A Cahya Legawa's Les pèlerins au-dessus des nuages

Nyeri di area perut bawah atau panggul adalah salah satu keluhan yang paling sering membawa perempuan datang ke fasilitas kesehatan. Keluhan ini bisa muncul tiba-tiba atau sudah berlangsung berbulan-bulan, bisa ringan hingga tak tertahankan, dan bisa berasal dari hampir semua organ yang berada di dalam rongga panggul. Karena begitu banyak kemungkinan penyebabnya, nyeri panggul sering kali membingungkan dan membutuhkan pendekatan yang cermat untuk menentukan sumbernya.

Artikel ini bertujuan memberikan gambaran menyeluruh tentang berbagai penyebab nyeri panggul pada perempuan, gejala yang menyertainya, serta kapan seseorang perlu segera mencari pertolongan medis.


Apa Itu Nyeri Panggul?

Panggul (pelvis) adalah bagian paling bawah dari rongga perut. Di dalamnya terdapat sejumlah organ penting: rahim (uterus), indung telur (ovarium), tuba falopi, kandung kemih, dan bagian akhir usus besar. Nyeri panggul umumnya diartikan sebagai rasa nyeri yang dirasakan di bawah pusar, bisa menjalar ke punggung bawah, paha bagian dalam, atau area sekitarnya.

Secara klinis, nyeri panggul dibagi menjadi dua kategori utama. Nyeri akut adalah nyeri yang muncul mendadak dan berlangsung kurang dari satu hingga dua minggu, seringkali menandakan kondisi yang membutuhkan penanganan segera. Nyeri kronis adalah nyeri yang telah berlangsung setidaknya enam bulan, dengan atau tanpa penyebab yang dapat diidentifikasi. Penelitian terbaru menunjukkan bahwa nyeri panggul kronis memengaruhi hingga 26% perempuan usia reproduktif, dan kondisi ini sangat erat kaitannya dengan gangguan psikososial seperti depresi dan kecemasan (Meisenheimer & Carnevale, 2025).


Penyebab Terkait Kehamilan

Keguguran (Abortus)

Keguguran adalah berakhirnya kehamilan sebelum janin mampu bertahan di luar rahim, umumnya sebelum usia kehamilan 24 minggu. Gejala utama adalah perdarahan dari vagina yang disertai kram atau nyeri di perut bawah. Dalam sebagian kasus, tampak jaringan atau gumpalan darah yang keluar. Meskipun sering kali tidak dapat dicegah, perempuan yang mengalami gejala ini perlu segera dievaluasi oleh tenaga kesehatan untuk memastikan tidak ada sisa jaringan yang tertinggal dan menyebabkan komplikasi.

Kehamilan Ektopik

Kehamilan ektopik terjadi ketika sel telur yang telah dibuahi berkembang di luar rongga rahim, paling sering di dalam tuba falopi. Kondisi ini merupakan salah satu kegawatdaruratan paling serius dalam kebidanan. Tanda-tanda awalnya meliputi nyeri pada salah satu sisi perut bawah, yang dapat berkembang menjadi nyeri tajam dan semakin memburuk dari hari ke hari, disertai perdarahan vagina yang warnanya lebih gelap daripada darah menstruasi.

Evaluasi kehamilan ektopik di unit gawat darurat mencakup pengukuran kadar hormon beta-human chorionic gonadotropin (beta-hCG) dalam darah, penentuan golongan darah, dan pemeriksaan ultrasonografi. Penting untuk dipahami bahwa ultrasonografi tetap diperlukan tanpa memandang kadar hCG, karena tidak ada ambang nilai hCG yang dapat menyingkirkan kehamilan ektopik secara pasti (Jeffers et al., 2024). Jika kondisi pasien tidak stabil secara hemodinamik, resusitasi segera dan konsultasi kebidanan mendesak harus dilakukan. Pada pasien yang stabil, tata laksana bisa berupa pendekatan medis, bedah, atau bahkan pemantauan ketat (expectant management) tergantung perkembangan klinis (Farren et al., 2026).

Komplikasi Kehamilan Lainnya

Pecahnya kista korpus luteum pada trimester pertama, persalinan prematur, dan abrupsio plasenta pada trimester lanjut juga dapat menjadi sumber nyeri panggul yang akut. Abrupsio plasenta, yaitu terlepasnya plasenta dari dinding rahim sebelum bayi dilahirkan, merupakan kondisi darurat yang mengancam nyawa ibu dan janin, dan memerlukan tindakan persalinan segera.


Penyebab dari Organ Reproduksi (Non-Kehamilan)

Ovulasi dan Mittelschmerz

Sebagian perempuan mengalami nyeri tajam singkat di pertengahan siklus menstruasi, saat telur dilepaskan dari indung telur. Nyeri ini dikenal dengan istilah Mittelschmerz (dari bahasa Jerman, berarti “nyeri tengah”). Nyeri ini umumnya berlangsung hanya beberapa jam, berpindah sisi setiap bulannya, dan tidak memerlukan tata laksana khusus selain pereda nyeri biasa jika diperlukan.

Dismenore (Dysmenorrhea)

Dysmenorrhea atau nyeri haid adalah nyeri yang muncul sebelum atau selama menstruasi, biasanya terasa seperti kram di perut bawah, pinggang, atau paha. Pada sebagian perempuan, nyeri ini cukup berat untuk mengganggu aktivitas sehari-hari. Dysmenorrhea primer tidak disebabkan oleh kelainan struktural melainkan oleh produksi prostaglandin berlebih di lapisan rahim. Dysmenorrhea sekunder biasanya disebabkan oleh kondisi tertentu seperti endometriosis atau mioma uteri, dan cenderung memerlukan penanganan yang lebih spesifik.

Penyakit Radang Panggul (Pelvic Inflammatory Disease/PID)

PID adalah infeksi pada organ reproduksi bagian atas perempuan, meliputi rahim, tuba falopi, dan jaringan sekitarnya. Kondisi ini terutama disebabkan oleh bakteri Chlamydia trachomatis dan Neisseria gonorrhoeae, meskipun bakteri-bakteri lain yang terkait dengan bacterial vaginosis juga dapat berperan (Shroff, 2023). Gejala khasnya adalah nyeri di perut bawah, demam, keputihan abnormal, dan nyeri saat buang air kecil atau berhubungan seksual.

PID yang tidak ditangani atau terlambat ditangani dapat meninggalkan komplikasi jangka panjang yang serius, antara lain pembentukan jaringan parut pada tuba falopi yang meningkatkan risiko kehamilan ektopik, gangguan kesuburan, dan nyeri panggul kronis (Hunt & Vollenhoven, 2023). Oleh karena itu, dokter disarankan memiliki ambang kecurigaan yang rendah untuk mendiagnosis dan mengobati PID, terutama pada perempuan usia reproduktif yang aktif secara seksual.

Endometriosis

Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang menyerupai lapisan dalam rahim (endometrium) tumbuh di luar rahim, paling sering di indung telur, tuba falopi, atau lapisan rongga panggul. Kondisi ini merupakan penyakit inflamasi kronis yang diperkirakan memengaruhi sekitar 190 juta perempuan di seluruh dunia (Horne & Missmer, 2022). Di Indonesia, data epidemiologi lokal masih terbatas, namun endometriosis diperkirakan menjadi salah satu penyebab tersering infertilitas dan nyeri panggul kronis pada perempuan usia produktif.

Gejala utama endometriosis meliputi nyeri haid berat, nyeri saat berhubungan seksual, nyeri saat buang air besar atau kecil pada masa menstruasi, dan kesulitan hamil. Penelitian terkini juga menunjukkan kaitan erat antara endometriosis dan disfungsi sistem imun, bahkan ada bukti bahwa endometriosis sering kali muncul bersamaan dengan penyakit autoimun, yang mengisyaratkan peran disregulasi imun dalam patogenesisnya (Blanco et al., 2025).

Salah satu tantangan terbesar dalam pengelolaan endometriosis adalah penundaan diagnosis yang sangat panjang, rata-rata antara 6 hingga 10 tahun sejak gejala pertama muncul. Ini terjadi karena gejala sering dianggap sebagai “nyeri haid biasa.” Pendekatan diagnostik dimulai dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang cermat, dilanjutkan dengan ultrasonografi transvaginal dan/atau magnetic resonance imaging (MRI). Laparoskopi tetap menjadi baku emas diagnosis, namun saat ini panduan klinis menganjurkan bahwa penanganan empiris berbasis klinis dapat dimulai sebelum konfirmasi operasi jika gambaran klinis kuat (Crump et al., 2024). Tata laksana endometriosis bersifat multimodal dan bersifat jangka panjang, mencakup terapi hormonal (kontrasepsi hormonal kombinasi, progestin, agonis atau antagonis GnRH), intervensi bedah laparoskopi, manajemen nyeri, hingga dukungan psikologis.

Khusus untuk endometrioma (kista indung telur akibat endometriosis), meta-analisis terbaru menunjukkan bahwa angka rekurensi pasca operasi tanpa terapi hormonal lanjutan mencapai 27% dalam dua tahun, yang menegaskan pentingnya tata laksana jangka panjang setelah prosedur bedah (Veth et al., 2024).

Kista Indung Telur

Kista ovarium adalah kantung berisi cairan yang terbentuk di dalam atau di permukaan indung telur. Sebagian besar kista ovarium bersifat fungsional dan jinak, serta sering kali hilang sendiri dalam beberapa minggu hingga bulan. Namun, kista yang besar, terpuntir (torsio ovarium), atau pecah dapat menimbulkan nyeri mendadak dan hebat pada salah satu sisi perut bawah yang memerlukan penanganan darurat.

Mioma Uteri (Uterine Fibroids)

Mioma uteri adalah pertumbuhan jinak dari jaringan otot polos rahim. Kondisi ini sangat umum ditemukan, dengan prevalensi mencapai lebih dari 60% pada perempuan usia 30 hingga 44 tahun (Vannuccini et al., 2024). Sebagian besar mioma tidak menimbulkan gejala dan ditemukan secara tidak sengaja saat pemeriksaan ultrasonografi. Namun sekitar 30% perempuan dengan mioma mengalami gejala bermakna, yang paling umum adalah perdarahan menstruasi yang berlebihan, rasa penuh atau tertekan di perut, dan nyeri panggul.

Nyeri pada mioma biasanya terjadi ketika terjadi degenerasi (mioma kehilangan pasokan darahnya dan mulai mengecil), atau akibat tekanan pada organ sekitarnya. Pilihan tata laksana saat ini cukup beragam, mencakup terapi medikamentosa (NSAID, terapi hormonal, agonis atau antagonis GnRH, selective progesterone receptor modulators/SPRM), prosedur minimal invasif (embolisasi arteri uteri, ablasi radiofrequency, HIFU/MRgFUS), hingga operasi miomektomi atau histerektomi. Pemilihan terapi disesuaikan dengan usia pasien, keinginan untuk hamil di masa depan, tingkat keparahan gejala, serta lokasi dan ukuran mioma (Mićić et al., 2024).

Nyeri Panggul Kronis Idiopatik

Nyeri panggul kronis yang telah berlangsung minimal enam bulan dan tidak memiliki penyebab tunggal yang jelas merupakan kondisi tersendiri yang kompleks. Penelitian terkini memahami kondisi ini sebagai hasil dari beberapa masalah yang tumpang tindih, termasuk disfungsi dasar panggul, irritable bowel syndrome, sindrom nyeri kandung kemih, serta sensitisasi sistem saraf pusat (central sensitization). Pendekatan biopsikososial yang mencakup edukasi nyeri, fisioterapi panggul, terapi perilaku kognitif (cognitive behavioral therapy/CBT), dan farmakoterapi terbukti lebih efektif dibandingkan pendekatan tunggal (Meisenheimer & Carnevale, 2025).


Penyebab dari Usus dan Kandung Kemih

Apendisitis

Peradangan pada apendiks (appendix vermiformis) adalah salah satu penyebab nyeri perut akut yang paling sering ditemukan di unit gawat darurat. Gejala khasnya berupa nyeri yang awalnya terasa di sekitar pusar, lalu berpindah ke perut kanan bawah dalam 6 hingga 24 jam, disertai mual, muntah, dan demam. Namun perlu diperhatikan bahwa presentasi apendisitis bisa atipik, terutama pada perempuan hamil atau lansia, sehingga selalu perlu dipertimbangkan dalam diagnosis banding nyeri perut akut.

Sindrom Usus Iritabel (Irritable Bowel Syndrome/IBS)

IBS adalah gangguan fungsi usus yang ditandai dengan nyeri atau ketidaknyamanan perut berulang, kembung, dan perubahan pola buang air besar (diare, konstipasi, atau keduanya bergantian). IBS termasuk dalam spektrum kondisi yang berkontribusi pada nyeri panggul kronis, dan pendekatannya lebih difokuskan pada manajemen gejala daripada pengobatan penyebab struktural.

Infeksi Saluran Kemih dan Sistitis

Infeksi saluran kemih (ISK), khususnya sistitis atau radang kandung kemih, lebih sering terjadi pada perempuan dibandingkan laki-laki karena anatomi saluran kemih yang lebih pendek. Gejala khasnya adalah nyeri atau rasa terbakar saat berkemih, sering berkemih, dan nyeri di perut bagian bawah atau panggul. Sebagian besar kasus sistitis tidak terkomplikasi berespons baik terhadap antibiotik jangka pendek.

Perlengketan dan Hernia

Perlengketan (adhesion) pascabedah adalah jaringan ikat abnormal yang terbentuk di dalam rongga perut sebagai respons penyembuhan luka operasi. Perlengketan ini dapat menyebabkan nyeri kronis, terutama jika mengenai usus. Hernia strangulasi, di mana sebagian usus terperangkap dan terjepitnya pasokan darah, adalah kondisi darurat yang memerlukan pembedahan segera dan ditandai dengan nyeri mendadak yang hebat disertai tonjolan yang tidak dapat didorong masuk.


Masalah Muskuloskeletal

Tulang belakang bagian bawah, sendi sakroiliaka, sendi panggul, dan otot-otot dasar panggul juga dapat menjadi sumber nyeri yang dirasakan di area panggul. Disfungsi otot dasar panggul semakin diakui sebagai komponen penting dalam nyeri panggul kronis, dan fisioterapi panggul telah menjadi bagian integral dalam tata laksana modern.


Kapan Harus Segera ke Dokter atau IGD?

Tidak semua nyeri panggul merupakan kegawatdaruratan, tetapi beberapa tanda berikut memerlukan evaluasi medis segera, bahkan di unit gawat darurat:

Nyeri tiba-tiba yang sangat hebat, terutama jika disertai pusing, pingsan, atau pucat. Perdarahan dari vagina pada perempuan yang mungkin sedang hamil. Nyeri yang disertai demam tinggi dan keluar cairan vagina yang tidak normal. Nyeri panggul pada kehamilan di bawah 12 minggu (curiga kehamilan ektopik atau keguguran). Nyeri yang terus memburuk selama lebih dari satu hari meski sudah minum pereda nyeri.

Jika nyeri bersifat ringan dan penyebabnya cukup jelas (misalnya nyeri haid yang biasa), pereda nyeri seperti ibuprofen atau parasetamol dapat dicoba terlebih dahulu. Konsultasi ke dokter tetap diperlukan jika nyeri tidak membaik, berulang tanpa penyebab jelas, atau memengaruhi kualitas hidup secara bermakna.


Pendekatan Diagnostik

Dokter akan melakukan anamnesis menyeluruh termasuk riwayat menstruasi, riwayat seksual, riwayat kehamilan, dan riwayat operasi sebelumnya. Pemeriksaan fisik termasuk pemeriksaan panggul bimanual merupakan langkah penting yang tidak dapat digantikan oleh pemeriksaan penunjang semata.

Pemeriksaan yang umum dianjurkan meliputi tes urine untuk menyingkirkan ISK, usapan serviks atau vagina jika dicurigai infeksi menular seksual, tes kehamilan (beta-hCG) pada perempuan usia reproduktif, dan ultrasonografi panggul sebagai modalitas pencitraan lini pertama. Pada kondisi tertentu, MRI dapat memberikan informasi lebih rinci, terutama untuk evaluasi endometriosis atau mioma. Laparoskopi diagnostik dipertimbangkan ketika penyebab nyeri tidak dapat ditentukan dengan pendekatan non-invasif, atau ketika intervensi bedah diperlukan.


Catatan untuk Pembaca

Informasi dalam artikel ini bersifat edukatif dan tidak dapat menggantikan konsultasi, pemeriksaan, serta penilaian klinis oleh tenaga kesehatan yang kompeten. Jika Anda mengalami nyeri panggul, konsultasikan kondisi Anda kepada dokter untuk mendapatkan diagnosis dan penanganan yang tepat.


Daftar Referensi

Blanco, L. P., Salmeri, N., Temkin, S. M., Shanmugam, V. K., & Stratton, P. (2025). Endometriosis and autoimmunity. Autoimmunity Reviews, 24(4), 103752. https://doi.org/10.1016/j.autrev.2025.103752

Crump, J., Suker, A., & White, L. (2024). Endometriosis: A review of recent evidence and guidelines. Australian Journal of General Practice, 53(1–2), 11–18. https://doi.org/10.31128/AJGP/04-23-6805

Farren, J., Al Wattar, B. H., & Jurkovic, D. (2026). The diagnosis and management of extrauterine and uterine ectopic pregnancy. Human Reproduction Update, 32(1), 2–32. https://doi.org/10.1093/humupd/dmaf024

Horne, A. W., & Missmer, S. A. (2022). Pathophysiology, diagnosis, and management of endometriosis. BMJ, 379, e070750. https://doi.org/10.1136/bmj-2022-070750

Hunt, S., & Vollenhoven, B. (2023). Pelvic inflammatory disease and infertility. Australian Journal of General Practice, 52(4), 215–218. https://doi.org/10.31128/AJGP-09-22-6576

Jeffers, K., Koyfman, A., & Long, B. (2024). Updates in emergency medicine: Ectopic pregnancy. The American Journal of Emergency Medicine, 85, 90–97. https://doi.org/10.1016/j.ajem.2024.09.005

Meisenheimer, E. S., & Carnevale, A. M. (2025). Chronic pelvic pain in women: Evaluation and treatment. American Family Physician, 111(3), 218–229.

Mićić, J., Macura, M., Anđić, M., Ivanović, K., Dotlić, J., Mićić, D. D., Arsenijević, V., Stojnić, J., Bila, J., Babić, S., Šljivancanin, U., Stanišić, D. M., & Dokić, M. (2024). Currently available treatment modalities for uterine fibroids. Medicina (Kaunas), 60(6), 868. https://doi.org/10.3390/medicina60060868

Shroff, S. (2023). Infectious vaginitis, cervicitis, and pelvic inflammatory disease. Medical Clinics of North America, 107(2), 299–315. https://doi.org/10.1016/j.mcna.2022.10.009

Vannuccini, S., Petraglia, F., Carmona, F., Calaf, J., & Chapron, C. (2024). The modern management of uterine fibroids-related abnormal uterine bleeding. Fertility and Sterility, 122(1), 20–30. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2024.04.041

Veth, V. B., Keukens, A., Reijs, A., Bongers, M. Y., Mijatovic, V., Coppus, S. F. P. J., & Maas, J. W. M. (2024). Recurrence after surgery for endometrioma: A systematic review and meta-analyses. Fertility and Sterility, 122(6), 1079–1093. https://doi.org/10.1016/j.fertnstert.2024.07.033


Beberapa catatan editorial untuk artikel ini dibandingkan versi 2015:

Yang diperbarui: statistik epidemiologi endometriosis (190 juta perempuan global); data prevalensi nyeri panggul kronis; penambahan aspek central sensitization dan pendekatan biopsikososial; pembaruan tata laksana endometriosis, mioma, dan kehamilan ektopik; penghapusan angka spesifik lama yang tidak bersumber jelas (mis. “7–8 dari 10 keguguran”); koreksi istilah (“apendiks” lebih tepat dari “appendiks” untuk konteks Indonesia, meskipun keduanya lazim).

Yang ditambahkan: kaitan endometriosis-autoimun; endometrioma dan angka rekurensi pasca bedah; konsep pregnancy of unknown location (PUL) pada kehamilan ektopik; disfungsi dasar panggul; bagian “kapan ke IGD” yang lebih terstruktur.

Commenting 101: “Be kind, and respect each other” // Bersikaplah baik, dan saling menghormati (Indonesian) // Soyez gentils et respectez-vous les uns les autres (French) // Sean amables y respétense mutuamente (Spanish) // 待人友善,互相尊重 (Chinese) // كونوا لطفاء واحترموا بعضكم البعض (Arabic) // Будьте добры и уважайте друг друга (Russian) // Seid freundlich und respektiert einander (German) // 親切にし、お互いを尊重し合いましょう (Japanese) // दयालु बनें, और एक दूसरे का सम्मान करें (Hindi) // Siate gentili e rispettatevi a vicenda (Italian)

Tinggalkan komentar