- Mengapa Pemeriksaan Hepatitis B Penting?
- Panel Serologi Hepatitis B: Mengenal Marker Utama
- Algoritma Interpretasi Serologi Hepatitis B
- Pemeriksaan Penunjang Lainnya
- Reflex Testing: Pendekatan Diagnostik Modern
- Kapan Pemeriksaan Hepatitis B Diperlukan?
- Point-of-Care Testing: Masa Depan Diagnostik Hepatitis B
- Kondisi Khusus dalam Interpretasi Serologi
- Rekomendasi Praktis untuk Klinisi
- Kesimpulan
Hepatitis B sering disebut sebagai “pembunuh senyap” karena infeksi ini dapat berkembang tanpa gejala yang jelas, bahkan pada fase kronis. Banyak pasien baru menyadari terinfeksi setelah menjalani pemeriksaan laboratorium rutin atau skrining kesehatan. Pemahaman yang baik tentang pemeriksaan laboratorium hepatitis B sangat penting, baik untuk diagnosis, penentuan fase infeksi, maupun monitoring terapi.
Mengapa Pemeriksaan Hepatitis B Penting?
Lebih dari 250 juta orang di dunia hidup dengan infeksi hepatitis B kronis, dan jumlah kematian akibat penyakit ini terus meningkat setiap tahun. WHO menetapkan target eliminasi hepatitis viral pada 2030 dengan mengurangi infeksi baru sebesar 90% dan kematian sebesar 65%. Namun pada 2022, hanya 13% dari penderita hepatitis B kronis yang terdiagnosis dan 3% yang mendapat pengobatan.
Di Indonesia, dengan prevalensi HBsAg yang cukup tinggi terutama di daerah endemis, pemeriksaan laboratorium yang tepat menjadi kunci untuk meningkatkan deteksi kasus dan pemberian terapi yang sesuai.
Panel Serologi Hepatitis B: Mengenal Marker Utama
Pemeriksaan serologi hepatitis B melibatkan deteksi antigen virus dan antibodi yang diproduksi tubuh. Berikut penjelasan marker-marker utama:
1. HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen)
HBsAg adalah protein permukaan virus hepatitis B dan merupakan marker pertama yang dapat terdeteksi dalam infeksi akut. Antigen ini dapat muncul sedini 1 minggu hingga 9 minggu (rata-rata 1 bulan) setelah paparan virus.
Interpretasi:
- Positif: Menunjukkan infeksi aktif (akut atau kronis). Seseorang dengan HBsAg positif bersifat infeksius dan dapat menularkan virus kepada orang lain
- Negatif: Tidak ada infeksi aktif, atau pasien sedang dalam masa pemulihan, atau infeksi tersembunyi (occult)
Pada infeksi akut yang sembuh spontan, HBsAg biasanya menghilang dalam 15 minggu setelah munculnya gejala. Bila HBsAg tetap positif lebih dari 6 bulan, maka diklasifikasikan sebagai infeksi kronis.
2. Anti-HBs (Hepatitis B Surface Antibody)
Anti-HBs adalah antibodi protektif yang diproduksi tubuh setelah infeksi sembuh atau setelah vaksinasi.
Interpretasi:
- Positif: Menunjukkan kekebalan terhadap hepatitis B, baik dari infeksi yang telah sembuh atau dari vaksinasi yang berhasil
- Kadar >10-12 mIU/mL: Dianggap protektif dan memberikan imunitas seumur hidup (kecuali pada kondisi imunosupresi berat)
Setelah vaksinasi, kadar anti-HBs perlu diperiksa untuk memastikan respons imun yang adekuat, terutama pada tenaga kesehatan dan kelompok risiko tinggi.
3. Anti-HBc (Hepatitis B Core Antibody)
Anti-HBc adalah antibodi terhadap antigen inti (core) virus hepatitis B. Core antigen sendiri terdapat di dalam partikel virus namun tidak beredar bebas dalam darah, sehingga yang diukur adalah antibodinya.
Interpretasi:
- Anti-HBc Total positif: Menandakan paparan terhadap virus HBV di masa lalu atau infeksi yang sedang berlangsung. Anti-HBc biasanya bertahan seumur hidup
- Anti-HBc IgM positif: Mengindikasikan infeksi akut atau reaktivasi pada infeksi kronis (eksaserbasi akut). IgM anti-HBc adalah satu-satunya marker yang terdeteksi pada “window period” ketika HBsAg sudah menghilang tetapi anti-HBs belum muncul
Anti-HBc tidak diproduksi setelah vaksinasi, sehingga keberadaannya membedakan antara imunitas dari vaksinasi (anti-HBs positif, anti-HBc negatif) dengan imunitas dari infeksi yang sembuh (anti-HBs positif, anti-HBc positif).
4. HBeAg (Hepatitis B e-Antigen)
HBeAg adalah protein viral yang berhubungan dengan replikasi aktif virus.
Interpretasi:
- Positif: Menunjukkan replikasi virus yang aktif dan tingkat infektivitas yang tinggi. Kadar HBV DNA biasanya tinggi
- Negatif: Virus tidak bereplikasi aktif atau terjadi mutasi pada pre-core/core promoter region virus
Pada perjalanan infeksi kronis, serokonversi dari HBeAg positif menjadi anti-HBe positif merupakan peristiwa klinis penting yang menandakan penurunan aktivitas replikasi virus. Namun, perlu dicatat bahwa beberapa strain HBV (terutama di Asia dan Timur Tengah) tidak memproduksi HBeAg karena mutasi genetik, sehingga pemeriksaan ini menjadi kurang bermakna pada populasi tersebut.
5. Anti-HBe
Anti-HBe adalah antibodi terhadap HBeAg, yang muncul setelah serokonversi.
Interpretasi:
- Positif dengan HBeAg negatif: Biasanya menunjukkan fase inaktif atau virus “tidur”
- Pada strain mutan yang tidak memproduksi HBeAg, anti-HBe dapat tetap positif meskipun virus masih bereplikasi
6. HBV DNA (Viral Load)
Pemeriksaan HBV DNA menggunakan teknik nucleic acid amplification (NAT) merupakan tes paling sensitif untuk mendeteksi keberadaan virus dalam darah.
Interpretasi:
- Positif/terdeteksi: Menunjukkan replikasi virus aktif dan kemampuan menularkan infeksi
- Negatif/<200 IU/mL: Biasanya virus tidak aktif bereplikasi atau tidak menular
Guideline WHO 2024 merekomendasikan penggunaan pemeriksaan HBV DNA point-of-care (POC) dan reflex HBV DNA testing untuk meningkatkan akses diagnostik, terutama di daerah dengan sumber daya terbatas.
HBV DNA viral load sangat penting untuk:
- Menentukan indikasi terapi antiviral
- Monitoring respons terapi
- Menilai risiko transmisi vertikal (ibu ke bayi)
- Mendeteksi resistensi terhadap antiviral
Algoritma Interpretasi Serologi Hepatitis B
Berikut tabel interpretasi kombinasi hasil serologi:
| HBsAg | Anti-HBs | Anti-HBc Total | Anti-HBc IgM | Interpretasi |
|---|---|---|---|---|
| Negatif | Negatif | Negatif | Negatif | Tidak ada infeksi, tidak imun, perlu vaksinasi |
| Negatif | Positif | Negatif | Negatif | Imun dari vaksinasi |
| Negatif | Positif | Positif | Negatif | Imun dari infeksi yang telah sembuh |
| Positif | Negatif | Positif | Positif | Infeksi akut |
| Positif | Negatif | Positif | Negatif | Infeksi kronis |
| Negatif | Negatif | Positif | Negatif | Isolated anti-HBc (infeksi tersembunyi, anti-HBs sudah menurun, atau window period) |
| Positif | Positif | Positif | Negatif | Fase serokonversi (jarang, biasanya sementara) |
Pemeriksaan Penunjang Lainnya
Selain serologi, beberapa pemeriksaan tambahan penting untuk evaluasi komprehensif:
Enzim Hati
- ALT (Alanine Aminotransferase) dan AST (Aspartate Aminotransferase): Marker kerusakan hepatosit. WHO 2024 merekomendasikan opsi terapi berdasarkan peningkatan ALT persisten tanpa HBV DNA pada setting dengan akses terbatas terhadap pemeriksaan viral load
- GGT (Gamma-Glutamyl Transferase): Marker tambahan untuk evaluasi fungsi hati
Penilaian Fibrosis Hati
Rekomendasi baru WHO 2024 menggunakan skor APRI (Aspartate Aminotransferase to Platelet Ratio Index) dengan cutoff >0.5 untuk fibrosis signifikan dan >1.0 untuk sirosis sebagai alternatif pemeriksaan non-invasif. APRI dapat dihitung dengan formula sederhana tanpa peralatan khusus:
APRI = [(AST/ULN) / Platelet count (10⁹/L)] × 100
Selain APRI, transient elastography (FibroScan) dengan cutoff >7 kPa juga dapat digunakan untuk mendeteksi fibrosis signifikan.
Skrining Koinfeksi Hepatitis Delta (HDV)
WHO 2024 merekomendasikan skrining universal anti-HDV pada semua pasien dengan HBsAg positif, diikuti dengan pemeriksaan HDV RNA untuk yang anti-HDV positif. Koinfeksi HDV menyebabkan penyakit hati yang lebih berat dan progresif.
Implementasi reflex testing untuk HDV pada pasien HBsAg-positif telah terbukti meningkatkan deteksi sebesar 77% dan mengurangi biaya hingga €265,954, menunjukkan efektivitas dan efisiensi biaya strategi ini.
Reflex Testing: Pendekatan Diagnostik Modern
Reflex testing adalah strategi diagnostik dimana pemeriksaan tambahan secara otomatis dilakukan berdasarkan hasil tes awal tanpa memerlukan permintaan terpisah. Pendekatan ini meningkatkan efisiensi diagnostik dan mengurangi loss to follow-up.
Contoh algoritma reflex testing:
- HBsAg positif → otomatis dilakukan pemeriksaan anti-HDV
- Anti-HBc positif + Anti-HBs negatif → otomatis dilakukan anti-HBc IgM
- HBsAg positif → otomatis dilakukan HBV DNA viral load
Pendekatan ini sangat relevan untuk implementasi di Indonesia, terutama di fasilitas kesehatan yang melayani populasi berisiko tinggi.
Kapan Pemeriksaan Hepatitis B Diperlukan?
Skrining dan Diagnosis
- Individu dengan gejala hepatitis akut (ikterus, mual, nyeri perut kanan atas, urine gelap)
- Peningkatan enzim hati yang tidak jelas penyebabnya
- Skrining rutin pada kelompok risiko tinggi:
- Ibu hamil (pemeriksaan antenatal)
- Calon donor darah
- Pasien hemodialisis
- Pengguna narkoba suntik
- Individu dengan perilaku seksual berisiko
- Tenaga kesehatan
- Pasien yang akan menjalani kemoterapi atau imunosupresi
- Individu yang lahir di daerah endemis
- Kontak serumah atau seksual dengan penderita hepatitis B
Evaluasi Vaksinasi
- 1-2 bulan setelah selesai vaksinasi lengkap, terutama pada:
- Tenaga kesehatan
- Pasien hemodialisis
- Individu dengan imunosupresi
Kadar anti-HBs >10 mIU/mL menunjukkan respons vaksin yang adekuat.
Monitoring Terapi
Pada pasien dengan hepatitis B kronis yang mendapat terapi antiviral, pemeriksaan berkala meliputi:
- HBV DNA: setiap 3-6 bulan untuk menilai respons terapi dan deteksi resistensi
- HBeAg/anti-HBe: setiap 6-12 bulan untuk menilai serokonversi
- ALT/AST: setiap 3-6 bulan
- AFP (Alpha-Fetoprotein) dan USG hati: setiap 6 bulan untuk surveilans karsinoma hepatoseluler
Point-of-Care Testing: Masa Depan Diagnostik Hepatitis B
Guideline WHO 2024 mendorong penggunaan point-of-care (POC) HBV DNA assays sebagai alternatif pemeriksaan viral load berbasis laboratorium. Teknologi POC seperti GeneXpert HBV DNA memungkinkan:
- Hasil cepat (dalam hitungan jam)
- Tidak memerlukan infrastruktur laboratorium kompleks
- Meningkatkan linkage to care
- Cocok untuk daerah dengan akses laboratorium terbatas
Beberapa rapid test untuk anti-HDV juga telah dikembangkan dengan sensitivitas 94.6% dan spesifisitas 100%, memungkinkan skrining HDV yang lebih luas di lapangan.
Kondisi Khusus dalam Interpretasi Serologi
Isolated Anti-HBc
Kondisi dimana hanya anti-HBc yang positif tanpa HBsAg atau anti-HBs dapat terjadi pada:
- Window period (infeksi akut dimana HBsAg sudah menghilang namun anti-HBs belum muncul)
- Infeksi tersembunyi (occult hepatitis B) dengan HBV DNA sangat rendah
- Penurunan kadar anti-HBs setelah bertahun-tahun
- Hasil false positive
Pada kasus ini, pemeriksaan HBV DNA dan anti-HBc IgM dapat membantu klarifikasi.
HBsAg Weakly Reactive
Hasil HBsAg dengan nilai S/CO (signal to cutoff) antara 1-5 termasuk indeterminate dan memerlukan:
- Konfirmasi dengan neutralization assay
- Pemeriksaan ulang 4-6 minggu kemudian
- Evaluasi marker serologi lainnya
Imunosupresi
Pada pasien imunosupresi, kadar anti-HBc dapat lebih rendah, dan risiko reaktivasi HBV lebih tinggi. Pemeriksaan HBV DNA lebih sensitif untuk mendeteksi infeksi pada populasi ini.
Rekomendasi Praktis untuk Klinisi
- Mulai dengan panel skrining dasar: HBsAg, anti-HBs, anti-HBc total untuk evaluasi awal
- Gunakan reflex testing: Otomatiskan pemeriksaan lanjutan berdasarkan hasil awal untuk meningkatkan efisiensi
- Interpretasikan dalam konteks klinis: Pertimbangkan riwayat vaksinasi, gejala klinis, dan enzim hati
- Skrining HDV pada semua HBsAg positif: Koinfeksi HDV memerlukan pendekatan terapi yang berbeda
- Monitor secara berkala: Pada infeksi kronis, lakukan evaluasi rutin sesuai fase penyakit
- Pertimbangkan biaya dan akses: Gunakan alternatif pemeriksaan seperti APRI atau POC test sesuai ketersediaan
Kesimpulan
Pemeriksaan laboratorium hepatitis B telah mengalami evolusi signifikan dengan guideline WHO 2024 yang menekankan simplifikasi dan ekspansi akses diagnostik. Pemahaman yang baik tentang interpretasi serologi, penggunaan reflex testing, dan teknologi POC akan meningkatkan deteksi kasus dan pemberian terapi yang tepat. Di Indonesia, implementasi strategi diagnostik yang cost-effective dan evidence-based sangat penting untuk mencapai target eliminasi hepatitis B pada 2030.

Referensi:
- World Health Organization. Guidelines for the prevention, diagnosis, care and treatment for people with chronic hepatitis B infection. 2024. https://www.who.int/publications/i/item/9789240090903
- WHO 2024 hepatitis B guidelines: an opportunity to transform care
- Double reflex testing improves the efficacy and cost effectiveness of hepatitis delta diagnosis
- Clinical performance of the Abbott Alinity anti-HBc immunoassay
- A Rapid Point-of-Care Test for the Serodiagnosis of Hepatitis Delta Virus Infection

Tinggalkan komentar