Setiap kali pergantian musim, atau saat hujan turun lebih sering dari biasanya, jumlah pasien yang datang ke puskesmas, klinik, atau praktik dokter dengan keluhan batuk, pilek, dan hidung tersumbat melonjak signifikan. Infeksi saluran pernapasan atas — yang dalam dunia medis sering disingkat ISPA — secara konsisten menduduki peringkat pertama atau kedua dalam daftar penyakit terbanyak di fasilitas pelayanan kesehatan tingkat pertama di Indonesia.
Data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) tahun 2023 yang diterbitkan oleh Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan Kemenkes RI mencatat bahwa prevalensi ISPA pada balita meningkat hampir tiga kali lipat dibandingkan hasil Riskesdas 2018, dari 12,8% menjadi 34,2%. Angka ini menunjukkan bahwa ISPA bukan sekadar “penyakit biasa” yang bisa diabaikan begitu saja, meski mayoritas kasus memang akan sembuh dengan sendirinya. Data Kemenkes pada September 2023 juga mencatat lebih dari 90.000 kasus ISPA non-pneumonia hanya dalam satu pekan di wilayah Jabodetabek, dengan mayoritas (55%) menyerang kelompok usia produktif.
Artikel ini memperbarui tulisan yang pernah dimuat di situs ini pada 2015, dengan merangkum bukti ilmiah terkini mengenai penyebab, gejala, tatalaksana, dan pencegahan ISPA.
Apa Itu ISPA, dan Mengapa Seringkali Disebut “Diagnosis Tong Sampah”?
Istilah infeksi saluran pernapasan atas (ISPA) atau dalam bahasa Inggris upper respiratory tract infection (URTI) sebenarnya merupakan istilah payung yang mencakup berbagai kondisi berbeda. Di dalamnya termasuk common cold (batuk pilek biasa), faringitis (radang tenggorokan), rhinosinusitis (infeksi sinus), laringitis (radang pita suara), hingga otitis media (infeksi telinga tengah) sebagai komplikasi yang lazim.
Dalam praktik klinis sehari-hari, ISPA sering kali dituliskan sebagai diagnosis ketika dokter menilai adanya infeksi pada saluran napas atas tanpa kepastian diagnosis yang lebih spesifik — terutama ketika gejalanya ringan dan kondisi pasien secara umum baik. Maka tidak heran jika istilah ini mendapat julukan tidak resmi sebagai “diagnosis tong sampah”: mudah dimasukkan ke dalamnya, namun sesungguhnya mencakup spektrum kondisi yang luas.
Apa yang Menyebabkan ISPA?
Penyebab utama ISPA adalah infeksi virus. Lebih dari 200 jenis virus diketahui dapat menyebabkan common cold saja, dan kelompok virus yang paling sering bertanggung jawab meliputi: rhinovirus (penyebab paling umum, sekitar 30–50% kasus), coronavirus (termasuk jenis-jenis yang tidak berkaitan dengan SARS-CoV-2), respiratory syncytial virus (RSV), adenovirus, parainfluenza, dan influenza. Sebuah studi di Malaysia yang diterbitkan oleh Bo dkk. (2022) pada pasien faringitis akut di layanan kesehatan primer bahkan menemukan bahwa 95,1% dari mereka membawa setidaknya satu dari empat jenis virus, dengan rhinovirus menjadi yang paling dominan (88,5%) (Bo et al., 2022).
Respiratory syncytial virus (RSV) patut mendapat perhatian tersendiri, khususnya pada anak-anak. RSV merupakan penyebab utama infeksi saluran pernapasan bawah pada anak di bawah satu tahun, dan pasca pandemi COVID-19 terjadi kecenderungan peningkatan kasus RSV yang diyakini terkait dengan immunity debt — berkurangnya kekebalan alami akibat minimnya paparan selama periode pembatasan sosial (Soni et al., 2023).
Meski jauh lebih jarang, beberapa bakteri juga dapat menyebabkan infeksi saluran pernapasan atas, seperti Streptococcus pyogenes (penyebab faringitis bakterial) dan bakteri atipikal seperti Mycoplasma pneumoniae. Infeksi bakteri biasanya perlu dibedakan secara klinis maupun, bila perlu, dengan pemeriksaan penunjang, karena hanya kondisi ini yang memerlukan terapi antibiotik.
Mengapa Anak-Anak Lebih Sering Sakit?
Orang dewasa sehat rata-rata mengalami 2–4 episode common cold per tahun, sementara anak-anak bisa mengalami hingga 6–8 episode — angka yang masih dianggap normal dan bukan pertanda ada yang salah dengan daya tahan tubuh anak. Sistem imun anak masih dalam proses “belajar” mengenal berbagai patogen baru yang belum pernah ditemuinya, ditambah intensitas kontak fisik yang tinggi di lingkungan seperti tempat penitipan anak atau sekolah.
Hal ini sering menjadi sumber kekhawatiran orang tua, yang merasa anaknya “terlalu sering sakit”. Selama gejala yang muncul ringan, tidak ada tanda bahaya, dan anak tetap aktif serta mau makan dan minum, pada umumnya tidak perlu terlalu dikhawatirkan.
Bagaimana Gejala ISPA Berkembang?
Gejala biasanya muncul 1–3 hari setelah terpapar virus, dan perjalanannya cukup khas. Pada hari pertama hingga ketiga, gejala berada di puncaknya: hidung tersumbat, pilek encer yang kemudian dapat berubah menjadi kental kekuningan atau kehijauan (ini bukan tanda infeksi bakteri, melainkan proses normal respons imun), bersin, nyeri tenggorokan, dan mungkin disertai demam ringan hingga sedang. Nyeri kepala, lemas, dan pegal-pegal sering menyertai.
Batuk adalah gejala yang kerap menjadi masalah tersendiri. Batuk dapat muncul sejak awal, atau baru mencolok setelah gejala lain mereda. Ini karena peradangan pada saluran napas yang dipicu infeksi memerlukan waktu lebih lama untuk pulih sepenuhnya. Tidak jarang batuk masih menetap 2–3 minggu setelah gejala lain sudah hilang, dan kondisi ini secara medis normal — bukan berarti infeksi belum sembuh atau seseorang perlu antibiotik. Batuk yang berlangsung lebih dari 3 minggu, terutama jika disertai gejala lain yang mengkhawatirkan, baru perlu dievaluasi lebih lanjut.
Tatalaksana: Apa yang Benar-Benar Bermanfaat?
Tidak ada obat yang dapat “membunuh” virus penyebab common cold. Tatalaksana ISPA bersifat suportif dan simtomatik — tujuannya adalah meringankan ketidaknyamanan gejala sambil menunggu sistem imun bekerja membersihkan infeksi.
Antipiretik dan analgesik. Parasetamol atau ibuprofen digunakan untuk menurunkan demam dan meringankan nyeri tenggorokan, nyeri kepala, serta pegal-pegal. Keduanya aman untuk dewasa; untuk anak-anak, pilihan dan dosis disesuaikan dengan usia dan berat badan. Aspirin tidak diberikan kepada anak-anak di bawah 16 tahun karena risiko sindrom Reye.
Dekongestan, antihistamin, dan obat kombinasi. Berbagai sediaan obat batuk pilek bebas tersedia di apotek dan dapat membantu meringankan gejala. Kiran dkk. (2024) dalam studi terhadap 420 pasien dewasa dengan common cold di India menemukan bahwa kombinasi parasetamol, fenilefrin, dan klorfeniramin maleate secara signifikan mengurangi skor total gejala dari hari pertama hingga kelima pengobatan, dengan profil keamanan yang baik (Kiran et al., 2024). Namun, perlu diperhatikan bahwa banyak sediaan kombinasi sudah mengandung parasetamol, sehingga perlu dihindari pemberian ganda yang dapat menyebabkan overdosis. Obat-obatan yang mengandung antihistamin generasi pertama (seperti klorfeniramin) dapat menyebabkan kantuk — yang bisa bermanfaat di malam hari untuk membantu tidur, namun harus dihindari saat berkendara atau mengoperasikan mesin.
Tentang obat batuk pilek bebas pada anak kecil. Badan regulasi di berbagai negara, termasuk yang menjadi acuan WHO, tidak merekomendasikan penggunaan obat batuk pilek bebas pada anak di bawah usia 2 tahun, bahkan beberapa merekomendasikan batasan hingga usia 6 tahun, karena bukti efektivitasnya terbatas dan risiko efek samping yang tidak diinginkan cukup nyata. Untuk anak-anak, madu (≥1 tahun) dapat menjadi alternatif untuk meringankan batuk berdasarkan sejumlah penelitian.
Zinc. Beberapa studi menunjukkan bahwa suplemen zinc yang diminum dalam 24 jam pertama setelah gejala muncul dapat memperpendek durasi common cold pada orang dewasa. Namun penggunaannya dalam jangka panjang tidak dianjurkan karena kekhawatiran akan toksisitas.
Istirahat dan hidrasi. Dua hal ini sering diremehkan. Istirahat cukup dan asupan cairan yang memadai — terutama saat demam — adalah bagian penting dari pemulihan.
Antibiotik: Kapan Diperlukan, Kapan Tidak?
Ini mungkin bagian yang paling penting dari artikel ini.
Antibiotik bekerja melawan bakteri, bukan virus. Oleh karena itu, antibiotik tidak bermanfaat — dan justru berpotensi membahayakan — bila digunakan untuk ISPA yang disebabkan virus, yang merupakan mayoritas kasus. Sebuah studi observasional di fasilitas kesehatan primer di Indonesia (Surabaya dan Banjarmasin) yang diterbitkan oleh Wibowo dkk. (2025) menemukan bahwa ISPA non-pneumonia merupakan indikasi terbanyak untuk pemberian antibiotik pada anak di bawah lima tahun — meski panduan klinis justru tidak merekomendasikannya untuk kondisi ini (Wibowo et al., 2025).
Pola overpresripsi antibiotik untuk ISPA adalah masalah global yang berkontribusi langsung pada resistansi antimikroba. Bianco dkk. (2021) dalam studinya di Italia menemukan bahwa antibiotik diresepkan tanpa indikasi yang tepat pada sekitar 24,6% dari anak-anak dengan ISPA yang datang ke layanan kesehatan primer (Bianco et al., 2021).
Kapan antibiotik memang diperlukan?
Antibiotik baru dipertimbangkan pada ISPA jika ada bukti atau kecurigaan kuat infeksi bakteri, misalnya:
- Faringitis streptokokus (Streptococcus grup A): ditandai nyeri tenggorokan hebat, demam, pembesaran amandel dengan eksudat, dan tidak ada gejala hidung tersumbat atau batuk yang menonjol. Panduan internasional merekomendasikan penicillin V atau amoksisilin sebagai pilihan pertama selama 10 hari (Pellegrino et al., 2023).
- Sinusitis bakterial akut: ditandai gejala yang menetap lebih dari 10 hari tanpa perbaikan, atau perburukan mendadak setelah sempat membaik.
- Otitis media akut pada anak tertentu (tergantung usia dan keparahan).
- Pneumonia yang telah dikonfirmasi.
Penggunaan antibiotik tanpa indikasi tidak mempercepat penyembuhan ISPA viral, namun menambah risiko efek samping (diare, ruam, reaksi alergi) dan berkontribusi pada berkembangnya bakteri resistan.
Mendeteksi Lebih Awal: Apakah Pemeriksaan Laboratorium Diperlukan?
Untuk kasus ISPA ringan tanpa komplikasi pada pasien yang sehat, pemeriksaan laboratorium umumnya tidak diperlukan. Webster dkk. (2024) dalam tinjauan sistematis yang komprehensif menyimpulkan bahwa gejala klinis sendiri memiliki akurasi diagnostik yang terbatas untuk membedakan infeksi bakteri dari viral — dengan sensitivitas yang sangat bervariasi. Penggunaan penanda biologis seperti CRP (C-reactive protein) atau prokalsitonin dapat membantu dalam kasus yang meragukan, namun penggunaannya secara rutin belum terbukti hemat biaya di layanan primer (Webster et al., 2024).
Tanda Bahaya yang Perlu Diwaspadai
Sebagian besar ISPA berjalan ringan dan swasembuh. Namun, segera konsultasikan ke dokter apabila muncul tanda-tanda berikut:
- Napas cepat atau sesak napas, terutama pada anak
- Demam tinggi (>39°C) yang tidak membaik dengan antipiretik, atau demam yang muncul kembali setelah sempat turun
- Batuk disertai dahak berwarna merah, coklat seperti karat, atau hitam
- Nyeri dada saat bernapas
- Kesadaran menurun, sangat mengantuk, atau tampak bingung
- Gejala yang terus memburuk setelah hari ketiga atau tidak membaik dalam tujuh hari
- Batuk yang menetap lebih dari tiga minggu
- Anak tampak tidak mau minum, sangat lemas, atau ada tanda-tanda dehidrasi
Tanda-tanda tersebut dapat mengindikasikan berkembangnya komplikasi seperti pneumonia, sinusitis bakterial, atau otitis media yang memerlukan penanganan lebih lanjut.
Pencegahan: Apa yang Terbukti Efektif?
Kebersihan tangan. Ini adalah intervensi pencegahan dengan bukti terkuat. Jefferson dkk. (2023) dalam tinjauan Cochrane yang menganalisis 78 uji klinis menemukan bahwa cuci tangan secara teratur memberikan penurunan relatif sekitar 11–14% dalam kejadian infeksi saluran pernapasan akut di komunitas (Jefferson et al., 2023). Virus penyebab ISPA menyebar tidak hanya melalui droplet udara, tetapi juga melalui kontak tangan yang kemudian menyentuh wajah — sehingga mencuci tangan dengan sabun dan air mengalir, terutama sebelum makan dan setelah batuk atau bersin, menjadi langkah pencegahan yang sangat praktis dan terjangkau.
Gozdzielewska dkk. (2022) dalam tinjauan sistematis mereka mengenai efektivitas intervensi kebersihan tangan untuk mencegah transmisi infeksi pernapasan juga mengonfirmasi efek protektif kebersihan tangan, meski mencatat bahwa masih diperlukan penelitian lebih lanjut mengenai frekuensi dan cara optimal pelaksanaannya di komunitas (Gozdzielewska et al., 2022).
Etika batuk dan bersin. Menutup mulut dan hidung saat batuk atau bersin — idealnya menggunakan bagian dalam siku, bukan telapak tangan — kemudian segera mencuci tangan, mengurangi penyebaran virus ke lingkungan sekitar.
Tidak berbagi peralatan makan dan minum dengan orang yang sedang sakit, atau sebaliknya menghindari paparan langsung saat Anda sendiri sedang sakit.
Olahraga teratur. Aktivitas fisik yang konsisten berkaitan dengan sistem imun yang lebih responsif dan gejala ISPA yang lebih ringan bila infeksi terjadi.
Vaksinasi influenza. Walaupun tidak mencakup semua penyebab ISPA, vaksinasi influenza tahunan direkomendasikan untuk kelompok rentan (lansia, anak kecil, ibu hamil, penderita penyakit kronis) untuk mengurangi risiko infeksi influenza yang bisa lebih berat.
Tentang masker. Kajian bukti dari tinjauan Cochrane yang sama (Jefferson et al., 2023) menyimpulkan bahwa penggunaan masker medis/bedah di komunitas “mungkin tidak banyak mengubah” angka kejadian influenza-like illness dibandingkan tidak menggunakan masker, dengan kepastian bukti yang moderat. Meski demikian, masker tetap direkomendasikan dalam konteks tertentu — terutama bagi orang yang sedang sakit untuk mengurangi risiko menularkan kepada orang lain yang lebih rentan.
Catatan Khusus untuk Indonesia
Di Indonesia, beberapa faktor memperparah beban penyakit ISPA. Polusi udara — baik dari asap kendaraan di perkotaan maupun asap rokok di dalam rumah — meningkatkan kerentanan saluran napas terhadap infeksi. Kepadatan hunian dan sanitasi lingkungan yang belum optimal di beberapa daerah juga mempercepat penyebaran virus. Selain itu, kebiasaan membeli antibiotik sendiri di apotek tanpa resep dokter — yang sayangnya masih umum terjadi — berkontribusi pada masalah resistansi antimikroba yang semakin serius di tingkat nasional maupun global.
Program Pengendalian Resistansi Antimikroba (PPRA) yang kini terintegrasi dalam sistem kesehatan Indonesia, serta komitmen Kemenkes melalui berbagai regulasi untuk membatasi penjualan antibiotik tanpa resep, merupakan langkah yang tepat dalam mengatasi masalah ini.
Ringkasan
Penyakit saluran pernapasan atas adalah kondisi yang sangat umum, sebagian besar disebabkan oleh virus, dan akan sembuh sendiri dalam 7–10 hari dengan istirahat dan tatalaksana gejala yang tepat. Antibiotik tidak diperlukan untuk sebagian besar kasus ISPA dan justru merugikan bila digunakan secara tidak tepat. Mengenali tanda bahaya yang memerlukan evaluasi medis lebih lanjut, menjaga kebersihan tangan, dan tidak memaksakan diri beraktivitas saat sakit adalah tiga hal paling penting yang dapat dilakukan oleh setiap orang.
Referensi
Bianco, A., Licata, F., Nobile, C. G., Napolitano, F., & Pavia, M. (2021). Pattern and appropriateness of antibiotic prescriptions for upper respiratory tract infections in primary care paediatric patients. International Journal of Antimicrobial Agents, 59(1), 106469. https://doi.org/10.1016/j.ijantimicag.2021.106469
Bo, Z. M., Tan, W. K., Chong, C. S. C., Lye, M. S., Parmasivam, S., Pang, S. T., Satkunananthan, S. E., Chong, H. Y., Malek, A., Al-Khazzan, B. A. A. M., Sim, B. L. H., Lee, C. K. C., Lim, R. L. H., & Lim, C. S. Y. (2022). Respiratory microorganisms in acute pharyngitis patients: Identification, antibiotic prescription patterns and appropriateness, and antibiotic resistance in private primary care, central Malaysia. PloS ONE, 17(11), e0277802. https://doi.org/10.1371/journal.pone.0277802
Gozdzielewska, L., Kilpatrick, C., Reilly, J., Stewart, S., Butcher, J., Kalule, A., Cumming, O., Watson, J., & Price, L. (2022). The effectiveness of hand hygiene interventions for preventing community transmission or acquisition of novel coronavirus or influenza infections: A systematic review. BMC Public Health, 22(1), 1283. https://doi.org/10.1186/s12889-022-13667-y
Jefferson, T., Dooley, L., Ferroni, E., Al-Ansary, L. A., van Driel, M. L., Bawazeer, G. A., Jones, M. A., Hoffmann, T. C., Clark, J., Beller, E. M., Glasziou, P. P., & Conly, J. M. (2023). Physical interventions to interrupt or reduce the spread of respiratory viruses. Cochrane Database of Systematic Reviews, 1(1), CD006207. https://doi.org/10.1002/14651858.CD006207.pub6
Kemenkes RI. (2023). Hasil utama Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan, Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. https://www.badankebijakan.kemkes.go.id
Kiran, M. D., Waghambare, P. D., Pawaskar, L., & Singh, A. (2024). Fixed-dose combination therapy of paracetamol, phenylephrine, and chlorpheniramine maleate for the symptomatic treatment of common cold in Indian adults. The Journal of the Association of Physicians of India, 72(11), 45–48. https://doi.org/10.59556/japi.72.0729
Pellegrino, R., Timitilli, E., Verga, M. C., Guarino, A., Iacono, I. D., Scotese, I., Tezza, G., Dinardo, G., Riccio, S., Pellizzari, S., Iavarone, S., Lorenzetti, G., Simeone, G., Bergamini, M., Donà, D., Pierantoni, L., Garazzino, S., Esposito, S., Venturini, E., … Chiappini, E. (2023). Acute pharyngitis in children and adults: Descriptive comparison of current recommendations from national and international guidelines and future perspectives. European Journal of Pediatrics, 182(12), 5259–5273. https://doi.org/10.1007/s00431-023-05211-w
Soni, A., Kabra, S. K., & Lodha, R. (2023). Respiratory syncytial virus infection: An update. Indian Journal of Pediatrics, 90(12), 1245–1253. https://doi.org/10.1007/s12098-023-04613-w
Webster, K. E., Parkhouse, T., Dawson, S., Jones, H. E., Brown, E. L., Hay, A. D., Whiting, P., & Cabral, C. (2024). Diagnostic accuracy of point-of-care tests for acute respiratory infection: A systematic review of reviews. Health Technology Assessment, 1–75. https://doi.org/10.3310/JLCP4570
Wibowo, Y. I., Firdhausi, N., Rahmah, N., Setianur, N., Sunderland, B., & Setiadi, A. P. (2025). Antibiotic prescribing for children five years or younger in Indonesian primary care settings. Journal of Infection in Developing Countries, 19(3), 409–417. https://doi.org/10.3855/jidc.19581
Artikel ini ditulis untuk tujuan edukasi kesehatan umum dan tidak menggantikan konsultasi medis langsung dengan dokter atau tenaga kesehatan.

Tinggalkan komentar