A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Diperbarui dari artikel asli yang diterbitkan 18 Mei 2015


Penyakit jantung tetap menjadi ancaman kesehatan terbesar yang dihadapi umat manusia. Secara global, penyakit kardiovaskular menyebabkan sekitar 18,6 juta kematian setiap tahunnya — menjadikannya penyebab kematian nomor satu di dunia selama lebih dari dua dekade terakhir (Kemenkes RI, 2024). Di Indonesia, kondisinya tidak kalah mengkhawatirkan. Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang diterbitkan Kementerian Kesehatan mencatat prevalensi penyakit jantung berdasarkan diagnosis dokter mencapai 0,85% dari seluruh penduduk Indonesia. Penyakit jantung iskemik menyumbang 14,38% dari seluruh penyebab kematian di Indonesia — menempati urutan kedua setelah stroke (Kemenkes RI, 2023). Yang lebih memprihatinkan, pada tahun 2023, pembiayaan penyakit kardiovaskular dalam program Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) mencapai Rp22,8 triliun — menjadi beban pembiayaan katastropik terbesar (Kemenkes RI, 2024).

Satu hal yang seringkali membuat penyakit jantung menjadi begitu mematikan bukanlah semata-mata karena kondisinya yang berat, melainkan karena ia kerap datang tanpa tanda yang jelas, atau tandanya disalahartikan sebagai keluhan biasa. Banyak orang mengabaikan gejala selama berhari-hari, bahkan berminggu-minggu, sebelum akhirnya memeriksakan diri — dan di sinilah nyawa bisa hilang.

Artikel ini bertujuan membantu Anda mengenali tanda-tanda yang mungkin mengisyaratkan adanya masalah pada jantung. Perlu dipahami bahwa tidak semua gejala berikut selalu berarti penyakit jantung, namun jika Anda memiliki faktor risiko dan mengalami satu atau beberapa gejala ini, jangan tunda untuk berkonsultasi dengan dokter.


Mengapa Gejala Penyakit Jantung Bisa Begitu Beragam?

Jantung adalah pompa yang tak pernah berhenti. Ketika aliran darah ke otot jantung terganggu — baik akibat penyempitan pembuluh koroner, gangguan ritme, maupun kelemahan otot jantung — tubuh akan bereaksi dengan berbagai cara. Respons ini bergantung pada usia, jenis kelamin, ada tidaknya komorbiditas seperti diabetes, serta seberapa berat gangguan yang terjadi.

Itulah mengapa gambaran “serangan jantung seperti di film” — orang meremas dada dengan nyeri hebat — hanyalah sebagian kecil dari kenyataan. Penelitian yang dipublikasikan di Open Heart (2025) menunjukkan bahwa perempuan yang mengalami serangan jantung akut (acute myocardial infarction) cenderung memiliki presentasi gejala yang lebih tidak khas (atypical) dibandingkan laki-laki, yang berkontribusi pada keterlambatan diagnosis dan angka kematian yang lebih tinggi pada kelompok perempuan (Dawson et al., 2025). Data SKI 2023 sendiri mencatat bahwa prevalensi penyakit jantung pada perempuan (0,9%) lebih tinggi dibandingkan laki-laki (0,8%) di Indonesia (Kemenkes RI, 2023).


Faktor Risiko: Kenali Posisi Anda

Sebelum membahas gejala, penting untuk mengetahui apakah Anda berada dalam kelompok berisiko. Semakin banyak faktor risiko yang dimiliki, semakin besar kemungkinan terjadinya masalah jantung. Faktor-faktor risiko utama penyakit jantung di Indonesia meliputi:

  • Hipertensi — menjadi faktor risiko kardiovaskular paling dominan di Indonesia berdasarkan SKI 2023 (BKPK Kemenkes, 2024)
  • Diabetes melitus — prevalensinya meningkat dari 1,5% (Riskesdas 2018) menjadi 1,7% (SKI 2023) pada penduduk semua umur (BKPK Kemenkes, 2024)
  • Kebiasaan merokok
  • Obesitas dan pola makan tinggi gula, garam, serta lemak
  • Kurang aktivitas fisik
  • Riwayat keluarga dengan penyakit jantung
  • Usia lanjut dan pascamenopause pada perempuan

Yang perlu diwaspadai adalah pergeseran usia penderita penyakit jantung. Kemenkes RI mencatat bahwa penyakit jantung kini mulai banyak ditemukan pada usia muda, didorong oleh perubahan gaya hidup yang tidak sehat (Kemenkes RI, 2024). Terlebih lagi, diperkirakan 50% penderita penyakit jantung koroner berisiko mengalami sudden cardiac death atau henti jantung mendadak (Dinkes Banjarmasin, 2024).


Gejala dan Tanda yang Perlu Diwaspadai

1. Nyeri atau Ketidaknyamanan di Dada

Nyeri dada adalah gejala yang paling dikenal dari serangan jantung, namun presentasinya jauh lebih beragam dari yang banyak orang bayangkan. Nyeri jantung (angina atau nyeri serangan jantung) biasanya terasa di belakang tulang dada, bisa menjalar ke daerah tengah atau sedikit ke kiri. Sensasinya bisa berupa tertekan, diremas, sesak, atau rasa penuh — bukan selalu nyeri tajam yang menusuk.

Kadang yang dirasakan bukan nyeri, melainkan sensasi terbakar atau perih di dada, sehingga tidak jarang disalahartikan sebagai heartburn atau masalah lambung. Pada sebagian orang, nyeri bahkan tidak cukup hebat untuk mendorong mereka minum obat pereda nyeri sekalipun. Gejala nyeri dada yang muncul saat beraktivitas dan mereda saat istirahat secara khusus disebut angina stabil dan merupakan tanda peringatan penting bahwa pembuluh koroner Anda mungkin sudah menyempit.

2. Nyeri yang Menjalar ke Bagian Tubuh Lain

Pada banyak kasus serangan jantung, rasa tidak nyaman tidak hanya dirasakan di dada. Nyeri bisa menjalar ke bahu, lengan (terutama lengan kiri, meski bisa juga keduanya atau lengan kanan), siku, punggung atas, leher, rahang, bahkan perut. Yang membingungkan, kadang tidak ada nyeri dada sama sekali — hanya ada nyeri di lengan atau rahang yang tampak tidak berkaitan dengan jantung.

3. Sesak Napas

Sesak napas yang muncul tiba-tiba saat beristirahat, atau sesak yang tidak sebanding dengan aktivitas yang dilakukan, adalah tanda serius. Pada gagal jantung, cairan dapat menumpuk di paru-paru (kondisi yang disebut edema pulmonal), menyebabkan sesak yang sering memburuk saat berbaring dan membaik saat duduk tegak. Beberapa pasien serangan jantung justru lebih menonjolkan keluhan sesak napas dibandingkan nyeri dada — terutama pada perempuan dan penderita diabetes.

4. Kelelahan yang Tidak Biasa

Kelelahan ekstrem yang tidak dapat dijelaskan, terutama jika muncul tiba-tiba atau berlangsung terus-menerus, perlu diwaspadai. Pada perempuan, kelelahan yang tidak biasa ini bahkan bisa muncul beberapa hari atau minggu sebelum serangan jantung terjadi — menjadikannya sinyal peringatan yang sering terlewatkan. Gagal jantung kronis juga kerap menyebabkan kelelahan persisten karena jantung tidak mampu memompa darah secara efisien ke seluruh tubuh.

5. Pusing, Rasa Melayang, atau Hampir Pingsan

Gangguan aliran darah ke otak akibat masalah jantung — baik karena serangan jantung maupun gangguan ritme (aritmia) — dapat menyebabkan pusing mendadak, rasa seperti akan pingsan (presinkop), atau kehilangan kesadaran (sinkop). Jika Anda mengalami pusing mendadak yang disertai nyeri dada atau jantung berdebar, jangan abaikan hal ini.

6. Jantung Berdebar atau Detak yang Tidak Teratur

Sensasi jantung berdebar kencang, berdetak tidak beraturan, atau seperti ada detak yang “melompat” (palpitasi) bisa menjadi manifestasi aritmia. Meski kadang tidak berbahaya, aritmia tertentu — seperti fibrilasi atrium atau takikardia ventrikel — dapat meningkatkan risiko stroke, gagal jantung, bahkan kematian mendadak. Palpitasi yang disertai pusing, sesak, atau nyeri dada memerlukan evaluasi medis segera.

7. Bengkak pada Kaki, Pergelangan, atau Tungkai

Penumpukan cairan (edema) pada kaki, pergelangan kaki, atau tungkai bawah merupakan tanda klasik gagal jantung. Kondisi ini terjadi karena jantung yang lemah tidak mampu memompa darah secara efisien, sehingga darah “menggenang” di pembuluh darah perifer dan cairan merembes ke jaringan sekitarnya. Perut pun bisa membesar akibat penumpukan cairan (asites) pada gagal jantung berat.

8. Batuk yang Menetap atau Mengi

Batuk kering yang berkepanjangan, atau batuk berdahak berbusa berwarna merah muda atau putih, bisa menjadi pertanda cairan di paru-paru akibat gagal jantung. Banyak pasien yang mengira batuknya disebabkan oleh infeksi saluran napas atau efek samping obat, padahal kondisi jantungnya sedang memburuk secara diam-diam.

9. Mual, Muntah, atau Gangguan Pencernaan

Mual dan muntah dapat menyertai serangan jantung, terutama pada serangan jantung bagian bawah (inferior myocardial infarction) yang letaknya dekat dengan diafragma. Gejala ini kerap membuat pasien salah mengira sedang mengalami maag atau keracunan makanan, sehingga penanganan medis tertunda. Pembengkakan perut akibat gagal jantung juga dapat mengurangi nafsu makan.

10. Berkeringat Dingin Tanpa Sebab Jelas

Keluar keringat dingin secara tiba-tiba — terutama saat Anda sedang beristirahat atau tidak beraktivitas fisik — merupakan tanda peringatan serius. Ini adalah respons saraf otonom tubuh terhadap kondisi darurat seperti serangan jantung. Keringat dingin yang disertai nyeri dada atau sesak napas harus dianggap sebagai kedaruratan medis sampai terbukti sebaliknya.

11. Kecemasan atau Rasa Seperti “Sesuatu yang Buruk Akan Terjadi”

Perasaan cemas yang intens, rasa takut mati yang mendadak, atau perasaan tidak bisa dijelaskan bahwa “ada yang tidak beres” adalah gejala yang sering dilaporkan oleh pasien yang selamat dari serangan jantung. Ini bukan sekadar respons psikologis — kondisi ini dapat mencerminkan aktivasi sistem saraf otonom yang dipicu oleh krisis kardiovaskular.

12. Lemas Mendadak yang Ekstrem

Kelemahan mendadak yang parah — hingga seseorang merasa tidak mampu mengangkat lengannya sendiri — dapat terjadi dalam jam-jam menjelang atau saat serangan jantung berlangsung. Berbeda dengan kelelahan biasa, kelemahan ini datang tiba-tiba dan tidak proporsional dengan aktivitas yang dilakukan.


Kenapa Gejala pada Perempuan Bisa Berbeda?

Ini adalah hal yang penting untuk digarisbawahi. Secara tradisional, nyeri dada berat dianggap sebagai gejala utama serangan jantung. Namun penelitian menunjukkan bahwa perempuan lebih sering mengalami gejala-gejala yang tidak khas — seperti kelelahan ekstrem, mual, sesak napas, nyeri rahang atau punggung — dibandingkan laki-laki. Studi yang dipublikasikan di BMC Cardiovascular Disorders (2025) mengkonfirmasi bahwa perbedaan berbasis jenis kelamin (sex-based differences) dalam presentasi klinis serangan jantung berkontribusi pada perbedaan hasil akhir pengobatan (Zhao et al., 2025).

Inilah mengapa perempuan — dan juga tenaga kesehatan — perlu lebih waspada terhadap gejala-gejala yang tampaknya tidak berkaitan dengan jantung. Kemenkes RI sendiri mencatat bahwa risiko penyakit jantung koroner pada perempuan meningkat drastis setelah menopause (Kemenkes RI, 2023).


Kapan Harus Segera ke Dokter atau IGD?

Jika Anda atau seseorang di sekitar Anda mengalami kombinasi gejala berikut — terutama jika memiliki faktor risiko — segera cari pertolongan medis tanpa menunggu:

  • Nyeri atau rasa tertekan di dada yang berlangsung lebih dari beberapa menit, atau yang hilang lalu kembali lagi
  • Nyeri yang menjalar ke lengan, rahang, leher, atau punggung
  • Sesak napas mendadak, dengan atau tanpa nyeri dada
  • Berkeringat dingin, mual, atau pusing yang tiba-tiba

Ingat: waktu adalah otot jantung (time is muscle). Semakin cepat serangan jantung ditangani, semakin banyak otot jantung yang dapat diselamatkan. Jangan membuang waktu mencari tahu di internet, atau menunggu apakah gejala akan mereda sendiri.


Pencegahan: 80% Bisa Dihindari

Kabar baiknya, Kemenkes RI menyebutkan bahwa 80% penyakit jantung dapat dicegah melalui pencegahan primer (Kemenkes RI, 2024). Kemenkes menganjurkan dua pendekatan perilaku hidup sehat yang dapat diingat dengan mudah:

CERDIK: Cek kesehatan rutin; Enyahkan asap rokok; Rajin aktivitas fisik; Diet gizi seimbang; Istirahat cukup; Kelola stres.

PATUH: Periksa kesehatan rutin; Atasi penyakit dengan pengobatan tepat; Tetap diet seimbang; Upayakan aktivitas fisik; Hindari rokok, alkohol, dan zat berbahaya.

Pola hidup ini, diterapkan sejak dini — bahkan sejak usia muda — adalah investasi terbaik untuk kesehatan jantung Anda di masa depan.


Penutup

Penyakit jantung tidak selalu datang dengan cara yang dramatis seperti dalam film. Ia bisa berjalan pelan-pelan, menampakkan diri dalam bentuk kelelahan yang diabaikan, sesak yang dikira asma, atau mual yang dianggap masalah lambung. Memahami ragam gejalanya — dan bertindak cepat saat mengalaminya — adalah perbedaan antara hidup dan mati.

Apakah Anda memiliki faktor risiko penyakit jantung? Sudahkah Anda memeriksakan kesehatan jantung Anda secara rutin? Jangan tunggu gejala muncul untuk mulai peduli.


Referensi

Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan (BKPK) Kemenkes RI. (2024). Potret sehat Indonesia dari kacamata SKI 2023. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id/potret-sehat-indonesia-dari-kacamata-ski-2023/

Dawson, L. P., Lefkovits, J., & nehme, Z. (2025). Exploring sex differences in mortality among acute myocardial infarction. Open Heart, 12(1). https://doi.org/10.1136/openhrt-2025-003517

Kementerian Kesehatan RI. (2023, September 25). Kenali gejala jantung sejak dini. https://kemkes.go.id/id/rilis-kesehatan/kenali-gejala-jantung-sejak-dini

Kementerian Kesehatan RI. (2023). Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 dalam angka. Badan Penelitian dan Pengembangan Kesehatan. https://kemkes.go.id/app_asset/file_content_download/17169067256655eae5553985.98376730.pdf

Kementerian Kesehatan RI. (2024, September 23). Kenali gejala jantung sejak dini [Siaran pers Hari Jantung Sedunia 2024]. https://kemkes.go.id/id/rilis-kesehatan/kenali-gejala-jantung-sejak-dini

Zhao, Y., Zhang, X., Li, M., & Chen, L. (2025). Sex differences in outcomes in patients with acute myocardial infarction. BMC Cardiovascular Disorders, 25(1). https://doi.org/10.1186/s12872-025-04713-9


Artikel ini merupakan pembaruan dari tulisan asli yang diterbitkan pada 18 Mei 2015 di legawa.com. Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak menggantikan konsultasi medis profesional.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar