kepulauan Solomon, Indonesia, Maladewa, dan Myanmar memiliki angka insidens dan mortalitas yang sangat tinggi berdasarkan standarisasi usia.
Untuk Indonesia sendiri, laporan GLOBOCAN 2020 mencatat lebih dari 36.000 kasus baru dan lebih dari 21.000 kematian per tahun akibat kanker serviks. Kanker serviks adalah kanker dengan jumlah kasus dan kematian tertinggi kedua pada perempuan Indonesia, setelah kanker payudara.
Mengapa Hampir Semua Kanker Serviks Bisa Dicegah?
Jawabannya terletak pada penyebabnya yang sudah diketahui dengan pasti. Kanker serviks disebabkan oleh infeksi tipe human papillomavirus (HPV) onkogenik, yang merupakan penyebab utama morbiditas dan mortalitas kanker yang sebenarnya dapat dicegah secara global.
Dari lebih dari 200 genotipe HPV yang telah teridentifikasi, beberapa tipe high-risk seperti HPV tipe 16, 18, 31, 33, 35, 39, 45, 51, 52, 56, 58, dan 59 berkontribusi pada perkembangan kanker serviks. Pada sekitar 10% kasus, infeksi HPV persisten dapat berkembang menjadi kanker prainvasif atau invasif dalam rentang waktu satu dekade. HPV 16 dan 18 saja bertanggung jawab atas sekitar 70% kasus kanker serviks di seluruh dunia.
Lesi prakanker serviks akibat infeksi HPV onkogenik kronis dan persisten, bila tidak terdeteksi dan tidak ditangani, dapat berkembang menjadi kanker invasif. Proses ini memakan waktu bertahun-tahun, bahkan satu hingga dua dekade, sehingga memberikan jendela waktu yang sangat panjang untuk intervensi pencegahan dan deteksi dini.
Tiga Pilar Pengendalian: Vaksinasi, Skrining, dan Tata Laksana
Pendekatan komprehensif terhadap kanker serviks bertumpu pada tiga pilar yang saling melengkapi dan tidak bisa berdiri sendiri-sendiri.
1. Vaksinasi HPV: Imunisasi sebagai Senjata Utama
Vaksin HPV adalah salah satu inovasi pencegahan kanker paling bermakna dalam sejarah kedokteran modern. Sejak pertama kali dilisensikan pada 2006 sebagai rejimen tiga dosis, vaksin HPV kemudian direvisi menjadi dua dosis untuk individu di bawah 15 tahun. Saat ini, enam vaksin HPV profilaksis telah dilisensikan secara global, semuanya dirancang untuk diberikan sebelum terpajan HPV, idealnya sebelum aktivitas seksual dimulai.
Penelitian populasi berskala besar di Swedia menunjukkan bahwa strategi vaksinasi dan skrining HPV secara bersamaan pada perempuan muda berpotensi mengurangi insidens infeksi HPV high-risk hingga 62–64% dalam tiga tahun, dengan penurunan yang paling nyata pada HPV tipe 16 dan 18.
Di Indonesia, perkembangan program vaksinasi HPV menunjukkan kemajuan yang signifikan. Indonesia telah mengintegrasikan vaksinasi HPV ke dalam program imunisasi rutin nasional dan sedang mengeksplorasi implementasi dosis tunggal vaksin, sesuai rekomendasi terbaru WHO bahwa satu dosis sudah cukup untuk memberikan perlindungan jangka panjang. Pada akhir 2025, Indonesia akan bertransisi ke jadwal vaksinasi HPV dosis tunggal, dengan platform berbasis sekolah dan komunitas untuk memastikan 90% cakupan vaksinasi pada perempuan dari seluruh kelompok sasaran pada 2030.
2. Skrining: Mendeteksi Sebelum Menjadi Kanker
Selama beberapa dekade, Papanicolaou test (Pap smear) menjadi tulang punggung skrining kanker serviks. Pendekatan skrining telah berevolusi dari sitologi (uji Papanicolaou) menuju metode molekular berbasis HPV yang jauh lebih sensitif, disertai pedoman manajemen yang lebih personal dan berbasis stratifikasi risiko.
Berdasarkan bukti yang kuat, rekomendasi global kini beralih ke skrining berbasis DNA HPV. Pemodelan menunjukkan bahwa pendekatan skrining HPV primer adalah yang paling efektif dan cost-effective, mampu menurunkan angka mortalitas kanker serviks yang distandarisasi usia sebesar 63–67% bila ditawarkan setiap 5 tahun dengan cakupan 70%. Sebaliknya, skrining dengan visual inspection with acetic acid (VIA) atau sitologi setiap 3 tahun terbukti kurang efektif dan kurang cost-effective dibandingkan skrining HPV setiap 5 tahun, dan VIA menghasilkan lebih dari dua kali lipat jumlah penanganan prakanker yang tidak perlu dibandingkan HPV.
Dalam konteks Indonesia, analisis cost-effectiveness dari perspektif masyarakat di empat rumah sakit Indonesia menyimpulkan bahwa tes HPV DNA memiliki potensi cost-effective yang baik dengan target biaya unit sekitar USD 8,76, sementara Pap smear setiap 3–5 tahun saat ini masih lebih cost-effective dibandingkan VIA.
Inovasi seperti pengambilan sampel mandiri (self-collection) untuk meningkatkan akses skrining, metode triase inovatif untuk mengoptimalkan manajemen hasil skrining positif, dan pendekatan tata laksana prakanker yang skalabel menjadi kunci untuk meningkatkan manfaat intervensi pencegahan ini.
WHO kini merekomendasikan strategi skrining primer HPV DNA dengan pendekatan screen-and-treat atau screen-triage-and-treat, dimulai dari usia 30 tahun dengan interval 5 atau 10 tahun. Indonesia secara aktif memperluas akses skrining berbasis HPV DNA dan mengembangkan pendekatan self-sampling untuk menjangkau perempuan di daerah terpencil.
3. Tata Laksana Klinis: Dari Prakanker hingga Stadium Lanjut
Tata laksana kanker serviks sangat bergantung pada stadium penyakit berdasarkan sistem International Federation of Gynecology and Obstetrics (FIGO). Lesi prakanker (Cervical Intraepithelial Neoplasia/CIN) dapat ditangani dengan prosedur eksisi atau ablasi seperti Loop Electrosurgical Excision Procedure (LEEP/Large Loop Excision of the Transformation Zone/LLETZ) dan terapi krioterapi.
Untuk kanker invasif stadium awal (stadium IA–IIA), pilihan utama adalah histerektomi radikal dengan limfadenektomi pelvik. Pada stadium lanjut lokal (IIB–IVA), kemoradioterapi definitif—kombinasi radioterapi eksternal, brakiterapi, dan kemoterapi berbasis platinum—menjadi standar tata laksana. Pada stadium IVA sekalipun, penggunaan PET/CT untuk penilaian staging, kemoterapi konkuren, dan brakiterapi berbasis pencitraan memberikan angka kelangsungan hidup 5 tahun sebesar 48%, dengan kontrol lokal 5 tahun mencapai 79%.
Bagi perempuan muda yang menginginkan kesuburan, pendekatan fertility-sparing kini didukung oleh pedoman bersama dari sejumlah organisasi Eropa. ESGO, ESHRE, dan ESGE secara bersama-sama mengembangkan pedoman berbasis bukti yang mencakup aspek-aspek strategi fertility-sparing selama manajemen awal, optimalisasi hasil fertilitas, dan keinginan pasien untuk hamil di masa depan.
Strategi Eliminasi Global: Target 90-70-90 pada 2030
Pada November 2020, WHO meluncurkan terobosan bersejarah: Global Strategy to Accelerate the Elimination of Cervical Cancer as a Public Health Problem. Strategi ini menetapkan target 90-70-90 yang harus dicapai pada 2030: 90% perempuan muda mendapatkan vaksinasi HPV penuh sebelum usia 15 tahun; 70% perempuan menjalani skrining dengan tes berkinerja tinggi pada usia 35 tahun dan kembali pada usia 45 tahun; serta 90% perempuan yang didiagnosis dengan penyakit serviks mendapatkan tata laksana yang tepat.
Model matematika menunjukkan bahwa pencapaian target ini di negara-negara berpenghasilan rendah dan menengah ke bawah akan menurunkan angka insidens kanker serviks sebesar 42% pada 2045 dan sebesar 97% pada 2120, mencegah lebih dari 74 juta kasus kanker baru, 300.000 kematian pada 2030, lebih dari 14 juta kematian pada 2070, dan lebih dari 62 juta kematian pada 2120.
Sebuah negara dinyatakan telah “mengeliminasi” kanker serviks sebagai masalah kesehatan masyarakat ketika tingkat insidens tahunannya turun di bawah 4 kasus per 100.000 perempuan per tahun.
Indonesia: Dari Komitmen Global Menuju Aksi Nasional
Indonesia memiliki perjalanan yang signifikan dalam agenda eliminasi kanker serviks ini. Pemerintah Indonesia menegaskan komitmennya untuk mengadopsi dan memperluas strategi eliminasi ke dalam sistem kesehatan nasional. Menteri Kesehatan menekankan bahwa eliminasi kanker serviks bukanlah mimpi yang mustahil, melainkan suatu keniscayaan yang dapat diwujudkan dengan kemauan politik, pembiayaan yang berkeadilan, dan kolaborasi lintas sektor dan lintas negara.
Dengan target nasional ambisius 90-75-90, Indonesia meluncurkan National Cervical Cancer Elimination Plan 2023–2030 dan membangun ekosistem kemitraan komprehensif yang melibatkan kementerian, pemerintah daerah, masyarakat sipil, komunitas, dan mitra pembangunan internasional.
Indonesia secara dramatis memperluas upaya skriningnya untuk menjangkau 75% perempuan usia 30–69 tahun pada 2030, menggunakan tes HPV DNA berkinerja tinggi—praktik terbaik yang diakui secara global. Percontohan nasional sudah berjalan, dengan adopsi skala penuh ditargetkan pada akhir 2025.
Proyeksi model menunjukkan hasil yang sangat menjanjikan. Jika Indonesia mencapai target 90-70-90 WHO pada 2030, kanker serviks dapat dieliminasi sebagai masalah kesehatan masyarakat di Indonesia pada sekitar tahun 2072, dengan potensi penyelamatan sekitar 3 juta jiwa hingga tahun 2120. Setiap USD 1 yang diinvestasikan dalam strategi eliminasi ini diperkirakan akan memberikan imbal hasil USD 43,14 bagi perekonomian dalam 30 tahun, meningkat menjadi USD 120,43 dalam rentang waktu 50 tahun.
Tantangan yang Masih Harus Diatasi
Meskipun kemajuan nyata telah dicapai, sejumlah tantangan struktural tetap harus dihadapi secara jujur.
Kesenjangan cakupan vaksinasi. Cakupan global dosis pertama vaksin HPV pada anak perempuan saat ini baru mencapai sekitar 27%, masih jauh di bawah target 90% yang ditetapkan untuk 2030, meskipun angka ini sudah meningkat dari 20% yang dilaporkan pada 2022. Di Indonesia, kesenjangan antar wilayah dalam akses vaksinasi masih perlu diatasi secara sistemik.
Keterbatasan infrastruktur skrining dan pengobatan. Implementasi tes HPV DNA pada skala nasional membutuhkan laboratorium, tenaga terlatih, sistem rujukan yang efisien, dan pembiayaan yang berkelanjutan—semua elemen yang masih perlu diperkuat, khususnya di daerah terpencil dan kepulauan.
Faktor ekuitas. Insidens dan mortalitas kanker yang berhubungan dengan HPV tetap sangat terkait dengan status sosioekonomi individu dan indeks pembangunan manusia suatu negara, sehingga upaya eliminasi tidak akan berhasil kecuali berfokus pada ekuitas kesehatan dengan komitmen pada pencegahan primer maupun sekunder.
Stigma dan hambatan sosial. Kanker serviks adalah penyakit yang terkait dengan organ reproduksi perempuan, sehingga sering kali dilingkupi stigma dan keengganan untuk membicarakannya secara terbuka. Komunikasi kesehatan yang efektif, sensitif budaya, dan berbasis komunitas menjadi elemen yang tidak kalah penting dibandingkan teknologi medis.
Pesan untuk Perempuan Indonesia
Setiap perempuan Indonesia—khususnya yang berusia 30 tahun ke atas—berhak atas informasi yang jelas dan akses yang nyata terhadap layanan skrining kanker serviks. Dalam sistem JKN/BPJS Kesehatan, layanan skrining kanker serviks dengan metode IVA (Inspeksi Visual Asam asetat) maupun Pap smear tersedia di fasilitas kesehatan tingkat pertama (Puskesmas dan klinik pratama). Program perluasan skrining berbasis HPV DNA secara bertahap juga sedang diekspansi.
Vaksin HPV kini tersedia dalam program imunisasi nasional untuk anak perempuan kelas 5 dan 6 SD. Bagi perempuan dewasa yang belum mendapat vaksinasi, konsultasikan kemungkinan vaksinasi dengan dokter. Ingat: vaksin melindungi, tetapi tidak menghilangkan kebutuhan skrining rutin, karena vaksin tidak mencakup semua tipe HPV risiko tinggi.
Deteksi dini adalah kunci. Kanker serviks yang ditemukan pada tahap prakanker atau stadium awal hampir selalu dapat disembuhkan.
Kesimpulan
Kanker serviks adalah salah satu kanker yang paling dapat dicegah dan paling dapat disembuhkan bila ditangani secara tepat dan dini. Kemajuan ilmu pengetahuan—dari pemahaman mendalam tentang HPV, vaksin profilaksis yang sangat efektif, hingga tes skrining molekular berbasis DNA—telah meletakkan fondasi yang kokoh untuk eliminasi penyakit ini dalam satu generasi.
Indonesia berada pada titik balik penting. Dengan National Cervical Cancer Elimination Plan 2023–2030, Indonesia tidak sekadar mengikuti agenda global, tetapi memposisikan diri sebagai pemimpin regional dalam upaya mulia ini—sebagaimana ditegaskan melalui penyelenggaraan 2nd Global Forum on Cervical Cancer Elimination di Bali pada Juni 2025. Namun, keberhasilan sejati hanya akan tercapai bila komitmen nasional benar-benar menyentuh setiap perempuan di setiap pelosok kepulauan nusantara.
Artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis dengan tenaga kesehatan profesional.
Daftar Referensi
Arroyo Mühr, L. S., Gini, A., Yilmaz, E., Hassan, S. S., Lagheden, C., Hultin, E., … & Dillner, J. (2024). Concomitant human papillomavirus (HPV) vaccination and screening for elimination of HPV and cervical cancer. Nature Communications, 15(1), 3679. https://doi.org/10.1038/s41467-024-47909-x
Guo, W., Ren, R., Li, N., & Hu, Y. (2024). Prognosis and treatment regimens for patients with different lymph node statuses in locally advanced cervical cancer. European Journal of Surgical Oncology, 50(11), 108522. https://doi.org/10.1016/j.ejso.2024.108522
Hafidz, F., Icanervilia, A. V., Rizal, M. F., Listiani, P., Setyaningsih, H., Sasanti, M. L., … & Nadjib, M. (2024). Economic evaluation of cervical cancer screening by HPV DNA, VIA, and Pap smear methods in Indonesia. Asian Pacific Journal of Cancer Prevention, 25(9), 3015–3022. https://doi.org/10.31557/APJCP.2024.25.9.3015
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2025, Juni). 2nd Global Forum on Cervical Cancer Elimination: Real Commitment Towards Cervical Cancer Elimination. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/en/forum-global-ke-2-eliminasi-kanker-serviks-komitmen-nyata-menuju-eliminasi-kanker-serviks/
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia – Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. (2025, Juni). Bali Declaration for Global Cervical Cancer Elimination. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/en/deklarasi-bali-untuk-eliminasi-kanker-serviks-secara-global/
Malagón, T., Franco, E. L., Tejada, R., & Vaccarella, S. (2024). Epidemiology of HPV-associated cancers past, present and future: towards prevention and elimination. Nature Reviews Clinical Oncology, 21(7), 522–538. https://doi.org/10.1038/s41571-024-00904-z
Morice, P., Scambia, G., Abu-Rustum, N. R., Acien, M., Arena, A., Brucker, S., … & Grynberg, M. (2024). Fertility-sparing treatment and follow-up in patients with cervical cancer, ovarian cancer, and borderline ovarian tumours: guidelines from ESGO, ESHRE, and ESGE. The Lancet Oncology, 25(11), e602–e610. https://doi.org/10.1016/S1470-2045(24)00262-6
Sahasrabuddhe, V. V. (2024). Cervical cancer: Precursors and prevention. Hematology/Oncology Clinics of North America, 38(4), 771–781. https://doi.org/10.1016/j.hoc.2024.03.005
Schiff, J. P., Mintz, R., Cohen, A. C., Huang, Y., Thaker, P., Massad, L. S., … & Markovina, S. T. (2022). Overall survival in patients with FIGO stage IVA cervical cancer. Gynecologic Oncology, 166(2), 292–299. https://doi.org/10.1016/j.ygyno.2022.05.022
Simms, K. T., Keane, A., Nguyen, D. T. N., Caruana, M., Hall, M. T., Lui, G., … & Canfell, K. (2023). Benefits, harms and cost-effectiveness of cervical screening, triage and treatment strategies for women in the general population. Nature Medicine, 29(12), 3050–3058. https://doi.org/10.1038/s41591-023-02600-4
Ueda, Y. (2024). Epidemiology of cervical cancer and HPV infection in Asia and Oceania. The Journal of Obstetrics and Gynaecology Research, 50(Suppl 1), 31–41. https://doi.org/10.1111/jog.15943
World Health Organization. (2020). Global strategy to accelerate the elimination of cervical cancer as a public health problem. WHO Press. https://www.who.int/publications-detail-redirect/9789240014107
World Health Organization Cervical Cancer Elimination Initiative / GAVI. (2025, Juni). Global leaders unite to accelerate cervical cancer elimination efforts. https://www.gavi.org/news/media-room/global-leaders-unite-accelerate-cervical-cancer-elimination-efforts
WHO/IARC Cervical Cancer Elimination Planning Tool. (2024). Indonesia factsheet: Elimination planning towards cervical cancer elimination. IARC/GCO. https://gco.iarc.fr/media/elimination_tool/factsheets/360-IDN-indonesia.pdf

Tinggalkan komentar