A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Tidak hanya dikenal ada smartphone, atau telepon pintar, tapi juga ada smart syringe atau jarum suntik pintar. Dalam keterangan pers yang dirilis oleh WHO di Genewa hari Minggu kemarin, dunia diajak untuk beralih ke sistem smart syringe. Kita tahu, bahwa penggunaan jarum suntik secara tidak aman berpotensi menularkan pelbagai jenis penyakit. Dan dengan pendekatan baru ini, jutaan orang bisa terlindungi dari infeksi menular.

Tidak dipungkiri, ada banyak tindakan penyuntikan yang tidak aman, baik oleh pihak-pihak yang menyalahgunakan jarum suntik itu sendiri, maupun di dunia kesehatan di mana jarum suntik masih merupakan benda mewah yang penggunaannya kadang masih dibagi-bagi antara pasien. Beruntung di Indonesia, ajakan untuk menggunakan jarum suntik dan metode menyuntik yang aman sudah diperkenalkan sejak bertahun-tahun ini.

Namun secara Internasional mungkin tidak demikian. Sebuah penelitian dari WHO menunjukkan sekitar 1,7 juta orang terinfeksi hepatitis B, hingga sekitar 350.000 orang terinfeksi hepatitis C, dan sekitar 33 ribu terinfeksi HIV. Ini bukanlah angka yang sedikit yang diakibatkan dari praktik menyuntik yang tidak aman.

Smart Syringe
Contoh diagram jarum suntik yang bisa mencegah penggunaan lebih dari sekali, dikenal sebagai smart needle. Sumber gambar: yankodesign.com.

Konsep yang diajak sebenarnya adalah menggunakan alat suntik, termasuk siring dan jarumnya, yang hanya bisa digunakan sekali pakai. WHO sendiri tidak membatasi bagaimana alat itu bekerja, setidaknya saat ini ada beberapa jenis model jarum suntik yang disebut sebagai smart syringe, yang tuas penariknya akan rusak jika dicoba menarik kembali setelah digunakan untuk menyuntik, ada juga yang memiliki klip logam guna mencegah hal yang sama. Jarum suntik juga ada yang didesain untuk melindungi tenaga kesehatan dari cedera “tertusuk jarum” yang kadang bisa terjadi pasca menyuntik pasien, misalnya dengan pelindung jarum yang meluncur menutupi jarum begitu jarum ditarik dari kulit pasien.

Jika alat suntik hanya bisa digunakan sekali, maka tidak akan mungkin digunakan pada orang lainnya, sehingga dengan sendirinya akan mencegah penularan pelbagai penyakit infeksi yang disebabkan oleh penggunaan penyuntikan yang tidak aman. Baik dari pasien ke pasien, maupun dengan harapan juga jika bisa dari pasien ke tenaga kesehatan.

Penggunaan alat suntik pintar ini diharapkan sudah diterapkan di seluruh dunia pada akhir 2020. Dengan pengecualian jika penggunaan alat suntik yang cuma bisa sekali pakai menghalangi prosedur medis tertentu, misalnya penggunaan syringe pump.

Permasalahan yang ada saat ini, tentu saja karena harga produksi alat suntik seperti masih relatif dua kali daripada harga alat suntik yang biasa (yang bisa dipakai berkali-kali).

Di Indonesia sendiri saya rasa sudah relatif menggunakan alat suntik sekali pakai. Kecuali di wilayah pinggiran, di mana nilai ekonomis penggunaan jarum suntik biasa masih diperhitungkan. Jarum suntik biasa pun masih aman digunakan ketika tidak digunakan secara berganti-ganti, dan hanya untuk satu orang saja.

← Kembali

Terima kasih atas tanggapan Anda. ✨

Rating(wajib)

Artikel Baru Terbit

  • Rumah Baru, Wajah Baru
    Legawa.com baru saja melakukan pembaruan identitas visual dengan logo baru yang sederhana, menggambarkan matahari di atas awan. Simbol ini merepresentasikan perjalanan penulis dan esai yang dihasilkan. Desain yang bersih dan konsisten diharapkan dapat menjadikan blog ini lebih tenang dan jujur, tanpa elemen yang bersaing.
  • Nutri‑Level: Ketika Segelas Boba Mulai Punya “Rapor” Kesehatan
    Kementerian Kesehatan Indonesia menerbitkan KMK Nomor HK.01.07/MENKES/301/2026 untuk mengatur label gizi pada minuman siap saji, dikenal sebagai Nutri-Level. Sistem ini bertujuan mengurangi konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, yang dapat menyebabkan penyakit tidak menular. Kebijakan ini diharapkan meningkatkan kesadaran konsumen dan mendorong reformulasi produk.
  • Ketika Angka Kasus HIV Tidak Menceritakan Seluruh Kisah: Menata Ulang Surveilans di Era Penyakit Lanjut
    Panduan konsolidasi WHO 2026 memperbarui definisi kasus HIV dan menambahkan indikator pemantauan penyakit HIV lanjut. Ini penting bagi Indonesia, yang memiliki 564.000 ODHIV, untuk mengevaluasi kesiapan SIHA 2.1 dalam mendukung pencapaian target eliminasi HIV pada tahun 2030, dengan data diharapkan lebih akurat dan terintegrasi.
  • Permenkes Perbekalan Kesehatan 2026: Antara Visi Kemandirian dan Realitas Akses Obat di Lapangan
    Pada 17 April 2026, Menteri Kesehatan mengeluarkan Permenkes Nomor 5 Tahun 2026 yang mengatur perbekalan kesehatan. Regulasi ini mencakup produksi dalam negeri, pengendalian harga, dan transparansi, namun masih menghadapi tantangan implementasi. Kemandirian farmasi masih rendah, dengan ketergantungan pada impor dan ketersediaan obat yang tidak memadai.
  • Permenkes Penanggulangan Penyakit 2026: Satu Payung Hukum, Berlapis Konsekuensi bagi Fasilitas Kesehatan
    Menteri Kesehatan menerbitkan Permenkes Nomor 3 Tahun 2026 untuk konsolidasi pengaturan penanggulangan penyakit di Indonesia. Regulasi ini mencakup penanggulangan penyakit menular, tidak menular, kesehatan lingkungan, dan kesehatan matra, serta menyusun kewajiban baru bagi fasilitas kesehatan. Tantangan implementasi masih ada, terutama terkait ambang batas GGL yang belum ditetapkan.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan Balasan

Eksplorasi konten lain dari Bhyllabus l'énigme

Langganan sekarang agar bisa terus membaca dan mendapatkan akses ke semua arsip.

Lanjutkan membaca